A Feminist Psychologist’s Blog

November 24, 2008

Thank You For Loving Me

Filed under: Les Poésies — by esterlianawati @ 10:21 am

It must be uneasy for you

To handle me the way I am

Only you, know me very well

To the deepest skin that can’t be seen

 

Nobody has the patience as you have

While I’m not being an angelic one

Arousing the pure thing I have in much

To kiss you now, I kiss you then

Please your lips, just be ready there

 

(more…)

Kesejahteraan Psikologis Istri dan Sikap Peran Gender Pada Pasutri Muslim

Filed under: La Psychologie des Femmes — by esterlianawati @ 9:59 am
Tags: , , ,
Abstrak
Sejumlah penelitian menunjukkan kesejahteraan psikologis perempuan menurun setelah menikah. Diduga salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perbedaan sikap peran gender di antara pasutri itu sendiri. Saat ini perempuan cenderung memiliki sikap peran gender egaliter sedangkan laki-laki tetap mempertahankan sikap yang tradisional. Hal ini dikarenakan budaya patriarkis yang mengakar dalam masyarakat. Dalam budaya patriarkis ini, ajaran Islam dipandang telah melanggengkan sikap peran gender tradisional sementara di satu sisi para feminis Islam meyakini sesungguhnya Islam mengajarkan kesetaraan gender. Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat tingkat kesejahteraan psikologis istri ditinjau dari perbedaan sikap peran gender pada pasutri muslim.

 

(more…)

November 10, 2008

Untukmu dalam Lukaku

Filed under: Les Poésies — by esterlianawati @ 3:08 am

Kau hancurkan hatiku
Tak hanya satu waktu
Berkali kau buat aku
Terisak dalam lukaku
Sakit, pedih, menegang kaku
Bekukan aliran darahku

Tak cukup pikirmu
Kau remukkan hidupku
Jadi serpihan, beribu-ribu
Begitu kecil tak tersentuh
Tak tahu aku
Mampukah rekatkan jadi satu

Perlahan, kau tibakan ku
Di batas itu

(more…)

Menjalin Hubungan Pascapengkhianatan

Filed under: La Psychologie des Relations Profondes — by esterlianawati @ 3:02 am

Jika Anda ingin tahu bagaimana sulitnya memaafkan, tanyakan pada mereka yang pernah dikhianati. Jika Anda ingin tahu bagaimana indahnya dimaafkan, tanyakan pada mereka yang diberi kesempatan kedua.

 

Banyak orang menyarankan untuk segera memutuskan hubungan bila dikhianati. Untuk apa mengambil risiko dengan pengkhianatan selanjutnya. Lagipula katanya tindakan ini lebih mudah untuk dilakukan, yang perlu dipikirkan hanya persoalan menata hidup selanjutnya. Simple and easy. Meskipun tidak dapat disangkal luka dan trauma pasti ada. Bahkan, tidak sedikit yang sampai mengalami ketakutan untuk kembali mencintai. Namun secara umum, trauma ini bisa segera pulih begitu menemukan relasi baru.

 

Justru menjadi lebih sulit ketika kita memutuskan untuk memperbaiki hubungan. Faktanya, cukup banyak yang berusaha melanjutkan hubungan pascapengkhianatan, namun hanya sedikit yang berhasil. Dalam sejumlah kasus, keputusan untuk memperbaiki hubungan hanya bersifat penundaan. Selang beberapa waktu kemudian, mereka mengakhiri hubungan. Sementara dalam kasus lain, hubungan menjadi hambar. Seolah hanya bertahan karena faktor kewajiban ataupun situasional.

 

Lantas, apakah sebaiknya kita tinggalkan saja pasangan jika mereka berkhianat? Toh lebih mudah untuk menyembuhkan diri? Tidak seperti itu pula cara berpikir yang diharapkan. Hubungan pascapengkhianatan memang tidak lagi sama seperti semula. Ada sesuatu yang berbeda, dan sulit untuk mengembalikannya pada kondisi semula. Namun mereka yang memiliki ketulusan cinta, kesabaran, dan kesungguhan tekad, akan dapat melewati masa-masa sulit. Dalam hal ini, pengkhianatan dapat berperan sebagai katalisator pertumbuhan yang positif bagi kedua pasangan.

 

(more…)

Powered by WordPress.com