Skip to content

Feminisme Eksistensialis, Sebuah Tinjauan dan Refleksi

July 16, 2007

Simone de Beauvoir, yang memiliki nama lengkap Simone Ernestine Lucia Marie Bertnand de Beauvoir, adalah tokoh feminis eksistensialis yang sangat terkenal. Bukunya yang berjudul The Second Sex telah mengukuhkan posisinya sebagai tokoh fiosofis dan politis.

Dalam menjelaskan teorinya mengenai perempuan, Beauvoir mengacu pada teori eksistensialisme dari Jean-Paul Sartre. Menurut Sartre, ada tiga modus “Ada” pada manusia, yaitu Ada dalam dirinya (etre en soi), Ada bagi dirinya (etre pour soi), dan Ada untuk orang lain (etre pour les autres). Etre en soi adalah ada yang penuh, sempurna, dan digunakan untuk membahas obyek-obyek yang non manusia karena ia tidak berkesadaran. Sedangkan etre pour soi mengacu kepada kehadiran yang bergerak dan berkesadaran, yang merupakan ciri khas manusia yang mempunyai aktivitas menidak. Hal ini sama dengan kebebasan untuk memilih.

Konsep Sartre yang paling dekat dengan feminisme adalah etre pour les autres. Ini adalah filsafat yang melihat relasi-relasi antar manusia. Sayangnya dalam hal relasi antara laki-laki dan perempuan, laki-laki mengobyekkan perempuan dan membuatnya sebagai “yang lain” (Other). Jadi laki-laki adalah subyek dan perempuan adalah obyek. Beauvoir mengemukakan bahwa laki-laki dinamai sang Diri, sedangkan “perempuan” sang Liyan. Jika Liyan adalah ancaman bagi Diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki. Karena itu, jika laki-laki ingin tetap bebas, ia harus mensubordinasi perempuan terhadap dirinya.

Dalam The Second Sex, Beauvoir menjelaskan pandangan biologis, psikoanalisis, dan Marxis terhadap ke-Liyanan perempuan. Namun menurutnya ketiga pandangan tersebut tidak memadai untuk menjelaskan mengapa masyarakat memilih perempuan untuk menjalankan peran Liyan. Misalkan menurut Beauvoir, perempuan ‘mencemburui’ mereka yang memiliki penis, bukan karena ingin memiliki penis itu sebagai penis sebagaimana yang dikatakan Freud. Melainkan perempuan menginginkan keuntungan material dan psikologis yang dihadiahkan kepada pemilik penis. Beauvoir juga menentang pendapat Engels dengan bersikeras bahwa perubahan dari kapitalisme menuju sosialisme tidak akan secara otomatis mengubah relasi perempuan dan laki-laki. Hal ini dikarenakan opresi terhadap perempuan lebih dari sekedar faktor ekonomi, tetapi yang lebih utama adalah faktor ontologis.

Menurut Beauvoir, laki-laki dapat menguasai perempuan dengan menciptakan mitos bahwa perempuan yang dipuja laki-laki adalah perempuan yang mau mengorbankan dirinya untuk laki-laki. Karena itu, menjadi istri dan ibu adalah dua peran feminin yang membatasi kebebasan perempuan. Menurutnya perkawinan dapat merusak hubungan suatu pasangan. Perkawinan mentransformasi perasaan yang tadinya diberikan secara tulus, menjadi kewajiban dan hak yang diperoleh dengan cara yang menyakitkan. Lebih lanjut kehamilan dapat mengalienasi perempuan dari dirinya sendiri. Dan akhirnya anak dapat menjadi tiran yang menuntut ibunya dan menjadikan ibunya sebagai obyek.

Beauvoir juga melihat perempuan pekerja menjadi Liyan karena di mana pun juga ia diharuskan menjadi dan bersikap sebagai femininitas. Namun menurut Beauvoir, tiga jenis perempuan yang memainkan peran perempuan hingga ke puncaknya adalah pelacur, narsis, dan perempuan mistis. Analisis Beauvoir terhadap pelacur sangat kompleks. Di satu sisi ia memandang pelacur sebagai Liyan, obyek, yang dieksploitasi. Di sisi lain, pelacur dapat menjadi Diri, Subyek, yang mengeksploitasi. Beauvoir memandang perempuan panggilan (hetaira) mempunyai lebih banyak kekuasaan, setidaknya ia memanfaatkan ke-Liyanannya untuk kepentingan dirinya.

Narsisisme pada perempuan adalah hasil dari ke-Liyanannya. Perempuan narsis menjadi obyek pentingnya sendiri. Ia percaya bahwa dirinya adalah obyek sebagaimana ditegaskan oleh orang di sekitarnya. Ia terpesona dan menjadi obsesif terhadap citranya sendiri : wajah, tubuh, dan pakaiannya. Ia menjadi terikat untuk memenuhi kebutuhan hasrat laki-laki dan menyesuaikan diri dengan selera masyarakat. Sementara itu, perempuan mistis tidak dapat membedakan antara Tuhan dengan laki-laki dan laki-laki dengan Tuhan. Dalam pandangan Beauvoir, perempuan ini berbicara tentang Tuhan seolah-olah Ia adalah manusia biasa dan membicarakan laki-laki seolah laki-laki adalah Dewa.

Untuk mentransendensi batasan-batasannya, perempuan harus menolak menginternalisasikan ke-Liyanannya. Karena menerima Liyan dapat membuat perempuan menjadi obyek, bahkan Diri yang terpecah. Misalnya saja kostum dan style telah memotong tubuh feminin dan membatasinya dari segala kemungkinan untuk transendensi. Salah satu contoh keterpecahan perempuan adalah fenomena siulan dan komentar seksual laki-laki terhadap perempuan yang biasanya diselesaikan perempuan dengan berusaha tidak menganggapnya sebagai suatu masalah karena itu hanya mengenai tubuhnya. Jadi perempuan mencoba memisahkan antara pikiran dan tubuh. Oleh karena itu, perempuan harus menolak menjadi Liyan.

Awalnya saya sulit memahami mengapa konsep feminisme Beauvoir dikategorikan sebagai eksistensialisme. Untuk itu saya mencoba memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan eksistensialisme itu sendiri.
Eksistensialisme merupakan suatu gerakan filosofis yang mempelajari pencarian makna seseorang dalam keberadaannya (eksistensinya). Manusia yang eksis adalah manusia yang terus berusaha mencari makna dalam kehidupannya. Karena berbicara mengenai makna, eksistensialisme tidak memperlakukan individu sebagai sekedar konsep, melainkan menghargai subyektivitas individu jauh melampaui obyektivitasnya.

Berkebalikan dari Aristoteles yang mengatakan bahwa esensi mendahului eksistensi seseorang, para filsuf eksistensialisme, khususnya Sartre mempercayai bahwa eksistensi mendahului esensi. Tidak seperti peralatan yang memang diciptakan untuk suatu tujuan, manusia ada awalnya tanpa tujuan. Tetapi justru manusia berusaha menemukan dirinya dalam dunia dan mendefinisikan maknanya dalam eksistensinya. Dalam pendefinisian makna ini, manusia memiliki kebebasan yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Namun kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Manusia bertanggung jawab untuk bebas menentukan pilihan hidupnya (responsibility for choices) dan bertanggung jawab untuk konsekuensi-konsekuensi pilihan tersebut. Menyangkal tanggung jawab ini berarti manusia berada dalam kondisi, yang dinamakan Sartre sebagai bad faith.

Berangkat dari pemahaman eksistensialisme inilah saya mencoba memahami lebih lanjut feminisme eksistensialis yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir. Beauvoir terkenal dengan pernyataannya bahwa perempuan dalam eksistensinya di dunia ini hanya menjadi Liyan bagi laki-laki. Perempuan adalah obyek dan laki-laki adalah subyeknya. Dalam sebuah film berjudul Malena yang dibintangi Monica Belucci, saya mendapati hal yang lebih dari sekedar posisi obyek dan subyek. Malena adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Suatu ketika ia ditinggalkan suaminya untuk mengikuti wajib militer. Sejak saat itu kehidupannya mulai berubah. Ia mengalami banyak hambatan untuk menghidupi dirinya sendiri, terlebih setelah ayahnya meninggal dunia. Nasib buruk mulai menimpa Malena dan penyebab utamanya adalah kecantikannya. Banyak laki-laki menggodanya, dan banyak perempuan membencinya. Malena tidak menanggapi godaan para laki-laki, namun hal itulah yang menyebabkan ia sulit memperoleh pekerjaan. Akhirnya ia pun menjadi pelacur yang melayani tentara-tentara musuh.

Ketika perang usai, negara musuh kalah dan negara Malena menang dalam, ia dihujat oleh para perempuan di lingkungannya. Ia diseret ke luar, diludahi, dimaki, dan perlakuan lain yang tidak baik ditujukan kepada Malena. Sampai akhirnya suaminya kembali dan menemukan Malena dalam situasi demikian. Hujatan pun terhenti. Sang suami membawanya pulang. Selanjutnya kehidupan Malena kembali normal. Film diakhiri dengan adegan Malena kembali disapa para tetangga dan diberi anggukan saat ia berjalan sambil memegang tangan suaminya.

Sebelum saya mengenal teori feminisme eksistensialis, saya sangat terharu dengan film Malena, khususnya saat adegan-adegan terakhir. Saya menganggap sang suami sangat baik dan mencintai Malena. Ia menerima Malena apa adanya sekalipun istrinya telah menjadi pelacur. Apalagi adegan sang suami membawa pulang Malena ditampilkan tanpa percakapan apapun. Seolah menekankan penerimaan penuh dari suaminya. Namun setelah memahami feminisme eksistensialisme, saya melihat sisi lain dari film tersebut. Bahwa film tersebut sangat tidak feminis dan tidak eksistensialis. Malena tidak hanya menjadi obyek. Ia bahkan digambarkan tidak eksis tanpa laki-laki, dan hanya eksis karena laki-laki. Semasa ayahnya masih hidup, sikap masyarakat terhadap Malena belum negatif meskipun suaminya tidak ada. Setelah ayahnya meninggal, semua pelecehan terhadap Malena langsung terjadi.

Jadi sang ayah, laki-laki, menggantikan posisi suami Malena, yang juga laki-laki. Setelah tidak ada laki-laki, maka tidak ada lagi ‘pelindung’ Malena. Malena tidak mendapat pekerjaan karena laki-laki tidak memberikannya. Malena akhirnya bekerja sebagai pelacur untuk melayani kebutuhan laki-laki. Dan ketika suaminya–laki-laki– kembali, Malena pun kembali dihormati. Ia kembali mendapatkan eksistensinya di mata masyarakat. Jadi Malena, si perempuan, tidak dapat menjadi subyek bagi hidupnya sendiri. Lebih dari itu, eksistensi Malena, si perempuan, hanya dimungkinkan karena adanya laki-laki.

Bukan hanya di film, dalam realita pun banyak terdapat Malena-Malena lainnya. Seorang perempuan yang menjadi janda, apalagi usianya masih relatif muda, akan kehilangan eksistensinya di masyarakat. Berbagai pelecehan akan ditujukan kepadanya. Untuk mengembalikan eksistensinya pun, ia harus menikah kembali, dengan seorang laki-laki tentunya. Jadi laki-laki seolah berperan sebagai dewa penolong, yang akan mengembalikan statusnya sebagai perempuan ‘baik-baik’.

Dalam refleksi ini, saya juga ingin mengangkat satu kalimat yang diungkapkan oleh Beauvoir, yaitu “One is not born, but rather becomes a woman” (Beauvoir, 295). Menurut Margaret A. Simons, yang ikut menganalisis buku harian dan surat-surat Beauvoir kepada Sartre, ada dua elemen dalam konsep ini. Pertama gender dikonstruksi secara sosial, hasil dari sosialisasi masa kanak-kanak. Sebagaimana yang dikatakan Beauvoir dalam kalimat selanjutnya bahwa bukan takdir ekonomi, biologis, dan psikologis yang menentukan figur perempuan, melainkan peradaban (civilization).

Selama ini perempuan dikonstruksi sedemikian rupa untuk menjadi perempuan yang ‘diinginkan’ masyarakat. Perempuan hanya menjadi Liyan dalam berbagai aspek, dalam berbagai bentuknya. Elsthain telah mengkritik Beauvoir bahwa ia memandang tubuh perempuan sebagai negatif dan malah merayakan norma laki-laki. Berbeda dengan Elsthain, saya tidak melihat Beauvoir dalam pandangan yang demikian. Saya lebih menyetujui pandangan Aquarini Priyatna Prabasmoro yang menyatakan bahwa gambaran Beauvoir terhadap perempuan hanya merefleksikan fakta yang ada dalam masyarakat.

Seorang perempuan memang tidak dikonstruksi untuk merayakan tubuhnya. Payudara dan penis pun tidak pernah dihargai setara dalam masyarakat. Payudara justru dianggap sebagai penanda bahwa seorang perempuan lebih dekat dengan binatang (Prabasmoro, 59). Lain halnya dengan penis. Sejak kecil, laki-laki diajarkan untuk berbangga dengan penisnya. Laki-laki seringkali ‘mengukur’ seberapa panjang penisnya dan seberapa jauh ‘tembakan’ yang berhasil dilakukan ketika ia buang air kecil. Tidak demikian dengan perempuan. Perempuan tidak pernah diajarkan untuk berbangga atas tubuhnya. Yang terjadi adalah perempuan dibentuk sedemikian rupa untuk melihat kekurangan dalam tubuhnya karena tubuh perempuan dijadikan obyek yang dinilai.

Eksistensialisme dari Beauvoir akan lebih terasa jika kita bicara mengenai elemen kedua dari kalimat yang saya kutip di atas, yaitu “One is not born, but rather becomes a woman“. Elemen kedua adalah gender merupakan suatu proses menjadi, karena itu mengandung makna pilihan dan perubahan (choice and change). Gender adalah suatu proses yang terbuka terhadap tindakan sosial dan pilihan individual. Judith Butler menyebut elemen kedua ini sebagai sisi eksistensialisme dari Beauvoir.

Membaca otobiografi Beauvoir, awalnya membuat saya kehilangan kekaguman pada Beauvoir. Beauvoir terlibat hubungan percintaan yang rumit dengan Sartre. Hubungan mereka benar-benar tanpa ikatan. Masing-masing dari mereka memiliki kebebasan untuk menjalin hubungan percintaan dengan orang lain. Beberapa kali Beauvoir mengajak mahasiswinya untuk tinggal bersama. Mahasiswi-mahasiswi ini dirayu oleh Sartre dan akhirnya menjalin hubungan dengan Sartre. Beauvoir sendiri terlibat dalam hubungan lesbianisme dengan para mahasiswinya tersebut. Beauvoir juga menjalin hubungan dengan laki-laki (mahasiswanya) yang usianya jauh di bawah Beauvoir, dan Sartre menjalin hubungan dengan kakak perempuan mahasiswa tersebut. Beauvoir juga sempat menjalin percintaan secara mendalam dengan Nelson Algren, seorang laki-laki Amerika. Hal ini dilakukannya setelah mengatahui bahwa Sartre menjalin hubungan dengan perempuan Amerika.

Belakangan dari surat-surat yang dikirim Beauvoir untuk Sartre dan sebaliknya, diketahui bahwa Beauvoir sangat mencintai Sartre. Yang mungkin saja jika Sartre tidak pernah mencintai perempuan lain saat masih bersamanya, Beauvoir juga tidak akan menjalin hubungan lain. Dalam salah satu suratnya, Sartre mengatakan kepada Beauvoir untuk tidak cemburu karena seharusnya sebagai subyek, Beauvoir harus mengontrol rasa cemburu, dan bukan sebaliknya.
Dari surat-surat mereka dan buku harian Beauvoir juga diketahui bahwa sesungguhnya bukan Sartre yang membawa banyak pengaruh bagi pemikiran Beauvoir, melainkan sebaliknya. Pemikiran mendasar dalam The Second Sex sudah ada dalam diri Beauvoir jauh sebelum ia mengenal Sartre. Bahkan Being and Nothingness yang sering dijadikan acuan untuk memahami konsep Beauvoir sebenarnya dipengaruhi oleh pemikiran Beauvoir. Sartre telah melihat terlebih dahulu manuskrip awal dari novel filosofis Beauvoir L’Invitee sebelum ia menulis Being and Nothingness.

Menurut saya, Beauvoir jelas lebih pandai dari Sartre. Beauvoir adalah mahasiswa termuda yang berhasil lulus dari ujian agrégation (diploma pengajaran tertinggi di Perancis) di bidang filosofis. Prestasinya ini menjadikannya sebagai dosen filsafat termuda di Perancis (saat itu ia berusia 21 tahun). Ia menempati peringkat kedua setelah Sartre. Namun perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, Sartre telah mencoba dua kali ujian tersebut, sedangkan bagi Beauvoir saat itu adalah ujian pertamanya dan ia langsung berhasil. Kedua Sartre adalah mahasiswa kampus tersebut (École Normale Supérieure) dan telah mengikuti kelas persiapan yang terbaik. Beauvoir hanya mahasiswa pendengar di sana dan tidak mengikuti kelas persiapan apapun. Ketiga, Beauvoir adalah perempuan yang pada tahun 1929 saat itu posisi perempuan masih sangat rendah.

Ditambah dengan semua pemikirannya yang banyak mempengaruhi Sartre, adalah terlalu rendah hati jika Beauvoir senantiasa menyebut dirinya sebagai murid Sartre. Setelah semua surat dan buku hariannya diketahui publik, tidak berlebihan jika menyebut Beauvoir telah melakukan sebuah pengabdian absolut untuk Sartre, dan pengabdian ini sulit untuk dijelaskan.
Membaca otobiografi Beauvoir membuat saya berpikir bagaimana mungkin seorang feminis eksistensialis seperti Beauvoir ternyata hidupnya begitu dikendalikan oleh seorang laki-laki. Kehidupan Beauvoir membantah seluruh konsep feminisme yang dikemukakannya, Ia mengatakan bahwa salah satu dari tiga perempuan yang memainkan peran perempuan hingga ke puncaknya adalah perempuan mistis yang mendewakan laki-laki. Ternyata ia juga menjadi perempuan mistis tersebut. Ia mengatakan bahwa perempuan yang berkorban untuk laki-laki adalah mitos yang diciptakan laki-laki untuk menguasai perempuan. Ternyata ia juga melakukan devosi total untuk Sartre yang notabene adalah laki-laki.

Awalnya saya berpikir bahwa Beauvoir melakukan reaction formation, yaitu salah satu mekanisme pertahanan yang dikemukakan oleh Freud. Orang yang melakukan reaction formation akan menampilkan id-nya dalam bentuk yang berlawanan. Apa yang ditentang oleh Beauvoir ternyata merupakan sesuatu yang sebenarnya ia lakukan. Namun akhirnya saya menyadari Beauvoir tidak melakukan mekanisme pertahanan apapun. Semua novel yang ditulisnya menggambarkan dengan jelas dinamika kehidupan yang ia alami bersama Sartre. Tidak ada yang ditutupi Beauvoir. Tidak ada yang disangkal Beauvoir.

Lantas saya beralih kepada makna elemen kedua dalam kalimat Beauvoir di atas : “One is not born, but rather becomes a woman“. Kehidupan yang Beauvoir jalani adalah bagian dari prosesnya untuk menjadi. Pengalamannya hanya merupakan pengalaman perempuan, sebagai subyek, yang berusaha mengalami, yang berusaha menjadi. Karena proses menjadi adalah sebuah pilihan, pada akhirnya itulah pilihan hidup Beauvoir. Ia memilih untuk tidak menikah meskipun Sartre dan Algren juga pernah melamarnya. Ia memilih untuk ‘mengabdikan’ hidupnya pada Sartre.

Dalam novel karangan Arundhati Roy, The God of Small Things diceritakan bagaimana tokoh Ammu yang adalah janda, menjalin hubungan dengan Velutha, laki-laki yang lebih muda dan berasal dari kasta terendah. Ammu dianggap telah mempermalukan keluarganya berulang kali. Tetapi Ammu tetap memilih untuk mencintai Velutha. Sembunyi-sembunyi. Meskipun menyadari hubungan mereka adalah hubungan yang mustahil. Akhir cerita Velutha dibunuh oleh pihak keluarga Ammu, Ammu keluar dari rumah dan meninggal di kamar sewaannya. Saya sempat bertanya pada diri sendiri mengapa Ammu yang sudah jelas mengetahui tentang statusnya sebagai janda, yang dipandang rendah dan ‘bersalah’ oleh masyarakat, masih mengambil tantangan itu untuk berhubungan dengan Velutha. Akhirnya saya berpikir apa yang saya dengan status Ammu sebagai janda? Apa sebagai janda, Ammu tidak pantas mencintai? Terlepas dari itu semua, saya melihat Ammu hanya merupakan pribadi yang berusaha menjadi, berusaha mengalami. Jika akhirnya jalan yang dipilih Ammu untuk menjadi ternyata tidak berakhir dengan ‘baik’, Ammu tetap saja telah berproses dalam hidupnya.

Hal yang sama saya dapati dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rukmini. Tokoh Telaga berasal dari kasta Brahmana, dan memiilih untuk menikah dengan Wayan, laki-laki Sudra. Otomatis Telaga terbuang dari keluarganya. Keluarga Wayan pun tidak menerimanya karena pernikahan laki-laki Sudra dengan perempuan Brahmana akan dianggap membawa kesialan. Jadilah keluarga Wayan, yaitu ibu dan adik Telaga terus memperlakukan Telaga dengan buruk. Apalagi ketika Wayan meninggal dunia padahal pernikahan mereka baru berjalan sekitar dua tahun.

Ada kalimat Telaga yang menurut saya mencerminkan eksistensialisme. Ibu mertuanya mengatakan bahwa di rumah mereka, Telaga harus memasak sendiri dengan kayu bakar. Telaga menjawab demikian, ” Tidak apa-apa, Meme. Tiang harus belajar. Ini pilihan Tiang sendiri. Sama seperti Ammu, Telaga telah mengambil suatu pilihan hidup.

Meskipun pada akhirnya Beauvoir sendiri memilih menjadi ‘obyek’ dari (cintanya terhadap) Sartre, dan Ammu serta Telaga menjadi ‘obyek’ dari cinta, justru dalam obyektivitas yang dipilih mereka terkandung makna subyek itu sendiri. Mereka, sebagai subyek, telah memilih menjadi obyek.

Bahkan menurut Prabasmoro, dalam situasi ketika perempuan ditempatkan sebagai obyek, ia masih dapat memilih menjadi subyek. Contohnya adalah Hiroko, tokoh pelacur, penari telanjang, dalam novel karangan NH. Dini yang berjudul Namaku Hiroko. Sebagai seorang penari telanjang yang tubuhnya hanya menjadi obyek pandangan laki-laki, Hiroko justru merasa dirinya adalah subyek. Ia tidak dapat disentuh oleh para penonton laki-laki itu. Ia adalah subyek yang memegang kuasa atas gairah penontonnya. Seusai pertunjukannya, ia menertawakan para penonton laki-laki yang disebutnya ‘bodoh dan bernafsu.’ Sebagai pelacur, ia juga memilih hanya klien tertentu yang dapat melakukan hubungan seksual dengannya. Hiroko bukan obyek. Setidaknya ia tidak memandang dirinya sebagai obyek. Ia adalah subyek yang memilih untuk menjadi obyek bagi laki-laki.

Menurut Beauvoir, memilih menjadi obyek dan berlaku pasif dengan menjadi obyek yang pasif, memiliki perbedaan mendasar. Ketika seseorang memilih menjadi obyek, justru hal itu menunjukkan tindakan seorang subyek. Apa yang dipilih seseorang, bahkan menjadi obyek sekalipun, tidak mengurangi nilainya sebagai subyek. Karena sebagaimana yang saya tuliskan di atas, eksistensialisme menghargai subyektivitas.

Jika demikian, saya pun mempertanyakan pernyataan Beauvoir bahwa menjadi istri dan ibu hanya akan membuat seorang perempuan teropresi, menjadi obyek. Dalam hal ini saya ingin membawa topik yang diangkat oleh Christina S. Handayani dan Ardhian Novianto, dalam bukunya berjudul Kuasa Wanita Jawa. Menurut mereka justru dengan sikap peduli, merawat, dan nrimo yang ditunjukkan istri lambat laun akan membuat suami bergantung kepada istrinya. Menurut Handayani dan Novianto, di situlah terletak kuasa wanita Jawa. Dengan perkataan lain, saat itulah istri justru menjadi subyek dan suami hanya menjadi obyek yang bergantung pada subyek. Saya tidak tahu apabila istri memang merasa memiliki kekuasaan dengan cara seperti itu, meskipun subyektif sekalipun, tetapi ia tetap merasa menjadi subyek dalam hubungannya dengan suami.

Saya teringat perkataan teman saya, seorang laki-laki, yang justru mengajarkan kepada saya bahwa sebagai perempuan, saya harus menjadi subyek dalam sebuah hubungan. Ia mengatakan,” Jangan menjadi air yang diasinkan, tetapi jadilah garamnya.” Sulit memang untuk menjadi subyek ketika kita mencintai seseorang karena seringkali kita sendiri yang menjadikan diri kita sebagai obyek. Meskipun dalam sebuah hubungan, saya tidak ingin ada posisi subyek-obyek. Ketika segala sesuatu masih dapat dibicarakan, saya lebih memilih posisi setara dibandingkan hirarki.

Femininitas seorang perempuan memang dapat memposisikan perempuan sebagai obyek. Namun saya teringat sebuah istilah psikologi, yaitu hiperfemininitas. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan perempuan yang mengeksploitasi femininitasnya untuk memperoleh tujuannya. Misalkan saja perempuan menangis supaya dikasihani. Dari sudut tinjauan psikologis, hiperfeminitas bukan suatu hal yang positif. Namun menurut saya perempuan yang hiperfeminin ini dalam konteks eksistensialis justru memainkan peran sebagai subyek. Meskipun orang lain melihat ia hanya menjadi obyek, tetapi dalam ke-obyek-annya, ia sesungguhnya menjadi subyek dengan tujuan eksploitasinya tersebut. Karena sekalipun ia memilih untuk menjadi obyek, sama seperti yang dikatakan Beauvoir, ia justru telah menjadi subyek dengan pilihannya itu.

Namun kembali ke permasalahan istri dan ibu, memilih untuk menikah dan menjadi ibu adalah permasalahan obyek-subyek yang kompleks menurut saya karena dapat mengandung unsur kesadaran semu. Masyarakat kita masih melekatkan pernikahan sebagai bagian identitas seseorang. Hidup baru dianggap lengkap jika orang itu sudah menikah. Kapan menikah, adalah pertanyaan singkat namun mampu membuat orang yang ditanya mengambil waktu panjang untuk berpikir bahwa masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Tuntutan ini akan jauh lebih besar pada perempuan. Sebutan perawan tua bagi perempuan yang belum menikah di usia yang dianggap sudah ‘pantas’ memiliki makna yang jauh lebih negatif dibandingkan perjaka tua untuk laki-laki.

Jadi selama ini perempuan memang dikonstruksi untuk menikah. Apalagi perempuan dilekatkan sedemikian rupa dengan fungsi ibu. Sehingga perempuan yang telah menjadi istri dan ibu baru akan dianggap sebagai ‘perempuan’. Tidak heran jika banyak perempuan tertekan ketika belum mendapatkan pasangan di usia yang sudah dianggap pantas untuk menikah. Banyak pula yang akhirnya menikah dengan pasangan yang belum dikenal dengan baik hanya karena usia seolah sudah mengejarnya untuk segera menikah. Pada akhirnya pernikahan pun menjadi sesuatu yang wajib dilakukan agar tidak dianggap menyimpang dari norma masyarakat dan terhindar dari stereotip negatif. Dan akhirnya, jika konstruksi masyarakat terhadap perempuan untuk menikah dan melahirkan sudah sedemikian besar, ditanamkan sejak berabad-abad, terus terang saya menjadi kurang yakin apakah perempuan yang memutuskan untuk menikah adalah memang memilih dengan kesadarannya.

Saya juga tertarik dengan perkataan Beauvoir bahwa seorang ibu akan menjadi obyek bagi anaknya yang akan menuntutnya untuk melakukan berbagai hal. Menurut saya hal ini tidak selalu benar. Ibu saya adalah ibu yang sangat peduli. Sampai saya seusia ini (28 tahun), beliau masih saja mengingatkan saya akan jam makan, menyediakan makanan, dan menyediakan air hangat untuk mandi jika saya pulang larut malam. Di satu sisi saya senang dengan perhatiannya, di sisi lain saya benar-benar tidak nyaman. Saya sangat bosan dengan makanan yang biasanya disediakan dalam jumlah banyak dan bervariatif itu. Saya juga bosan dengan panggilannya untuk makan atau pertanyaannya jam berapa saya akan pulang, dan nasihat-nasihatnya tiap kali saya keluar malam. Dalam hal ini saya tidak tahu lagi siapa yang menjadi obyek dan subyek, saya ataukah ibu saya. Apalagi ibu saya pun merasa bahagia dengan kepeduliannya tersebut.

Bicara tentang ibu saya, saya teringat perkataan Beauvoir bahwa kehamilan mengalienasi perempuan dari tubuhnya sendiri. Ibu saya tidak merasa demikian. Ia merasa bangga dengan kehamilannya. Proses kehamilan dan persalinan yang ia jalani justru membuatnya merasa memiliki hak milik atas saya dan anak-anaknya yang lain. Inilah mungkin yang menjadikan ibu saya justru merasa sebagai subyek atas anak-anaknya. Meskipun ia pun tidak pernah memposisikannya demikian.

Saya sendiri belum pernah mengalami apa yang dinamakan dengan hamil. Tetapi pengalaman teman-teman saya menunjukkan perkataan Beauvoir ada benarnya. Banyak yang mengatakan betapa tersiksanya ketika tubuh semakin membesar, bukan hanya perut tetapi juga kaki. Mereka mengaku sulit bergerak dan tersiksa dengan tubuh yang terasa berat. Namun di sisi lain, mereka merasakan suatu kesukacitaan dengan merasakan bahwa ada makhluk lain di tubuh mereka, merasakan bagaimana janin itu menendangnya dan bergerak. Mungkin karena Beauvoir pun belum pernah mengalami kehamilan, sama seperti saya, ia hanya menjadi pengamat yang melihat dan akhirnya membayangkan betapa tersiksanya seseorang ketika hamil. Namun jika mungkin saja Beauvoir mengalami kehamilan itu, ia akan mengatakan hal yang berbeda, satu sisi kehamilan yang tidak ia rasakan, kesukacitaan merasakan ada makhluk hidup lain di dalam perutnya.

Dengan demikian adalah hak bagi perempuan untuk melakukan pilihannya terhadap peran yang akan ia lakoni, apakah ingin menjadi istri, ibu, atau peran lainnya. Karena sebagai manusia, perempuan bebas menentukan eksistensinya, dan bertanggung jawab dengan konsekuensi-konsekuensi atas pilihan yang telah ia ambil. Pada akhirnya pengalaman pahit sekalipun dapat mengajarkan perempuan untuk berproses ke arah yang lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan Beauvoir bahwa “One is not born, but rather becomes a woman“. Menjadi perempuan adalah selalu dalam proses menjadi.

 

4 Comments leave one →
  1. muminatus FF permalink
    July 19, 2009 9:45 am

    sebetulnya feminisme merupakan gerakan persamaan dari wanita barat yang kurang dihargai dan selama wanita tidak tahu akan kedudukannya dan kurang bijak maka dalam benaknya hanya ada deskrimanai terhadap perempuan!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • esterlianawati permalink*
      July 21, 2009 7:10 am

      iya, setuju. en krn msh bnyk perempuan yg blum tau, skrg saatnya kita ks tau mrk😉

  2. zardens permalink
    November 7, 2009 4:36 am

    u dah baca the second sex ya. gw mo diskusi bisa ga..gw lagi bikin skripsi ttg simone de beauvoir. atw klo u ga bisa tlg cariin temen feminis yg bisa bantu gw diskusi.. … thankss

    • esterlianawati permalink*
      November 9, 2009 3:09 pm

      cek emailmu ya, zardens😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: