Hari ini saya lempar keluar ‘makhluk’ itu

Sekian lama tidak menulis, saya terpikir untuk memulai kembali dengan tulisan yang gembira. Sayangnya kasus Harvey Weinstein yang mencuat belum lama ini turut menyibak kenangan lama yang sudah saya tidak pikirkan. Tepatnya yang saya taruh dengan sengaja jauh di pojokan agar tak terlihat lagi. Saya berhasil menyembunyikannya tetapi ternyata tidak benar-benar melupakannya.  

Kasus Harvey mengingatkan saya akan guru SD saya yang kebetulan memiliki bentuk tubuh dan raut wajah yang mirip dengan Harvey, dengan ekspresi yang menurut penglihatan saya lebih menyeramkan. Guru ini melakukan pelecehan kepada saya dan teman-teman yang saat itu masih duduk di kelas 1 SD. Continue reading “Hari ini saya lempar keluar ‘makhluk’ itu”

Advertisements

Maaf….

Masih dalam suasana Idul Fitri ini, saya ingin memohon maaf dengan tulus kepada rekan-rekan yang mengirimkan pesan, komentar, pertanyaan, baik melalui email maupun langsung di blog. Maaf karena saya tidak sempat membaca dan membalasnya. Maaf untuk tidak dapat hadir di sana pada saat rekan-rekan membutuhkan teman diskusi dan tempat untuk berbagi. Beberapa tahun ini saya memang tidak meluangkan waktu untuk melongok blog dan email. 

Saya melihat selama masa absen ini, banyak pertanyaan seputar kesejahteraan psikologis, komitmen perkawinan, dll. Jujur saya tidak mengikuti perkembangan teori-teori ini. Untuk sementara, saya tidak cukup kredibel untuk memberikan pendapat mengenai teori-teori ini. Namun jika rekan-rekan menginginkan artikel-artikel lama yang saya miliki, dengan senang hati akan saya kirimkan.

Continue reading “Maaf….”

Lagi, self-serving bias !

Masih ingat tentang kecenderungan melayani diri sendiri, atau istilah bahasa inggris nya mungkin lebih populer : self-serving bias ?

Kecenderungan ini dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi, dsb. Masing-masing dari kita punya pandangan dan pendapat sendiri dan lebih dari itu, kita punya keyakinan yang sering kali teguh tak tergoyahkan bahwa pandangan kita itulah yang paling benar. Gawatnya, semakin bertambah usia, menurut ayah saya, kita akan semakin yakin bahwa kitalah yang paling benar, bahwa apa yang kita yakini itu memang yang paling meyakinkan.

Saya juga tadinya meyakini bahwa saya sudah berhasil sedapat mungkin tidak melakukan self-serving bias. Sampai belakangan ini saya disadarkan bahwa ternyata saya belum sesukses itu 😦

Continue reading “Lagi, self-serving bias !”

Pria dengan Profesi “Feminin”

Secara umum, seseorang memilih profesi tertentu dengan mempertimbangkan minat, bakat, dan kesempatan. Namun demikian, ada beberapa variasi :

(a) Ada yang berawal dari minat, yang ternyata disertai bakat, dan didukung kesempatan. Ini yang paling umum terjadi dan jalurnya paling simpel. Ketertarikan terhadap suatu profesi dapat muncul dari mana saja. Ada yang sejak kecil punya model/idola, misalnya ibu, ayah, paman, dll, dan ingin jadi seperti mereka. Ada pula yang menemukan minatnya dari informasi-informasi yang ia temukan dari berbagai sumber : majalah, koran, film, acara televisi, dll ;

(b) Dapat pula tadinya tidak berminat/tidak terpikir, tapi lebih dulu menemukan bakatnya, berlatih menekuni bakatnya ini, baru kemudian jadi benar-benar berminat ;

(c) Ada pula yang memilih profesi tertentu bukan karena awalnya ia berminat, tetapi situasi menceburkannya ke sana untuk  « mengerjakan » profesi tsb. Misalnya ada yang terpaksa bekerja di bidang yang tidak ia sukai semata-mata karena tidak ada pekerjaan lain. Ada pula yang awalnya dipaksa ortu untuk menekuni profesi tertentu. Lama-lama ia jadi menyukai profesi ini. Ini yang sering diperdebatkan dalam psikologi : minat mengarahkan profesi seseorang atau profesi mengarahkan dan bahkan mengubah minat seseorang.

Continue reading “Pria dengan Profesi “Feminin””

Jika (terpaksa) Memilih Tinggal di Rumah

Seorang teman mengeluhkan rekannya yang berhenti bekerja dan memilih untuk tinggal di rumah menjaga anak. Ia khawatir jika banyak perempuan seperti itu, kita malah akan kembali ke zaman lampau saat perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah. Teman lain juga menyatakan ketidaksetujuannya pada istri kakaknya yang « hanya berdiam diri di rumah ». Menurutnya, kaum feminis sudah memperjuangkan hak perempuan untuk bekerja, dan seyogianya perempuan menggunakan haknya ini.

Terus terang, saya kurang setuju dengan pendapat mereka, terutama mengenai bagian yang saya beri tanda kutip di atas. Menjadi ibu rumah tangga sudah pasti bukan hanya berdiam diri; segudang pekerjaan menunggu untuk ia selesaikan di rumah. Lagipula, jika memang keinginannya sendiri untuk tinggal di rumah, tentu tanpa dipengaruhi oleh stereotipe dan peran-peran yang dilekatkan masyarakat kepada perempuan, mengapa tidak menjadi ibu rumah tangga ? Memang perempuan diharapkan sebaiknya bekerja agar tidak bergantung kepada suami secara finansial sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan perkawinan, perempuan tetap dapat mandiri. Namun bukankah memaksakan perempuan untuk bekerja sementara ia benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama anak-anak sama saja dengan memaksakan pilihan kepada perempuan ? Jika memang yang dikhawatirkan adalah sesuatu yang buruk terjadi dalam perkawinan, -sekalipun biasanya kita tidak memikirkan hal ini pada saat sedang bahagia dengan pasangan-, bukankah lebih tepat jika kita mengharapkan perempuan memperlengkapi diri dengan bekal pendidikan, keahlian, dan keterampilan ?

Continue reading “Jika (terpaksa) Memilih Tinggal di Rumah”

Teman Imajiner

Kehadiran teman imajiner pada anak usia prasekolah sifatnya cenderung normal, sekitar 60% anak memunculkan teman imajiner pada usia ini. Tidak perlu cemas bila anak sama sekali tidak pernah memiliki teman imajiner. Sama halnya dengan tidak perlu cemas bila anak memiliki teman imajiner, kecuali pada situasi-situasi tertentu.

Bentuk teman imajiner bermacam-macam, ada yang hanya anak  « biasa «  misalnya teman sebaya/anak yang lebih tua, orang tua, anak “ajaib” yang punya kekuatan magic, bayi, superhero, hewan seperti anjing, kucing, bahkan hewan mistis seperti naga, malaikat, setan, musuh, dll.

Umumnya anak memunculkan teman imajiner pada usia 3 sampai 5 tahun. Pada usia ini anak belum mampu memisahkan secara tegas antara dunia nyata dan imajinasi, namun di sisi lain ia mulai belajar mengenal/memahami dunia nyata yang ternyata tidak selalu sesuai dengan apa yang ia harapkan : tidak seperti usia sebelumnya ketika ia dapat mendapatkan apa yang ia inginkan (misalnya dengan menangis, orang tua paham bahwa anak lapar dan memuaskan kebutuhannya). Untuk  membantunya, ia menciptakan teman imajiner, yang memungkinkannya dapat lebih menerima realita dan menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya (misalnya dimarahi ibu karena menumpahkan susu, dan anak mengatakan bahwa si teman imajiner yang menumpahkannya).

Continue reading “Teman Imajiner”

Psychological & subjective well-being, apa bedanya?

Saya menerima cukup banyak email yang menanyakan perbedaan antara kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dengan kesejahteraan subjektif (subjective well-being). Semoga tulisan ini dapat membantu untuk memperjelas perbedaan keduanya.

Kesejahteraan psikologis dan subjektif berbeda, setidaknya sejauh yang saya ketahui, dalam dua hal.

Pertama adalah filosofi yang melandasinya. Kesejahteraan psikologis bersifat eudamonik: seseorang dikatakan sejahtera bila mengisi hidupnya dengan hal-hal yang bermakna, yang bertujuan, yang berguna bagi kesejahteraan orang lain dan pertumbuhan dirinya sendiri. Sedangkan kesejahteraan subjektif bersifat hedonik, mengandung prinsip kesenangan: sejauh mana seseorang merasa hidupnya menyenangkan, bebas stres, bebas dari rasa cemas, tidak depresi, dll yang intinya mengalami perasaan-perasaan menyenangkan dan bebas dari perasaan-perasaan tidak menyenangkan.

Jadi dapat saja orang yang sama merasa dirinya tidak bahagia dan cenderung diliputi stres (skor rendah dalam kesejahteraan subjekt), tetapi skornya tinggi dalam dimensi-dimensi psychological well-being. Sebaliknya dapat pula seseorang merasa hidupnya menyenangkan dan ia tidak tertekan (skor tinggi dalam kesejahteraan subjektif) meskipun ia tidak tahu hidupnya hendak dibawa kemana, ia tidak memiliki kegiatan bermakna, tidak cukup luwes untuk bergaul dengan orang banyak, dll yang tercakup dalam dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis (= skornya rendah dalam kesejahteraan psikologis).

Continue reading “Psychological & subjective well-being, apa bedanya?”