Ce que je dis aux ils, ce n’est pas vrai
Ils ne savent pas chez moi,
Chez toi
Caché loin dans mon cœur le plus profond
Le long du temps, cela ténèbres mes jours
Ils demandent à moi
Où tu es, qui est tu?
Je les dis de toi
Avec mon imagination
Ce me rend détérioré, défectueux, et infidèle
Pour recouvrir l’histoire triste entre tu et moi
(more…)
Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
(Sindentosca)
Masa kanak-kanak adalah masa emas perkembangan manusia. Masa ini adalah masa yang tepat untuk menstimulasi anak baik secara fisik, kognitif, maupun sosioemosional. Sayangnya, kebanyakan orang tua cenderung berfokus pada aspek fisik dan kognitif saja. Asupan bergizi diberikan agar anak tumbuh tinggi, bertulang kuat, dan berotak cerdas. Membaca, menulis, dan berhitung, sudah diajarkan bahkan sebelum anak masuk taman kanak-kanak. Tidak sedikit pula orang tua yang memasukkan anaknya dalam berbagai kursus, yang seringkali didorong oleh ambisi mereka, bukan atas keinginan anak.
Tentu tidak salah mengoptimalkan pertumbuhan fisik dan kognitif anak asal dilakukan dengan cara yang bijaksana. Sayangnya, terpaku pada kedua aspek itu membuat orang tua lupa pada aspek sosioemosional yang seyogianya juga dikembangkan anak. Orang tua lupa bahwa anak tidak hanya perlu menjadi besar dan pandai, namun juga memiliki budi pekerti, empati, dan kepedulian. Akibatnya, berbagai persoalan dikeluhkan orang tua. Anak yang memberontak, agresif, sombong, egois, tidak mau berbagi, dsb, acap kali mereka lontarkan.
Orang tua tidak sadar bahwa banyaknya waktu yang dipakai untuk pengembangan fisik dan kognitif dapat mengurangi jam bermain anak. Kehilangan jam bermain sama saja dengan kehilangan kesempatan untuk menjalin relasi dengan teman-teman sebaya. Padahal hubungan semacam ini sangat dibutuhkan anak. Pertemanan masa kanak-kanak adalah cikal bakal anak belajar persahabatan. Dan persahabatan adalah sarana terbaik untuk anak mengembangkan sisi sosioemosionalnya secara optimal.
(more…)
Hari ini pertama kalinya
Kau teteskan madu di dadaku,
Manisnya meresap, menelusup kalbu
Lembut menyentak, buatku lupa dunia
Kala bibirmu mengecap rasa yang tertumpah
Butir demi butir turun menyentuh
Bak rintik hujan yang kupuja
Basahi jiwaku yang kering
Sensasinya,
Tajam menusuk dalam kesejukan
(more…)
Lebih sulit mana proses yang dijalani capres untuk memilih cawapres atau proses yang harus dilewati seseorang untuk memilih calon pendamping hidupnya? Pertanyaan ini diajukan seorang rekan tidak lama setelah para capres mengumumkan cawapres beberapa waktu lalu. Hmm…hmm!
Saya sempat berpikir , mungkin lebih sulit memilih cawapres, mengingat keduanya kelak akan menjadi orang nomor satu dan nomor dua negeri ini jika terpilih nanti. Bila membina rumah tangga- notabene unit terkecil dari masyarakat- saja susahnya minta ampun, apalagi mengurus negara. Pasti repotnya engga ketulungan.
Namun di sisi lain, saya tercenung memikirkan konsekuensi yang menanti setelah kita memilih pendamping hidup. Bayangkan, kita harus memilih seseorang yang akan bersama kita- dalam satu rumah, bahkan satu ranjang- untuk rentang waktu tak terbatas. Apa kita tidak akan bosan? Kita harus mendampinginya bukan hanya dalam kondisi senang namun juga di kala susah.
Seketika saya membayangkan, kelak sosok pujaan itu berubah jadi pria rapuh yang sakit-sakitan. Apa saya mampu tetap setia menjaganya? Sementara itu, presiden tidak memiliki kewajiban untuk bersama wakilnya dalam kondisi apapun. Setidaknya jika salah satu sakit berkepanjangan, dapat segera digantikan.
(more…)
Di antara berjuta malaikat
Dengan sayap-sayap terkepak
Dalam keabadian cerita ribuan jiwa
Mereka yang terbaring dalam gelap makam
Kisah yang belum usai
Ambisi setengah tercapai
Dendam yang mereka punya
Derita yang pernah menyapa
Bahagia yang hinggap sementara
Dalam cinta yang tak sampai
Gairah tak henti menyala
(more…)