Skip to content

Menjadi Pemenang

July 16, 2007

Tanggal 26 Juni diperingati sebagai hari bebas narkoba. Selain menjadi peringatan bagi kita semua untuk menjauhi narkoba, peringatan bebas narkoba juga ditujukan untuk merayakan keberhasilan para mantan pengguna narkoba dalam melepaskan keterikatan mereka pada narkoba. Mengenai tujuan yang kedua ini, banyak orang mempertanyakan mengapa keberhasilan itu perlu dirayakan. Banyak pula yang menentang mengapa pembebasan itu dinamakan sebagai suatu keberhasilan. Bukankah seharusnya setiap orang ‘baik-baik’ tidak terjerat narkoba? Dan oleh karenanya, melepaskan diri dari narkoba memang sepatutnya dilakukan?

Pada dasarnya kita sebagai manusia memang gemar menghemat secara kognitif. Kita lebih suka berpikir dengan cepat dan mudah. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan dikotomi, misalnya baik dan jahat, hitam dan putih. Pemikiran seperti ini yang membuat kita sering melabel orang lain. Salah satu dikotomi yang sering kita gunakan adalah ketika menilai orang ‘baik-baik’ versus bukan orang ‘baik-baik’. Kita punya stereotip tersendiri mengenai apa yang disebut sebagai orang baik-baik. Selama orang itu tidak melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat umum, mereka akan disebut orang baik-baik. Sebaliknya ketika seseorang melanggar norma, ia akan dianggap bukan orang baik-baik.

Menggunakan narkoba tentunya akan membawa dampak negatif berkepanjangan bagi si pengguna itu sendiri. Kita tahu bagaimana narkoba mempengaruhi fisik, proses berpikir, emosi, dan kehidupan sosial seseorang. Bukan hanya substansi narkoba itu sendiri yang berbahaya. Alat yang dipakai pun dapat membawa dampak negatif tersendiri. Data terakhir yang ditemukan Yayasan Pelita Ilmu menunjukkan penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna narkoba telah meningkatkan jumlah penderita HIV/AIDS hingga 10 kali lipat. 

Narkoba tidak hanya berdampak pada penggunanya, namun juga orang-orang terdekatnya. Perlu diketahui bahwa para pengguna narkoba bukan hanya mereka yang memiliki keluarga tidak harmonis. Tidak sedikit pengguna yang justru bertumbuh dalam lingkungan yang hangat. Dalam kondisi seperti ini, keterguncangan keluarga akan jauh lebih besar ketika mengetahui bahwa salah satu anggota keluarga telah menjadi pengguna narkoba. Namun seperti apapun relasi keluarga, rasa tertekan, terguncang, kecewa, marah, sedih, saling menyalahkan, adalah reaksi-reaksi yang mungkin akan dialami pihak keluarga pengguna.

Dengan dampak negatif yang tidak sedikit, tidak heran jika para pengguna narkoba akan dilabel sebagai bukan orang baik-baik. Mereka dijauhi, dihina, dicaci maki, bahkan terancam hukuman pidana jika tertangkap basah menggunakan atau membawa narkoba. Label pembohong yang manipulatif juga akan dilekatkan kepada mereka. Hal ini terkait dengan tindakan berbohong yang umumnya akan menjadi kebiasaan baru seseorang yang menggunakan narkoba agar dapat terus memperoleh benda tersebut. Tidak heran jika mereka pun dianggap telah kehilangan masa depan dan tidak mungkin memperbaiki diri.

Padahal di satu sisi, mereka pun ingin lepas dari narkoba. Namun melepaskan diri dari narkoba bukanlah suatu hal yang mudah. Mungkin memang tidak butuh waktu lama untuk mencintai narkoba, namun membutuhkan proses panjang untuk dapat melupakannya. Banyak yang mencoba, namun gagal dan gagal lagi. Hal ini dikarenakan ketergantungan terhadap narkoba telah membelenggu seseorang dalam suatu rantai yang sulit untuk diputuskan.

Psikologi memiliki teori besar (grand theory) yaitu teori belajar (learning theory) untuk dapat menjelaskan betapa ketergantungan terhadap narkoba lebih dari sekedar gangguan impuls. Ditinjau dari prinsip pembelajaran instrumental, pengguna narkoba mendapatkan penguatan positif (positive reinforcement). Penguatan yang diterima dapat berbeda-beda tergantung jenis zat yang dikonsumsi, namun umumnya adalah suasana hati (mood) yang menyenangkan seketika narkoba tersebut dikonsumsi. Terbang (fly) adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan salah satu kondisi nyaman yang dirasakan ketika zat tersebut meresap ke dalam tubuh.

Selain itu bukan hanya narkoba itu sendiri yang dapat memberikan positive reinforcement. Para pengguna narkoba seringkali membentuk suatu komunitas sendiri, dimana komunitas ini dapat membuat mereka satu sama lain merasa diterima dan didukung. Dukungan ini dirasakan sangat berarti terutama bagi mereka yang selama ini kurang diterima di lingkungan atau mengalami penolakan-penolakan tertentu. Bagi mereka yang selama ini kurang mendapatkan perhatian keluarga, reaksi orangtua yang berubah sikap menjadi lebih peduli juga dapat menjadi bentuk reinforcement yang lain.

Sebagaimana yang kita ketahui, positive reinforcement mendorong seseorang untuk terus menampilkan perilaku yang sama. Demikian pula dengan para pengguna narkoba yang terus mengkonsumsi narkoba untuk mendapatkan positive reinforcement, baik berupa rasa nikmat maupun penerimaan sosial. Memang setelah rasa nikmat itu selesai, yang timbul adalah ketidaknyamanan. Namun hukuman (punishment) ini tidak dirasakan cukup kuat bagi para pengguna narkoba. Rasa nikmat yang mereka peroleh dapat mengalahkan ketidaknyamanan tersebut. Dalam kondisi reinforcement lebih kuat dibandingkan punishment, maka individu cenderung mempertahankan perilakunya.

Sindroma penarikan diri (withdrawal) yang dialami ketika seseorang tidak dapat mengkonsumsi narkoba akan dirasakan sangat menyiksa bagi mereka yang telah mengalami ketergantungan. Namun sindrom yang lebih dikenal dengan istilah sakau ini juga tidak dapat dirasakan sebagai punishment. Karena sakau dapat membawa kepada kenikmatan ketika mereka berhasil memperoleh narkoba lagi. Semakin sakau, justru kenikmatannya kelak akan semakin luar biasa. Sama halnya dengan orang yang termotivasi akan puas ketika tujuannya (goal) telah tercapai.

Pada satu titik tertentu, pengguna narkoba akan merasakan bahwa reinforcement yang diperoleh tidak lagi sebanding dengan punishment yang harus mereka terima. Namun kesadaran ini tidak serta merta dapat mengakhiri ketergantungan mereka. Hal ini dikarenakan narkoba memungkinkan terjadinya generalisasi stimulus (stimulus generalization) dan menyulitkan proses diskriminasi stimulus (stimulus discrimination). Pengguna narkoba cenderung melihat benda-benda yang menyerupai dengan zat yang mereka konsumsi sebagai zat itu sendiri. Misalkan saja melihat tepung terigu sebagai serbuk narkoba. Generalisasi ini dinamakan dengan generalisasi primer karena benda yang digeneralisasikan adalah benda utama, yaitu zat/narkoba itu sendiri.

Para pengguna narkoba juga melakukan generalisasi sekunder, yaitu mereka menggeneralisasikan benda-benda yang terkait dengan narkoba (karenanya disebut sekunder). Mereka melihat benda-benda yang menyerupai jarum suntik untuk narkoba sebagai jarum suntik itu sendiri. Misalkan menyamakan peniti, jarum jahit, dan benda-benda lain yang berujung runcing sebagai jarum penyuntik narkoba. Selain itu, generalisasi stimulus yang dilakukan para pengguna narkoba dapat pula terjadi dalam bentuk semantik (bahasa). Mendengar ataupun membaca hal-hal yang berhubungan dengan penggunaan narkoba, dapat menimbulkan keinginan untuk memakai narkoba kembali.

Dengan adanya generalisasi stimulus, dapat kita bayangkan betapa sulitnya seseorang melepaskan diri dari pengaruh narkoba. Karena dimana pun mereka berada, mereka seolah-olah merasakan kehadiran narkoba yang dapat menimbulkan rasa ingin mengkonsumsinya kembali. Memakai narkoba bukanlah sekedar masalah impuls, bukan sekedar bisa atau tidaknya seseorang mengendalikan diri. Mengatasi ketergantungan terhadap narkoba adalah suatu perjuangan berat. Membutuhkan kesabaran ekstra dan tekad yang luar biasa kuat untuk dapat berhasil menang dalam perjuangan itu.

Oleh karena itulah, mereka yang dapat melepaskan diri dari narkoba pantas untuk diberikan penghargaan. Tiap manusia tidak luput dari kesalahan. Mereka yang terpuruk dalam kesalahan itu adalah seorang pecundang. Namun mereka yang dapat belajar dari kesalahan untuk menjadi manusia yang lebih baik adalah seorang pemenang. Selamat untuk saudara-saudara kita yang telah melepaskan diri dari narkoba. Kalian sungguh seorang pemenang!

Selamat hari bebas narkoba.

 

 

 

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: