Skip to content

Rasakanlah Amarahmu, dan Ungkapkanlah

September 5, 2007

Robert A. Baron dan Donn Byrne menyatakan bahwa manusia adalah penghemat kognitif (cognitive miser). Maksudnya adalah manusia senantiasa berusaha menyederhanakan proses kerja otak agar dapat berpikir dengan mudah. Salah satu implikasinya, manusia menggunakan dikotomi-dikotomi dalam pemikirannya. Kita berpikir tentang siang dan malam, gelap dan terang, perempuan dan laki-laki, dan dikotomi yang paling mendasar adalah yang terkait dengan masalah kualitas, yakni baik dan buruk, positif dan negatif, lebih dan kurang, serta tinggi dan rendah.

Dikotomi-dikotomi itu mendasar karena mewarnai seluruh dikotomi yang ada dalam pikiran manusia. Misalkan saja manusia cenderung lebih menghargai terang ketimbang gelap, laki-laki dibandingkan perempuan. Di samping itu, dikotomi-dikotomi tersebut juga menjadi dasar pengkategorisasian seluruh sikap, perilaku, dan karakter manusia. Kita mengenal istilah sikap positif dan negatif, emosi positif dan negatif, perilaku baik dan buruk, serta karakter baik dan buruk. Secara umum kita pun membagi manusia ke dalam dua golongan, yakni orang baik dan orang jahat. 

Setiap individu diharapkan dapat menjadi manusia yang baik, dengan melakukan hal-hal yang positif dan menghindari segala sesuatu yang negatif. Dunia sudah dikonstruksi sedemikian rupa mengenai hal-hal yang dianggap baik dan buruk. Bahkan dalam hal mengalami emosi pun, yang notabene sulit untuk dihindari karena terkait dengan masalah perasaan, kita diajarkan untuk dapat membedakan antara emosi positif dan negatif.  Untuk selanjutnya kita dituntut untuk tidak merasakan emosi-emosi yang negatif, seperti takut, sedih, dan marah.

Di antara emosi-emosi yang dilabel negatif itu, marah merupakan emosi yang dinilai paling negatif dan harus dapat dikendalikan. Marah dianggap merusak dan membahayakan, baik terhadap orang lain yang menjadi sasaran kemarahan, maupun diri sendiri. Marah dianggap lebih membawa mudarat dibanding manfaat. Orang yang marah bahkan dianggap berdosa. Oleh karena itu setiap orang diminta untuk bersabar dan menahan amarahnya.

Dalam hal menahan amarah, perempuan memperoleh tuntutan yang lebih besar. Hal ini dikarenakan budaya telah membentuk citra perempuan sedemikian rupa untuk menjadi pribadi yang sabar. Atau dalam istilah Helene Deutsch, pengikut Sigmund Freud, perempuan telah dibentuk menjadi pribadi masokis, yang tidak mengeluh dan malah harus menerima semua penderitaan yang dialami. Sementara itu laki-laki lebih ditoleransi untuk menunjukkan amarahnya. Berbagai alasan dikemukakan untuk melegitimasi bahwa laki-laki berhak untuk marah. Faktor yang paling utama tentunya dikaitkan dengan aspek biologis, yakni hormon testosteron pada laki-laki. Penjelasan biologis untuk hal apapun selalu menuntut penerimaan bahwa hal itu tidak dapat lagi diubah kerena dianggap terberi, sudah dari sananya, sehingga harus dimaklumi.

Penjelasan semacam itu telah membawa implikasi lain. Amarah akhirnya dikaitkan dengan agresivitas, dan karena amarah juga dilekatkan kepada laki-laki dibandingkan perempuan, dan laki-laki dicitrakan lebih kuat secara fisik, maka agresivitas selalu dipersepsikan dalam bentuk agresivitas fisik.  Akhirnya stereotip yang melekat pada kata marah adalah kekerasan fisik. Tidak heran jika kita selalu memandang marah sebagai emosi negatif yang bersifat destruktif.

Padahal tidak ada yang salah dengan kemarahan itu sendiri. Marah adalah suatu emosi yang dapat dirasakan siapa saja, tidak peduli ia laki-laki atau perempuan. Marah bukan suatu emosi yang perlu dihindari, melainkan perlu dialami. Hanya dengan mengalami marah, para pahlawan telah terlahir di bumi pertiwi dan membawa kemerdekaan bagi bangsa kita. Karena kemarahan telah memberikan energi bagi seseorang untuk berjuang. Kartini adalah contoh nyata bagaimana kemarahannya terhadap sistem patriarki telah membuatnya menulis surat-surat penuh semangat, yang menobatkannya sebagai pahlawan nasional.

Marah bukan hanya perlu dirasakan, namun juga perlu ditunjukkan. Kemarahan yang terus dipendam dapat membawa orang ke dalam depresi. Karena alih-alih menyalahkan faktor eksternal, ia akan menyalahkan dirinya sendiri. Tidak heran jika seorang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) lama-kelamaan dapat mengalami sindrom perempuan teraniaya (battered women’s syndrome). Mereka  menganggap perlakuan kasar pasangannya memang layak diterimanya. Pada akhirnya mereka terus mendapatkan kekerasan yang berulang, tanpa berusaha mencari jalan untuk keluar dari penyiksaan itu. Tidak jarang KDRT itu pun berakhir dengan kematian korban.

Tanpa perlu mengalami KDRT, orang yang terus menyangkal amarahnya hanya akan membawa dampak negatif dalam sebuah relasi. Hal ini dikarenakan orang yang selalu mentoleransi sikap dan perilaku pasangan menurut Robert Baron sebenarnya telah melakukan communal behavior. Saat seseorang melakukan communal behavior, ia akan merasa telah berkorban karena mengabaikan keinginannya sendiri demi keinginan orang lain. Semakin sering communal behavior itu dilakukan, ia akan merasa semakin banyak melakukan pengorbanan. Suatu ketika, akan ada suatu titik dimana ia merasa tidak mampu lagi berkorban. Saat itulah kemarahan yang terakumulasi dalam setiap pengorbanan yang dilakukannya akan muncul ke permukaan. Tidak salah bila dikatakan bahwa orang yang tidak pernah menunjukkan amarahnya justru harus diwaspadai. Karena dengan selalu menahan marah, ia telah merakit partikel-partikel dinamit yang dapat meledak sewaktu-waktu. Sebagaimana sebuah peribahasa Perancis menyatakan, “Berhati-hatilah terhadap kemarahan burung merpati (craignez la colère de la colombe).”

Kiranjit Alwuhalia, seorang perempuan India korban KDRT yang membakar suaminya di tempat tidur merupakan salah satu contoh bagaimana kemarahan yang selama ini dipendam dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih berbahaya. Kisahnya telah difilmkan dengan judul Provoke, yang menunjukkan bagaimana KDRT yang membuatnya marah dan terluka selama bertahun-tahun telah memprovokasinya untuk melakukan upaya pembunuhan terhadap suaminya. 

Kemarahan yang telah terakumulasi tidak melulu muncul dalam bentuk ledakan amarah yang dashyat. Kemarahan itu dapat muncul tersamar, namun akan sangat mengguncang ketika diketahui. Sebut saja seorang suami yang selalu sabar menghadapi perilaku istri yang tidak menyenangkan ternyata memiliki hubungan dengan perempuan lain. Atau seorang anak yang marah terhadap orangtua yang selalu bertengkar menunjukkan kemarahannya dengan menjadi pecandu narkoba.

 Oleh karena itulah, kemarahan bukan melulu harus dihindari. Ada saatnya kemarahan itu perlu dirasakan dan ditunjukkan. Yesus yang oleh umat Nasrani diimani sebagai pribadi yang tidak berdosa pun secara asertif menunjukkan kemarahannya ketika rumah ibadah digunakan untuk berjualan. Paulus, salah satu tokoh penting dalam ajaran Kristen setelah zaman Yesus, memberikan aturan bahwa marah boleh dilakukan asal tidak sampai matahari terbenam, yang berarti marah diperbolehkan asalkan tidak mendendam.

Marah dengan cara yang benar bahkan dapat menghadirkan fungsi yang positif.  Hanya dengan menunjukkan kemarahan, orang akan mengerti bahwa kita tidak menyukai perilakunya. Dalam sebuah hubungan, kemarahan pasangan justru dapat menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang salah dan perlu diperbaiki. Tidak heran jika kemarahan dapat menjadi titik awal menuju suatu pertumbuhan diri. Hanya istri korban KDRT yang marah, yang dapat meninggalkan relasi yang membahayakan keselamatannya. Sejumlah penelitian menunjukkan bagaimana para perempuan ini kemudian menjalani hidup yang lebih menyenangkan.

Kemarahan juga dapat membuat seseorang bertahan dalam masa-masa sulit. Tokoh Terry Wolfmeyer yang dibintangi Joan Allen dalam sebuah film berjudul The Upside of Anger menunjukkan kegunaan marah yang satu ini. Dalam film itu, Terry yang ditinggalkan suaminya, harus mengurus empat anak perempuannya yang beranjak remaja dengan permasalahannya masing-masing. Dari sosok ibu yang menyenangkan, ia berubah menjadi pemarah. Namun kemarahannya telah menyelamatkannya untuk bertahan menghadapi setiap masalah yang muncul. Jika tidak, bukan tidak mungkin ia malah akan kehilangan kewarasannya akibat kondisi yang sangat menekan seperti itu. Mike Binder, sang penulis skenario pun berhasil menyampaikan pesan melalui film itu bahwa kemarahan memungkinkan pertumbuhan diri. Atau tepatnya dalam kata-kata Binder, yaitu ” the upside of anger is the person you can become.” 

Ada kalanya marah memang akan menjadi emosi yang mengalir begitu saja dalam diri kita. Saat pasangan meninggalkan kita dan memilih untuk hidup bersama orang lain, adalah wajar jika kita marah. Saat kita ditipu, dibohongi, dan disakiti dalam bentuk apapun, adalah wajar bila kita marah. Demikian pula saat bencana menghancurkan harta benda dan mengambil nyawa orang-orang terdekat. Ada saat-saat marah akan menjadi perlu, dan saat itu tidak marah justru menjadi tidak wajar.

Marah boleh saja dikategorikan sebagai emosi negatif. Namun kita tidak dapat menutup mata bahwa marah pun dapat menghasilkan sesuatu yang positif. Dikotomi hanyalah sebuah upaya kognitif yang mempermudah proses berpikir. Namun dikotomi tidaklah selalu murni membagi sesuatu menjadi dua. Ada wilayah abu-abu antara hitam dan putih, ada remang-remang di antara gelap dan terang. Manusia tidak dapat dikategorikan sebagai baik dan buruk hanya berdasarkan amarah yang ditampilkan.

Namun tentu bukan berarti marah boleh dilakukan kapan saja, di mana saja, dengan cara apapun, dan terhadap siapapun. Aristoteles pernah menyatakan bahwa marah harus dilakukan pada saat yang tepat, dengan tingkat kemarahan yang sesuai, dilakukan pada saat yang tepat dengan cara yang tepat, dan memiliki tujuan yang tepat. Pernyataan Aristoteles inilah yang kemudian dijadikan filosofi dasar dari anger management. Anger management bukanlah suatu terapi untuk membuat orang belajar menahan marah, namun justru mengolah agar marah itu dapat dirasakan dan ditampilkan dengan tepat.

Jadi, rasakanlah amarahmu, dan ungkapkanlah.

2 Comments leave one →
  1. Karman permalink
    September 24, 2007 9:30 am

    Salam dari anak SMA 2… Kita mau ngadain buka puasa bersama … Mau ikutan gak
    6 Okt ’07 di gajah mada plaza…
    Email : karman1203@gmail.com

  2. nCuLz permalink
    October 15, 2007 5:00 pm

    yeap2…im totally agreee…… ;p nice article…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: