A Feminist Psychologist’s Blog

October 23, 2009

Temper Tantrum

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 3:12 pm

Apa itu Temper Tantrum?

Temper tantrum adalah episode dari kemarahan dan frustrasi yang ekstrim, yang tampak seperti kehilangan kendali seperti dicirikan oleh perilaku menangis, berteriak, dan gerakan tubuh yang kasar/agresif seperti membuang barang, berguling di lantai, membenturkan kepala, dan menghentakkan kaki ke lantai. Pada anak yang lebih kecil (lebih muda) biasanya sampai muntah, pipis, atau bahkan nafas sesak karena terlalu banyak menangis dan berteriak. Dalam kasus tertentu, ada pula anak yang sampai menendang atau memukul orangtua atau orang dewasa lainnya (baby sitter misalnya).

Temper tantrum biasanya terjadi pada usia 2-4 tahun ketika anak mulai menampilkan sikap negativistik dan kemandirian. Seiring waktu (usia 5 – 12 tahun), ketika anak sudah mulai dapat mengungkapkan keinginan dan pemikirannya dengan baik secara verbal, temper tantrum cenderung berkurang, dan hanya terjadi kadangkala saja.

(more…)

October 11, 2009

Mari Belajar Memaafkan

Filed under: La Psychologie du Bien-être — by esterlianawati @ 4:43 pm

Masih segar dalam ingatan kita teror bom yang belum lama ini terjadi. Sembilan korban tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka. Beberapa di antara mereka menderita cacat permanen. Saya bertanya-tanya jika saya adalah salah satu dari mereka, dapatkah saya memaafkan pelakunya?

Saya kira semua orang pernah mengalami peristiwa menyakitkan. Tentu tidak harus dalam bentuk tragedi dengan cakupan luas seperti di atas. Dalam level personal, kita tidak dapat menghindari hal-hal menyakitkan, yang bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat. Mungkin Anda heran jika tahu bahwa tiap harinya ada korban kekerasan dalam rumah tangga yang melapor ke LBH ataupun pusat krisis. Terapis keluarga juga tidak pernah sepi dari klien dengan kasus perselingkuhan.

Atau cobalah ingat-ingat apakah Anda pernah mengalami satu saja dari hal-hal berikut? Digosipkan sahabat, difitnah rekan kerja hingga gagal dipromosikan, dikhianati pacar yang memilih untuk menikah dengan orang lain, didiamkan atau sebaliknya sering dimaki-maki mertua, ditipu saudara sendiri, dibohongi pria beristri, dsb? Apakah Anda masih mengingat peristiwa itu dengan jengkel, benci, atau marah? Jika iya, itu tandanya Anda belum memaafkan orang yang telah melakukan tindakan itu terhadap Anda.

Lantas kenapa jika belum memaafkan? Mengapa kita perlu memaafkan? Kita yang disakiti, mengapa kita masih harus berjuang untuk memaafkan? Pertanyaan-pertanyaan ini sempat menggelitik saya. Mengobati luka hati saja sudah sulit, kini ditambah satu tugas lagi, yakni memaafkan. Namun akhirnya saya paham pandangan ini keliru. Memaafkan dan menyembuhkan luka bukanlah bagian yang berdiri sendiri. Memaafkan adalah bagian dari proses penyembuhan itu sendiri.

 

(more…)

October 3, 2009

Self-serving Bias

Seminggu lalu, seorang mahasiswa tidak lulus dalam sidang skripsi. Masih di dalam ruang sidang, ia menyalahkan adiknya yang menurutnya telah mengajarkan metode statistik yang salah. Keluar dari ruang sidang, ia mengeluhkan dosen pembimbingnya. Tidak tahan dengan sikapnya yang menyalahkan orang lain, saya bertanya kepadanya, “Bukankah nama-nama mereka sudah kamu masukkan dalam ucapan terima kasih? Seandainya kamu lulus, apakah kamu akan menyalahkan mereka?” Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Kami berdua sama-sama tahu ia sedang melakukan sebuah bias, yang dalam psikologi dikenal self-serving bias atau self-serving attribution bias.

(more…)

August 28, 2009

No Justice Without Care: Feminist Psychology on the Legal Process of Domestic Violence Cases

Filed under: La Psychologie Légale — by esterlianawati @ 12:58 pm
Tags: , , ,

Involving 6 victims, 2 lawyers, 7 legal counselors, and a number of police officers and court officials, this research tried to reveal the psychological aspects that coloring the legal process strongly. The results show how difficult the process has been through by victims to get justice. The Law of the Elimination of Violence in the Family/Household is impeded on its implementation despite of the revision needed on several chapters. The legal counselors are restricted by institutional and personal limitations. The judicial personnel carry out the principle of objective law rigidly. However, they are influenced by personal biases unconsciously. The law becomes less objective, neutral, and rational than they expect. Actually, subjectivity and impartiality are needed to reach objectivity. However, they ought to be accompanied by psychological sensitivity with care within. Without care, justice is only a wish that is difficult to reach by the female victims. To bring it into reality, I propose the legal process that has perspective of feminist legal psychology emphasizes the ethics of care.

 

(more…)

August 15, 2009

Pemimpin yang Merdeka

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 5:13 pm

Dengan ini aku bersaksi
bahwa rakyat Indonesia belum merdeka

Bagaimana rakyat bisa disebut merdeka
bila birokrasi negara
tidak mengabdi kepada rakyat
melainkan mengabdi
kepada pemerintah yang berkuasa?

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa hati nurani itu meski dibakar
tidak bisa menjadi aku
hati nurani senantiasa bersemi
meski sudah ditebang putus dibatang

….

(Kesaksian Akhir Abad, WS. Rendra)

Tujuh belas Agustus 1945. Mengenang hari kemerdekaan selalu menghadirkan imaji perjuangan para pahlawan di benak saya. Pekik semangat mereka menyuarakan impian untuk bebas dari penjajahan. Perjuangan yang penuh kegigihan untuk mencapai satu harapan bersama: kemerdekaan. Saya membayangkan kebanggaan bercampur haru luar biasa saat harapan itu menjadi kenyataan.

Entah apakah perasaan itu masih dirasakan rakyat Indonesia saat ini. Yang saya tahu tiap tanggal 17 Agustus, kita bergembira mengikuti perlombaan-perlombaan yang terus terang saya tidak dapat melihat keterkaitannya dengan makna kemerdekaan. Kita jatuh dalam euphoria semangat lomba panjat pinang, balap karung, jepit sendok, dsb. Esoknya, kita kembali pada keseharian kita, dengan kondisi bangsa yang tidak jua menjadi lebih baik setelah 64 tahun kemerdekaan.  

Saya jadi bertanya-tanya kemana semangat perjuangan yang dulu kita punya? Apa kita tidak lagi memilikinya? Apa karena kita sudah mendapatkan kemerdekaan itu, lantas kita kehilangan arah karena tidak tahu lagi apa yang hendak dicapai? Atau seperti yang dikatakan WS.Rendra, penyair besar yang pernah dimiliki negeri ini, kita rakyat Indonesia sesungguhnya belumlah merdeka? Dalam puisi-puisinya, secara tegas Rendra mengkritik pemerintahan yang membuat kita belum dapat menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka.

(more…)

August 9, 2009

Are You Must-urbating?

Filed under: La Psychologie du Bien-être — by esterlianawati @ 5:55 am
Tags: , , ,

Dalam Festival Sinema Perancis ke-14 beberapa waktu lalu, ada sebuah film komedi yang menarik berjudul Villain. Film ini tidak hanya mengundang gelak tawa dari awal hingga akhir, namun sarat akan pesan. Sesuai dengan judulnya yang dapat diartikan sebagai buruk rupa, nakal, atau jahat, film ini mengisahkan tentang Melanie, gadis buruk rupa yang sering dimanfaatkan orang karena ‘kebaikannya’. Ia tidak pernah menolak permintaan orang lain ataupun melawan penghinaan dan penindasan atas dirinya. Sampai satu hari batas kesabarannya berakhir. Ia berubah menjadi agresif dan tidak segan-segan membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya.

Seorang teman, sebut saja namanya Donna, dalam satu bulan ini sudah bertengkar dengan dua rekan kerjanya. Wajahnya tampak selalu tegang, seolah banyak hal yang ia pikirkan. Usut punya usut, ia ingin tampil seoptimal mungkin dalam setiap pekerjaannya. Ia lembur hampir setiap hari namun tetap merasa tidak cukup produktif. Belakangan, ia mengeluh kepada rekan-rekannya bahwa beban pekerjaannya terlampau berat. Mereka menasihatinya agar tidak terlalu ngoyo. Merasa tidak dipahami,  emosi Donna meledak, dan kedua rekannya menjadi korban luapan amarahnya.

(more…)

July 26, 2009

Indahnya Sebuah Persahabatan

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 2:52 am
Tags: , , , , , , ,

Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.

(Sindentosca)

Masa kanak-kanak adalah masa emas perkembangan manusia. Masa ini adalah masa yang tepat untuk menstimulasi anak baik secara fisik, kognitif, maupun sosioemosional. Sayangnya, kebanyakan orang tua cenderung berfokus pada aspek fisik dan kognitif saja. Asupan bergizi diberikan agar anak tumbuh tinggi, bertulang kuat, dan berotak cerdas. Membaca, menulis, dan berhitung, sudah diajarkan bahkan sebelum anak masuk taman kanak-kanak. Tidak sedikit pula orang tua yang memasukkan anaknya dalam berbagai kursus, yang seringkali didorong oleh ambisi mereka, bukan atas keinginan anak.

Tentu tidak salah mengoptimalkan pertumbuhan fisik dan kognitif anak asal dilakukan dengan cara yang bijaksana. Sayangnya, terpaku pada kedua aspek itu membuat orang tua lupa pada aspek sosioemosional yang seyogianya juga dikembangkan anak. Orang tua lupa bahwa anak tidak hanya perlu menjadi besar dan pandai, namun juga memiliki budi pekerti, empati, dan kepedulian. Akibatnya, berbagai persoalan dikeluhkan orang tua. Anak yang memberontak, agresif, sombong, egois, tidak mau berbagi, dsb, acap kali  mereka lontarkan.

Orang tua tidak sadar bahwa banyaknya waktu yang dipakai untuk pengembangan fisik dan kognitif dapat mengurangi jam bermain anak. Kehilangan jam bermain sama saja dengan kehilangan kesempatan untuk menjalin relasi dengan teman-teman sebaya. Padahal hubungan semacam ini sangat dibutuhkan anak. Pertemanan masa kanak-kanak adalah cikal bakal anak belajar persahabatan. Dan persahabatan adalah sarana terbaik untuk anak mengembangkan sisi sosioemosionalnya secara optimal.

(more…)

Next Page »

Powered by WordPress.com