Tak mungkin kulupa dirimu
Kau yang membuat tiada menjadi ada
Kau yang membuat belum menjadi telah
Kau yang pertama
Buatku mengenal indahnya surga
Tak mungkin kulupa dirimu
Kau yang desahkan nafas termesra
Kau yang baringkan tubuh merekah
Kau yang bangkitkan segala rasa
Buatku melenguh dalam nikmatnya cinta
(more…)
It’s about the rhythm meeting
The rhythm of your question and mine
Crossed into our mind
Whether you’re gonna be my only one
And I’d be your only femme
Till we’re old and then die
It’s about the rhythm meeting
The rhythm of our fingers
Touching each others
Caressing more and more
Arousing a wonderful sensation
While the saxophone meets the percussion
(more…)
Ketika diajukan pertanyaan,”Apakah Anda ingin bahagia?, dengan tegas 100 % responden menjawab iya dalam survei yang dilakukan sebuah majalah gaya hidup beberapa waktu lalu. Namun ketika ditanya,”Apakah Anda bahagia?”, hanya 38 % responden yang menjawab dengan yakin bahwa dirinya bahagia.
Kebahagiaan dalam hidup memang menjadi dambaan setiap orang. Orang berusaha meraihnya meski dengan cara yang berbeda-beda. Sayangnya, tidak semua orang berhasil mencapainya. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat benar-benar bahagia.
(more…)
Beberapa hari ini saya menunggu apakah film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) akan ramai dibicarakan orang seperti Ayat-ayat Cinta (AAC). Sayangnya, tidak demikian. Tidak seperti AAC yang mampu bertahan hampir dua bulan di bioskop-bioskop, layar film PBS sudah diturunkan hanya dalam hitungan minggu. Film ini tidak berhasil menyedot jutaan penonton sebagaimana AAC. Justru hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat kita memang masih patriarkis dan belum siap dengan perubahan menuju kehidupan perempuan yang lebih baik.
Novel AAC tidak bermaksud menganjurkan ataupun mendukung poligami. Tokoh Fahri tidak pernah digambarkan mencintai Maria sebagai kekasih. Fahri hanya jatuh cinta kepada istrinya. Isu poligami bahkan tidak menjadi fokusnya. Namun dengan dramatisasi tertentu, filmnya memberi penekanan berlebih pada masalah poligami. Dengan pengolahan kisahnya sedemikian rupa, film ini terkesan mendukung poligami. Bahkan mencoba untuk melihat lebih objektif film AAC dari berbagai sisi, malah membuat tulisan saya tentang AAC dipersepsikan tidak membela perempuan
Lain halnya dengan PBS. Tidak ada yang menyangkal bahwa film ini memang sebuah film feminis. Film ini dengan tegas menampilkan penindasan terhadap perempuan sekaligus perjuangan perempuan untuk keluar dari penindasan itu. Sangat disayangkan, film yang jauh lebih sarat makna dibanding Ayat-ayat Cinta ini tidak mendapatkan perhatian sebesar AAC. Bahkan banyak yang mengkritik film ini dari hal-hal kecil, seperti mengapa buku-buku feminis yang ditampilkan kebanyakan bukan dari Indonesia (Meski buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer ditampilkan berulang-ulang).
(more…)
Enter your password to view comments