Skip to content

Life or Something Like It? Sebuah Refleksi tentang Kehidupan

July 16, 2007

Empat hari lagi kita akan menuju tahun yang baru. Biasanya pada hari-hari menjelang tahun baru, kita sudah mulai merencanakan di mana dan bagaimana kita akan melewatkan malam tahun baru. Sejumlah hotel, restoran, kafe, dan berbagai tempat hiburan lainnya sudah menawarkan berbagai paket acara menarik yang dapat kita pilih. Jutaan uang dapat kita habiskan untuk berpesta menyambut malam pergantian tahun. Atau dengan cara yang lebih sederhana, kita masih bisa memilih acara barbeque bersama di rumah salah seorang teman, untuk menghitung detik-detik menjelang pergantian tahun. Atau meniup terompet sepanjang jalan sambil mengikuti arak-arakan kendaraan bermotor. Yang pasti kita semua berusaha untuk berpesta dengan cara masing-masing. Semua tertawa senang, semua ceria, diiringi dengan saling mencium pipi kiri dan kanan untuk mengungkapkan kebahagiaan. Dan ketika perayaan itu lewat, esoknya di awal tahun yang baru, kita akan tertidur dengan lelap hampir sepanjang hari untuk menggantikan waktu tidur yang hilang di malam tahun baru. Dan akhirnya satu hari di awal tahun yang baru, kita habiskan untuk tidur. Kemudian tahun baru pun berlalu begitu saja seiring dengan berlalunya pesta.

Kita memang seringkali lebih berfokus pada merayakan sesuatu. Cobalah sejenak kita bersama-sama menghitung berapa kali kita turut merayakan dalam kurun waktu satu tahun ini. Kita hadir dalam sejumlah pesta pernikahan, ulang tahun, kelahiran bayi, promosi jabatan, dan sebagainya. Kita merayakan hari besar keagamaan dengan pesta pora. Coba kita tengok kembali Natal yang baru saja lewat dua hari lalu. Natal yang semestinya identik dengan kesederhanaan sebagaimana Bayi Yesus sudah memberi contoh dengan lahir di palungan hina, tidak kita peringati dengan kesederhanaan. Tetapi kita malah merayakannya, dengan hamburan uang. Anggaran Natal di gereja dapat mencapai puluhan atau bahkan ratusan juta. Belum lagi jika menghadirkan artis untuk memeriahkan suasana. Kita sendiri juga merayakannya dengan membeli pakaian dan sepatu baru, perlengkapan untuk menghias pohon Natal, kue-kue Natal untuk menjamu tamu, atau acara tukar kado yang seringkali hanya menjadi formalitas. Kita lebih memusatkan perhatian pada pestanya, bukan pada makna kelahiran Yesus tersebut. Padahal Yesus pun tidak pernah meminta kita untuk merayakan kelahirannya dengan pesta pora.

                        

Selama ini kita sepertinya berusaha untuk selalu berada dalam keadaan senang. Kita mencari kegembiraan hingga tanpa sadar kita telah menjalani hidup dengan sikap hedonistik. Sebagaimana yang dikatakan Aristippus, seorang filosof Yunani yang dikenal sebagai penggagas pandangan hedonisme, tujuan hidup manusia adalah mengalami kenikmatan (pleasure). Kita cenderung terus berusaha mencari sesuatu yang dapat menyenangkan hati kita. Thomas Hobbes, seorang filsuf dari Inggris yang menyetujui pandangan Aristippus, pernah menyatakan bahwa kebahagiaan seseorang dalam hidupnya tergantung dari seberapa sukses ia dalam memenuhi segala keinginannya. Menurutnya kebahagiaan merupakan totalitas dari kenikmatan-kenikmatan yang kita alami, dari ambisi-ambisi yang ingin kita kejar.

Mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa hidup hedonistik yang ditawarkan Aristippus tidak dapat memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya. Martin Seligman, Veronika Huta, dan Chris Peterson, merupakan tiga pakar yang belum lama ini meneliti bahwa hidup yang dapat membawa kebahagiaan sesungguhnya bagi manusia adalah eudaimonia. Pandangan mengenai eudaimonia ini pertama kali diungkapkan oleh Aristoteles. Ia menyatakan bahwa hidup yang sesungguhnya (daimon), adalah yang dipenuhi dengan tindakan-tindakan (ia) yang baik dan bermakna (eu).  

Aristoteles menentang kehidupan hedonistik. Ia berpendapat manusia yang hidup secara hedonistik hanya menjadi budak dari keinginan-keinginannya. Manusia seperti itu akan terpaku dengan materi. Ia akan merasa nyaman dengan pakaian yang bagus dan mahal. Melengkapi rumah dengan perabotan terbaru yang lebih, lebih, dan lebih canggih. Saat berdesakan di angkutan umum, ia menginginkan sebuah mobil pribadi.  Ketika memiliki mobil pribadi, ia mulai memilih jenisnya hingga berpikir untuk menggantinya dengan yang lebih mewah dan berkelas.

Sedangkan hidup eudaimonik adalah hidup yang berfokus pada nilai yang lebih tinggi, yakni makna dari hidup itu sendiri. Seseorang yang hidup dengan cara eudaimonik akan berusaha membuat hidupnya bermakna baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Maknanya bukan ditentukan oleh seberapa banyak keinginan yang tercapai. Makna hidup eudaimonik akan tercermin dari sejauh mana seseorang menerima dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya, baik peristiwa suka maupun duka yang dialaminya. Orang yang memiliki hidup eudaimonik telah mengetahui tujuan hidupnya.Tujuannya bukan sekedar mencari sensasi kenikmatan, namun lebih kepada menjadi pribadi yang terus bertumbuh dan berguna bagi orang lain.

Ada perbedaan mendasar dari kehidupan hedonistik dan eudaimonik. Bila kita hidup secara hedonistik, kita akan mencari kenikmatan dalam hidup. Tetapi bila kita hidup dengan cara eudaimonik, kita akan menikmati hidup. Ryff menyebut hidup hedonistik akan menghasilkan kesenangan sementara, sedangkan eudaimonik dapat membuat seseorang merasa sejahtera. Aristoteles bahkan menyebut hidup hedonistik merupakan hidup yang semu.

Dan di penghujung tahun ini, di sela kesibukan kita mempersiapkan acara malam Tahun Baru, mungkin akan jauh lebih baik bila kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan kembali tentang hidup yang telah kita jalani selama satu tahun ini. Apakah hidup kita telah bermakna bagi diri kita dan orang lain? Apakah kita telah menjalani sebuah kehidupan yang sebenarnya atau hanya kehidupan semu? Apakah hidup kita benar-benar sebuah kehidupan, atau hanya menyerupai kehidupan? Life or something like it? Hanya kita masing-masing yang dapat menjawabnya. Karena hanya kita yang dapat merasakan apakah kita sudah dapat menikmati hidup atau kita masih mencari kenikmatan tersebut.

Selamat Tahun Baru.

(Life or something like it adalah sebuah judul film terbaru yang diperankan Angelina Jolie. Tokoh dalam film ini mempertanyakan kembali apakah kehidupan yang telah dijalaninya selama ini memang merupakan kehidupan yang bermakna atau hanya sebuah kehidupan yang semu).

7 Comments leave one →
  1. Johnson permalink
    February 29, 2008 6:46 am

    Refleksi yg dalam, bikin sy merenung apkh hidup saya semu atau bermakna. Thanks, Ester.

  2. esterlianawati permalink*
    March 26, 2008 9:30 am

    Mksh jg, seneng jg kl artikel ini berguna. Maaf, koment-nya sempet msk spam🙂

  3. April 22, 2008 10:34 am

    Christian Indonesian Blogger Festival (CIBfest) 2008 telah melahirkan animo besar dalam blogosphere Kristiani Indonesia semenjak launching pada akhir Maret 2008. Animo besar dalam online event gathering yang bervisi-misi Menjadi Garam dan Terang Dalam Suara Baru Indonesia ini bertujuan menciptakan iklim nge-blog yang positif dan menebarkan kasih di dunia maya; sehingga lewat blog dapat menjadi media ekspresi baru yang mampu menyuarakan pikiran, pendapat, kreativitas dan perasaan para blogger Kristen Indonesia.

    CIBfest 2008 diselenggarakan oleh Jawaban.Com (www.jawaban.com) adalah divisi pelayanan media internet dari Cahaya Bagi Negeri (CBN) yang merupakan yayasan non-profit yang berfokus pada pelayanan media broadcasting.

    Jadi jangan lewatkan untuk menjadi bagian dari CIBfest 2008 ini, bergabunglah dan mari mengambil bagian untuk Menjadi Garam dan Terang Dalam Suara Baru Indonesia. Untuk bergabung silahkan langsung klik http://www.jawaban.com/news/cibfest/form.php

  4. April 8, 2010 8:29 am

    hmm nice blog and thanks for the valuable infos.

    • Ester Lianawati permalink*
      April 11, 2010 2:42 am

      Trm kasih ya.

  5. imam yuwono permalink
    June 20, 2010 3:16 pm

    ini bu liana yang dosen metob di untar bukan c bu?
    manteb tulisannya banyak bantu nie

    • Ester Lianawati permalink*
      June 22, 2010 2:03 pm

      Iya Imam..apa kbr? Mksh ya, sng tulisanku bs bermanfaat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: