Skip to content

Apa yang Yesus inginkan dari Perempuan Korban Kekerasan?

August 6, 2007

Kekerasan adalah menu sehari-hari dalam kehidupan perempuan, termasuk perempuan Kristen. Menurut Emerson & Rusell Dobash, kekerasan ini terjadi karena struktur relasi yang memposisikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, telah dilegitimasi oleh berbagai sistem termasuk sistem religius. Legitimasi sistem religius inilah yang membuat relasi itu tampak alamiah dan suci.

Termasuk dalam agama Kristen, dengan penafsiran Kitab Suci selama ini telah membuat perempuan dianggap layak menjadi korban. Bahkan perempuan yang menjadi korban telah mempercayai bahwa status mereka inferior di hadapan suami dan Allah serta pantas untuk hidup menderita.  Mereka sulit menerima pemikiran bahwa kekerasan atas diri mereka adalah salah. Menurut mereka, justru perlawanan terhadap ketidakadilan yang mereka alami merupakan sikap yang tidak Kristiani.

Namun demikian Susan Brooks Thistlethwaite meyakini dengan penafsiran kritis, Alkitab dapat dijadikan alat untuk menantang citra dalam teks Alkitab itu sendiri. Lebih lanjut Thistlethwaite menyatakan bahwa Alkitab membela perempuan lebih dari yang perempuan harapkan. Menurutnya, penafsiran kritis feminis terhadap Alkitab dapat membantu perempuan korban menemukan kembali harga dirinya.

Untuk itu pertama-tama perempuan perlu memahami bahwa Alkitab ditulis dari perspektif orang yang tidak berdaya. Hal ini dapat terlihat dari penetapan bangsa Israel yang saat itu merupakan budak-budak sebagai umat pilihan Allah. Atau dalam Keluaran 22 : 22-24, Allah menghukum keras orang yang menindas perempuan atau anak-anak. Jadi “tidak mempunyai kuasa” merupakan metafor yang terus digunakan dalam Alkitab untuk memperlihatkan bahwa mereka dihargai Allah secara khusus. Allah juga membantu mereka untuk menyadari bahwa penindasan terhadap mereka bukannya diterima tanpa perlawanan.

Alkitab menunjukkan bahwa Allah memilih orang-orang yang disingkirkan dan kemudian memberikan mereka perasaan harga diri yang baru. Hal ini pula yang dilanjutkan dalam pelayanan Yesus. Kisah persembahan janda miskin, pengampunan seorang pelacur yang beriman, penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan, dan pembelaan hak Maria menjadi murid menunjukkan perhatian Yesus kepada perempuan. Lebih dari itu, teks Yohanes 7:53-8:11 mengenai pembelaan Yesus terhadap perempuan yang berzinah merupakan teks yang paling ampuh bagi perempuan yang dianiaya untuk mengidentifikasi diri.   

Penafsiran kritis feminis juga membantu perempuan untuk mengambil kendali atas hidup mereka. Untuk itu perempuan perlu memahami bahwa meskipun perempuan tidak termasuk dalam kedua belas murid Yesus, namun perempuan termasuk dalam lingkaran pengikut Yesus yang paling dekat dan keikutsertaan mereka adalah tindakan yang disengaja. Injil telah menunjukkan bahwa perempuan merupakan murid Yesus yang paling setia sebab mereka tetap berada di kaki salib meskipun murid lain telah melarikan diri. Bahkan Yesus pertama kali menampakkan diri kepada perempuan setelah kebangkitanNya dan mengutus mereka untuk memberitakan hal tersebut kepada murid-murid lain. Fakta kebangkitan Yesus merupakan fakta sentral dari Kabar Baik, dan ternyata Yesus memilih perempuan untuk mengabarkan fakta sentral ini (Mat 28:10; Mrk 16:7; Luk 24:8-9). Jadi perempuan adalah subyek yang memiliki kendali, termasuk kendali untuk mengambil tindakan terhadap tindak kekerasan yang dialaminya.

Perempuan korban kekerasan juga perlu belajar bahwa kemarahan merupakan suatu hal yang sah untuk mereka lakukan. Untuk itu kita perlu memahami konteks historis dari Efesus 5 : 21-23 yang sering disalahtafsirkan sebagai ketaatan absolut yang wajib dilakukan istri terhadap suami. Surat Efesus ditulis pada saat yang bersamaan dengan Kolose. Dalam Kolose 3 :11 ditemukan pengulangan dari rumusan Galatia 3:28 namun dengan menghapus bagian kesetaraan perempuan dan laki-laki. Padahal Galatia 3 : 28 menyatakan bahwa dalam Kristus tidak ada laki-laki dan perempuan, dan pernyataan ini dapat dimanfaatkan untuk menentang pola patriarki.

Perlu diketahui bahwa dalam surat-surat pseudo Paulus memang ditemukan pergeseran visi egalitarianisme Yesus. Oleh karena itu kita pun perlu mengkritisi konteks historis dari surat Efesus 5 :21-23 ini. Perlu dipahami pula bahwa dalam Efesus, hubungan suami-istri dianalogikan dengan hubungan Kristus-Gereja. Menurut Walter Brueggemann, mengaitkan perkawinan dengan hubungan ilahi-manusiawi jelas-jelas mengilahikan superioritas laki-laki dalam hubungan itu.

Selain itu, interpretasi lain yang mungkin adalah melihat lebih lanjut kepada Efesus 5 :29, yang menyatakan “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya sama seperti Kristus terhadap jemaat.” Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang dianiaya pun dapat mengungkapkan kemarahan bila ia memang mencintai tubuhnya sendiri, dan seharusnya demikian.

Dalam hal ini saya ingin menambahkan bahwa Yesus pun tidak mengajarkan kasih yang ‘kebablasan’. Dalam teladan kepemimpinanNya, Ia mengajarkan juga asertivitas yang terlihat dari kemarahan yang diungkapkan Yesus ketika Bait Allah digunakan untuk berjualan. Dengan demikian, menurut saya, perempuan yang dianiaya seyogianya dapat mengambil tindakan yang asertif dan memegang kendali atas hidup mereka, bukan hanya diam tanpa perlawanan.

Tulisan ini merupakan ringkasan dari “Kekerasan terhadap Perempuan dan Penafsiran Feminis, yang ditulis oleh Susan Brooks Thistlewaite dalam buku Perempuan dan Tafsir Kitab Suci, dengan Letty M. Russell sebagai editor.

4 Comments leave one →
  1. Yusak Dewanto permalink
    July 26, 2008 1:18 am

    Apa yang Yesus inginkan dari perempuan Kristen atau pun laki-laki Kristen korban kekerasan adalah sikap yang mau mengampuni. Kasih yang penuh pengampunan. Kenapa? Karena kita melihat pada karya Allah melalui Yesus Kristus: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8).
    Kita semua, laki-laki & perempuan, sudah berdosa dan karena dosa kita Kristus harus mengalami kekerasan, bahkan kematian. Ini ajaran kasih yang sesungguhnya.
    Untuk membuktikan hal ini marilah kita melihat Mat. 5:38-48; Mat. 18:21-35; dan masih banyak lagi.
    Kalau kita membalas kekerasan dengan kemarahan maka rantai kekerasan tidak pernah akan terputus. Ini hanya solusi manusiawi belaka. Yang terpenting adalah buah Roh.
    Begitu juga dengan laki-laki yang melakukan kekerasan terhadap perempuan seharusnya sadar. Dari semua ciptaan Allah dalam Kej. 2:20 laki-laki telah menemukan bahwa tidak ada yang dapat menjadi penolong baginya, selain selain nanti Allah menjadikan baginya seorang perempuan dari bagian tubuhnya sendiri, sehingga akhirnya laki-laki berkata “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Karena itu sama seperti seorang laki-laki mengasihi dirinya sendiri begitu pun dia harus mengasihi perempuan.
    Allah kita tidak menginginkan kita melakukan penyiksaan atau kekerasan dalam berbagai bentuknya terhadap sesama kita, kalau kita ingin melihat sorga itu.

  2. esterlianawati permalink*
    July 29, 2008 5:07 am

    Mmg benar kita tdk perlu membalas kekerasan dgn kekerasan. Pengampunan pastinya juga perlu, tp mnrt sy bukan dlm artian menerima kekerasan itu, melainkan lbh kpd korban bs berdamai dengan dirinya sendiri.

  3. andohar purba permalink
    August 3, 2008 2:38 pm

    Cukup kaget membaca tulisan ini dengan beberapa kata kunci: tafsir kitab suci, pseudo Paulus, konteks historis, Brueggemann, Russel. Benar-benar lintas bidang. Ck ck ck..

    Memang tampaknya dalam dua puluh tahun terakhir, tologi kristen cukup dikejutkan dengan gerakan feminis yang mendorong penggalian ulang sejarah teks. Penggalian teks dengan perspektif feminis yang menggunakan metode historis kritis (misal: fiorenza dan Gebara) diharapkan mampu merekonstruksi sejarah kitab suci dan menggali peran perempuan di sana. Tapi tentunya bukan tanpa masalah. Setidaknya metode rekonstruksi sejarah teks belakangan semakin digugat. Utamanya oleh para pemegang keyakinan keutuhan kanon sebagai wahyu tertutup.

    Selain masalah metode analisis kritik historis, tudingan marxis juga ikut menghantui. Mungkin karena menggunakan analisis piramida kekuasaan yang biasa digunakan teologi pembebasan dari amerika latin. Juga klaim Fiorenza yang mengaku gerakan feminis yang diusungnya satu poros dengan Gutierrez.

    Namun di atas itu semua, saya menyambut gembira tulisan-tulisan seperti yang dibuat sdr esterlianawati di atas sebagai semacam alternatif berteologi bagi warga gereja. Setidaknya dapat menawar ulang berbagai argumentasi teologis bias patriakhis yang terlanjur termapankan dalam tradisi gereja di indonesia.

    Selamat merayakan keperempuanan

    Krista memberkatimu..

  4. esterlianawati permalink*
    August 4, 2008 1:35 am

    Makasih banyak..
    Senang bgt dgn komentar Anda. Jd menambah wawasan sy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: