Skip to content

Stereotip Gender, Tidak Hanya Perempuan yang Dirugikan

July 18, 2007

(Berdasarkan Puisi oleh Nancy R. Smith)

Dalam masyarakat kita telah terbentuk sekian lama pembedaan antara perempuan dan laki-laki. Pembedaan, bukan perbedaan. Pembedaan mengandung arti konstruksi atau bentukan, bukan sesuatu yang alamiah. Kepada perempuan dan laki-laki telah dilekatkan karakteristik tertentu, baik secara fisik, kepribadian, maupun kognitif. Perempuan dianggap lemah secara fisik, dan laki-laki kuat. Perempuan dianggap sebagai makhluk irasional, emosional, lembut, mudah menangis, dependen. Sebaliknya laki-laki itu rasional, independen, berinisiatif, dan sebagainya. Jadi ada pandangan mengenai maskulinitas yang terkait dengan laki-laki, dan femininitas yang terkait dengan perempuan.


Karakteristik-karakteristik itu dinamakan stereotip gender. Berdasarkan karakteristik tersebut akan melekat pula secara otomatis peran-peran yang diharapkan dari seorang laki-laki dan perempuan, atau dikenal dengan istilah peran gender. Misalnya hanya laki-laki yang pantas menjadi pemimpin karena ia rasional. Laki-laki adalah kepala keluarga yang wajib menafkahi istri dan anak-anaknya. Atau perempuan wajib mengasuh anak karena ia punya kelembutan dan kesabaran. Apalagi perempuanlah yang secara biologis memiliki fungsi untuk melahirkan.


Belum lama ini saya memberikan hadiah kepada dua anak sahabat saya. Kepada anak perempuan, saya memberikan sebuah CD lagu berjudul It’s a Girl. Kepada anak laki-lakinya, saya memberikan CD sejenis dengan judul It’s a Boy. Pilihan yang wajar sepertinya, tetapi membaca kembali mengenai stereotip gender menyadarkan saya bahwa ternyata saya masih bertindak mengikuti stereotip gender. Contoh kasus ini mungkin terkesan ringan, padahal stereotip gender itu merugikan, juga bagi laki-laki yang selama ini ‘seolah-olah’ lebih diuntungkan.
Perempuan mengalami opresi yang sepertinya lebih besar karena stereotip gender. Bila ada laki-laki dan perempuan memiliki kompetensi yang setara, perusahaan biasanya lebih memilih laki-laki untuk dipromosikan ke jenjang lebih tinggi. Karena perempuan dianggap kurang rasional dan masih mengandalkan sisi emosionalnya. Demikian pula dengan seorang perempuan yang sukses karirnya, ia cenderung menjadi pihak yang lebih dipersalahkan bila kehidupan perkawinannya tidak harmonis. Karena sesukses apapun ia, perempuan masih dilekatkan dengan perannya sebagai ibu rumah tangga.Laki-laki pun bukan selalu menjadi pihak yang tidak dirugikan oleh stereotip gender. Seorang teman laki-laki saya tidak berani melamar kekasihnya sebelum memiliki rumah dan mobil pribadi karena tuntutan sosial bahwa laki-laki harus memenuhi kebutuhan keluarga. Banyak laki-laki yang juga merasa rendah diri ketika istrinya memiliki penghasilan lebih besar darinya, meskipun istri tidak pernah mempermasalahkan keadaan tersebut. Suami yang kehilangan pekerjaan akan jauh lebih tertekan dibandingkan bila istri mengalami hal serupa. (Meskipun tidak dapat disangkal pula bahwa masih banyak perempuan yang memandang rendah suami karena tidak bekerja atau berpenghasilan di bawahnya.).

Masih banyak stereotip gender yang merugikan perempuan dan laki-laki. Puisi Nancy R. Smith berikut ini sangat baik menggambarkan bagaimana stereotip gender merugikan keduanya; perempuan dan laki-laki :
For every woman, who is tired of acting weak when she knows she is strong,
There is a man who is tired of appearing strong when he feels vulnerable.
For every woman who is tired of acting dumb,
There is a man who is burdened with the constant expectations of knowing everything
For every woman who is tired of being called an “emotional female,”
There is a man who is denied the right to weep and be gentle
For every woman who feels “tied down” by her children,
There is a man who is denied the full pleasures of shared parenthood.
For every woman who takes a step toward her own liberation
There is a man who finds the way to freedom has been made a little easier

Nancy R. Smith
Dikutip dari Olson, David.H & DeFrain, John (2003),
Dalam Marriages and Families.

6 Comments leave one →
  1. Mr. Mahmud permalink
    July 19, 2007 9:29 am

    Nice blog. Good view.
    Great writings

  2. Louise permalink
    July 21, 2007 7:26 am

    nice writing.. i agree…….great poem

  3. nova permalink
    November 21, 2008 7:19 am

    tulisannya bagus. saya juga sedang menyusun skripsi mengenai sterotip gender pada remaja. jadi semoga tulisan Miss bisa jadi referensi untuk saya.
    thx

  4. esterlianawati permalink*
    November 24, 2008 6:36 am

    tengkyu. good luck skripsinya ya🙂

  5. elang botak permalink
    May 3, 2013 9:10 am

    waks, berat banget bacanya, buat otak g yg uda lama kepakenya gitu2 aja🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: