Skip to content

KETIKA PEREMPUAN TIDAK DAPAT MENJADI IBU

July 16, 2007

Perempuan belum sempurna jika belum menjadi seorang ibu (yang melahirkan anak-anaknya). Kalimat itu terlontar dalam suatu percakapan tentang seorang perempuan yang belum dikaruniai anak dalam tujuh tahun perkawinannya. Kalimat yang singkat, namun menyakitkan bagi perempuan yang tidak dapat menjadi seorang ibu.

Perempuan sepertinya memang dituntut untuk memiliki anak. Setelah menikah, maka pertanyaan umum yang akan diajukan adalah apakah perempuan sudah mengandung atau belum. Berbahagialah perempuan yang dapat dengan segera memenuhi tuntutan ini, yakni mengandung tidak lama setelah menikah. Namun bagaimana dengan perempuan yang belum juga mengandung setelah pernikahan berlangsung beberapa bulan atau bahkan setelah hitungan tahun?

Dampak psikososial dari tuntutan yang tidak terpenuhi itu akan segera dirasakan perempuan. Merasa rendah diri karena tidak dapat menjadi ibu adalah perasaan yang akan mendominasi. Perempuan ini akan merasa tertekan, terutama justru dalam lingkungan keluarga terdekat, baik keluarga dari pihaknya maupun dari pihak suami. Karena tidak dapat mengandung, berarti tidak akan melahirkan seorang keturunan bagi keluarga besarnya. Kekhawatiran suami akan meninggalkannya juga secara signifikan akan dirasakan. Bahkan tidak sedikit yang menyuruh suaminya menikah kembali demi mendapatkan anak.

Perempuan memang merupakan pihak pertama yang akan langsung disorot ketika sebuah perkawinan tidak membuahkan anak. Ia adalah yang pertama akan memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk melihat apa yang salah dalam dirinya. Padahal tidak sedikit ditemukan bahwa ternyata pihak laki-laki yang bermasalah dalam hal fertilitasnya. Jika ternyata permasalahan ditemukan pada pihak suami, tuntutan keluarga besar terhadap pasangan akan mulai mereda. Keputusan untuk segera mengadopsi anak akan lebih cepat terlontar. Berbeda jika perempuan yang menerima vonis memang tidak dapat mengandung dan melahirkan. Saat itu terjadi, reaksi pertama justru cenderung membicarakan perceraian.

Anatomy is destiny. Demikian Sigmund Freud, pelopor psikoanalisis menyatakan bahwa anatomi kita adalah takdir kita. Perempuan dengan anatomi yang dimilikinya, terlahir untuk menjadi seorang ibu. Anatomi yang Freud maksud adalah bahwa perempuan tidak memiliki penis, dan hanya memiliki klitoris yang disebut Freud sebagai penis yang telah dikastrasi. Karena penisnya telah dikastrasi, perempuan pun tidak lagi merasa takut dikastrasi oleh ayahnya. Yang muncul justru adalah perasaan inferior karena penisnya telah dikastrasi dan cemburu terhadap penis yang dimiliki laki-laki (penis envy).

Namun justru karena tidak dikastrasi inilah, perempuan tidak mengembangkan ketakutan terhadap ayah sehingga ia pun tidak menginternalisasi nilai dan hukum ayahnya. Akibatnya superegonya tidak terbentuk, perempuan tidak mampu mengembangkan moralitas yang memungkinkannya untuk dapat hidup bermasyarakat. Oleh karena itu Freud memutuskan tugas perempuan adalah di rumah, menjadi istri dan ibu, bukan dalam masyarakat publik.

Ditambah lagi dengan pandangannya bahwa keinginan perempuan untuk memiliki penis akan tergantikan dengan keinginan untuk mendapatkan bayi. Jadi bayi dianggap sebagai pengganti penis yang tidak akan pernah dimiliki perempuan. Bayi adalah sumber kepuasan bagi perempuan karena dengan memiliki bayi, ia memiliki penis yang selama ini diinginkannya. Terutama adalah jika bayi itu laki-laki, karena terhadap bayi laki-lakilah perempuan dapat mewujudkan ambisi maskulinitas yang selama ini ditekannya.

Freud berbicara dalam area ketidaksadaran manusia. Menurutnya perempuan tidak menyadari pergolakan semacam itu dalam dirinya karena memang berlangsung tanpa disadarinya. Dan bukan hanya Freud yang berpendapat bahwa anatomi perempuan memang menentukan takdirnya untuk menjadi ibu. Pengikutnya, Erik Erikson juga sependapat dengan Freud meskipun berbeda dalam penjelasannya dan tidak membawa perihal ketidaksadaran.

Jika Freud membawa masalah penis yang tidak dimiliki perempuan, Erikson berbicara mengenai rahim yang dimiliki perempuan. Rahim merupakan suatu ruangan dalam, jadi posisi perempuan pun sama seperti rahim, yaitu berada di ranah dalam, bukan ranah publik dalam masyarakat. Selain itu, ‘kedalaman’ rahim perempuan akan menentukan atribut perempuan yang lebih berorientasi pada sesuatu yang dalam (inner) sifatnya yang terkait dengan rahim itu sendiri. Atribut itu misalnya merawat, menjaga, dan mengasuh.

Oleh karena itu, Erikson yang menganggap identitas diri sebagai titik terpenting perkembangan manusia, memiliki pandangan berbeda terhadap identitas laki-laki dan perempuan. Menurut Erikson, untuk dapat menentukan identitas dirinya,  perempuan harus memiliki terlebih dahulu suatu keintiman dengan lawan jenis yaitu menikah, dan dilanjutkan dengan memiliki anak. Berbeda pada laki-laki,  yang identitasnya tidak ditentukan oleh status keintimannya tersebut. Hal ini dikarenakan Erikson meyakini bahwa desain tubuh perempuan, yaitu ruang dalam bentuk vagina dan rahim akan menentukan pembentukan identitas perempuan. Ia menyimpulkan bahwa perempuan memiliki komitmen baik secara biologis, psikologis, maupun etis, untuk merawat anak.

Jika pandangan ilmiah pun semacam itu, wajar jika kepada perempuan diberikan tuntutan sedemikian besar untuk menjadi seorang ibu. Tidak heran pula jika akhirnya perempuan sangat tertekan ketika tidak memiliki anak. Namun begitu kelamkah pandangan psikologi terhadap perempuan yang tidak dapat menjadi ibu? Untungnya psikologi pun berkembang dengan kemunculan pribadi-pribadi intelektual yang lebih positif dalam memandang kehidupan, khususnya kehidupan perempuan. Adalah Karen Horney, Alfred Adler, dan Clara Thompson yang menyatakan bahwa tubuh bukanlah takdir perempuan. Menurut mereka, kehidupan manusia tidak dapat ditentukan oleh kondisi biologisnya. Tiap individu memiliki dorongan dalam diri untuk bertumbuh dengan lebih baik melampaui apa yang dapat dilakukan dengan kondisi biologisnya.

Dalam pandangan Adler, perempuan tidak semata dilihat sebagai rahim dan vagina, tetapi lebih kepada perempuan yang dapat berjuang untuk mengaktualisasikan dirinya. Identitas manusia, khususnya dalam hal ini perempuan, bukanlah suatu identitas tunggal, yakni untuk menjadi seorang ibu. Patricia W. Linville,  seorang psikolog sosial, menyatakan bahwa manusia yang sehat justru harus memiliki kompleksitas diri (self complexity). Yang dimaksud di sini adalah bahwa manusia harus memiliki beragam peran untuk menunjukkan identitas yang beragam.

Linville menemukan bahwa perempuan dapat dan bahkan seyogianya menjalani banyak peran selain menjadi istri dan ibu. Keragaman peran yang dimiliki perempuan justru akan menghindarkannya dari kondisi stres berkepanjangan jika salah satu perannya tidak lagi berfungsi. Meminjam istilah Linville, kompleksitas diri justru akan menjadi penahan (buffer) bagi seorang perempuan ketika kehilangan salah satu perannya. Perempuan yang melekatkan identitasnya hanya sebagai ibu akan tertekan ketika ia tidak dapat memenuhi fungsinya sebagai ibu. Harga dirinya terkikis, seolah merasa tidak lagi berharga sebagai perempuan.

Dalam hal ini perlu adanya dukungan dari tatanan sosial dalam memperlakukan perempuan. Seringkali perempuan yang tidak dapat mengandung justru lebih tertekan karena pandangan negatif masyarakat sekitarnya. Sudah tiba saatnya masyarakat mengadopsi nilai-nilai baru yang lebih positif dalam memandang keberfungsian perempuan. Perempuan tidak harus menjadi ibu untuk menjadi perempuan yang sempurna. Perempuan adalah manusia, dan setiap manusia berhak mendefinisikan dirinya sendiri dalam upayanya mencapai kesempurnaan.

Pendefinisian identitas perempuan bukan ditentukan oleh tuntutan masyarakat. Apalagi bila kemudian identitas tersebut disamaratakan untuk semua perempuan, yaitu menjadi seorang ibu. Menurut Donny Danardono, mantan Ketua Pusat Studi Wanita Universitas Katolik Soegijapranata, homogenisasi identitas tunggal semacam itu terhadap perempuan sudah seharusnya dimatikan. Jadi ketika fungsi biologisnya tidak memungkinkan ia menjadi ibu, identitasnya sebagai perempuan tidak sedang terancam. Karena sebagai perempuan, ia berhak dan dapat membentuk kekayaan identitas individualnya. Hidup perempuan belumlah usai saat ia tidak dapat menjadi ibu. Ia justru mati jika hanya melekatkan identitasnya hanya pada satu fungsi saja.  


24 Comments leave one →
  1. Bayu permalink
    July 18, 2007 2:36 pm

    Bagian awal artikel ini seperti yg aku alami. Meski 7 tahun belum punya anak, aku akhirnya sampai pada tahapan, terserah Tuhan mau kasih atau nggak, aku tidak salahin kondisi istriku.
    Akhirnya, memang setelah itu istriku hamil, sampai 9 bulan, dan kemudian mereka pulang…..Ya sudah, mau gimana lagi…

  2. Donny Danardono permalink
    August 20, 2007 8:05 am

    Dear Ester,

    bagus sekali website kamu. Kalau sudah ada waktu baca paper-papermu, saya akan kasih komentar. Sukses ya.

    d

  3. Daniel Eko permalink
    September 5, 2007 10:03 am

    Saya berpendapat bahwa artikel ini bagus, saya setuju pada pandapat beberapa tokoh diatas kecuali tokoh sigmunt dan erikson.Wanita diciptakan tidak hanya untuk menjadi seorang ibu saja,tidak sedikit wanita yang memiliki kemampuan lebih dibanding pria dan tidak sedikit juga wanita yang melakukan pekerjaan yang juga dilakukan pria. Bagi saya pria dan wanita sama saja hanya perbedaan keadaan biologis…
    (kasihan atuh kalau wanita jadi ibu aja,wanita kan juga ingin berkarir…)

  4. yesse pd (50-2006-016) permalink
    September 10, 2007 4:13 am

    Mungkin sangat menyakitkan apabila kita sebagai seorang wanita yang sudah menikah dan divonis tidak bisa menjadi seorang ibu. Tapi percayalah dan terus berdoa, Tuhan pasti memberikan yang terbaik dan Tuhan menjawab setiap doa kita. Jawaban Tuhan indah dan tepat pada waktunya.Good Luck ^^, God bLez

  5. Eka Wahyu Haryaningsih (50-2006-018) permalink
    September 10, 2007 4:25 am

    Ibu waty ingin menjelaskan melalui artikel ini bahwa perempuan dapat di katakan sempurna tidak hanya melihat dapat menjadi ibu atau tidak, perempuan juga dapat sempurna dengan fungsi yang lain. Artikel ibu waty menurut saya dapat menjadi spirit bagi ibu-ibu yang merasa dirinya tidak sempurna dikarenakan tidak dapat menjadi ibu. Mudah-mudahan artikel ini tetap berkenan di hati saya.terima kasih ibu.GOD BLESS U.n_n

  6. Nita J. L. permalink
    September 10, 2007 4:32 am

    menurut saya, artikel ibu bagus dan intisari dari masalah dapat dimengerti dengan baik. Memang seharusnya walaupun perempuan itu tidak dapat menjadi ibu, dia tidak akan minder atau stress yang berkepanjangan karena ia masih memiliki peran yang lain yang dapat dilakukan dengan baik

  7. diana (50-2006-003) permalink
    September 10, 2007 4:48 am

    Saya sangat suka dengan artikel ibu,karena dengan artikel yang diatas katakan bahwa menjadi seorang ibu mmpunyai peran banyak juga,di sati sisi bisa peran menjadi seorang ibu,tapi di peran lain seorang perempuan juga mempunyai peran lain yang membuat dia tidak tertekan dalam dirinya..

  8. EVA RIDA ETRIYANTI(50-2006-011 permalink
    September 11, 2007 4:41 am

    Menur saya artikel ibu mengenai tema ini bagus,karena seoran wanita akan sempurna jik ia sudah menjadi seorang ibu.perempuan juga harus memiliki working self concept setelah menikah,adanya confirmatory bias karena perempuan merasa diri akan menjadi ibu setelah menikah.workng self concept changes as we changes role,dimana perempuan bykan hanya menjadi seorang ibu juga sebagai istri .greater self concept dimana dalam hal ini jika seorang perempuan tidak dapat menjadi seorang ibu tidak usah merasa tertekan dan putus asa.

  9. apri yeni 50-2006-024 permalink
    September 11, 2007 9:21 am

    wah…menarik juga bu tulisannya…
    topik tentang wanita yang merasa tidak sempurna sebelum memperoleh anak ini, emang tepat banget… atau bisa dibilang kena banget untuk masyarakat Indonesia, yang sangat menjunjung tinggi kebudayaan yang sepertinya mengajarkan bahwa tugas seorang wanita ialah untuk menghasilkan keturunan, dan mengurus rumah tangga.

    Tapi sayangnya belum semua wanita tuh. yang memahami arti self-concept itu sendiri… Buktinya, masih cukup banyak juga kok… yang menikah di bawah umur,… mereka merasa hidup mereka sendiri hanya untuk tugas-tugas yang telah turun-temurun tersebut… Mereka belum memahami bahwa peran mereka sendiri di masyarakat juga sebernarnya penting…

  10. bernike rosali ekfi priyono (50-2006-002) permalink
    September 11, 2007 9:22 am

    menurut saya artikel yang ada dapat menguatkan perempuan yang sudah menikah tetapi belum punya anak. memang banyak orang yang menggangap dengan punya anak wanita menjadi ibu. menjadi seorang ibu tidak hanya melahirkan tetapi perempuan dapat disebut ibu ketika ia menyayangi anak-anak. dalam hub dengan working self-concept perempuan mempunyai peran dalam keluarga yaitu menjadi ibu tapi peran itu terkadang tak bisa diwujudkan.pengaruh confirmatory bias sangat besar yaitu perempuan yang sudah menikah tapi belum mempunyai anak berfikir bahwa dirinya tak sempurna sehingga ketika dihadapkan pada situasi seperti itu ia menjadi bingung karena tekanan yang ada.greater self complexity membicarakan bahwa dia tidak mau berpatokan hanya memikirkan itu masih banyak yang lain yang bisa dilakukan misalnya membuka usaha baju atau yang lainnya. JBU….

  11. Judith permalink
    September 11, 2007 2:50 pm

    Masalah yang dibahas dalam artikel ini sangat sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Dimana seorang wanita dituntut untuk dapat memberikan keturunan ketika ia sudah menikah. Hal itu dikarenakan oleh self concept yang terbentuk pada diri wanita, yaitu seorang wanita harus dapat mengandung, melahirkan, dan merawat keturunannya. Selain itu, wanita juga mempunyai peran yang complex (greater self complexity) agar dikatakan sebagai manusia yang sehat. Berbagai peran yang harus dijalankan setiap wanita yaitu peran sebagai istri dan ibu yang melahirkan, merawat, dan mengasuh keturunannya. Oleh karena konsep diri yang sudah terbentuk seperti itu dan peran complex yang demikian, tidak jarang wanita merasa tertekan ketika mereka tidak bisa memberikan keturunan kepada keluarganya. Terlebih jika pihak wanita yang bermasalah dalam hal fertilisasi. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran yang bijak dari pihak keluarga jika salah satu anggota keluarganya mengalami masalah seperti di dalam artikel ini. Jangan terus menuntut akan peran yang harus dijalankan dari seorang wanita. (Judith)

  12. BANU HADI .P(502003033) permalink
    September 11, 2007 4:02 pm

    Ia, apa yang dijabarkan diatas memang banyak terjadi pada realita kehidupan berkeluarga. Tentunya betapa merana dan sedih yang mendalam apalagi keadaan tersebut didukung oleh data-data medis.
    Bila ditelaah lebih lanjut, apa yang dijabarkan oleh Freud bahwa “hanya bayi merupakan sumber kepuasan wanita” menurut saya, itu salah besar…!!!!! Karena apa jadinya bila seorang wanita tidak mempunyai keturunan?
    Saya sangat mendukung apa yang diungkapkan oleh Patricia W Linville (psikologi sosial) dimana manusia yang sehat justru harus memiliki kompleksitas diri(dimana memiliki beragam peran untuk menunjukan identitas yang beragam). Hal ini akan mejadi “buffer” dan atau “kompensasi” dari kekurangannya tersebut. Sehingga seorang wanita yang tidak dapat menjadi ibu dapat mempunyai self-concept yang positif terhadap dirinya dan dapat membangun self-esteem yang sempat terkikis sehingga membuat pikiran seseorang dapat teralihkan dan tidak terfokus pada suatu masalah. Tentunya perlu dukungan yang utuh dari pihak keluarga dari suami/istri, teman, dan lingkungan sekitar.

  13. September 11, 2007 4:23 pm

    Saya setuju sekali dengan teori Linville, perempuan bukan hanya memiliki satu peran tetapi juga peran-peran lainnya sehingga itu sangat menolong perempuan untuk tidak “jatuh” ketika salah satu perannya tidak berfungsi atau berjalan dengan baik. Masyarakat sendiri harus merubah cara pandangnya terhadap perempuan. Jangan menghakimi perempuan yang tidak bisa/belum mengandung, tetapi berpikirlah secara lebih terbuka dan modern, apalagi di jaman sekarang. Banyak perempuan yang benar-benar ingin memiliki anak tetapi tidak bisa, ia sendiri sudah sangat sedih, pusing dengan tuntutan dari keluarga, belum lagi gosip-gosip dari masyarakat, hal ini membuat perempuan semakin stress dan bisa mengalami depresi. kondisi seperti ini sangat cocok sekali dengan istilah yang kita kenal “sudah jatuh , ketimpa tangga, masuk got lagi”, tragis sekali ya..

  14. Immanuel Dina permalink
    September 11, 2007 5:14 pm

    Isi artikel ibu, menurut pribadi saya dan dalam teori psikologi sosial, dapat saya simpulkan, bahwa seorang perempuan tidak bisa mempunyai anak, bukan berarti dia seorang perempuan yang tidak ditakdirkan menjadi seorang Ibu karena perempuan dapat menjadi Ibu untuk siapa saja, walau dia tidak bisa memiliki seorang anak yang berasal dari rahim nya sendiri.

  15. indra permalink
    September 28, 2007 2:11 pm

    bagus-bagus….. Serba salah memang ketika perempuan tidak dapat menjadi seorang ibu. Makasih ya.
    Fotonya keren tuh karena ada lampu-lampu dibelakangnya..

  16. October 6, 2007 7:20 pm

    Apa yang anda tuliskan sangat bagus sekali, namun rasanya kok ada sedikit yang kurang. Tulisan anda hanya terfokus pada perempuan. Sebenarnya kaum Adam juga “menderita” ketika dirinya tidak memiliki keturunan karena memang sudah kodrat manusia untuk memilki keturunan dan bahkan hal tersebut menjadi tujuan/harapan hidup sebelum kembali pada-Nya.
    Tapi apa yang tersampaikan cukup menarik, dan akan lebih menarik lagi ketika Anda tidak hanya memaparkan kondisi-kondisi negatifnya saja. Berikan juga gambaran mengenai bagaimana kemudian perempuan seharusnya mengatasi kondisi seperti itu, syukur-syukur secara faktuil, sehingga akan menjadikan motivasi dan mungkin juga sebagai model.
    Salute…

  17. August 18, 2008 8:21 am

    Kalau saya punya pertanyaan tentang feminis thought, boleh saya bertanya pada Mb kapan2 saya butuh teman diskusi?
    Saya mendapat inspirasi dari tulisan ayu utami, dalam `bilangan fu`. Kita hidup dalam dunia maskulin, dari legenda hingga yang disebut fakta semua memakai terminologi androis. Dari eropa ada cerita Oedipus yang dipake oleh Freud dan Deleuze, di Indonesia ada Sangkuriang. Ceritanya mirip2, tentang inses. Hingga sejarah pun bergender (his-story) cerita (dia) laki2.

  18. esterlianawati permalink*
    August 19, 2008 2:36 am

    Hai, Mbak Uli. Boleh, sy seneng banget kl kita bs diskusi, biar sama2 nambah wawasan.
    Iya biasanya utk pengalaman perempuan, kita bilang Herstory🙂
    Freud itu jg ngmgnin tabu inses ya, spy patriarki bs makin meluas..;)

  19. aulia permalink
    December 1, 2008 8:29 am

    hallo mbak ester,

    bagus banget tulisannya. mbak berkenan ya diajakin diskusi bareng kami KORPS HMI-wati. kami ini pengurus serta anggota bidang keputrian Himpunan Mahasiswa Islam, dalam naungan Cabang Jakarta Selatan. kajian rutin kami mengenai perempuan. saya boleh minta no. contact mbak ester? mungkin ada beberapa tema pembahasan dibawah ini yang mbak ester bisa bantu kami untuk kembangkan ilmu, diantaranya:
    – psikologi perempuan
    – perempuan dan strategi pembangunan, serta
    – peran perempuan dalam transformasi sosiokultural.
    pastinya keseluruhan tema diatas disesuaikan dengan pengembangan umum dari mbak ester. biasanya diskusi ini kami adakan seminggu sekali. pada hari sabtu, antara jam 13-17. peserta diskusi memang tidak terlalu banyak, kami wadahkan demikian karena beranggapan akan lebih kondusif dan efektif. mbak, boleh ya saya denger kabar dari mbak segera, terimakasih banyak, kabari saya nanti saya akan contact mbak ester lagi, chaiyooo.

    • esterlianawati permalink*
      December 10, 2008 4:35 am

      Mbak Aulia, tengkyu ya.
      Di tunggu kontak slnjtnya🙂

  20. August 15, 2009 3:07 pm

    Pengertian “ibu” saya pikir juga lebih luas dari sekedar merried trus punya anak ( anak kandung ), Ibu lebih tepat saya artikan tempat mencari “kehangatan”, kasih sayang, dsb. Dalam Islam ibu mempunyai tempat dan kedudukan yang mulia, selain karena beliau Wanita, juga beliau adalah madrasah bagi “anak2nya”. Jadi, berbahagialah jadi ibu meskipun belum bisa mempunyai keturunan dari rahim anda sendiri, karena masih begitu banyak anak2 terlantar yang membutuhkan kasih sayang anda. Bahkan begitu banyak juga ibu “Tulen” yang tega terhadap anak kandungnya ( apa gara2 sang Bapak ya? ). kalau anda wanita dan belum bisa ngasih keturunan…ya, mesti sabar. Ya kan WATIIIII

  21. esterlianawati permalink*
    August 16, 2009 2:59 pm

    hehe iya deh. thx ya mas abie🙂

  22. Rakhel ririn permalink
    March 30, 2010 7:50 am

    Salam, mbak Ester.

    Saya setuju dengan pandangan mbak berkaitan dengan pandangan psikososial terhadap wanita yang tidak bisa melahirkan dan meneruskan dinasti dari suami.
    Berkaitan dengan pembahasan mengenai rahim wanita dan vagina,penurunan moral dan keadaan sosial akhir-akhir ini seolah menegaskan bahwa wanita memang ada dan ‘berfungsi’ hanya pada sisi itu saja (rahim dan vagina). Sebagai contoh, praktek perdagangan wanita dan dijadikan PSK dan yang lebih memprihatinkan ketika wanita secara pribadi mengambil keputusan untuk ‘menjajakan’ Miss V hanya demi kenikmatan pandangan mata di hadapan pria (mendandani diri) dan kembali lagi berfungsi untuk meningkatkan daya jual. Suatu lingkaran setan yang semakin sulit diputus mata rantainya ketika masyarakat terutama bagi ‘kaum perempuan’ menilai rendah suatu ‘kehormatan’ dengan harga yang dapat dinilai secara rupiah. Hal yang lebih ironis lagi ketika wanita dianggap ‘menggelikan’ saat menginjak remaja akhir masih perawan.
    Menurutku secara pribadi,lahir bukan hanya sebagai orang yang melahirkan anak tetapi ada peran yang lebih dari itu salah satunya adalah menjadi partner hidup bagi pasangannya.
    Senang bisa share dan berhdarap suatu hari bisa dicuss lagi.
    Thx. Rakhel (Unika Supra)

    • Ester Lianawati permalink*
      April 1, 2010 10:46 am

      Salam, mbak Rakhel. Mksh utk diskusinya ya.
      Mnrtku jg kita perlu membongkar mslh di balik “inisiatif” atau “kesukarelaan” perempuan yg menjual tubuhnya. Mnrtku itu jg krn bentukan patriarki yg menjdkan tubuh prmpuan sbg objek, aset, dsb. Kl saja tubuh prmpuan tdk dibentuk utk jd objek tatapan, utk dijadikan aset, n objek komersil, sy kira tdk ada prmpuan yg mrs perlu menggunakan tbhnya.
      Kpn2 mampir lg utk diskusinya ya, mbak. Mksh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: