Apa itu Temper Tantrum?
Temper tantrum adalah episode dari kemarahan dan frustrasi yang ekstrim, yang tampak seperti kehilangan kendali seperti dicirikan oleh perilaku menangis, berteriak, dan gerakan tubuh yang kasar/agresif seperti membuang barang, berguling di lantai, membenturkan kepala, dan menghentakkan kaki ke lantai. Pada anak yang lebih kecil (lebih muda) biasanya sampai muntah, pipis, atau bahkan nafas sesak karena terlalu banyak menangis dan berteriak. Dalam kasus tertentu, ada pula anak yang sampai menendang atau memukul orangtua atau orang dewasa lainnya (baby sitter misalnya).
Temper tantrum biasanya terjadi pada usia 2-4 tahun ketika anak mulai menampilkan sikap negativistik dan kemandirian. Seiring waktu (usia 5 – 12 tahun), ketika anak sudah mulai dapat mengungkapkan keinginan dan pemikirannya dengan baik secara verbal, temper tantrum cenderung berkurang, dan hanya terjadi kadangkala saja.
(more…)
Masih segar dalam ingatan kita teror bom yang belum lama ini terjadi. Sembilan korban tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka. Beberapa di antara mereka menderita cacat permanen. Saya bertanya-tanya jika saya adalah salah satu dari mereka, dapatkah saya memaafkan pelakunya?
Saya kira semua orang pernah mengalami peristiwa menyakitkan. Tentu tidak harus dalam bentuk tragedi dengan cakupan luas seperti di atas. Dalam level personal, kita tidak dapat menghindari hal-hal menyakitkan, yang bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat. Mungkin Anda heran jika tahu bahwa tiap harinya ada korban kekerasan dalam rumah tangga yang melapor ke LBH ataupun pusat krisis. Terapis keluarga juga tidak pernah sepi dari klien dengan kasus perselingkuhan.
Atau cobalah ingat-ingat apakah Anda pernah mengalami satu saja dari hal-hal berikut? Digosipkan sahabat, difitnah rekan kerja hingga gagal dipromosikan, dikhianati pacar yang memilih untuk menikah dengan orang lain, didiamkan atau sebaliknya sering dimaki-maki mertua, ditipu saudara sendiri, dibohongi pria beristri, dsb? Apakah Anda masih mengingat peristiwa itu dengan jengkel, benci, atau marah? Jika iya, itu tandanya Anda belum memaafkan orang yang telah melakukan tindakan itu terhadap Anda.
Lantas kenapa jika belum memaafkan? Mengapa kita perlu memaafkan? Kita yang disakiti, mengapa kita masih harus berjuang untuk memaafkan? Pertanyaan-pertanyaan ini sempat menggelitik saya. Mengobati luka hati saja sudah sulit, kini ditambah satu tugas lagi, yakni memaafkan. Namun akhirnya saya paham pandangan ini keliru. Memaafkan dan menyembuhkan luka bukanlah bagian yang berdiri sendiri. Memaafkan adalah bagian dari proses penyembuhan itu sendiri.
(more…)
Les mythes et les legends parlent de sa beauté et sa grâce
L’élégance que personne ne peut enlever
Elle symbolise la pureté et l’humilité
L’espoir et la persévérance
Apportant la joie et le bonheur
Dérive de tristesse et de chagrin loin
(more…)
Seminggu lalu, seorang mahasiswa tidak lulus dalam sidang skripsi. Masih di dalam ruang sidang, ia menyalahkan adiknya yang menurutnya telah mengajarkan metode statistik yang salah. Keluar dari ruang sidang, ia mengeluhkan dosen pembimbingnya. Tidak tahan dengan sikapnya yang menyalahkan orang lain, saya bertanya kepadanya, “Bukankah nama-nama mereka sudah kamu masukkan dalam ucapan terima kasih? Seandainya kamu lulus, apakah kamu akan menyalahkan mereka?” Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Kami berdua sama-sama tahu ia sedang melakukan sebuah bias, yang dalam psikologi dikenal self-serving bias atau self-serving attribution bias.
(more…)