Skip to content

Temper Tantrum

October 23, 2009

Apa itu Temper Tantrum?

Temper tantrum adalah episode dari kemarahan dan frustrasi yang ekstrim, yang tampak seperti kehilangan kendali seperti dicirikan oleh perilaku menangis, berteriak, dan gerakan tubuh yang kasar/agresif seperti membuang barang, berguling di lantai, membenturkan kepala, dan menghentakkan kaki ke lantai. Pada anak yang lebih kecil (lebih muda) biasanya sampai muntah, pipis, atau bahkan nafas sesak karena terlalu banyak menangis dan berteriak. Dalam kasus tertentu, ada pula anak yang sampai menendang atau memukul orangtua atau orang dewasa lainnya (baby sitter misalnya).

Temper tantrum biasanya terjadi pada usia 2-4 tahun ketika anak mulai menampilkan sikap negativistik dan kemandirian. Seiring waktu (usia 5 – 12 tahun), ketika anak sudah mulai dapat mengungkapkan keinginan dan pemikirannya dengan baik secara verbal, temper tantrum cenderung berkurang, dan hanya terjadi kadangkala saja.

 Faktor Penyebab

 Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab temper tantrum:

  1. Frustrasi yaitu terhambatnya pemenuhan kebutuhan/keinginan, tidak mendapatkan apa yang didapatkan. Dalam kondisi seperti ini, biasanya anak mengkomunikasikan perasaannya ketimbang pikirannya.
  2. Ketidakmampuan anak untuk menyadari/mempersepsikan bahwa dirinya sedang jengkel, frustrasi, ataupun cemas. Akibatnya anak tidak dapat mengkomunikasikan perasaannya pada orang lain (dalam hal ini mungkin orang tua atau pengasuhnya) selain melalui perilaku temper tantrum.
  3. Ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan pendapatnya, keinginannya, dan lain-lain, secara verbal. Bisa jadi karena keterbatasan kemampuan berbahasa (belum lancar berbicara) atau kurangnya pemahaman akan bentuk-bentuk emosi yang ia rasakan sehingga kurang dapat mengungkapkannya secara verbal.
  4. Meniru/imitasi perilaku orangtua yang agresif atau teman-teman lainnya yang mendapatkan keinginan dengan cara menampilkan temper tantrum.

 

 

 

Jika Temper Tantrum Tidak Segera Diatasi

Dampak buruknya tantrum akan menjadi satu-satunya cara bagi anak untuk mengekspresikan kemarahan atau rasa frustrasinya. Anak juga akan belajar bahwa dia dapat mengontrol lingkungan, termasuk mengontrol orangtua atau orang dewasa lain di sekitarnya. Lebih buruk lagi tantrum akan semakin sering dilakukan sampai melampaui batas proporsional yang melebihi tuntutan situasi. Maksudnya anak menjadi semakin cepat menampilkan tantrum-nya setiap kali ada hal yang tidak disukainya, padahal bagi anak lain situasi itu belum cukup menjengkelkan untuk sampai menimbulkan tantrum.

 

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Anak Tantrum?

Jangan berikan penguatan (reinforcement ) kepada anak, jangan turuti apa yang ia mau. Berikan alasan yang logis dan jujur kepada anak mengenai penyebab keinginannya tidak dituruti. Misalnya tidak dibelikan mainan karena belum lama ini baru saja membeli mainan sejenis. Jika anak masih menampilkan tantrumnya, diamkan saja. Dalam hal ini, orang tua harus berani menanggung malu jika memang anak menampilkan tantrumnya di tempat umum.

Bawa anak ke suatu tempat, misalnya kamar mandi untuk berteriak, melemparkan benda agar masuk ke suatu tempat (ring basket misalnya), menggambar wajah kejam/marah, berolahraga, main sepeda, dan sebagainya yang dapat menghabiskan energi ataupun mengekpresikan kemarahannya dengan cara lain selain tantrum.

 

Bagaimana Sebaiknya Bersikap Ketika Tantrum Telah Berlalu?

 

  1. Katakan kepada anak bahwa Anda menyayanginya tetapi tidak menyukai perilaku tantrumnya.
  2. Latih anak untuk belajar mengendalikan tantrumnya dengan mengajarkan cara-cara mengekspresikan perasaannya. Atau setiap kali orang tua melihat anaknya mulai menampilkan gejala tantrum, tanyakan kepadanya apakah ada sesuatu yang mengganggunya, dan katakan bahwa Anda siap membantunya. Jika anak sulit mengekspresikan perasaannya, tanyakan secara langsung hal-hal yang Anda duga sedang dirasakan anak. Jika Anda tidak memiliki ide mengenai apa yang sedang dirasakan anak Anda, tanyakan beberapa pertanyaan umum, seperti apa yang terjadi di sekolah, apakah dia marah karena tugas yang anda berikan kepadanya, dll.

 

 

 

Mencegah Temper Tantrum

Mencegah selalu dianggap lebih baik dibandingkan mengatasi perilaku negatif yang telah terjadi. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah temper tantrum, yaitu:

  1. Atur pola reinforcement untuk anak. Misalnya ketika anak berlaku baik, pujilah atau berikan reward. Bila perlu atur kontrak/kesepakatan dengan anak mengenai hal ini. Misalnya jika anak berlaku baik (non tantrum) akan diberikan sesuatu atau dikumpulkan tanda bintang atau poin-poin untuk ditukarkan dengan sesuatu. Pujian untuk anak sebaiknya langsung spesifik kepada perilakunya yang menyenangkan. Misalnya, Ibu senang melihat kamu mau merapikan seragam sekolahmu. Atau Ibu senang kamu mau menunda untuk membeli mainan baru.  
  2. Ketika anak berlaku tidak menyenangkan, jangan puji tapi juga jangan menghukum secara fisik ataupun dengan makian verbal. Hukuman fisik ataupun makian verbal hanya akan membuat anak belajar bahwa agresivitas dapat dibenarkan. Toh orangtua saya melakukan hal yang sama, demikian anak akan berpikir. Dengan pola reinforcement seperti ini, anak akan mengerti bahwa perilaku baiknya akan mendatangkan perhatian/pujian, tetapi tidak demikian dengan perilaku buruk.
  3. Jadilah contoh yang baik bagi anak. Bukan hanya tidak menampilkan perilaku kasar terhadap anak, tetapi juga hindari berperilaku kasar terhadap pasangan. Dengan demikian anak dapat melihat dan meniru contoh yang baik dari orangtuanya.
  4. Penuhi kebutuhan fisiologis anak seperti lapar, haus, dan tidur. Anak cenderung menampilkan tantrum saat lapar, haus, dan mengantuk karena kurang tidur.
  5. Penuhi kebutuhan bermain anak. Dengan bermain, anak mengeluarkan energinya secara teratur. Dengan begitu, tidak akanada energi berlebih yang perlu ia salurkan melalui perilaku tantrum.
  6. Jangan terlalu banyak menuntut atau membatasi anak. Temper tantrum bisa jadi merupakan tanda anak minta Anda berhenti untuk mengekang atau mengontrolnya.
  7. Beranikan anak untuk mengekspresikan keinginannya dalam cara-cara yang dapat diterima secara sosial. (Poin dua dari bagian sebelumnya dapat dilakukan pula di sini: Latih anak untuk belajar mengendalikan tantrumnya dengan mengajarkan cara-cara mengekspresikan perasaannya. Atau setiap kali orangtua melihat anaknya mulai menampilkan gejala tantrum, tanyakan kepadanya apakah ada sesuatu yang mengganggunya, dan katakan bahwa Anda siap membantunya. Jika anak sulit mengekspresikan perasaannya, tanyakan secara langsung hal-hal yang Anda duga sedang dirasakan anak. Jika Anda tidak memiliki ide mengenai apa yang sedang dirasakan anak Anda, tanyakan beberapa pertanyaan umum, seperti apa yang terjadi di sekolah, apakah dia marah karena tugas yang anda berikan kepadanya, dll).
  8. Ajari anak melakukan teknik relaksasi sederhana seperti mengambil nafas dalam lalu melepaskannya secara perlahan. Apabila tantrum terjadi, hal ini dapat pula dilakukan.

Apa itu Temper Tantrum?

 

Temper tantrum adalah episode dari kemarahan dan frustrasi yang ekstrim, yang tampak seperti kehilangan kendali seperti dicirikan oleh perilaku menangis, berteriak, dan gerakan tubuh yang kasar/agresif seperti membuang barang, berguling di lantai, membenturkan kepala, dan menghentakkan kaki ke lantai. Pada anak yang lebih kecil (lebih muda) biasanya sampai muntah, pipis, atau bahkan nafas sesak karena terlalu banyak menangis dan berteriak. Dalam kasus tertentu, ada pula anak yang sampai menendang atau memukul orangtua atau orang dewasa lainnya (baby sitter misalnya).

Temper tantrum biasanya terjadi pada usia 2-4 tahun ketika anak mulai menampilkan sikap negativistik dan kemandirian. Seiring waktu (usia 5 – 12 tahun), ketika anak sudah mulai dapat mengungkapkan keinginan dan pemikirannya dengan baik secara verbal, temper tantrum cenderung berkurang, dan hanya terjadi kadangkala saja.

 

Faktor Penyebab

 

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab temper tantrum:

  1. Frustrasi yaitu terhambatnya pemenuhan kebutuhan/keinginan, tidak mendapatkan apa yang didapatkan. Dalam kondisi seperti ini, biasanya anak mengkomunikasikan perasaannya ketimbang pikirannya.
  2. Ketidakmampuan anak untuk menyadari/mempersepsikan bahwa dirinya sedang jengkel, frustrasi, ataupun cemas. Akibatnya anak tidak dapat mengkomunikasikan perasaannya pada orang lain (dalam hal ini mungkin orang tua atau pengasuhnya) selain melalui perilaku temper tantrum.
  3. Ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan pendapatnya, keinginannya, dan lain-lain, secara verbal. Bisa jadi karena keterbatasan kemampuan berbahasa (belum lancar berbicara) atau kurangnya pemahaman akan bentuk-bentuk emosi yang ia rasakan sehingga kurang dapat mengungkapkannya secara verbal.
  4. Meniru/imitasi perilaku orangtua yang agresif atau teman-teman lainnya yang mendapatkan keinginan dengan cara menampilkan temper tantrum.

 

 

 

Jika Temper Tantrum Tidak Segera Diatasi

Dampak buruknya tantrum akan menjadi satu-satunya cara bagi anak untuk mengekspresikan kemarahan atau rasa frustrasinya. Anak juga akan belajar bahwa dia dapat mengontrol lingkungan, termasuk mengontrol orangtua atau orang dewasa lain di sekitarnya. Lebih buruk lagi tantrum akan semakin sering dilakukan sampai melampaui batas proporsional yang melebihi tuntutan situasi. Maksudnya anak menjadi semakin cepat menampilkan tantrum-nya setiap kali ada hal yang tidak disukainya, padahal bagi anak lain situasi itu belum cukup menjengkelkan untuk sampai menimbulkan tantrum.

 

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Anak Tantrum?

Jangan berikan penguatan (reinforcement ) kepada anak, jangan turuti apa yang ia mau. Berikan alasan yang logis dan jujur kepada anak mengenai penyebab keinginannya tidak dituruti. Misalnya tidak dibelikan mainan karena belum lama ini baru saja membeli mainan sejenis. Jika anak masih menampilkan tantrumnya, diamkan saja. Dalam hal ini, orang tua harus berani menanggung malu jika memang anak menampilkan tantrumnya di tempat umum.

Bawa anak ke suatu tempat, misalnya kamar mandi untuk berteriak, melemparkan benda agar masuk ke suatu tempat (ring basket misalnya), menggambar wajah kejam/marah, berolahraga, main sepeda, dan sebagainya yang dapat menghabiskan energi ataupun mengekpresikan kemarahannya dengan cara lain selain tantrum.

 

Bagaimana Sebaiknya Bersikap Ketika Tantrum Telah Berlalu?

 

  1. Katakan kepada anak bahwa Anda menyayanginya tetapi tidak menyukai perilaku tantrumnya.
  2. Latih anak untuk belajar mengendalikan tantrumnya dengan mengajarkan cara-cara mengekspresikan perasaannya. Atau setiap kali orang tua melihat anaknya mulai menampilkan gejala tantrum, tanyakan kepadanya apakah ada sesuatu yang mengganggunya, dan katakan bahwa Anda siap membantunya. Jika anak sulit mengekspresikan perasaannya, tanyakan secara langsung hal-hal yang Anda duga sedang dirasakan anak. Jika Anda tidak memiliki ide mengenai apa yang sedang dirasakan anak Anda, tanyakan beberapa pertanyaan umum, seperti apa yang terjadi di sekolah, apakah dia marah karena tugas yang anda berikan kepadanya, dll.

 

 

 

Mencegah Temper Tantrum

Mencegah selalu dianggap lebih baik dibandingkan mengatasi perilaku negatif yang telah terjadi. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah temper tantrum, yaitu:

  1. Atur pola reinforcement untuk anak. Misalnya ketika anak berlaku baik, pujilah atau berikan reward. Bila perlu atur kontrak/kesepakatan dengan anak mengenai hal ini. Misalnya jika anak berlaku baik (non tantrum) akan diberikan sesuatu atau dikumpulkan tanda bintang atau poin-poin untuk ditukarkan dengan sesuatu. Pujian untuk anak sebaiknya langsung spesifik kepada perilakunya yang menyenangkan. Misalnya, Ibu senang melihat kamu mau merapikan seragam sekolahmu. Atau Ibu senang kamu mau menunda untuk membeli mainan baru.  
  2. Ketika anak berlaku tidak menyenangkan, jangan puji tapi juga jangan menghukum secara fisik ataupun dengan makian verbal. Hukuman fisik ataupun makian verbal hanya akan membuat anak belajar bahwa agresivitas dapat dibenarkan. Toh orangtua saya melakukan hal yang sama, demikian anak akan berpikir. Dengan pola reinforcement seperti ini, anak akan mengerti bahwa perilaku baiknya akan mendatangkan perhatian/pujian, tetapi tidak demikian dengan perilaku buruk.
  3. Jadilah contoh yang baik bagi anak. Bukan hanya tidak menampilkan perilaku kasar terhadap anak, tetapi juga hindari berperilaku kasar terhadap pasangan. Dengan demikian anak dapat melihat dan meniru contoh yang baik dari orangtuanya.
  4. Penuhi kebutuhan fisiologis anak seperti lapar, haus, dan tidur. Anak cenderung menampilkan tantrum saat lapar, haus, dan mengantuk karena kurang tidur.
  5. Penuhi kebutuhan bermain anak. Dengan bermain, anak mengeluarkan energinya secara teratur. Dengan begitu, tidak akanada energi berlebih yang perlu ia salurkan melalui perilaku tantrum.
  6. Jangan terlalu banyak menuntut atau membatasi anak. Temper tantrum bisa jadi merupakan tanda anak minta Anda berhenti untuk mengekang atau mengontrolnya.
  7. Beranikan anak untuk mengekspresikan keinginannya dalam cara-cara yang dapat diterima secara sosial. (Poin dua dari bagian sebelumnya dapat dilakukan pula di sini: Latih anak untuk belajar mengendalikan tantrumnya dengan mengajarkan cara-cara mengekspresikan perasaannya. Atau setiap kali orangtua melihat anaknya mulai menampilkan gejala tantrum, tanyakan kepadanya apakah ada sesuatu yang mengganggunya, dan katakan bahwa Anda siap membantunya. Jika anak sulit mengekspresikan perasaannya, tanyakan secara langsung hal-hal yang Anda duga sedang dirasakan anak. Jika Anda tidak memiliki ide mengenai apa yang sedang dirasakan anak Anda, tanyakan beberapa pertanyaan umum, seperti apa yang terjadi di sekolah, apakah dia marah karena tugas yang anda berikan kepadanya, dll).
  8. Ajari anak melakukan teknik relaksasi sederhana seperti mengambil nafas dalam lalu melepaskannya secara perlahan. Apabila tantrum terjadi, hal ini dapat pula dilakukan.
9 Comments leave one →
  1. November 4, 2009 9:26 am

    Salam Takzim
    Mengujungi sahabat di sore hari dengan tetap tiada bosan berdo’a semoga engkau tetap berada dalam keranda kebahagiaan bersama keluarga tercinta
    Salam Takzim Batavusqu

  2. November 4, 2009 9:26 am

    Maap baru mampir lagi, kesibukan ternyata juga menjadi dinding persahabatan ya

    • esterlianawati permalink*
      November 4, 2009 12:51 pm

      Gpp kok, pak. Sklpun sibuk, yg penting tetap teringat. Hehe.
      Mksh ya dah mampir lg..

  3. niken permalink
    January 21, 2010 4:52 am

    Berkunjung & Salam kenal mbak…

    Terima kasih share tentang tantrum nya

    Salam
    Niken

    • esterlianawati permalink*
      January 24, 2010 4:08 pm

      Slm kenal jg, Mbak Niken.
      Mksh dah berkunjung ke blog ini ya :)

  4. sita permalink
    April 22, 2010 12:06 am

    Salam kenal mbak Ester, artikel2nya bagus,cara menulisnya menarik dan mudah dicerna serta bermanfaat. Thanks a lot

    • Ester Lianawati permalink*
      May 1, 2010 3:03 pm

      Salam knl jg mbak Sita.
      Bnyk trm ksh udah mampir dan memuji :)
      Ditunggu sumbang sarannya ya.
      Salam.

  5. July 9, 2010 8:00 am

    ane bantu share ke facebook yaq

    • Ester Lianawati permalink*
      July 18, 2010 11:56 pm

      Ok, terima kasih ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers

%d bloggers like this: