One is not born, but rather becomes a woman.
Membaca hasil-hasil penelitian psikologi terkini dalam momentum perayaan Hari Kartini seperti saat ini, hati saya menjadi miris. Bagaimana tidak, setelah satu abad lebih perjuangan Kartini, masih saja tercatat kondisi perempuan yang kurang menyenangkan. Lebih buruk lagi, kondisi negatif ini terletak pada psike (jiwa), bagian diri manusia yang paling menentukan keberfungsiannya.
Jurnal-jurnal psikologi mencatat jumlah perempuan yang mengalami gangguan psikologis lebih banyak dibandingkan laki-laki dan jenis gangguannya pun lebih beragam. Rasio tertinggi ditemukan pada gangguan anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Dalam kedua gangguan yang terkait dengan masalah diet dan bobot tubuh itu, 90 persen terjadi pada perempuan. Disusul kemudian oleh fakta dua pertiga penderita gangguan cemas adalah perempuan. Setelah itu adalah gangguan depresi, di mana rasio perempuan dan laki-laki yang mengalaminya adalah dua berbanding satu. Belum lagi gangguan kepribadian histrionik dan dependen yang sampai disebut gangguan khas perempuan.
Jika penyakit-penyakit di atas sudah tergolong sebagai gangguan, dalam skala yang lebih ringan pun tercatat gambaran suram kondisi psikis perempuan. Sebut saja hasil penelitian yang menunjukkan harga diri (self-esteem) perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini khususnya bila perempuan ditanyakan perihal penampilan fisiknya. Bahkan secara umum disimpulkan kesejahteraan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kesejahteraan psikologis perempuan yang sudah lebih rendah ini semakin menurun setelah menikah dan melahirkan.



