Skip to content

Dampak Psikis Kekerasan dalam Rumah Tangga

June 25, 2011

Dalam pasal 7 UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU P-KDRT), kekerasan psikis dijelaskan dari dampaknya, sebagai perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Menurut Ratna Batara Munti, Koordinator Jaringan Kerja Prolegnas Pro-Perempuan yang turut menyusun draf UU PKDRT, definisi ini dibuat untuk mengantisipasi ketika tidak memungkinkan bagi korban untuk memroses kekerasan fisik dan atau seksual karena sudah tidak adanya bukti. Karena dengan definisi ini, semua jenis kekerasan dapat diproses sebagai kekerasan psikis asalkan korban menampilkan dampak-dampak yang dimaksud.

Sayangnya terobosan hukum ini mengalami kendala dalam implementasinya. Aparat penegak hukum hampir tidak pernah bersentuhan dengan psikologi. Sementara itu, tidak ada penjelasan lebih lanjut dalam UU PKDRT.

Kristi Poerwandari, Ketua Program Studi Kajian Wanita UI, mengajak saya untuk melakukan penelitian guna menginterpretasikan lebih lanjut pasal 7 UU PKDRT. Salah satu hasilnya adalah penjabaran perilaku konkret yang umumnya ditampilkan korban sebagai perwujudan dampak psikis dari kekerasan yang ia alami. Ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat dapat tampil dalam perilaku-perilaku berikut ini:

1) Kehilangan minat untuk merawat diri, yang tampil dalam perilaku menolak atau enggan makan/minum, makan tidak teratur, malas mandi atau berdandan, tampil berantakan seperti rambut kusut, pakaian awut-awutan; 2) Kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain, yang tampil dalam perilaku mengurung diri di kamar, tidak mau berhubungan dengan orang lain, cenderung diam, dan enggan bercakap-cakap; 3) Perilaku depresif, tampil dalam bentuk pandangan mata kosong seperti menatap jauh ke depan, murung, banyak melamun, mudah menangis, sulit tidur atau sebaliknya terlalu banyak tidur, dan berpikir tentang kematian; 4) Terganggunya aktivitas atau pekerjaan sehari-hari, seperti sering menjatuhkan barang tanpa sengaja, kurang teliti dalam bekerja yang ditunjukkan dengan banyaknya kesalahan yang tidak perlu, sering datang terlambat atau tidak masuk bekerja, tugas-tugas terlambat tidak sesuai tenggat waktu, tidak menyediakan makanan untuk anak padahal sebelumnya hal-hal ini dilakukannya secara rutin; 5) Ketidakmampuan melihat kelebihan diri, tidak yakin dengan kemampuan diri, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain yang dianggapnya lebih baik. Contohnya menganggap diri tidak memiliki kelebihan meski fakta yang ada menunjukkan hal sebaliknya, atau sering bertanya apakah yang ia lakukan sudah benar atau belum; 6) Kehilangan keberanian untuk melakukan tindakan yang ditunjukkan dengan tidak berani mengungkapkan pendapat atau tidak berani mengingatkan pelaku jika bertindak salah; 7) Stres pascatrauma, yang tampil dalam bentuk mudah terkejut, selalu waspada; sangat takut bila melihat pelaku, orang yang mirip pelaku, benda-benda atau situasi yang mengingatkan akan kekerasan, gangguan kilas balik (flash back) seperti tiba-tiba disergap bayangan kejadian yang telah dialami, mimpi-mimpi buruk dan atau gangguan tidur; 8) Kebingungan-kebingungan dan hilangnya orientasi, yang tampil dalam bentuk merasa sangat bingung, tidak tahu hendak melakukan apa atau harus bagaimana melakukannya, seperti orang linglung, bengong, mudah lupa akan banyak hal, terlihat tidak peduli pada keadaan sekitar, tidak konsentrasi bila diajak berbicara; 9) Menyakiti diri sendiri atau melakukan percobaan bunuh diri; 10) Perilaku berlebihan dan tidak lazim seperti tertawa sendiri, bercakap-cakap sendiri, terus berbicara dan sulit dihentikan, pembicaraan kacau; melantur, berteriak-teriak, terlihat kacau tak mampu mengendalikan diri, berulang-ulang menyebut nama tertentu, misalnya nama pelaku tanpa sadar; 11) Perilaku agresif, seperti menjadi kasar atau mudah marah terhadap anak/pekerja rumah tangga/staf atau rekan kerja, membalas kekasaran pelaku seperti mengucapkan kata-kata kasar, banyak mengeluhkan kekecewaan terhadap pelaku; 12) Sakit tanpa ada penyebab medis (psikosomatis), seperti infeksi lambung, gangguan pencernaan, sakit kepala, namun dokter tidak menemukan penyebab medis, mudah merasa lelah, seperti tidak bertenaga, dan pegal/sakit/ngilu, tubuh sering gemetar; 13) Khusus pada anak, dampak psikis muncul dalam bentuk: (a) mundur kembali ke fase perkembangan sebelumnya seperti kembali mengompol, tidak berani lagi tidur sendiri, kembali ingin terus berdekatan dengan orang lain yang dirasa memberi rasa aman, harus selalu ditemani, (b) gangguan perkembangan bahasa seperti keterlambatan perkembangan bahasa, gangguan bicara seperti gagap, dan (c) depresi yang tampil dalam bentuk perilaku menolak ke sekolah; prestasi menurun; tidak dapat mengerjakan tugas sekolah atau pekerjaan rumah dengan baik yang ditandai dengan banyaknya kesalahan, kurangnya perhatian pada tugas atau pada penjelasan yang diberikan orang tua/guru, dan berbagai keluhan fisik.

Jabaran dampak kekerasan psikis di atas perlu dipahami dalam arti ada perubahan perilaku dari yang tadinya tidak pernah atau hanya sedikit ditampilkan menjadi mulai ditampilkan atau sering tampil pada diri korban. Selain itu, salah satu kesulitan aparat penegak hukum adalah korban mungkin saja datang dengan tidak menampilkan satu pun dari dampak-dampak di atas. Dalam hal ini, penegak hukum diharapkan dapat menggali dampak psikis dengan sabar dan empatis.

 

-Kompas, 18 juni 2011-

About these ads
19 Comments leave one →
  1. June 26, 2011 9:18 am

    Hanya saja menggali dampak-dampak psikis bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi jika ada unsur-unsur lain yang terlibat, seperti ancaman yang membuat korban hanya berdiam diri saja. Sehingga menghubungkan antara dampak psikis dan kejadian KDRT akan cukup rumit.

    • Ester Lianawati permalink*
      July 3, 2011 8:01 pm

      Benar, mas. Memang ini yg jd mslh besar dlm pelaksanaan pasal 7 UU Pkdrt. Mbak Kristi Poerwandari sudah mencoba utk membuat panduan wawancara utk menggali dampak-dampak psikis ini dan sdh kami tuliskan dalam buku saku. Dibantu oleh Ibu Erna Syukrie dan Ibu Irawati Harsono yg memang pny akses ke kepolisian dan pengadilan, smg saja pedoman ini bs membantu sklpun msh bnyk yg hrs dipikirkan dan dikerjakan utk membantu penanganan kasus-kasus ini.

  2. Ramelan permalink
    December 28, 2011 12:21 pm

    KDRT merupakan kasus yang sering terjadi, bisa dibilang hidden case karena jarang terungkap ke permukaan.
    Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terhadap istri dan anak, tetapi juga terhadap suami (banyak kasus dan video yang diunggah ke youtube baru-baru ini).
    Jika terjadi hal ini dalam keluarga anda, atau lingkungan, jangan ragu untuk melaporkannya ke pihak terkait. Semakin banyak orang yang melaporkan hal ini akan membantu banyak orang untuk menghapus keraguan dalam membela dirinya sendiri, dan yakin mereka tidak sendiri.

    • Ester Lianawati permalink*
      December 31, 2011 3:16 am

      Terima kasih ya utk masukannya. Kdrt adalah kekerasan berbasis gender tetapi memang kita tdk dpt menutup mata adanya kasus-kasus kekerasan thd suami sekalipun dinamikanya sangat berbeda dgn kkrsan thd istri/pasangan perempuan.

  3. Haikal permalink
    January 6, 2012 1:14 pm

    makasih mba ester, saya lagi buat laporan psikodiagnostik dan butuh data yg byk dan lumayan konkret utk dampak dr kdrt .. makasih ya mba..
    salam kenal saya haikal.

    • Ester Lianawati permalink*
      January 6, 2012 11:09 pm

      sama2 Haikal, sy senang tulisan ini bermanfaat, tetap semangat nulis laporannya ya :)

  4. February 6, 2012 5:59 am

    Selamat pagi Mba Ester,
    Saya setuju dan tertarik sekali dengan tulisan Mba Ester.
    Terus terang saya baru sadar setelah membaca tulisan Mba Ester, bahwa saya sudah mengalami kdrt dalam bentuk psikis.
    Alhamdulillah berkat dukungan keluarga, saya saat ini sudah keluar dari rumah saya dan suami. Dan perlahan, saya sudah mulai mendapatkan ketenangan batiniah.
    Walaupun belum 100% bisa pulih.
    Selama saya tinggal bersama suami saya, saya merasakan ketakutan yg amat sangat dan saya tidak mempedulikan diri saya sendiri. Yang saya pedulikan hanyalah kepentingan suami saya.
    Terima kasih Mba Ester untuk membuka mata saya.

    • Ester Lianawati permalink*
      February 23, 2012 12:25 am

      Dear Mbak Lia,
      Saya ikut bersyukur mbak sdh keluar dr hub penuh kkrsan,
      dan sudah mendapatkan kembali ketenangan batin.
      pasti jg tdk mudah utk menjalani masa2 ini, tp sy yakin mbak bs segera melaluinya.
      Trm ksh sudah mau berbagi di blog ini, dr penuturan mbak, skl lg saya diajarkan arti kekuatan dan keberanian.
      Kl ada hal lain yg mgkn ingin mbak sampaikan,jgn sungkan utk lgsg menghub saya via email di esterlianawati@yahoo.com
      Sy doakan mbak tetap kuat dan smgt menjalani hidup yg baru ini.

  5. February 25, 2012 3:41 am

    saya belum menikah, dan tidak ada kekerasan antara orang tua saya, tapi saya mengalami hal-hal yg disebut dalam tulisan mbak, menjadi kurang teliti, sering melakukan kesalahan,suka bengong2 sendiri,memikirkan kematian dll. Kira2 apa penyebabnya ya mbak?

    • Ester Lianawati permalink*
      February 25, 2012 10:39 pm

      Dear El, mmg kekerasan dpt menimbulkan hal2 spt yg sy sebutkan, ttp hal2 ini tdk hny merupakan dampak kkrsan.
      Ciri2 ini bs tampil pd org yg memiliki mslh lain, dan sgt luas cakupannya. Mgkn El bs jlskan lbh detil pd saat apa El menjadi kurang teliti dibandingkan biasanya, kesalahan apa yg sering dilakukan dan dlm kondisi apa? Kl sdg memikirkan kematian biasanya krn terpikir hal apa sblmnya, dan apa saja yg sdh El lakukan utk menghilangkan pikiran ini? Kl El ingin bercerita scr pribadi, bs email saya di esterlianawati@yahoo.com.

  6. March 1, 2012 9:30 am

    terimakasih informasinya sangat membantu dalam proses pembelajaran saya :)

  7. nadin permalink
    May 10, 2012 4:26 am

    maksih ya mbak

  8. gatot kristianto permalink
    October 31, 2012 2:28 pm

    saya pikir perlu sekali melakukan campaign untuk membangun kesadaran masy akan dampak negatif dari kdrt,saya sendiri korban dari kdrt namun saya berani memberontak bahkan melakukan perlawanan. bagi korban kdrt jangan takut terhadap nilai2 masy yang biasanya di pake untuk berlindung oleh pelaku kdrt.

  9. susan permalink
    March 14, 2013 10:14 am

    Terima kasih informasinya. Saya juga merasa perlu dilakukan campaign tentang KDRT terutama kekerasan secara psikis. Kemungkinan banyak pelaku yang tidak menyadari sedang melakukan kekerasan secara psikis. Begitu juga dengan korban yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan secara psikis tersebut. Saya sendiri adalah korban KDRT secara psikis dan saya mengalami sebagian besar perilaku yang disebutkan di atas. Saya baru saja menyadari kondisi ini, dan saat ini saya sedang berusaha keluar dari kondisi ini.

    • Ester Lianawati permalink*
      April 25, 2013 6:18 pm

      Trm ksh Mbak Susan, sudah mau berbagi di blog ini, dan trm ksh utk usulan dr Mbak, saya setuju sekali perlu adanya sosialisasi KDRT khususnya kekerasan psikis.
      Saya akan sampaikan kepada teman2 lain jg yg peduli dgn persoalan ini. Sy jg doakan yg terbaik utk Mbak Susan, agar tetap diberi kekuatan, semangat, dan keberanian, utk dpt segera keluar dr kondisi tsb.

  10. Morrena permalink
    July 23, 2013 10:39 am

    hello mbak Ester, tulisannya sangat bermanfaat kebetulan saya juga sedang konsen dengan beberapa kasus kekerasan….dan penanganannya! Tq

    • Ester Lianawati permalink*
      August 28, 2013 10:55 pm

      Sama2, mbak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers

%d bloggers like this: