Awalnya psikologi feminis hanya berusaha meneliti kehidupan dan pengalaman perempuan. Psikologi ini kini dikenal dengan sebutan psikologi perempuan. Setelah itu psikologi beranjak lebih jauh untuk melihat perbedaan gender yang dihasilkan oleh konstruksi sosial. Psikologi ini tidak sekedar melihat kehidupan perempuan melainkan bagaimana sistem gender telah membuat perempuan mengalami kehidupan yang seperti itu. Psikologi ini kemudian dikenal dengan sebutan psikologi gender.
Tidak cukup dengan mempelajari perempuan dan perbedaan gender saja, sekelompok psikolog mulai mempelajari bagaimana psikologi dapat diciptakan ulang dengan menjalin keterkaitan dengan prinsip-prinsip dan praktik-praktik feminis. Cabang psikologi inilah yang mendapatkan label spesifik sebagai psikologi feminis. Belakangan berkembang pula psikologi kritis feminis (feminist critical psychology) yang mempelajari bagaimana pembentukan psikologi itu sendiri sebagai sebuah ilmu telah mengkonstruksi perempuan seperti yang saat ini ditampilkan dalam psikologi.
Meskipun hanya satu di antara cabang-cabang psikologi ini yang secara langsung dinamakan sebagai psikologi feminis, namun semua cabang ini sebenarnya digolongkan sebagai psikologi feminis.




September 21, 2008 at 7:11 am
akir2 nih gw br denger klo feminist tuh gak menentang homoseksual atw lbh tepatnya feminist tu menciptakan atw cikal bakal dari lesbianism, bnr ga sih?
trz klo esterlianawati juga temen2 yg lain gmn pendapat kalian tentang lesbian??tq
September 22, 2008 at 3:11 am
Hai Mbak Rutelia, sepanjang yg aku tau, ada aliran feminisme yg berpendapat bhw perempuan sebaiknya berelasi dgn perempuan saja agar bs memiliki hub yg setara. Aliran ini disebut dgn feminisme radikal kultural. Tp ada jg aliran radikal libertarian yg mengatakan bhw dgn laki-laki pun tdk mslh, asalkan laki-laki itu memahami dan memiliki nilai-nilai kesetaraan.
Secara umum, feminis memang tdk menentang lesbian. Feminis selalu berusaha merangkul perempuan yg berada dlm posisi lemah, yg dikucilkan, didiskriminasikan, dsb. Lesbian adlh salah satunya.
Sy pribadi tdk menganggap ada yg salah dgn lesbian. Bnyk org mengasosiasikan lesbian dgn yg negatif2, spt aneh, ekslusif, depresif, posesif, dsbnya. Jika pun ada yg demikian, sbnrnya kita perlu bertanya pd diri sendiri, apa kita yg turut membentuk mrk spt itu? Bayangkan saja jika kita jd mereka, selama hidup hny dihina, dianggap aneh, dsb. Apa tdk akhirnya kita akan menjadi spt yg dilabel org2 itu? Sy mengenal teman2 lesbian yg bnyk melakukan hal berguna bagi sesama. Mrk jg bersahabat dgn perempuan hetero, dan tdk ada mslh ttg itu. Mrk bahkan menjadikan persahabatan dgn perempuan hetero sbg aspek penting dan sebuah hal indah dlm hidup mereka.
Kebetulan saat ini sy sedang melakukan penelitian utk melihat faktor-faktor apa yg dpt meningkatkan kesejahteraan lesbian. Sy ingin memahaminya dr teman2 lesbian sendiri agar hsl penelitian ini dpt bermanfaat lgsg bagi teman2. Seandainya ada teman2 yg mau membagikan pengalamannya, sy akan senang skl. Jika ada yg bersedia, tlg beritahu sy di esterlianawati@yahoo.com. Thx a lot
October 23, 2008 at 8:22 am
Halo Ester.
Sy kecewa dengan mainstream psikologi perempuan, yang justru membantu konstruksi patriarkhis menempatkan dan mencetak bagaimana “seharusnya” perempuan. Menjadikan feminim dan bukan feminis…
Kebetulan saya sekarang sedang mencoba mengkaji perempuan yang termarginalisasi (Biasanya psikologi tidak suka tema seperti ini), terutama dalam usahanya mencapai pemahaman politik diri, terkait juga dengan keterpurukan sosial dan ekonomi, subjek penelitian rencananya para buruh tani perempuan. Sy ingin mengangkat kajian psikologis yang bukan sebuah justifikasi teori namun lebih pada bangunan pemahaman dengan perspektif lokal dan budaya.
Mungkin Ester mau beri masukan….
October 23, 2008 at 10:11 am
Hai Mas Sapto,
Aku setuju ama pndpt Mas. Mnrtku memang psikolg perempuan malah melanggengkan patriarki itu sendiri, krn cuman melihat perempuan bentukan patriarki itu tanpa menggali apa yg membuatnya demikian. Psikolg gender udah lbh maju sbnrnya, tp pd akhirnya jg cuman melihat perbedaan pria-wanita, tanpa bergerak lbh jauh dr itu. Yg disebut psikologi feminis pun kadang jg msh bias pandangannya. Mgkn krn psikologi itu sendiri itu sll berusaha ‘menjelaskan’ dr berbagai sisi kali ya. Tp untunglah skrg dah mulai bnyk psikolog yg perspektif perempuannya kuat (semoga..)
Utk penelitian, kupikir agar gak terjebak dgn justifikasi teori, lbh baik memang membangkitkan teori dr kehidupan mrk (buruh tani). Jd melihat apa yg mgkn blum dikaji dr mrk. Aku kepikiran ttg persoalan2 yg mrk hadapi, strategi coping apa (scr psikologis) yg dilkkan para buruh tani ini dlm menjalani kehidupan mrk sbg kelompok yg termarjinalisasi, dan efektivitas dr strategi coping itu. Smg hasilnya bisa memberi masukan kebijakan apa yg shrsnya dilkkan utk dpt mendukung efektivitas strategi mrk itu.
Mgkn teman2 lain mau kasi masukan…
October 27, 2008 at 4:59 am
ikut komen ya..
lesbian is normal. bisa di cek di PPDGJ III atau DSm IV.
kalo soal hubungan feminis dan lesbian, emang ada keterkaitan, malah ada aliran feminis lesbian sendiri yang biasanya cabang dari feminis radikal yang anti laki-laki karena laki-laki dianggap sebagai biang kerok tertindasnya perempuan. kebetulan skripsi saya tentang lesbian, kalau mau share.. sok aja ditunggu hehe.. linggalink@gmail.com
kalo soal psikologi feminis atau psikologi gender (atau apapun namanya) seharusnya gak cuma jadi 1 mata kuliah atau satu cabang tapi bisa diaplikasiin ke psikologi-psikologi lain. Kalo pinjem istilah gerakan gender ya ada “gender mainstreaming” di psikologi.. Misalnya soal gejala gangguan psikologis tertentu yang timpang antara laki-laki dan perempuan kayak anorexia, manic depressif, dll, selain treatmen psikologis, klien juga perlu dibukakan matanya kalau ada sebuah sistem sosial yang gak disadari mempengaruhi perspektifnya terhadap tubuh dan lingkungannya (beeuh.. sok tau banget)
October 29, 2008 at 8:17 am
Tengkyu ya, galink.
sekedar info buat yg non psikologi, PPDGJ and DSM itu adlh semacam panduan diagnostik gangguan jiwa. DSM terbitan asosiasi psikiatris amrik, PPDGJ di indonesia. Awalnya homoseksual dimasukkan sbg salah satu gangguan. Lalu sekitar thn 1980-an dibedain atr yg mrs tersiksa dgn kondisi homoseksualnya (ego dystonic) n yg mrs nyaman2 aja (ego syntonic). Belakangan krn pnybb ego dystonic ini jg dianggap terletak pd sikap masy yg mendiskriminasikan, menganggap aneh, dsb, homoseksual bnr2 dicabut dr DSM, en dianggap normal.
Oya bener tuh kl psikologi feminis bs diaplikasiin ke psikologi2 lain. Sygnya gak semua psikolog pny perspektif perempuan, jd kdg gak diajarin ke mhsw, atau cm ks tau tp tanpa perspektif, jd malah menyalahkan..
January 20, 2009 at 9:40 am
boleh kan klo aku dsni mo bertanya2….
oia skripsi aku tentang Patriarchal Tyranny and menggunakan teory Simon de Beauvoir yang “Women as Other” cocok gk?cuz dsna tuch karakter perempuannya pada tertindas
January 22, 2009 at 8:29 am
Tentu boleh
topik skripsimu menarik ya. mnrtku cocok pake pandangannya beauvoir.
slmt mengerjakan ya