Skip to content

KARTINI : MENJADI SEJAHTERA DALAM DERITA, Sebuah Wujud Nyata Psychology of Action

July 16, 2007

Di antara sejumlah pahlawan perempuan nasional, RA Kartini adalah nama yang paling dikenal. Setiap tahun hari kelahirannya diperingati dengan berbagai lomba ‘keperempuanan’. Siswi-siswi didandani dengan sanggul dan kebaya, dan para ibu mengikuti lomba memasak. Padahal yang diperjuangkan Kartini tentu bukan seberapa pandai perempuan dapat memasak, atau seberapa luwes perempuan mengenakan kebaya.

Tampaknya masih banyak yang belum memahami makna perjuangan Kartini. Sementara mereka yang memahami, sebagian di antaranya sibuk mempertentangkan corak feminisme Kartini. Padahal Kartini sendiri tidak pernah melabel dirinya sebagai kelompok feminis tertentu. Namun yang pasti tidak diperdebatkan adalah bahwa  dalam hidupnya yang hanya seperempat abad, ia telah menginspirasi banyak orang.

Kartini bukan hanya pejuang pendidikan ataupun feminisme, dua ranah yang sering menggaungkan namanya. Namun dalam psikologi pun, suatu bidang yang jarang dikaitkan dengannya, Kartini sesungguhnya dapat menjadi contoh nyata individu yang mampu mencapai kesejahteraan psikologis. Perjuangannya juga menunjukkan bagaimana ia telah berhasil melakukan psikoterapi bagi dirinya sendiri, khususnya metode psikologi tindakan (psychology of action).

Carol D. Ryff, penggagas konsep kesejahteraan psikologis menyatakan bahwa seseorang yang sejahtera secara psikologis adalah seseorang yang mampu menerima kondisi dirinya, menjalin relasi positif dengan orang lain, dan mampu bersikap otonom. Individu yang sejahtera juga mampu menguasai kondisi yang terjadi di sekitarnya, memiliki tujuan dan makna hidup, serta terus bertumbuh secara personal.

Kesejahteraan ini bukan ditentukan oleh seberapa menyenangkan peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang. Peristiwa negatif yang dialami seseorang tidak serta merta membuatnya tidak sejahtera. Mekanisme kesejahteraan psikologis tidak sesederhana itu karena manusia dapat melakukan interpretasi ulang (re-interpretasi) terhadap kondisi dan pengalaman hidupnya.

Re-interpretasi inilah yang telah dilakukan Kartini sejak ia mulai memahami arti penderitaan. Kartini adalah seorang puteri dari salah satu selir bupati Jepara. Ibunya bukan seorang ningrat sehingga tidak dapat menjadi istri utama. Kartini kecil tidak dapat menikmati hubungan yang dekat dengan ibu kandungnya karena sebagai selir, ibunya tidak dapat bersamanya di rumah utama. Namun justru dalam kondisi itulah ia dapat merasakan penderitaan ibunya. Ia belajar bagaimana ibunya tetap memberi banyak, meski dari tempat yang paling pahit sekalipun.  

Kartini kecil menderita dalam penderitaan ibunya. Namun ia tidak menjadi seorang anak perempuan yang menangisi kondisinya. Melainkan ia melakukan re-interpretasi dengan memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada. Ia belajar dengan tekun dalam pendidikan sekolah rendah Belanda yang dapat dinikmatinya sebagai  keturunan bangsawan. Dalam kesempatan itu pula, ia banyak membaca dan berdiskusi dengan para intelektual Belanda.

Sampai kemudian ia mulai menjalani pingitan saat usianya 12 tahun sementara kakak laki-lakinya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Takdirnya pun ditentukan saat itu bahwa kelak ia harus menjadi istri bangsawan. Dalam kondisi terpukul karena tiba-tiba kebebasan yang dinikmatinya selama ini direnggut darinya, ia tidak tinggal diam. Justru perjuangannya dimulai dalam keterpukulan itu.

Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan bahwa sebagai puteri bangsawan, ia masih dididik oleh Marie Ovink-Soer, istri wakil pegawai administratur kolonial. Ia terus bertumbuh dengan mengembangkan wawasan mengenai feminisme Barat dan politik di tanah Jawa. Sambil belajar, ia tuangkan semua ketidakpuasannya melihat kondisi kaum perempuan yang terbelakang dalam hal pendidikan dan sosial-ekonomi. Melalui media korespondensi kepada rekan-rekannya di Belanda, ia ‘berontak’ terhadap adat bangsawan Jawa saat itu yang memingit anak gadis, termasuk dirinya. Ia juga mengkritik kebiasaan pria bangsawan untuk berpoligami.

Dari situ jelas bagaimana Kartini adalah prototip individu sejahtera sebagaimana yang diungkapkan Ryff. Ia berhasil memaknai kembali pengalamannya yang tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang positif. Ia telah menampilkan sikap hidup eudaimonik, yang mendorongnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang bermakna.

Ketika akhirnya ia terpaksa menerima untuk dinikahkan dengan bupati Rembang yang telah beristri, banyak orang berpendapat bahwa momen ini merupakan takluknya Kartini terhadap kekuasaan. Namun pernikahan itu bukanlah wujud kekalahannya untuk berjuang. Ia menerimanya untuk mencapai suatu tujuan setelah memikirkannya masak-masak. Menurutnya akan lebih banyak yang dapat diusahakan untuk bangsa ini bila ia ada di samping seorang laki-laki dibanding jika ia berdiri sendiri.

Alasan itu menunjukkan bahwa Kartini adalah pribadi yang memiliki tujuan hidup.  Bahkan dalam kondisi tidak menyenangkan saat ia dipingit, ia tahu akan dibawa kemana hidupnya. Ia telah memiliki suatu perencanaan saat ia mengambil keputusan untuk menikah dengan bupati yang adalah laki-laki terpelajar. Ia mempertimbangkan suaminya akan mendukung cita-citanya untuk mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputra. Selain itu perlu diingat bahwa keputusan Kartini untuk menikah diambilnya saat ia telah berusia 23 tahun, suatu usia menikah yang sangat terlambat di zamannya. Penundaan itu menggambarkan bagaimana ia mampu otonom dalam kondisi dipingit, kondisi yang sangat mungkin dapat menghambat otonominya,

Banyak yang mengklaim alasan Kartini menerima untuk dinikahkan sebagai gambaran dependensinya terhadap laki-laki. Namun bila kita menyadari realita yang berlangsung di masanya, pernyataan tersebut justru menunjukkan Kartini sebagai ‘pemberontak’ yang realistis. Ia paham benar saat itu ia tidak akan mampu mengubah struktur yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu, ia mencari celah bagaimana caranya tetap memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan.

Sikapnya yang realistik juga meredam keinginannya untuk menyuarakan semua kemarahannya atas kondisi perempuan di surat kabar. Bisa saja ia melakukan hal itu karena toh kesempatan itu tersedia. Namun ia sadar akan posisinya sebagai perempuan Jawa dalam masyarakat kolonial di Jawa Tengah waktu itu. Ia pun dengan jeli memilih korespondensi sebagai satu-satunya medium untuk mengutarakan gagasan-gagasannya. Sikap Kartini yang demikian merupakan cerminan dari penguasaan lingkungan, salah satu aspek kesejahteraan psikologis menurut Ryff yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengambil tindakan dengan memperhitungkan kondisi yang ada.

Melalui surat-suratnya itu yang telah diterbitkan sebagai buku, tampak bagaimana perjuangan Kartini datang dari hidupnya sebagai perempuan di sebuah masyarakat yang menindasnya. Ia adalah perempuan yang berusaha sejahtera dalam opresi yang dialaminya. Ia menerima nasib yang seolah telah ditentukan atas hidupnya.  Ia hidup dalam kondisi yang tidak disukainya, yang bahkan ditentangnya. Ia merasakan penderitaan ibunya dan perempuan-perempuan lain di zamannya. Ia pun merasakan penderitaannya sendiri, dan ia tidak menyangkal hal itu.

Sebagaimana yang ditulis dalam sebuah suratnya bertanggal 20 Agustus 1902, betapa sulit mencapai kebahagiaan. “Jalan menuju kebahagiaan harus dibayar dengan airmata dan darah di jantung serta meditasi,” demikian tulis Kartini. Di sinilah terlihat bagaimana Kartini, yang adalah orang Timur, telah melakukan terapi Timur (Eastern Therapy), untuk merasakan penderitaan, betapapun sakitnya itu. Menangis adalah sesuatu yang diperlukan dalam psikoterapi Timur, khususnya terapi Morita,  yang digagas oleh Morita Masatake, seorang psikiatris Jepang.

Menurut Masatake, kesedihan bukan harus ditepis, melainkan dirasakan. Semakin kita berusaha menghilangkan rasa sedih, justru kita akan terpuruk dalam kesedihan. Oleh karena itu, Masatake menyarankan agar kita menerima kesedihan. Namun saat merasakannya, bukan berarti individu harus tinggal diam. Justru dalam menderita, tiap orang harus mengambil tindakan. Bukan untuk mengatasi kesedihannya, melainkan agar hidupnya dapat berguna bahkan dalam penderitaan sekalipun.

Kartini telah berhasil melakukannya, jauh sebelum Masatake memperkenalkan terapinya kepada publik di tahun 1915.  Ia telah melakukan psikoterapi Morita, yang dalam dunia psikologi Barat lebih dikenal sebagai metode psychology of action. Ia adalah cerminan bagaimana seseorang berjuang, mengambil tindakan, untuk menjadi sejahtera dalam derita yang dirasakan. Tindakan yang diambilnya tidak sia-sia, buah pikirannya dalam surat-suratnya telah menggugah banyak individu lain untuk berjuang pula.

Kepahlawanan Kartini kadang memang mengundang kontroversi. Masih banyak pahlawan perempuan lain yang dianggap lebih progresif. Namun dengan pengalaman yang membungkus hidupnya, dunia psikologi seyogianya menyambut Kartini. Ternyata Indonesia telah memiliki psikoterapis di bidang psychology of action, jauh lebih dulu sebelum Jepang. Kartini mungkin tidak menyadari ia telah berhasil menterapi dirinya sendiri, suatu hal yang seharusnya dilakukan psikolog sebelum menerapkannya untuk orang lain. Namun kiranya kita dapat meneladani hidupnya untuk berupaya menjadi sejahtera bahkan saat dalam derita sekalipun. Karena seperti yang dituliskan Kartini, jalan menuju kebahagiaan itu hanya ada dalam diri kita sendiri. 

One Comment leave one →
  1. duniapsikologi permalink
    November 23, 2007 7:47 am

    saya setuju bahwa jalan kebahagiaan ada di dalam diri kita sendiri. bukan dari orang lain. kita mau bahagia atau tidak, kita sendiri yang berpikir itu bahagia atau bukan.

    setiap manusia memiliki kekuatan yang dapat membuatnya menjadi bahagia atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: