Skip to content

Merayakan Kemenangan Ego

October 11, 2007

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa. Bulan ini membawa suatu atmosfir yang khas, yang tidak hanya dinikmati oleh umat muslim, namun juga non muslim. Kekhasan ini telah dimulai sejak dini hari saat suara bedug ditabuh, diikuti panggilan bersahur, seolah mengingatkan bahwa kita sedang dalam suasana Ramadhan. Selanjutnya ketika kita mulai keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain, kita akan belajar berempati dan bertoleransi. Kita meminta maaf terlebih dahulu saat ingin makan dan minum di depan teman yang berpuasa. Demikian pula mereka yang berpuasa dengan ikhlas melihat temannya bersantap di hadapan mereka.Tidak jarang kita juga mengadakan acara buka puasa bersama, yang bukan hanya diikuti oleh mereka yang berpuasa, namun juga teman-teman non muslim yang tidak berpuasa. Acara ini demikian khas, sampai-sampai kita sulit menemukan padanan istilahnya dalam bahasa asing. Ramadhan di Indonesia juga dicirikan oleh tirai-tirai yang menutupi kaca-kaca restoran. Tidak ketinggalan pula munculnya para penjual musiman di sepanjang jalan, yang menyediakan penganan khas bulan puasa. Ramadhan juga turut memberi warna tersendiri di malam hari saat umat Muslim memenuhi mushola dan mesjid untuk melaksanakan sholat tarawih.  Di mal-mal, nuansa Ramadhan terasa sangat kental dengan busana-busana muslim yang memenuhi setiap outlet pakaian. Diiringi pula dengan lagu-lagu religius yang terus mengalun, kita seperti terus diingatkan oleh setiap untaian liriknya  : saat ini bulan Ramadhan.

Demikian banyak detil-detil khas yang hadir menghiasi keseharian kita di bulan Ramadhan. Kita dapat merasakan suasana yang demikian berbeda, yang hanya dapat kita nikmati dalam satu bulan di setiap tahunnya. Hidup seperti memiliki corak lain, yang menghindarkan kita sejenak dari rutinitas-rutinitas yang monoton dan membosankan. Kita seperti memiliki sebuah tujuan, yakni mencapai akhir bulan Ramadhan, yang berarti tibanya hari raya Idul Fitri. Kita membeli perlengkapan dan pernak-pernik yang dibutuhkan untuk menyambut hari raya akbar tersebut. Pusat perbelanjaan benar-benar melaksanakan fungsinya sebagai penyedia produk di hari-hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.

Tentu tidak salah menikmati kekhasan-kekhasan suasana Ramadhan. Adalah suatu anugerah kita dapat menjalani bulan ini dengan keunikan-keunikannya. Namun tanpa disadari, kita cenderung berfokus pada kekhasan tersebut sampai melupakan makna yang paling esensial dari bulan Ramadhan itu sendiri. Padahal Ramadhan mengandung makna pemurnian diri, yang benar-benar menghentakkan manusia pada kemanusiaannya yang paling hakiki. Ramadhan adalah bulan saat manusia disadarkan akan instink-instinknya yang paling dasar.

Menurut Sigmund Freud, pelopor psikoanalisis dari Austria, yang teorinya menjadi pondasi psikologi, manusia memiliki dua instink yang paling dasar yaitu instink kehidupan (eros) dan kematian (thanatos). Instink kehidupan mengarahkan manusia untuk berusaha agar tetap hidup. Instink ini terbagi dua, yakni instink kehidupan individual dan instink kehidupan spesies. Yang dimaksud instink kehidupan individual adalah keinginan masing-masing individu untuk mempertahankan kehidupannya secara pribadi. Instink ini berupa dorongan-dorongan untuk makan dan minum. Sedangkan instink kehidupan spesies adalah instink setiap manusia untuk menjaga keberlangsungan hidup spesies mereka. Instink ini berupa dorongan untuk melakukan aktivitas seksual yang bersifat reproduktif, yakni membuahkan keturunan supaya kehidupan manusia tetap eksis.

Awalnya Freud hanya mengangkat instink kehidupan sebagai instink paling dasar. Namun kemudian pada tahun 1920, ia mengemukakan gagasannya mengenai instink kematian, dalam bukunya berjudul Beyond the Pleasure Principle. Freud berpendapat bahwa di samping dorongan untuk mencari kesenangan dan menjaga eksistensi, tiap manusia juga memiliki dorongan untuk mati dan mematikan, mengembalikan dirinya dan orang lain kepada kondisi paling awal saat dirinya belum eksis di dunia ini. Yang termasuk dalam instink kematian ini adalah agresivitas, ketidakmampuan untuk mencintai, dan lain-lain yang bersifat destruktif.

Di samping berbicara tentang instink, Freud juga imembangun teori mengenai struktur pembentuk kepribadian manusia, yaitu id, ego, dan supergo. Baik instink kematian maupun kehidupan, keduanya tergolong sebagai id. Id adalah dorongan, impuls, yang sifatnya menuntut untuk dipuaskan.  Id terbentuk sejak kita terlahir di dunia, dengan tangisan kita, yang berhenti ketika kita mendapatkan air susu atau belaian sayang.

Ketika kita berkembang dari bayi menuju kanak-kanak, kita akan mulai belajar bahwa tidak semua keinginan id harus dipenuhi. Kita terbentur pada norma-norma, misalkan tidak boleh memukul teman yang menyakiti meskipun kita sangat menginginkannya, tidak boleh makan saat sedang belajar di kelas, dan sebagainya. Pada tahap inilah struktur kepribadian kedua yakni superego akan mulai terbentuk. Superego ini sering disamakan dengan hati nurani;moralitas, yakni pemahaman tiap individu bahwa ada batasan-batasan untuk melakukan apa yang ia kehendaki.  Untuk menyeimbangkan antara id dan superego inilah, struktur kepribadian yang disebut ego akan muncul.

 Ego yang dimaksud Freud bukanlah ke-aku-an dalam pemahaman mementingkan keinginan diri seperti pandangan masyarakat awam. Ego dalam konsep Freud justru mengacu kepada keberfungsian diri. Adalah fungsi ego untuk dapat menentukan cara yang paling sehat dan adaptif untuk menyesuaikan diri terhadap id yang mendesak dan superego yang membatasi. Adalah fungsi ego untuk menentukan apakah id harus ditekan, atau justru ditampilkan, atau bagaimana caranya agar id dapat terpenuhi tanpa melanggar aturan superego.

Jika ego tidak dapat mengatasi konflik-konflik dalam diri yang muncul akibat pertentangan id dan superego, maka individu akan melakukan apa yang disebut Freud sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Mekanisme ini bermacam-macam, mulai dari menyangkal, mencari-cari alasan, atau menutupi dengan hal-hal lain yang lebih dapat diterima. Semakin sering mekanisme ini dilakukan, menunjukkan ego mengalami kecemasan. Lambat laun ego akan semakin lemah. Saat-saat inilah stres, depresi, atau bahkan gangguan jiwa yang lebih parah bukan tidak mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, adalah kekuatan ego yang dapat menjaga setiap individu untuk berada dalam keadaan seimbang.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat potensial untuk melatih kekuatan ego manusia. Ketika kita berpuasa, kita diingatkan bahwa manusia tidak hanya memiliki id yang penuh dengan dorongan-dorongan yang harus dipenuhi dengan segera. Hidup manusia tidak hanya diisi dengan aktivitas biologis seperti makan, minum, dan melakukan aktivitas seksual. Manusia juga bukan makhluk hidup yang liar, yang tidak mampu menjinakkan emosi-emosi dalam dirinya, sehingga dapat marah sekehendak hatinya.

Bulan Ramadhan mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia juga tidak dapat dilepaskan dari superegonya. Kita dituntut untuk memahami ada aturan-aturan dalam pemenuhan hasrat kita. Meskipun benar yang dikatakan Freud bahwa manusia dapat hidup karena digerakkan oleh dorongan dalam diri, namun bukan berarti semua dorongan itu harus dipuaskan sesegera mungkin. Karena jika demikian, sama artinya dengan kita kembali pada masa bayi saat seluruh kebutuhan kita tidak dapat ditahan untuk minta dituruti.

Kurang lebih 30 hari selama bulan Ramadhan, setiap harinya ego belajar bagaimana menyeimbangkan keinginan id dan batasan superego tersebut. Bahkan yang tidak berpuasa sekalipun, harus dapat mengendalikan diri untuk tidak seenaknya makan dan minum di hadapan mereka yang menjalankan ibadah puasa. Saat berbuka pun, manusia diingatkan untuk tidak langsung menyantap hidangan tanpa terkendali. Karena berpuasa bukanlah sekedar ritual, yang selesai dijalankan individu akan kembali kehilangan kontrol diri. Berpuasa adalah momen-momen yang menyadarkan kita bahwa pada dasarnya manusia memiliki kontrol atas dirinya. Kita memiliki kemampuan untuk melakukan penundaan kepuasan (delay of gratification).

Hari raya Idul Fitri tentu tidak sekedar diperingati dengan busana baru, kue-kue lezat, dan sirup menyegarkan.  Karena Idul Fitri bukan sekedar merayakan akhir bulan puasa. Idul Fitri adalah perayaan kemenangan. Khususnya kemenangan ego, yang telah berjuang selama satu bulan untuk mengendalikan semua impuls dalam diri kita. Di akhir bulan Ramadhan ini, mereka yang melaksanakan ibadah puasa dengan kemurnian hati, akan memiliki ego yang baru. Ego yang lebih kuat, ego yang terlatih, ego yang sehat,ego yang dewasa,  sebuah ego yang telah memenangkan pertempuran hasrat. Mari kita rayakan kemenangan ego. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: