A Feminist Psychologist’s Blog

August 28, 2009

No Justice Without Care: Feminist Psychology on the Legal Process of Domestic Violence Cases

Filed under: La Psychologie Légale — by esterlianawati @ 12:58 pm
Tags: , , ,

Involving 6 victims, 2 lawyers, 7 legal counselors, and a number of police officers and court officials, this research tried to reveal the psychological aspects that coloring the legal process strongly. The results show how difficult the process has been through by victims to get justice. The Law of the Elimination of Violence in the Family/Household is impeded on its implementation despite of the revision needed on several chapters. The legal counselors are restricted by institutional and personal limitations. The judicial personnel carry out the principle of objective law rigidly. However, they are influenced by personal biases unconsciously. The law becomes less objective, neutral, and rational than they expect. Actually, subjectivity and impartiality are needed to reach objectivity. However, they ought to be accompanied by psychological sensitivity with care within. Without care, justice is only a wish that is difficult to reach by the female victims. To bring it into reality, I propose the legal process that has perspective of feminist legal psychology emphasizes the ethics of care.

 

(more…)

August 15, 2009

Pemimpin yang Merdeka

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 5:13 pm

Dengan ini aku bersaksi
bahwa rakyat Indonesia belum merdeka

Bagaimana rakyat bisa disebut merdeka
bila birokrasi negara
tidak mengabdi kepada rakyat
melainkan mengabdi
kepada pemerintah yang berkuasa?

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa hati nurani itu meski dibakar
tidak bisa menjadi aku
hati nurani senantiasa bersemi
meski sudah ditebang putus dibatang

….

(Kesaksian Akhir Abad, WS. Rendra)

Tujuh belas Agustus 1945. Mengenang hari kemerdekaan selalu menghadirkan imaji perjuangan para pahlawan di benak saya. Pekik semangat mereka menyuarakan impian untuk bebas dari penjajahan. Perjuangan yang penuh kegigihan untuk mencapai satu harapan bersama: kemerdekaan. Saya membayangkan kebanggaan bercampur haru luar biasa saat harapan itu menjadi kenyataan.

Entah apakah perasaan itu masih dirasakan rakyat Indonesia saat ini. Yang saya tahu tiap tanggal 17 Agustus, kita bergembira mengikuti perlombaan-perlombaan yang terus terang saya tidak dapat melihat keterkaitannya dengan makna kemerdekaan. Kita jatuh dalam euphoria semangat lomba panjat pinang, balap karung, jepit sendok, dsb. Esoknya, kita kembali pada keseharian kita, dengan kondisi bangsa yang tidak jua menjadi lebih baik setelah 64 tahun kemerdekaan.  

Saya jadi bertanya-tanya kemana semangat perjuangan yang dulu kita punya? Apa kita tidak lagi memilikinya? Apa karena kita sudah mendapatkan kemerdekaan itu, lantas kita kehilangan arah karena tidak tahu lagi apa yang hendak dicapai? Atau seperti yang dikatakan WS.Rendra, penyair besar yang pernah dimiliki negeri ini, kita rakyat Indonesia sesungguhnya belumlah merdeka? Dalam puisi-puisinya, secara tegas Rendra mengkritik pemerintahan yang membuat kita belum dapat menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka.

(more…)

August 9, 2009

Are You Must-urbating?

Filed under: La Psychologie du Bien-être — by esterlianawati @ 5:55 am
Tags: , , ,

Dalam Festival Sinema Perancis ke-14 beberapa waktu lalu, ada sebuah film komedi yang menarik berjudul Villain. Film ini tidak hanya mengundang gelak tawa dari awal hingga akhir, namun sarat akan pesan. Sesuai dengan judulnya yang dapat diartikan sebagai buruk rupa, nakal, atau jahat, film ini mengisahkan tentang Melanie, gadis buruk rupa yang sering dimanfaatkan orang karena ‘kebaikannya’. Ia tidak pernah menolak permintaan orang lain ataupun melawan penghinaan dan penindasan atas dirinya. Sampai satu hari batas kesabarannya berakhir. Ia berubah menjadi agresif dan tidak segan-segan membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya.

Seorang teman, sebut saja namanya Donna, dalam satu bulan ini sudah bertengkar dengan dua rekan kerjanya. Wajahnya tampak selalu tegang, seolah banyak hal yang ia pikirkan. Usut punya usut, ia ingin tampil seoptimal mungkin dalam setiap pekerjaannya. Ia lembur hampir setiap hari namun tetap merasa tidak cukup produktif. Belakangan, ia mengeluh kepada rekan-rekannya bahwa beban pekerjaannya terlampau berat. Mereka menasihatinya agar tidak terlalu ngoyo. Merasa tidak dipahami,  emosi Donna meledak, dan kedua rekannya menjadi korban luapan amarahnya.

(more…)

Powered by WordPress.com