Kan kukatakan pada putrimu
Kau pria terbaik dalam hidupku
Kau kecup lembut jemariku
Meraihku dalam pelukmu
Penuh kasih kau usap punggungku
Saat air mata membasahi pipiku
Kan kusampaikan pada putrimu
Kau lelaki terindah yang pernah kukenal
Kau belai rambutku, di bawah pohon rindang
Menatapku tulus, di hamparan rumput nan hijau
Abadikan gerak tubuhku, dalam harum kenangan
Kan kudendangkan pada putrimu
Betapa ayahnya penuh kemesraan
Besame mucho kau senandungkan
Petik gitarmu iringi awan memukau
Kau hangatkan sosok rapuh kedinginan
Seraya berdansa dalam denting rinai hujan
(more…)
Aku ingin pejamkan mataku
Saat kau pejamkan matamu
Aku ingin baringkan tubuhku
Di sisi kau baringkan tubuhmu
Aku ingin menatap wajahmu
Sebelum kau lelap dalam pelukku
Aku ingin hadir dalam mimpimu
Seperti kau hiasi mimpiku
(more…)
Senja ini di makammu
Aku datang padamu, kekasihku
Berjuta sesal menghantamku
Beribu maaf kutabur dalam pedihku
Terngiang ucapmu kala itu
Di tengah sedu sedanmu
Ratapi lukamu
Sembilu kutusuk di jantungmu
Kau cabut dengan pilu
Kutusuk lagi hingga membiru
Susah payah kau singkirkan itu
Aku basuh dengan cintaku,
Cinta yang merobek hatimu
(more…)
When the night came to dawn
You taught me how to see the stars
Glowing brightly in the sky
Gleamed blissfully in your eye
When the night came to dawn
You taught me how to know the stars
Their shoulders and their knees
The brightest, the lightest
Getting closer to the earth
Twinkling splendidly in our heart
(more…)
All men who have achieved great things have been great dreamers.
(Orison Swett Marde)
Saya teringat suatu kali seorang teman dengan gigih mengajak saya untuk mengikuti jejaknya bergerak di bidang asuransi. Ia menceritakan kisah kesuksesannya yang mengharukan. Ia ditolak berpuluh-puluh kali oleh calon kliennya. Namun, setiap kali ia mulai putus asa, ia mengingat kedua orangtuanya yang pernah menjual rumah untuk biaya kuliahnya. Ibunya stres ketika rumah dijual sehingga membutuhkan penanganan profesional.
Sejak itu, teman saya bertekad untuk membelikan rumah buat orangtuanya. Ia juga ingin mengajak mereka keliling dunia. Impian itu yang menggerakkannya untuk berusaha semaksimal mungkin, dan ia berhasil. Hanya dalam tempo kurang lebih setahun, sebuah rumah ia persembahkan untuk orangtuanya sekaligus bisa mengajak mereka berwisata ke luar negeri.
Setelah itu, ia tidak kehilangan impian. Ia mengimpikan kelak ia dipanggil naik ke atas mimbar untuk menerima applause karena berhasil mencapai posisi tertinggi.
Dalam kelelahannya membujuk saya, ia mengajukan pertanyaan terakhir kepada saya, “Apa elo enggak mau kalau satu saat elo dipanggil ke podium dan diumumkan sebagai salah satu leader yang berhasil?”
Saat itu saya tertawa bukan karena menertawakan impiannya. Saya menghargai impiannya, hanya saja saya memang tidak pernah mengangankan apa yang didambakannya. Namun, hari itu saya belajar satu hal penting darinya: betapa penting untuk memiliki sebuah impian.
(more…)