Skip to content

Berpuasalah, dan Jadilah Sejahtera

July 16, 2007

Hampir dua minggu sudah umat muslim menjalani ibadah puasa. Puasa di bulan Ramadhan ini memiliki warna tersendiri karena dilakukan oleh umat muslim sedunia selama satu bulan penuh pada saat yang sama. Meskipun demikian, puasa dengan tujuan religius dan spiritual sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh umat muslim. Dalam kitab Mahabharata, Upanishad, dan Alkitab, ditemukan bahwa agama lain juga mengajarkan umatnya untuk berpuasa.

Ajaran Budha misalnya menganjurkan para biksu dan biksuni untuk berpuasa setelah makan siang, meskipun kini banyak yang tidak melakukannya lagi. Umat Hindu wajib berpuasa saat bulan purnama, pada hari-hari tertentu untuk memuja dewa yang dikaguminya, dan pada hari raya keagamaan. Umat Kristen dari denominasi ortodoks diwajibkan berpuasa dengan total jumlah hari puasa yang cukup lama setiap tahunnya, namun waktunya ditentukan secara pribadi. Umat Katolik juga berpuasa di waktu-waktu tertentu yang dianggap penting seperti hari Rabu Abu, Jumat Agung, dan sebagainya.

Sayangnya kewajiban-kewajiban ini justru seringkali mengikat umat. Jadi umat berpuasa hanya karena merasa wajib, karena demikian tertulis dalam kitab suci, tanpa memahami makna dan manfaat puasa itu sendiri. Padahal terlepas dari keragaman ajaran agama dalam memandang puasa, puasa membawa banyak kebaikan. Sejumlah pakar kesehatan, teologi, dan psikologi telah berhasil mengungkapkan bagaimana puasa mendatangkan kesejahteraan.

Kesejahteraan fisik

Puasa memungkinkan tubuh kita beristirahat secara fisiologis. Istirahat ini membangun kembali energi vital dalam tubuh yang dapat memperlancar pembuangan toksin berupa zat-zat kimia anorganik dalam tubuh. Paul Bragg, seorang ahli yang meneliti manfaat puasa, menyebut proses ini sebagai pemurnian fisik yang dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat. Dengan hilangnya racun dalam tubuh, Bragg mengatakan kita dapat tertidur lelap seperti bayi. Itulah sebabnya orang yang berpuasa justru terlihat lebih segar dibandingkan yang tidak.

Khususnya bagi umat muslim, taraweh juga membawa dampak positif. Ketika berbuka, level gula darah mulai meningkat akibat makanan yang kita konsumsi dan semakin meningkat satu atau dua jam berikutnya. Saat itulah, sholat taraweh yang dilakukan beberapa jam setelah berbuka, menjadi sangat bermanfaat karena gerakan-gerakannya dapat membantu metabolisme glukosa. Dengan membakar kalori, taraweh mencegah kelebihan berat badan yang seringkali menjadi awal munculnya berbagai penyakit medis.

Kesejahteraan psikologis

Puasa bukan hanya menunjang kesehatan tubuh secara fisik. Puasa mengandung makna disiplin diri. Bagi umat muslim, maka disiplin ini dimulai dari bangun sahur saat yang lain (baca : yang tidak berpuasa) masih terlelap. Mengendalikan nafsu untuk tidak makan dan minum, yang bahkan ketika berbuka pun, kita masih harus mengendalikan diri untuk tidak makan terlalu banyak. Hingga mengendalikan amarah dan hasrat seksual yang diyakini psikoanalis terkenal, Sigmund Freud sebagai insting alami manusia. Jadi sesuatu yang instingtif sifatnya harus ditekan selama berpuasa. Dengan demikian dapat dibayangkan bagaimana sulitnya menjalani puasa. Tetapi justru ketika mampu melakukannya, rasa kemenangan itu hadir, dan rasa ini tidak terkalahkan oleh apapun juga. Menurut Carol D. Ryff, penggagas teori kesejahteraan psikologis, kemenangan ini merupakan bagian dari kemampuan untuk menguasai; mengendalikan, yang merupakan salah satu aspek kesejahteraan psikologis.

Kesejahteraan spiritual : Pengalaman puncak

Selanjutnya rasa percaya diri, kebanggaan, dan yang terutama adalah syukur kepada Tuhan yang memungkinkan kemenangan itu terjadi akan mengisi hati. Inilah emosi positif yang dihasilkan dari ibadah puasa, yang tetap tinggal di hati meskipun waktu berbuka telah usai.

Bagi umat muslim, dampak positif ini dapat lebih dirasakan ketika seseorang melanjutkannya dengan taraweh dan berzikir. Posisi tubuh seseorang ketika berzikir dikatakan Ibrahim B. Syed sebagai posisi rileks. Disertai dengan pikiran intensif yang terus menyebut nama yang Mahaagung dan melantunkan ayat-ayat suci, zikir dapat membawa kedamaian pikiran. Demikian pula dengan doa-doa saat taraweh yang membawa ketenangan hati. Sama dengan umat muslim, hanya saja dalam bentuk yang berbeda, doa dan pujian penyembahan yang dipanjatkan umat lain yang berpuasa juga mendekatkan mereka pada Yang Ilahi.

Pengalaman spiritualitas semacam ini disebut Maslow sebagai salah satu pengalaman puncak (peak experiences). Pengalaman puncak yang mungkin paling dinantikan selama bulan Ramadhan adalah malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Orang yang mengalaminya akan merasakan kehadiran malaikat-malaikat; rasanya begitu agung dan mulia. Pengalaman Lailatul Qadar ini merupakan sebuah kebahagiaan spiritual yang sulit dilukiskan. 

Dalam Alkitab, kita mengenal Yesus sebagai tokoh yang mengalami pengalaman puncak. Kekuatan spiritual yang diperolehNya menjadikan Yesus begitu kuat dan bijak menghadapi godaan iblis setelah Ia berpuasa selama 40 hari 40 malam.

Menurut Abraham Maslow, pengalaman-pengalaman puncak semacam ini diyakininya penting untuk pertumbuhan kepribadian yang sehat.

Kesejahteraan sosial : Kebersamaan

Dampak positif yang satu ini dirasakan lebih nyata bila puasa dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu, dampak positif ini lebih terasa bagi umat muslim yang memiliki kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Ramadhan memang merupakan bulan yang sangat baik untuk menjalin kebersamaan. Sahur, berbuka, dan taraweh bersama merupakan momen-momen yang paling tepat untuk memperkuat rasa kekeluargaan. Taraweh di mesjid atau mushola, juga dapat meningkatkan persaudaraan sesama muslim, atau yang disebut ukhwah-islamiah.

Dan bukan hanya dengan sesama muslim, puasa juga menciptakan suasana penuh persaudaraan dengan umat lain. Saya masih mengingat salah satu momen bahagia di masa kecil adalah sehabis teman-teman sepermainan saya sahur dan sholat subuh, kami berjalan kaki keliling kompleks, bermain badminton, dan melakukan banyak hal lain yang semakin mengakrabkan kami. Meskipun sebagai kanak-kanak dan non muslim, saya tidak memahami makna puasa, tapi saya sangat menikmati indahnya kebersamaan di bulan Ramadhan saat itu.

Hingga saat ini, kita juga dapat menemukan acara buka puasa bersama yang dihadiri pula oleh umat non muslim. Umat non muslim juga turut bahagia merasakan kemenangan temannya yang telah berpuasa sehari penuh. Mereka juga belajar makna toleransi dengan tidak makan dan minum di depan orang yang sedang berpuasa. Meminta maaf jika melakukannya, dan ada damai ketika orang yang dimintai maaf tersenyum dan mengatakan itu justru pahala baginya.

Sama seperti orang yang sedang berpuasa, orang yang tidak berpuasa juga belajar mengendalikan emosi, dengan berpikir ulang jika hendak menampilkan amarah. Maka terciptalah suasana yang penuh maaf, santun, dan kasih sayang saat umat muslim menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Suasana ini memungkinkan terjalinnya hubungan yang positif dengan orang lain, yang juga merupakan salah satu aspek kesejahteraan menurut Carol Ryff.

Berpuasa tampaknya sungguh membawa kesejahteraan. Baik secara fisik, psikologis, spiritual, maupun sosial. Dan dampak positif ini dapat dirasakan oleh setiap orang yang berpuasa, terlepas dari apapun ajaran agama yang diyakininya. Jadi selamat berpuasa, kiranya kesejahteraan untuk kita semua.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: