Skip to content

PASCAPENGKHIANATAN, MAUKAH KITA MEMAAFKAN?

July 16, 2007

Ketika memulai suatu hubungan, umumnya tidak seorang pun terpikir hubungan mereka akan berakhir tidak bahagia. Hal ini dikarenakan sebuah hubungan biasanya terjalin atas rasa saling percaya. Percaya bahwa masing-masing adalah pasangan yang tepat satu sama lain. Percaya bahwa keduanya dapat saling mencintai dan setia selamanya.

Namun kehidupan tidak selalu semulus yang kita inginkan. Cinta tidak senantiasa terus menyala dalam perjalanan suatu hubungan. Pada saat itulah, kesetiaan akan menjadi senjata yang paling dibutuhkan untuk tetap menjaga eksistensi sebuah hubungan. Sayangnya meskipun hubungan cinta dan kesetiaan tidak selalu bersifat linear, namun kesetiaan cenderung goyah ketika api cinta itu meredup. Dan saat seseorang tidak lagi setia, bukan hanya hubungan itu sendiri yang ternoda. Namun lebih jauh dari itu, rasa percaya yang merupakan pondasi hubungan itu kini telah dikhianati.

Dan ketika pengkhianatan itu terungkap, kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Membangun kembali kepercayaan itu dengan melanjutkan hubungan atau memilih untuk mengakhiri hubungan? Kecenderungan kita jika diajukan pilihan tersebut akan memilih untuk mengakhiri hubungan. Namun ketika kita dihadapkan langsung pada situasi tersebut, proses pengambilan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan tidak sesederhana yang diduga.

Cinta yang mungkin masih ada akan menjadi faktor pendorong utama bagi pasangan yang dikhianati untuk memilih melanjutkan hubungan. Selain itu, bagi sebagian orang, ada yang terpaksa melanjutkan hubungan karena berbagai aspek struktural. Misalnya mempertimbangkan nama baik, status, kondisi finansial, dan anak-anak. Namun apapun faktor yang mendasari, keputusan apapun yang dipilih, ada satu hal yang harus dilakukan saat kita dikhianati. Yakni kita harus belajar memaafkan untuk dapat melanjutkan kehidupan pasca pengkhianatan dengan lebih baik.

Memaafkan sebuah pengkhianatan tentu bukan hal yang mudah. Pengkhianatan mungkin merupakan hal yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan. Seburuk apapun relasi dengan pasangan, mengetahui bahwa pasangan telah berkhianat tetap akan mengguncang perasaan seseorang. Rasa terguncang ini umumnya mendominasi di awal pengkhianatan itu terbongkar. Keterguncangan akan semakin terasa bila hubungan dengan pasangan sebelumnya baik-baik saja, atau setidaknya itulah yang dipersepsikan pihak yang dikhianati. Berbagai pertanyaan akan muncul seraya tidak mempercayai peristiwa pahit tersebut.

Pihak yang dikhianati cenderung tidak habis pikir bila selama ini ia merasa bahagia dengan hubungan mereka, bagaimana mungkin pasangannya justru mencari kepuasan dari orang lain. Rasa tidak percaya akan terus mendera, mempertanyakan bagaimana mungkin orang yang dikagumi dan disayangi dapat melakukan hal semacam itu terhadapnya. Apalagi bila selama ini pasangan tampil sebagai sosok yang baik, setia,  dan bertanggung jawab, seolah sangat tidak mungkin ia dapat melakukan hal itu. Rasa tidak percaya ini akan membuatnya terus menyangkal bahwa memang pengkhianatan itu telah terjadi.

Rasa terluka akan hadir kemudian seiring dengan mulai munculnya penerimaan bahwa pengkhianatan itu memang terjadi. Secara otomatis, pihak yang dikhianati akan merangkaikan jalinan peristiwa dalam benaknya. Ia mulai mereka-reka bahwa pada hari dan tanggal sekian saat pasangan mengatakan sibuk sebenarnya ia sedang pergi dengan orang lain. Saat pasangan mengaku dinas ke luar kota, ternyata ia sedang bersama orang lain. Atau saat pasangan meminta pengeluaran dihemat ternyata ia malah membelikan hadiah untuk orang lain. Demikian seterusnya, pemikiran-pemikiran semacam ini sulit dihentikan dan semakin melukai perasaan pihak yang dikhianati.

Pengkhianatan juga menyerang harga diri (self-esteem) seseorang. Hal ini dikarenakan pengkhianatan mendorong orang melakukan perbandingan sosial (social comparison) dengan pihak ketiga. Perbandingan sosial yang dilakukan pihak yang dikhianati cenderung bersifat ke atas (upward), yaitu merasa bahwa pihak ketiga jauh lebih baik dibandingkan dirinya. Pihak yang dikhianati cenderung merasa tidak semenarik ataupun sesukses pihak ketiga. Perbandingan semacam ini akan menjatuhkan harga diri seketika.

Perasaan terguncang, terluka, kecewa, dan rendah diri adalah emosi-emosi negatif yang lebih ditujukan ke dalam diri (inward). Di samping emosi yang bersifat inward tersebut,  pihak yang dikhianati juga akan merasakan outward emotion, yakni emosi yang ditujukan ke luar diri, terhadap pasangan yang mengkhianati. Emosi ini dapat berupa rasa marah, yang terutama muncul jika pengkhianatan itu diketahui dari orang lain dan awalnya pasangan tidak mengakuinya. Selain itu, yang juga sering muncul adalah kehilangan respek dan rasa jijik, terutama bila pengkhianatan pasangan telah melibatkan aktivitas seksual. Rasa jijik ini menurut Frank Pittman, seorang terapis keluarga, juga cenderung muncul bila mengetahui bahwa pasangan gemar berselingkuh dengan banyak orang, atau yang disebut dengan philandering. Dan emosi negatif yang paling membahayakan hubungan adalah hilangnya rasa kepercayaan kepada pasangan.

Sedemikian menyakitkannya sebuah pengkhianatan, namun kita tetap perlu memaafkan pasangan yang telah berkhianat.  Tentu kita tidak dapat membenarkan perbuatannya, namun kita dapat menerima kesalahannya. Sebagaimana yang ditulis W. Somerset Maugham, dalam novelnya The Painted Veil yang bertutur tentang perselingkuhan, bahwa manusia tidak dapat diprediksikan, ia dapat berbuat salah dan mengecewakan orang lain. Selain itu, kita perlu menghargai pasangan yang mau meminta maaf. Karena meminta maaf bukanlah suatu hal yang mudah, sampai sebuah peribahasa menyatakan orang yang meminta maaf adalah seorang pahlawan.

Bahkan meskipun pasangan tidak meminta maaf dan lebih memilih bersama pihak ketiga, kita tetap perlu memaafkannya. Karena memaafkan yang sesungguhnya berarti berdamai dengan diri sendiri. Tindakan memaafkan pada dasarnya merupakan tindakan internal, bukan eksternal. Memaafkan lebih terkait dengan diri sendiri, bukan orang lain.  Ketika memaafkan, maka kita sebagai si pemaaf juga akan ‘tersembuhkan’. Memaafkan dapat memberi kelegaan karena kita tidak lagi berfokus pada hal-hal negatif. Berpikir negatif membutuhkan energi psikologis yang besar, yang dapat membuat kita lelah mental dan sulit melakukan hal positif lainnya. Hanya dengan memaafkan, kita dapat melangkah ke depan dengan lebih baik, bahkan sekalipun tidak lagi melanjutkan hubungan dengan orang yang sama.

Namun dengan luka-luka pengkhianatan yang begitu perih, wajar jika kita meragukan kemampuan kita untuk dapat memaafkan. Apalagi jika kita memilih untuk tetap melanjutkan hubungan dengan orang yang jelas telah menyakiti kita. Karena melanjutkan kembali hubungan pasca pengkhianatan tidak sekedar membutuhkan maaf, melainkan juga upaya membangun kembali kepercayaan terhadap pasangan.  Dalam kondisi kita tetap bersamanya, memaafkan akan menjadi sebuah proses yang harus diupayakan bersama.

Pasangan yang berkhianat harus terlebih dahulu menerima bahwa pengkhianatan yang dilakukan adalah sepenuhnya kesalahannya. Dengan dimilikinya rasa tanggung jawab personal seperti ini akan membantunya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Selama pihak yang berkhianat masih membuat excuse atas pengkhianatannya, proses memaafkan tidak dapat dimulai. Selain itu, pihak yang berkhianat juga harus menyadari bahwa hati pasangannya telah terluka. Akan ada saat-saat dimana pasangan teringat akan pengkhianatan tersebut, dan ingatan itu akan memunculkan kembali amarah dan emosi negatif lainnya. Saat-saat seperti itulah, pihak yang berkhianat harus dapat dengan rendah hati menerimanya sebagai bagian dari proses penyembuhan.

Di sisi lain, pihak yang dikhianati harus benar-benar berkeinginan untuk memaafkan. Ketika kita memutuskan untuk memaafkan, berarti juga melupakan kesalahan pasangan. Kita harus menganggapnya sebagai manusia baru, yang bersih dari noda pengkhianatan. Memaafkan berarti tidak lagi mengungkit kesalahan pasangan. Terus mengingatkan pasangan pada kesalahannya bukanlah suatu hal yang bijaksana, karena dapat membuatnya merasa tidak mampu memperbaiki dirinya. Kesalahan yang pernah dilakukan pasangan bukanlah suatu excuse agar kita dapat terus memakinya. Berhentilah menghukum pasangan dan memandangnya rendah sesakit apapun perasaan kita.

Dalam proses memaafkan ini, akan jauh lebih baik jika masing-masing pihak melakukan introspeksi diri. Kedua pasangan perlu belajar menemukan kebutuhan masing-masing pihak yang selama ini mungkin tidak terpenuhi. Terbuka satu sama lain, termasuk ketika mulai tertarik dengan orang lain juga merupakan upaya yang perlu dilakukan untuk menghindari kesalahan yang sama. Untuk dapat melakukannya, pasangan perlu menyadari bahwa rasa ketertarikan dengan orang lain akan sangat mungkin muncul mengingat pasangan kita bukanlah manusia sempurna yang memiliki segalanya. Namun rasa itu dapat dicegah untuk berkembang lebih jauh asalkan masing-masing pihak dapat bersikap dewasa untuk membicarakannya.

Memaafkan memang tidak mudah, namun juga tidak sesulit yang kita duga. Sebuah nasihat bijak dari Korea menyatakan ketika kita merasa sulit memaafkan, kita dapat memulainya dengan memberi kebencian sedikit ruang pada hati kita. Pengkhianatan mungkin dapat menjadi sinyal berakhirnya sebuah hubungan. Namun pengkhianatan dapat pula menjadi katalis untuk pertumbuhan yang positif dalam kehidupan pasangan tersebut selanjutnya. Semua bergantung pada kita, maukah kita memaafkan?

19 Comments leave one →
  1. yanti permalink
    November 7, 2007 1:14 pm

    thx yaaaaaaaaaaaaaa dah sdikit ngbantu aq, slesein tugas kuliah y9 bikin pushin9

  2. gnjar permalink
    September 18, 2008 3:51 am

    ga bisa,
    hti nie dah trlanjur sakit.

    plagi dia lbih milih bersama Dia..

    hanya satu harapanku.

    “semoga nanti dia merasakan apa yang aku rasain sekarang”

  3. esterlianawati permalink*
    September 18, 2008 7:09 am

    Smg bs dapatin yg lbh baik dr dia ya..dan yg terbaik tentunya..

  4. znain permalink
    October 3, 2008 8:42 am

    ya berat memang ketika itu terjadi..namanya dikhianat…maaf bisa di sampaikan serta bisa dimaafkan…tapi apakah kejadian itu sanggup di lupakan, bisa dilakukan bila hati selama itu mampu menggontrol pikiran tdk di goyahkan dengan rasa sayang yg mendalam…

  5. esterlianawati permalink*
    October 6, 2008 2:05 am

    yup yup, pastinya gak segampang yg kutuliskan ya ..

  6. echi permalink
    August 18, 2009 11:04 am

    sy sudah mengalaminya hampir 4 kalinya mba selama pernikahan saya 5 tahun, selalu sy memaafkannya, walaupun rasa sakit di hati tidak akan pernah bisa hilang.
    sekarang dia mengulanginya lagi. sekarang sy binggung mba harus bagaimana. bukan hanya luka hati, tapi perlakuan kasar dan gampang mencaci juga sering saya terima. tapi bila sy mengambil keputusa berpisah bagaimana dengan nama baik, status, kondisi finansial, dan anak saya yg baru berumur 4 thn. tolong bantuannya mba?

    • esterlianawati permalink*
      August 20, 2009 7:05 am

      Mbak echi, mksh sblmnya dah berbagi di sini.
      Mmg utk bs membangun kembali hub stlh pengkhianatan, butuh krj sm dr kedua pihak, sulit kl cm slh satu saja yg berupaya memperbaiki, apalg jika yg berjuang justru hny dr mbak echi sbg pihak yg disakiti.
      Sy bs mengerti kondisi mbak echi , kebimbangan, dan kebingungan mbak mengenai hub mbak saat ini.
      Mgkn utk membantu, mbak bs buat daftar positif dan negatif dari pilihan2 yg mbak pny, misalnya jika mbak melanjutkan hub ini atau sebaliknya kalau mbak berpisah. Mana yg lbh bisa mbak tanggung, konsekuensi negatif dari melanjutkan hub atau konsekuensi negatif dr perceraian? Mana yg bs membuat mbak lbh bs bertumbuh menjadi pribadi yg lbh baik?

      Apapun pilihannya, yg terpenting adlh kesejahteraan mbak yg nantinya jg akan mempengaruhi kesejahteraan anak. Jika mbak memutuskan utk tetap berada dlm hub saat ini, apa yg perlu dilakukan? Misalnya mengajak suami menemui konselor perkawinan. Atau jk suami sdh tdk dpt diajak kerja sama, buatlah diri mbak bahagia. Mgkn sulit kedgrannya tp ckp bnyk yg dpt melakukannya. Ikutilah kegiatan2 yg mbak sukai, kembangkan potensi mbak, dsb. Atau jk mbak memutuskan utk berpisah, hubungilah lembaga2 yg bs membantu mbak, baik dr segi pemberdayaan ekonomi, pendampingan hukum, dsb.

      Mgkn ini yg bs aku bagikan ke mbak. Kl ada yg mbak echi mau bicarakan lbh lnjt, kita bs kontak lewat email ya. Emailku esterlianawati@yahoo.com.

      Take care, mbak🙂

  7. August 19, 2009 4:25 am

    Wah..ini sih pengalaman pribadi, bener Wati…dikhianati tuh sakiiittttt banget, maain? ya mau gimana lagi, gak ada untungnya mendem terus kan, cuman kalau ngelupakan kayaknya susah ya. Nggak tau tuh kalau Wati..kayaknya bisa ya, kalau Mengkhianati…ehmmmm, rasanya hampir setiap lelaki pernah berkhianat deh ( jujur aja nih ), entah ma pasangannya atau diri sendiri. ya udahlah, katanya kan “experience is the best teacher”..katanya sih.

    Yang ini boleh di edit Wat : rajin banget posting ya, sempet istirahat kan? Jempol empat-empatnya mas angkat deh buat Wati.
    Hope see you soon ( wah ntah kapan itu yah )

    • esterlianawati permalink*
      August 20, 2009 9:55 am

      iya mas, pengalaman adlh guru yg terbaik🙂
      smg cm hampir ya, engga sampe smua laki2 prnh berkhianat hehe.
      gak rajin2 amat kok mas, cm posting yg emang dah dikerjain sbg kewajiban..
      kapan2 pasti ketemu, mas😉
      tq ya mas abie

  8. dewi permalink
    January 10, 2010 12:21 am

    pengkhianatan memang menyakitkan, tpi sebagai istri yang sholikhah alangkah mulianya jika kita memaafkan kesalahan suami. begitu juga aku.. aku ingin bersama kembali dan memaafkan semua pengkhianatan yang dilakukan oleh suamuku… memang berat rasanya.. tapi sebejat apapun dia suamiku.. kini aku dihadapkan oleh keluargaku yang sudah menolak 100% keberadaan suamiku,ake serba dilema.
    jika ku ikuti kata hati maka aku akan dibuang oleh keluargaku.. bagaimana aku menyikapinya..???

    • esterlianawati permalink*
      January 15, 2010 2:27 pm

      Mbak Dewi, kl mmg ada itikad baik dr suami utk berubah, Mbak dan suami bs melakukan yg terbaik utk memperbaiki kehdpan perkawinan Mbak sekaligus menunjukkan pd klrg Mbak bhw mmg suami sungguh2 mau berubah. Tidak mudah mmg. Tp pelan2 klrg akan melihat perbaikan dlm diri suami Mbak dan dlm hub Mbak dgnnya, dan mgkn ini akan membantu utk melunakkan hati mrk. Tp kl suami tdk menunjukkan itikad baik, kl hny Mbak yg rela utk memaafkan smntr suami tdk menunjukkan keinginan ataupun upaya2 utk memperbaiki hubungan, sy kira sebaiknya dipertimbangkan lg pendapat klrg Mbak. Krn utk menjalani hub pascapengkhianatan, sulit utk melakukannya sndran. Dan memaafkan suami tdk sll berarti hrs kembali dgnnya. Sy doakan yg terbaik utk Mbak Dewi. Salam.

  9. chu permalink
    April 28, 2010 1:41 am

    sangat sakit, tp cuma bisa diam seperi orang bodoh. karena dibelakang ada seorang manusia kecil yang butuh kasih sayang kedua orang tuanya……hanya bisa berharap, semoga tuhan berada di pihak kita amien…..

    • Ester Lianawati permalink*
      May 1, 2010 3:09 pm

      Ibu Chu, mksh udah sharing di sini.
      Sy bs rasakan sakitnya. Smg jika Ibu memilih utk tetap bersama suami, sklpun mgkn alasan utamanya utk anak, ttp smg dlm prosesnya, Ibu dan suami bisa memperbaiki hub utk jd lbh baik, bahkan lbh baik dr sblm pengkhianatan itu terjadi. Mmg terdengar tidak mgkn, tp ckp bnyk pasangan yg kukenal bs menjalin hubungan yg lbh baik stlh kejadian menyakitkan ini. Smg Tuhan menyertai Ibu dan klrg.

  10. Ellisa permalink
    April 21, 2013 10:25 am

    maaf mbak ester, ingin tanya saja..
    saya memiliki tunangan. selama ini kami tdk prnah bertemu, karena dia di jepang dan saya di indonesia. suatu saat, saya mengetahui akun facebook dia dan pastinya saya membuka apa yang ada di message nya. ternyata benar, beberapa wanita dipanggil sayang dan diiming2ii janji menikah, padahal sudah bertunangan dengan saya. saya bertanya kepada dia, tapi dia selalu menjawab bahwa saya yang paling dia anggp serius, yang lain hanya mainan dan iseng2, serta hanya untuk mengisi kekosongan hari2nya di jepang. apakah perbuatan itu termasuk selingkuh mbk, meskipun hanya di dunia maya? dan apakah saya berhak untuk marah jika hal tersebut terjadi meskipun dia tidak pernah bertemu dengan wanita2 tersebut? mohon saranya. terimakasih

    • Ester Lianawati permalink*
      April 25, 2013 6:10 pm

      Dear Ellisa,

      Sy pribadi msh menganut pandangan umum ttg suatu hub, ktk slh satu pihak menjalin hub dgn org lain di dunia maya sklpun, sy menganggapnya sbg bntk pengkhianatan. Tp tentunya sy tdk bs memaksakan pndgan ini krn sy jg menemukan psgan2 yg sdh menentukan sendiri di antara mrk mengenai apa yg dianggap sbg pengkhianatan dan bukan.
      Marah mnrt sy adlh hak pribadi, tiap org berhak marah asalkan dgn cara2 yg tdk merugikan dan membahayakan diri sendiri atau org lain.

      Namun jika boleh sy memberi pendapat, pertanyaan yg hendaknya diajukan adlh bgmn jika tunangan kembali melakukan hal yg sama? Apkh sudah ada pembicaraan mengenai hal ini dan bgmn km akan menghadapinya? Selain itu, apkh km sendiri siap menjalin hub yg lbh serius (pernikahan) dgn seseorang yang mempermainkan perempuan lain (jk mnrtnya itu hny iseng dan perempuan lain itu hny mainan) dan tentunya pd saat yg sama mempermainkan km sendiri sbg tunangannya?

      Smg pertanyaan2 ini dpt membantumu dlm mengambil keputusan selnjtnya. Sy doakan yg terbaik utk hub km dgn tunangan.

  11. yosephina permalink
    May 12, 2013 8:26 am

    kenapa perasaan susah sekali di kontrol yah mba -.-
    sy prnh di khianati di pikiran sy , sy sdh tdk mw tp di hati masih syg bangettttt dan bibrmu ssh blg tdk😦

    • Ester Lianawati permalink*
      June 15, 2013 5:21 am

      memang susah tetapi bisa😉
      jika perasaan sayang msh ada dan masih ada keinginan utk memaafkan dan kembali menjalin hub, mengapa tidak?
      pengkhianatan bisa jadi awal utk memulai hub yang justru lbh mesra, asalkan org yg mengkhianati jg menunjukkan itikad baik bukan hanya utk tdk mengulangi perbuatannya ttp jg utk sama2 menjalani hub “baru” yg lbh indah itu🙂
      yg perlu hati2 dan dipertanyakan ke diri sendiri adlh itu perasaan sayang atau krn terbiasa bersama dia😉

  12. yono cipto permalink
    August 9, 2013 6:29 pm

    saya mersa dihianati,tp smpai skarang sy belum bs mengungkpny,trm ksih untuk artikelny,sdkit bnyak sy bs terbantu setelah membacany,term ksih.

    • Ester Lianawati permalink*
      August 28, 2013 11:22 pm

      Sama2,sng tulisan ini sdkt bnyk dpt membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: