Skip to content

Memahami Psikologi Korban KDRT: Mengapa Perempuan Bertahan?

September 15, 2008

Bulan ini empat tahun lalu, Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) disahkan setelah perjuangan kelompok perempuan selama kurang lebih 7 tahun. Meskipun lingkup KDRT yang dimaksud dalam UU ini tidak terbatas pada kekerasan suami terhadap istri, namun kasus inilah yang awalnya menggerakkan pembuatan UU ini. Kasus ini memang merupakan kasus KDRT terbanyak, yakni mencapai 74% dari KDRT yang dilaporkan pada tahun 2006.

Sayangnya penanganan kasus ini belum optimal karena relasi intim sebagai suami-istri antara korban dan pelaku. Dimulai dari garda yang terdepan, yakni aparat kepolisian, masih sering mendamaikan korban dengan pelaku dan tidak jarang turut memfasilitasi korban untuk mencabut kembali laporannya.  Jika sudah begini, jangan berharap kasus akan diproses lebih lanjut.  

Sebenarnya aparat tidak dapat disalahkan sepenuhnya dalam hal ini. Kita pun cenderung bersikap sama dengan mereka. Jika tidak berupaya mendamaikan, kita biasanya cenderung diam karena enggan terlibat. Kita masih memandang KDRT sebagai urusan masing-masing rumah tangga. Apalagi jika pasangan suami istri yang bersangkutan akan berbaikan kembali. Tidak jarang kita menggerutu penuh keheranan bagaimana mungkin istri yang sudah dianiaya masih tetap bertahan dalam perkawinannya itu.

Jika dibiarkan, kebingungan-kebingungan semacam ini dapat berimplikasi negatif pada penanganan korban. Bukan tidak mungkin aparat kepolisian jadi semakin rajin mendamaikan korban yang melapor. Kita juga bertambah yakin bahwa korban akan rujuk kembali dengan pelaku. Padahal yang sering terjadi ketika korban kembali dengan pelaku adalah ia memperoleh kekerasan yang lebih intens. Dan kali ini korban semakin sulit untuk melepaskan diri karena pelaku biasanya menjaganya dengan lebih ketat. Tapi pihak kepolisian malah semakin meyakini bahwa korban sudah baik-baik saja karena toh tidak kembali lagi untuk melapor.

Oleh sebab itu untuk menghindari sikap dan tindak penanganan yang salah, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami terlebih dahulu mengapa perempuan korban bertahan. Dari pendampingan yang saya lakukan terhadap korban, saya menemukan tidak satupun di antara mereka yang menginginkan kekerasan. Namun hal itu tidak serta merta mendorong korban untuk meninggalkan pelaku karena ada dua mekanisme yang berhasil dibangun pelaku untuk melumpuhkan upaya korban melepaskan diri dari pelaku. 

Mekanisme pertama adalah pelaku menciptakan atmosfer menakutkan yang membuat korban merasa tidak mungkin untuk melepaskan diri. Bayangkan seorang korban yang hampir setiap hari disiksa. Setiap kali ia berusaha melawan, pelaku semakin beringas. Belum lagi ancamannya jika korban berani meninggalkannya. Ketika korban telah meninggalkan rumah sekalipun, pelaku selalu berhasil membawanya pulang. Entah dengan melakukan kekerasan ataupun tampil sebagai suami yang baik sehingga menarik simpati. Kedua-duanya efektif dalam membuat orang-orang di sekitar korban meminta korban untuk pulang bersama pelaku.

Mekanisme kedua merupakan perpaduan dari komitmen perkawinan yang dikemukakan Michael P. Johnson, psikolog perkawinan dan siklus KDRT yang ditemukan Lenore Walker, seorang psikolog feminis. Johnson mengungkapkan ada tiga bentuk komitmen perkawinan yang menentukan seseorang untuk bertahan atau melepaskan diri dari perkawinannya. Pertama adalah komitmen personal seperti cinta dan rasa puas terhadap perkawinan. Kedua adalah komitmen moral, yakni rasa bertanggung jawab secara moral karena menganggap pernikahan harus berlangsung sepanjang hidup. Ketiga adalah komitmen struktural, yakni keinginan bertahan karena faktor-faktor penahan seperti tekanan sosial jika bercerai, masalah anak, prosedur perceraian yang sulit, dan sebagainya.  

Seorang perempuan korban bukan tidak mungkin masih mencintai pelaku. Hal ini wajar mengingat seperti kebanyakan orang, korban menikah dengan cinta dan harapan bahwa perkawinan mereka akan langgeng. Pelaku umumnya sangat hebat dalam menjaga komitmen personal ini tetap ada pada diri korban. Mereka membawa korban pada tahapan bulan madu dari siklus KDRT. Setelah tahap pertama dimana pelaku membangun ketegangan demi ketegangan yang memuncak di tahap kedua dalam bentuk penganiayaan, pelaku akan mengajak korban untuk memasuki tahap ketiga yang dinamakan tahap bulan madu. Dalam tahap ini para pelaku menampilkan kesan positif sebagai pria yang baik dan menyenangkan (persona of charming) seperti yang dikenal korban sebelum penganiayaan pertama kali terjadi. Pelaku meminta maaf, menunjukkan penyesalan, dan meyakinkan korban bahwa ia akan berubah.

Lama kelamaan tahap bulan madu hanya menjadi fase yang dingin dan tanpa cinta meskipun tanpa kekerasan. Pada fase inilah menurut saya komitmen struktural memegang peranan penting dalam memengaruhi keputusan korban. Bahkan komitmen ini tetap membuat korban bertahan di saat komitmen personal sudah pudar sekalipun. Johnson memang tidak pernah melihat aspek gender dalam membangun teorinya. Namun saya melihat komitmen struktural memiliki peran lebih besar dalam mengikat perempuan pada perkawinannya dalam masyarakat kita yang patriarkis.

Dalam budaya patriarkis, kepada perempuan telah ditanamkan nilai-nilai kepatuhan dan pelayanan kepada suami. Pelaku menekankan hal ini kepada korban sebagai pembenaran atas kekerasan yang dilakukan. Pelaku memaksa korban melakukan sesuatu hal yang tidak disukai atau bahkan menyakiti hati korban. Cukup banyak korban yang meyakini bahwa ia harus melakukannya sebagai wujud kepatuhan seorang istri sehingga tidak menyadari bahwa pelaku telah melakukan kekerasan psikologis kepadanya.

Kewajiban yang juga ditekankan kepada perempuan selaku istri adalah melayani kebutuhan seksual suami. Tidak sedikit korban yang mengaku dipaksa melakukan hubungan seksual termasuk dalam bentuk yang menyimpang sekalipun. Keinginan mereka tidak pernah menjadi bahan pertimbangan pelaku. Namun karena meyakini bahwa melayani kebutuhan suami adalah kewajiban istri, korban tidak mengerti bahwa pelaku sebenarnya telah melakukan kekerasan seksual. Tanpa pemahaman itu, bagaimana mungkin seorang korban merasa perlu untuk melepaskan diri?

Pada perempuan yang perannya dibatasi sebagai ibu rumah tangga, cenderung akan tergantung secara ekonomi kepada suami. Ketika usia semakin bertambah, perempuan akan semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Kekhawatiran tidak dapat menghidupi diri sendiri dan anak-anak menjadi salah satu faktor yang membuat korban berpikir berulang kali untuk meninggalkan pelaku. Ditambah lagi dengan memikirkan pandangan umum yang berlaku bahwa anak-anak akan jauh lebih baik bila berada dalam keluarga yang utuh. Karena seorang ibu diharapkan mengutamakan kepentingan anak, korban pun rela bertahan demi anak-anaknya.

Perempuan yang menikah sedapat mungkin juga tidak ingin bercerai karena status janda yang akan mereka terima tidak akan mengundang simpati melainkan sebaliknya antipati. Pemikiran-pemikiran mengenai stereotipe janda seringkali menyurutkan langkah korban untuk bercerai. Dalam budaya kita, perempuan memang selalu ditempatkan sebagai Liyan (Yang Lain), bukan berdiri sendiri sebagai Diri yang utuh. Ketika kehilangan statusnya sebagai istri, eksistensi perempuan tidak lagi dianggap ada.

Berbagai aspek struktural di atas telah menekan korban untuk bertahan dalam perkawinannya meskipun perkawinan itu hanya membawa penderitaan. Lantas apa yang harus kita lakukan setelah memiliki pemahaman yang lebih empatis terhadap korban? Saya kira kita dapat membantu mereka meskipun mereka belum dapat keluar dari kekerasan itu. Pertama, memberitahukan kepada korban bahwa kelak mereka membuktikan bukti konkret jika hendak memproses kasusnya secara hukum. Jadi meskipun saat ini mereka belum ingin melakukannya, sedapat mungkin mereka menyimpan bukti-bukti yang diperlukan. Termasuk bukti medis dari dokter bilamana mereka sakit akibat stres ataupun terluka setelah dianiaya.

Kedua, kita dapat membantu dengan menjadi tempat yang dapat mereka percayai untuk membagikan pengalaman mereka tanpa menghakimi mereka. Dalam hal ini, akan lebih baik bila kita mencatat atau merekam cerita korban agar dapat dijadikan sebagai bukti jika kelak mereka memutuskan untuk melaporkan pelaku. Kita juga dapat memfoto luka-luka mereka dan membawanya ke dokter untuk mendapatkan surat keterangan medis yang kelak akan diperlukan.

Dalam membantu korban, tidak ada yang perlu kita takutkan. Tindakan kita dilindungi secara hukum. Berdasarkan UU PKDRT, sebagai anggota masyarakat, kita bahkan diwajibkan untuk melaporkan kekerasan yang dialami korban. Jadi perbuatlah sesuatu untuk membantu korban. Mungkin bukan dengan melaporkan pelaku tanpa persetujuan korban. Tapi setidaknya kita dapat memahami terlebih dahulu psikologi korban untuk dapat bersikap dengan lebih empatis.

About these ads
23 Comments leave one →
  1. December 21, 2008 6:56 am

    bertahan dalam siklus kekerasan memang menyakitkan. Tapi aku sudah tua aku tidak pede, suami dan sekarang anak laki2ku memukuli dan menyepelekan aku. Aku harus bagaimana?. suamiku menyuruh anakku berbuat itu, membiarkan aku dipukuli anak kandungku sendiri

    • Anonymous permalink
      October 21, 2009 11:52 am

      mohon maaf, bukannya menyalahkan tapi tua bukan ukuran, keberanian mb yg utama n paling dibutuhkan.jika terus berpasrah kasian pada perempuan2 yang akan mereka nikahi kelak apakah mb pengen banyk wanita menderita lagi. mbk harus berjuang dan berani mengambil keputusan, jika keputusan sudah diambil artinya mb mampu dan bisa disebt berdaya. ayo mb jgn pantang menyerah, dan dipermainkan nasib.jika mb pengen bahagia harus berani, tinggalkan mereka, walaupun dengan tangisan.

  2. esterlianawati permalink*
    December 23, 2008 9:32 am

    dear mbak sandra,
    sudah kukirim ke email mbak bbrp nomor yang bs mbak kontak. smg bs membantu utk menguatkan mbak dlm mengambil langkah yg terbaik ya.

    • novi permalink
      June 29, 2009 7:44 pm

      mba..maaf klo bentuk verbal commuse bgmana ya mba solusinya..8 th married, tidak pernah memukul tetapi setelah 1 thn pertama married, mulai verbal commuse, 3 thn mulai membanting2, 2 thn terakhir semua digunakan…yang paling baru dengan membuat pemaksaan utk menjawab sesuatu hal, yg sudah sangat jelas di jawab dengan santun, maaf, tetapi tetap belum bisa siterima, seperti apa solusi terbaik. trims

      • esterlianawati permalink*
        June 30, 2009 9:28 am

        mbak novi, ada bbrp hal yg kl boleh, aku berharap mbak mau bagi ke aku. apkh saat pacaran, suami prnh melakukan hal serupa, ato br dimulai satu tahun stlh perkawinan? sbrp sering suami melakukan hal itu, apa ada faktor2 pemicu, atau bs tanpa sebab dia melakukan hal itu? tindakan apa saja yg sdh prnh mbak ambil thd perilaku suami? apakah mbak jg sdh prnh membicarakan mslh ini kpd suami?
        kukira mgkn lbh enak kita ngobrol lewat email ya
        mbak. emailku di esterlianawati@yahoo.com.

        salam,
        ester

  3. farid arief permalink
    December 23, 2008 12:31 pm

    assalammualaikum ibu ester,perkenalkan nama saya farid mahasiswa psikologi di surabaya,ibu mohon bantuannya untuk menjadi pembimbing saya dalam penelitian individu saya “konsep diri pada pelaku KDRT”.mohon kerja samanya,please.

    • esterlianawati permalink*
      January 5, 2009 3:08 am

      Waalaikum salam, Farid.
      Mksh sblmnya dah mau dibimbing ama sy :).
      Btw, mksdmu itu jd pembimbing formal ato informal ya?.
      Kita ngobrol di email aja ya. Email sy di esterlianawati@yahoo.com.
      C u.

  4. pRiciLia KiReY permalink
    January 9, 2009 6:17 pm

    Not To jUdge bOth of’em

    kata orang hidup itu indah
    kalau saja Eva tak memakan khuldi itu
    atau Pandora tak perlu repot menengok isi kotak pemberian Zeus
    hanya ada cinta, kebahagian, dan ketenteraman di bumi ini

    kalian bilang, itulah awal dari petaka
    kalian bilang, itulah awal kehancuran
    benci,derita, dan kesengsaraan di bumi ini
    tertawai kebodohan dan kekalahan Eva dan Pandora

    tapi tidakkah kau sadari, kawan
    kalau khuldi itu tidak dimakan
    atau kotak itu tidak dibuka
    apakah kamu bisa menikmati hitam-putih bahkan sisi merah jambu dunia ?

    kawan…
    hidupku,hidupmu,hidup kita
    hanya kan sadari
    pesona cinta dalam alunan benci
    manisnya kebahagian dalam pahitnya derita
    nikmatnya ketenteraman dalam getirnya sengsara

    keduanya hanyalah
    alat tuk
    buka mata
    buka telinga
    buka hati
    alami realitas
    terapkan dialektika
    rasakan keseimbangan

    kau tak pantas
    tertawa ataupun menangis
    senang ataupun marah

    sekali-kali tidak
    berkali-kali jangan hakimi mereka

  5. esterlianawati permalink*
    January 13, 2009 5:48 am

    Eh misyu mampir ke sini,
    lgsg berpanjang2 ria :p
    thx, dear. smg tetap smgt bljr perspektif perempuan ;)

  6. Rini permalink
    May 7, 2009 6:03 am

    Mbak saya pengin japri. Bisa dijadikan sumber wawancara u Tabloid NOVA gak? Tlg hubungi saya segera di email.

    Tq berat kerjasamanya ya.

    Salam

    • esterlianawati permalink*
      May 18, 2009 10:10 am

      mbak rini, tengkyu ya..mbak nove dah dtg :)

  7. Ana permalink
    May 23, 2009 4:49 am

    Aku cb berthn krn anak2ku,dr mulai caci maki, meludah,memukul,mengampar aku alami saat aku pts asa aku mau mati sj krn hdp bg ku tak berarti lg,tp aku syng pd anak2ku..aku cm tngu Tuhan jmpt aku saja.

  8. esterlianawati permalink*
    May 23, 2009 6:16 pm

    dear mbak ana,
    mksh dah sharing di sini.pasti berat yg hrs mbak jalani. aku doakan mbak msh memiliki harapan utk bs keluar dr kepahitan yg mbak alami saat ini. smg dgn harapan itu, mbak akan melihat ada jalan yg lbh baik. kl mbak mau berbagi lebih banyak, silakan hub saya di esterlianawati@yahoo.com. mudah2an ada sesuatu yg bs kita lakukan bersama. wish u all the best.

  9. win permalink
    May 3, 2010 9:16 am

    Saya sudah menikah 2 thn. Awal pernikahan kami baik2 saja, walaupun kadang ada cekcok tp hanya ngambekan sebentar. Pada saat itu saya tinggal bersebelahan rumah dengan paman suami saja. sesudah 6bln, kini saya sudah pindah rumah. Tp gawatnya sesudah pindah ini, kami sering ribut. Dan klo ribut, tidak jarang ada kdrt yg saya alami, dr verbal sampai fisik. Saya br mengetahuinya sifat pemukul suami saya ini sesudah kami pindah ini. Saya sungguh heran knp suami saya bs jd begitu keras kepala dan egonya sbg laki2 begitu besar juga gengsi, sehingga sama sekali tidak bisa berkomunikasi secara baik dgn saya sbg istrinya. Jujur saya begitu mencintai suami saya, setiap kali pertengkaran selalu saya yang memulai minta maaf, saya yg selalu membujuk rayunya, krn saya sungguh begitu takut kehilangan suami saya. Tp terkadang di esok harinya dia ada juga mengucapkan kata sori. DI samping itu ketika memandangi luka2 sehabis dia pukul, teringat caci makinya, kadang saya merasa bodoh sekali dan sakit hati sekali. saya binggung bagaimana harus melewati hari2 rumah tangga dengan suami yang begitu. mudah memang untuk mengucapkan kata cerai, tp tidak semudah itu dilakukan.

    • Ester Lianawati permalink*
      May 23, 2010 2:00 am

      Mbak Win, makasih sblmnya mau berbagi di blog ini. Memang bukan hal mudah untuk bercerai, dan mungkin tidak semua kasus kekerasan dlm rumah tangga seperti yg mbak alami ini perlu diakhiri dgn perceraian. Jika suami masih bs diajak berbicara, mgkn mbak Win bisa memintanya untuk melakukan konseling. Jika perlu, mbak bs datang berdua terlebih dahulu dgn suami sblm suami mengikuti konseling khusus untuknya. Kdg suami sulit diajak konseling krn egonya, dia mrs tdk bersalah. dsb. Dlm hal ini, mgkn perlu strategi utk terlebih dahulu merendahkan hati, spt misalnya mbak bs bilang, “Saya ingin menjadi istri yg spt km harapkan agar km tdk perlu lagi memukul saya. Tp mgkn sy perlu dibantu utk ini. Mgkn sy tdk mengerti apa yg sbnrnya km harapkan dr sy. Bgmn jika kita menemui konselor agar km bs bicara dgnnya dan konselor itu yg akan membantu memperjelas utk sy.” Ini hny sekedar taktik utk membawanya konseling.
      Tp smntr itu, mbak Win sebaiknya jg tetap mempersiapkan hal terburuk. Sebisa mungkin simpan bukti-bukti kekerasan yg ia lakukan. Misalnya fotolah luka-luka mbak, simpan foto itu di tmpt aman. Catatlah sedetil mungkin peristiwanya. Hal-hal ini akan menjadi bukti nantinya jika kelak keputusan bercerai atau bahkan mgkn menuntutnya scr hukum akan mbak lakukan.
      Jika mbak Win jg ingin bicara lbh lnjt ttg persoalan ini, mbak bs hub kami di Yayasan Pulih 021-9828-6398.
      Salam,
      Ester

  10. Evana permalink
    May 20, 2010 10:22 am

    Misi mbak Ester…saya evana mahasiswa arsitektur…saya sedang membuat proyek Tugas akhir tentang Rumah rehabilitasi anak korban Kekerasan dalam Rumah Tangga…memang proyek saya untuk anak-anak…apa mbak ester bisa bantu?? thank u before..

    • Ester Lianawati permalink*
      May 25, 2010 3:26 pm

      Hai Evana,
      Rumah rehabilitasi yg km mksd spt apa ya? Mksdku apa km pny kriteria rumah rehab yg km mksd itu hrs memiliki prog rehab spt apa?
      Sejauh ini yg kutau itu ada rumah aman utk anak dan perempuan korban kekerasan. Tp tdk ada program khusus utk anak di sana. Klpun butuh konseling, mrk biasanya akan membawa anak itu ke kami di yayasan Pulih ataupun psikolog yg akan mengunjungi mrk lgsg.
      Coba km jlsin dl ya, brgkali bs kubantu tny sama teman2 lain.
      Salam.

  11. widayati permalink
    May 26, 2010 5:41 am

    mbak Ester…saya wida mahasiswi di jogja…saya sedang menempuh Tugas akhir tentang upaya penghapusan kekerasan perempuan melalui program perubahan perilaku laki-laki anti kekerasan terhadap perempuan di lsm Rifka Annisa Yogyakarta, maaf mungkin mbak ester bisa bantu?? thank u before..

    • Ester Lianawati permalink*
      June 2, 2010 11:50 am

      Hai Wida, bantuan apa yg km perlukan tepatnya? Aku pernah menulis ttg konseling pelaku di Harian Jogja, sdh aku posting jg di blog ini.
      Utk tulisan yg lbh lgkp ttg konseling pelaku, mungkin br bs aku share bulan Juli, krn ada dlm kumpulan tulisan yg akan diterbitkan oleh Yayasan Pulih.
      Untuk modul pelaku sendiri, Pulih sudah menyusunnya tapi belum dilaksanakan scr penuh. Mitra Perempuan sdh menjalankan program ini utk narapidana, mgkn km bs hub jg Mitra Perempuan. Teman-teman Rifka Annisa dan WPF jg sdh membuat modul konseling bahkan sudah diujicobakan. Kamu sudah menghubungi teman-teman di Rifka Annisa kah? Ok, itu dl yg bs ku share. Mgkn km bs perjelas jg bantuan yg km butuhkan ya. Slama msh bs, akan kuusahakan.
      Salam.

  12. Octa permalink
    June 15, 2010 10:11 am

    Dear mba ester,
    sy ibu 1 anak (2th 6bln), slm ini sy merasa mengalami kdrt baik scr verbal maupun fisik. Mulai dari hinaan, lalu sekedar menampar, hingga yang terparah suatu hari sy sampai di tikam dengan ujung gagang garpu hingga luka cungkil di tangan kiri sy (pdhl saat itu shrsny bkn masalah demikian besar, sepele tapi dibesar2kan) dan skrg luka tersebut berbekas dan bila melihatnya, rasa hati ini pilu dan sedih.
    Anehnya sy tdk dendam… Hny rasa perih dlm hati, pdhl sy bgt mencintainya… Dan kami sdh menikah selama 3th.
    Suami berubah, stiap hari caci maki, di sepelekan, dan dihina seolah sdh menjadi santapan harian sy.
    Sy sempat berpikir bahwa mgkn suami mengalami sakit psikologis BIPOLAR DISORDER. Dy sgt moody dan emosinya bagai ranjau, smua org drmh tdk mampu meredam emosinya ktk dia marah. Ga ada yg dpt menerka kapan, bagaimana, dan knp dy bisa dlm hitungan detik saja dy dpt berubah jadi marah2 yg scr akal org biasa hrsnya tdk masalah atau bkn hal besar… Tp buat dy bisa jadi sangat luar biasa.

    Pdhl ketika sy mengenalnya, dy adalah sosok pria yg penyayang. Dy benar2 berubah sejak kesibukannya dg pekerjaan meningkat… Kdg dy plg dg wajah masam dan dlm bbrp saat dy mulai. Temukan masalah2 kecil utk diperbesarkan, meski sy sgt berusaha meminimalisir dan menghindarinya kl dy sdg bad mood.
    Kdg sy rasa capek, sy sempat mau mati ktk itu sy sdg hamil dan ketika anak sy berusia umur beberapa bln… Tp sisi lain hati kecil dan perasaan sy yg mencintainya masih berharap dan yakin bhw suatu hr akan berubah seiring bertambah usia.
    Tp Sy capek sll di perlakukan tdk adil dan tdk layak sbg istri. Sy sdr sy jauh dr sempurna, dan sampai detuk ini sy msh brusaha memahami pikiran dan perasaanya… Tp kpn dy akan mulai pahami pikiran dan perasaan sy.
    Apapun yg sy lakukan sll slh… Begini salah, begitu salah… Yg benar cuma dy…
    Bagaimana sy harus bertahan???

    Terakhir dy masih blg kl komunikasi jd kendala buat kita, mk jln terakhir dy meminta sy mencari konsultan atau psikolog keluarga utk membantu kami.
    Tp sy tidak tahu kemana dan dimana sy dpt menemukannya, apakah mba ester pny referensi psikolog ataupun konsultan keluarga yg dpt membantu kami.

    • Ester Lianawati permalink*
      June 22, 2010 2:15 pm

      Dear mbak Octa, sy bs mengerti bgmn perasaan mbak thd suami, yg meski sudah melukai mbak dgn sangat ttp mbak msh menyayanginya.
      Tp sy sll berharap agar mbak jg bs tetap mengutamakan keselamatan mbak dan anak mbak, juga kebahagiaan mbak dan anak mbak tentunya.
      Terus hidup dlm hubungan penuh kekerasan tentu tdk akan membawa kebaikan utk mbak dan anak.
      Bnyk mmg yg sulit menerima pria yg tdnya ia kenal baik tiba2 bs berubah menjadi begitu kasar.
      Sikap suami yg semula baik srg menimbulkan harapan bhw satu saat suami akan baik kembali spt semula.
      Ttp biasanya hal itu hampir tdk prnh terjadi, kecuali suami mendapatkan penanganan yg tepat.
      Saya rasa suami mbak yg msh melihat kendalanya di komunikasi dan msh meminta mbak utk mencari konselor perlu dihargai.
      Sy akan kirimkan bbrp nomor kontak ke email mbak ya. Smg bs membantu mbak dan suami.
      Take care, mbak Octa.

  13. Anonymous permalink
    September 19, 2011 5:44 pm

    dear mbak ester.
    Saya mahassiswa magister psikologi UNTAR, and (coming soon) psychologist. Saya sedang mendapatkan tugas untuk membuat artikel mengenai resiliensi. Karena saya tertarik dengan dunia perempuan, saya memutuskan untuk mengambil kasus no. 12. Mohon ijinn ya mbak :D

    regards,
    vallen

    • Ester Lianawati permalink*
      September 26, 2011 11:57 pm

      Dear Vallen, sebenarnya jauh lebih baik kalau bisa langsung minta izin pada mbak Octa, sayangnya saya juga kehilangan alamat emailnya.
      Semoga dengan mem-posting ini jd salah satu cara utk minta izin pd beliau ya.
      Good luck untuk tugasnya, dan cepet selesai kuliahnya biar coming soon jd psychologist :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: