Sebanyak 245 pasutri muslim di Jakarta berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasilnya ternyata bukan perbedaan sikap peran gender itu yang menimbulkan variasi kesejahteraan psikologis istri, melainkan justru kesamaan tipe sikap peran gendernya. Pasutri yang sama-sama memiliki sikap peran gender egaliter adalah kelompok pasutri yang paling sejahtera secara psikologis, sedangkan yang keduanya bersikap tradisional memiliki tingkat kesejahteraan psikologis terendah di antara kelompok lainnya. Selain itu, hanya 33% laki-laki yang bersikap egaliter, dibandingkan dengan perempuan sebanyak 48%. Namun demikian, baik kelompok suami maupun istri dalam penelitian ini memiliki kesejahteraan psikologis yang sama-sama tergolong tinggi.
(kalo ada yg butuh hasil penelitian lengkapnya, silakan kontak saya ya..;)




Halo malm
Penelitiannya pakai metode apa ya Ester?
Terkadang dalam kajian kesejahteraan subjektif sering terbiaskan dengan bagaimana persepsi kesejahteraan tersebut terkonstruksikan. hal itu terkadang kontradiktif dengan perspektif objektif.
Perlu masukan ini, thanx
Comment by sapto — November 26, 2008 @ 4:10 pm |
Hai Sapto (dah bs neh gak pake mas
),
Penelitiannya mixed kuantitatif-kualitatif. Tp mmg yg kualitatif nya cm mendukung hasil kuantitatifnya aja.
Konsep kesejahteraannya pake pny Carol D. Ryff. Jd lebih ke arah bgmn sso bs tetap berkarya dlm hidupnya sekalipun mgkn perkawinannya gak bahagia.
Plus perlu catatan bhw Ryff pny konsep reinterpretasi jg. Jd bs jadi aja responden sejahtera berdasarkan kuesioner pdhl perkawinannya engga bahagia. Cm krn ada reinterpretasi aja. Trs terang bagian ini yg jg jd slh satu masukan dlm penelitian ini.
Thx ya
Comment by esterlianawati — November 28, 2008 @ 4:04 am |
Saya butuh hasil penelitian anda untuk referensi, apakah bisa tolong dikirim ke alamat email saya?saat ini saya sedang mengerjakan skripsi dengan judul Representasi Citra Perempuan Islam Dalam Novel Ayat-Ayat Cinta, salah satu unit analisisnya adalah peran gender antar masing2 tokoh laki-laki dan perempuan. terima kasih banyak
Comment by mesayu — December 11, 2008 @ 2:31 am |
dah dikirim ya, mbak
Comment by esterlianawati — December 15, 2008 @ 10:13 am |
Adakah seseorang yang bisa memberi saran/pendapat tentang istri yg bertahan dalam kdrt karena tidak ada dukungan, semakin tua, dan tidak pede, tidak punya pekerjaan, sedang suami sangat licik dan berpenghasilan cukup tinggi
Comment by sandrawati — December 21, 2008 @ 7:02 am |
Dear Mbak Sandra,
Aku sudah kirim email ke Mbak biar kita bs share lwt email ya.
Comment by esterlianawati — December 23, 2008 @ 9:29 am |
Halo mbak,
Trus untuk membuat si istri bahagia kudu gimana ya?
Comment by Tamara — January 16, 2009 @ 6:29 am |
Istri-istri.. bantuin jawab donk pertanyaan mbak tamara
kl mnrtku bukan hny istri aja, tp suami jg, utk membahagiakan pasangan kita, sebaiknya kita melihat dr sudut pandang mereka msg2, dan ini pastinya akan subjektif, apa sih yg mereka harapkan kita melakukannya buat mereka. tentunya bukan berarti selalu menuruti, ttp kuncinya mungkin adlh pd kompromi.. Kompromikan perbedaan yg ada
Comment by esterlianawati — January 22, 2009 @ 7:45 am |
sebelum membantu menjawab pertanyaan mbak tamara
bwt mbak ester-tolong bantu saya mengenai kesejahteraan psikologis karena saya sedang mengadakan penelitian tentang itu. tolong di emailkan di brother_adi@yahoo.com
terima kasih
mbak tamara
sebenarnya untuk membahagiakan istri itu ada banyak cara
tetapi intinya masih sekitar komunikasi baik verbal maupun non verbal
sekarang bagaimana suami berkomunikasi-istri seharusnya belajar untuk memahami kemudian menyesuaikan
kebanyakn suami menuntut istri yang sempurna sedangkan suami sendiri kadang jauh dari seadanya =)
nah dengan begitu
setelah komunikasi mulailah apa yang dinamakan pengertian-kesabaran-dan ketelatenan
saat istri mampu melayani suami dengan sepenuh hati
maka suami otomatis akan balik berbaik hati untuk membahagiakan istri
prosesnya lamban tetapi pasti
jangan lupakan anak
karena anak adalah pengikat pernikahan suami-istri
Comment by adi — February 11, 2009 @ 1:17 pm |
Hai Adi, sudah kukirim ke emailmu ya.
Perempuan jg bisa jd berbalik melayani sepenuhi hati kl suaminya penuh perhatian lho
Btw, tengkyu comment nya buat mbak tamara. Tp ada yg aku kurang setuju: Saat istri mampu melayani dengan sepenuh hati, maka suami otomatis…
Knp hrs istri yang memulai duluan?
Comment by esterlianawati — February 12, 2009 @ 8:18 am |
ibu wati..
nanya donk…
kalo inventory ryff pake kuesioner ya bu..
ada di kampus gak..
soalnya gak dapet nih dari web
adanya psychological well being inventory (PWBI, tapi gak dapet inventorynya..
makasih ya bu..
Comment by chriestie — March 21, 2009 @ 12:20 pm |
non, km ke tmptku aja ya. sy ada skala nya.
Comment by esterlianawati — March 23, 2009 @ 4:57 am |
siipp dah…
sekalian mo konsultasi judul sama ibu..
gpp khan bu…
he..he,..he..
makasih..
Comment by chriestie — March 23, 2009 @ 5:06 am |
hola…mau tanya doong..kl PWB a.k.a kesejahteraan psikologis kan pk teori Ryff.selain Ryff,bs pk teori siapa lg y??trs,jurnal Ryff nyarinya dmn c???binun…thx..!
Comment by cihuy — May 22, 2009 @ 10:39 am |
Hallo cihuy
Km bs search tulisan2 Ryff di google, atau jurnal2nya bs cari di perpustakaan. Ada jg di buku Positive Psychology tp cuma sdkt. Atau paling gampang km bs kontak Carol D. Ryff lgsg di cryff@facstaff.wisc.edu.
Selaen Ryff, ada bbrp yg mengemukakan ttg kesejahteraan psikologis. Coba km search tulisan yg judulnya The Structure of Psychological Well-Being. Di tulisan itu ada bbrp tokoh yg coba menawarkan konsep mrk ttg pwb.
Km bs jg cari buku2 spt The Handbook of Mental Health. Di buku itu ada riwayat perkembangan PWB. Akan ada konsep2 sejenis spt subjective well-being, sekaligus ada penjelasan mengenai perbedaannya dgn pwb.
slmt mencari dan membaca ya.
good luck
Comment by esterlianawati — May 23, 2009 @ 6:34 pm |
pagi mb’…..
aq mau penelitian ttg subjective well-being di lapas wanita ne mb’,,,,tp cari referensinya susahnya minta ampun,,,, subjective well being tu bagian dari psycological well being to mb???
aq mau minta tlng,,,,blh minta soft copy pnelitian mb’???? ato apa ja lah yg kira2 berhubungan dg subjective well being,,,,ato kl misal mb tau referensu yg bisa aq cari,,,,,
tolomg bgt y mb’,,,,, balez k email ja y mb’ biar lebih enak,,,, ke “zee_vq_1307@yahoo.com”
makasih banyak sbelumnya
Comment by izza — June 3, 2009 @ 1:32 am |
hai izza,
subjective beda dgn psychological well-being.
ok, kukirim ke emailmu ya
Comment by esterlianawati — June 3, 2009 @ 4:25 am |
haiiiii
pelitian kau ini mirip kayak punya ku tapi aku juga sekarang lagi bingung cari literatur tambahan buat memperkuat penelitianku ini…
bantu dong…..
Comment by achi — June 12, 2009 @ 3:52 am |
Hi… salam kenal
mbak aku butuh aspek2 dari psychological well- being selain dari teori Ryff. Ada g ya yang udah dalam bahasa Indonesia? karena teori Ryff menurutku ga cocok dengan aitem2 di Zarit burden Interview. Sedangkan di ZBI ada aspek psychological well-being namun ga ada penjelasan yang dimaksud dengan psychological well-being itu apa. Tq
Comment by yasmin — June 23, 2009 @ 2:38 am |
hai yasmin, salam kenal jg ya.
setauku ZBI itu mengukur caregiving burden, jd wajar kl gak ks penjelasan apa itu psy well being, en konsep ryff emang gak cocok.
paling baik sih km cari apa yg dimaksud dgn pwb itu dlm pandangannya steven zarit, yg bikin zBI. ato coba km liat item2 dlm aspek pwb di ZBI itu. km bs coba mengambil kesimpulan mengenai pwb dr item2 itu.
Comment by esterlianawati — June 24, 2009 @ 11:53 am |
ok mbak. Tq ya….
da g ya teori yang menjelaskan anak usia brapa yang orang tua tidak repot lagi mengurus anak? Tq
Comment by yasmin — June 24, 2009 @ 12:33 pm |
ada g ya temen2 yang punya angket tentang coping skill?
Comment by yasmin — June 24, 2009 @ 12:35 pm |
mbak ester, salam kenal. saya mahasiswi lagi ngerjain skripsi tentang psychological well being, saya bisa minta teorinya ga mbak yang dari ryff,. makasih banyak mbak sebelumnya. kalau bisa tolong kirim ke email saya ya mbak hi3f_nie@yahoo.com.
Comment by hifny — July 4, 2009 @ 2:11 pm |
hai hifny,
maaf sy engga pny jurnal ryff dlm bntk elektronik.kl km ada di sekitar jkt dan mau pnjm, silakan aja. kita ngobrol lg di email ya
Comment by esterlianawati — July 13, 2009 @ 5:22 am |
tanpa bermaksud terlalu menasehati, kadang dalam meriset setiap pemeluk agama apapun perlu diperhitungkan faktor budaya dan background pendidikan seseorang. sebagai pemeluk agama islam khususnya, saya banyak mencermati pola pikir dan perilaku yang tercipta oleh seseorang yang beragama islam.walau ajaran islam adalah 1,namun banyak pemikiran yang berkembang.baik karena pengaruh sosial budaya ataupun faktor budaya pengkultusan seseorang. Tidak banyak perbedaan bila kita mencermatinya tetapi terkadang agama dijadikan selimut yang mutakhir untuk melindungi perilaku mereka. contoh islam kejawen ( bagi penduduk jawa tengah dan sekitarnya )islam kejawen adalah islam yang dipengaruhi oleh pemikiran budaya hindu yang telah mengakar di tanah jawa.ini semua bermula saat sunan kalijaga berpikir bagaimana cara menyiarkan islam di tanah jawa.pada akhirnya dia membuat konsep memasukkan budaya hindu.contohnya adalah peringatan orang meninggal 7hari,40 hari dll.wayang kulit adalah salah satu andalan dari sunan kalijaga dalam menyiarkan agama islam.namun hal ini kemudian memicu konflik.konflik yang paling dahsyat adalah saat murid sunan kalijaga yaitu jaka tingkir/sultan hadiwijaya,raja dari kerajaan pajang melawan arya penangsang yang merupakan murid dari sunan giri.
maaf ya kepanjangan. thanks bila kamu mau terima komentarku.good luck dan maju terus ya
Comment by denny oktavianto — July 11, 2009 @ 6:31 pm |
okey. tengkyu ya masukannya
Comment by esterlianawati — July 13, 2009 @ 5:18 am |
mb, aq lg bikin angket tentang konflik peran gender.. so aq butuh bahan seputar itu bs bantu. email ke t4 ku thanks before
Comment by Dewi — July 27, 2009 @ 8:18 am |
udah ya td
Comment by esterlianawati — July 27, 2009 @ 4:06 pm |
Wati yang baik, aku mau dong hasil penelitianmu. Gemana caranya mengakses?
Comment by wakhit — October 21, 2009 @ 8:14 am |
mas wakhit kok bs terdampar di blogku
aku email ke mas wakhit ya hslnya
Comment by esterlianawati — October 21, 2009 @ 3:10 pm |