When two people love each other
totally and truthfully,
But they just can’t seem to get it together,
when do you get to that point of
enough is enough?
-The Mexican-
When two people love each other
totally and truthfully,
But they just can’t seem to get it together,
when do you get to that point of
enough is enough?
-The Mexican-
Kamu bisa membakar barang-barang miliknya
Tapi belum tentu bisa jadikannya sekedar asap dan abu di hatimu
Kamu bisa menghapus namanya di handphone-mu
Tapi belum tentu bisa menghapus dirinya di benakmu
Kamu bisa menyingkirkan fotonya dari kamarmu
Tapi belum tentu bisa menyingkirkan wajahnya dari kalbumu
Come on, gals,
Could you see the essence of your problem?
Sudah pernah dapat teror?
Beberapa tahun ini hidup saya diwarnai teror. (Kasian deh gue..) Memang kebanyakan terornya lewat handphone, sekalipun ada satu dua yg teror langsung. Kadang teror lewat handphone lebih mengganggu karena ngabisin batere handphone. Kalau teror langsung di tengah jalan pula, bisa langsung teriakin orang biar si penteror langsung ditangkap
. Pernah dalam satu hari itu si penteror nelepon sampe lebih dari 100 kali. Kebayang gak sih betapa banyaknya waktu luang sih penteror. Tapi memang dia pengangguran sih hihi.
Anak merupakan harapan bangsa. Anak adalah generasi penerus bangsa. Dua slogan ini tidak berlebihan mengingat perkembangan tiap individu dimulai pada saat ia menjadi seorang anak. Usia ini sangat kritikal dalam menentukan tahap perkembangan selanjutnya. Usia ini merupakan momen emas tiap individu untuk belajar dan bertumbuh. Pada masa inilah perkembangan otak seseorang berada dalam kondisi optimal. Pada masa ini pula aspek moral dan mental seseorang mulai terbentuk. Intinya apa yang dialami, dipelajari, dan diperoleh pada masa kanak-kanak, sedikit banyak akan menentukan eksistensinya kelak.
Ada yang setia mengikuti sinetron ini?
Di tengah sejumlah deadline yang mengejar belakangan ini, sinetron ini satu-satunya tayangan televisi yang saya tonton karena jamnya pas banget dengan saat-saat saya udah jenuh ama tugas. Sinetron yang sudah mencapai hampir 200 episode ini dapat dengan mudah diketahui ceritanya meskipun baru beberapa hari menonton.
Awalnya sinetron ini cukup menghibur. Lama-lama saya jadi bertanya-tanya apakah saya makhluk masokis karena terhibur oleh sinetron yang banyak banget menampilkan adegan kekerasan ini? Suami menampar istri, istri menampar suami, kakak menampar adik, dan sebaliknya adik menampar kakak. Oya sesama istri yang sama-sama mencintai suami mereka yang plin plan juga saling menampar. Belum lagi sang ibu mertua yang gila harta, juga habis-habisan melakukan kekerasan pada menantunya, sang tokoh utama dalam sinetron ini. Dibantu dengan menantunya yang lain, mitranya dalam merebut harta warisan, berbagai kekerasan dilakukan terhadap si tokoh utama. Tidak hanya fisik, tapi juga psikis. Berbagai makian dengan kata-kata kasar sering diucapkan dalam sinetron yang jam tayangnya (jam 7 malam) masih memungkinkan anak-anak untuk menontonnya.
Bunga, si tokoh utama, adalah perempuan cantik, tidak berpendidikan, mudah panik bila mengalami masalah, dan sangat depresif. Setiap hari ia menangis dan tidak melakukan tindakan positif untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Semakin menyedihkan kondisinya, semakin ia disayang oleh keluarganya dan psikiater yang menanganinya. Jika seperti ini tampilan perempuan idaman dalam sinetron kita, mau jadi apa perempuan Indonesia..;)
This is Diane Looman’s poem. Check this out before raising our children.
Hopefully we’ll never regret our parenting style later.
If I had my child to raise all over again
I’d finger paint more, and point the finger less
I’d do less correcting, and more connecting
I’d take my eyes off my watch, and watch with my eyes
I would care to know less, and know to care more
I’d take more hikes and fly more kites
I’d stop playing serious, and seriously play
I would run through more fields, and gaze at more stars
I’d do more hugging, and less tugging
I would be firm less often, and affirm much more
I’d build self-esteem first, and the house later
I’d teach less about the love of power,
and more about the power of love.
Dalam sebuah sesi perkuliahan 12 tahun lalu, Bpk. Mikhael Dua, pengajar saya saat itu, mengutip dua buah syair untuk menjelaskan perbedaan budaya Timur dan Barat. Saya menyukai syair itu sejak pertamakali membacanya dalam buku yang disarankan Bpk. Mikhael Dua.
Syair pertama ditulis oleh Basho, seorang penyair dari Jepang :
Ketika saya mengamati dengan hati-hati
Saya melihat bunga nazuna sedang mekar
Dekat pagar
Puisi yang diciptakan Basho tersebut akan sangat berbeda maknanya dengan puisi yang dibuat Tennyson berikut ini :
Bunga di sela tembok tua
Aku cabut kau dari sana
Kugenggam kau di sini, sebagian dan semuanya
Dalam tanganku
Powered by WordPress.com