A Feminist Psychologist’s Blog

April 9, 2008

Perempuan Jawa, Konco Wingking atau Sigaraning Nyawa?

Filed under: Les Pensées au Féminisme — by esterlianawati @ 6:04 am

Masyarakat Indonesia dikenal dengan sistemnya yang patriarkis meskipun sebenarnya terdapat variasi corak patriarki antar budaya. Salah satu masyarakat yang dikenal dengan kebudayaannya yang patriarkis adalah Jawa. Menurut Indrawati (2002), masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang memiliki pembatasan-pembatasan tertentu dalam relasi gender yang memperlihatkan kedudukan dan peran laki-laki yang lebih dominan dibanding perempuan. Hal ini didukung oleh Handayani dan Novianto (2004) yang menyatakan bahwa dalam budaya Jawa yang cenderung paternalistik, laki-laki memiliki kedudukan yang istimewa.

Indrawati menambahkan bahwa perempuan Jawa diharapkan dapat menjadi seorang pribadi yang selalu tunduk dan patuh pada kekuasaan laki-laki, yang pada masa dulu terlihat dalam sistem kekuasaan kerajaan Jawa (keraton). Hal ini senada dengan pendapat Widyastuti (2005) yang mengutip Kusujiarti, perempuan Jawa lebih banyak menjadi sasaran ideologi gender yang hegemonik yang menimbulkan subordinasi terhadap perempuan.

Istilah wanita itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wani ditata (berani ditata). Pengertian ini telah mencirikan adanya tuntutan kepasifan pada perempuan Jawa. Selain itu istilah putra mahkota (bukan putri mahkota), kawin paksa, dan babakan pingitan yang diberlakukan kepada perempuan yang akan menikah, ditangkap Widyastuti (2005) sebagai persoalan gender yang dihadapi perempuan Jawa.

Mulai dari awal pemilihan pasangan hidup, laki-laki Jawa biasanya disarankan untuk tidak memilih perempuan yang memiliki status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi. Selanjutnya dalam perkawinan, istilah kanca wingking, yakni bahwa perempuan adalah teman di dapur akan mewarnai kehidupan perkawinan pasutri Jawa. Konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun turut) juga menggambarkan posisi perempuan Jawa yang lemah sebagai seorang istri (Handayani dan Novianto, 2004).

Selain itu bagi masyarakat Jawa, perempuan sejati adalah perempuan yang tetap tampak lembut dan berperan dengan baik di rumah sebagai ibu maupun istri, di dapur maupun di tempat tidur. Masyarakat Jawa berharap perempuannya bersikap dan berperilaku halus, rela menderita, dan setia. Ia diharapkan dapat menerima segala sesuatu bahkan yang terpahit sekalipun.

Berkaitan dengan prinsip hormat, sedapat mungkin perempuan Jawa tidak tampil dalam sektor publik karena secara normatif perempuan tidak boleh melebihi suami. Kalaupun kemungkinan untuk tampil tersedia, perempuan Jawa diharapkan tidak menggunakan kesempatan itu jika dapat mengganggu harmoni kehidupan keluarga. Dalam konteks ini, istri tidak boleh mempermalukan suami. Istri harus selalu menghormati dan menghargai suami, menempatkan suami begitu tinggi, dan memenuhi segala kebutuhan suami.

Namun demikian, ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa sistem bilateral, dan bukan paternalistik, yang justru tampak dalam praktik hidup sehari-hari pada masyarakat Jawa. Sebagian orang menganggap perempuan Jawa memiliki kekuasaan yang tinggi mengingat sumbangannya yang umumnya cukup besar dalam ekonomi keluarga yang dicapai melalui partisipasi aktif mereka dalam kegiatan produktif (Widyastuti, 2005). Handayani & Novianto (2004) juga menyebutkan fungsi istri sebagai manajer rumah tangga justru membuat posisi kontrol perempuan Jawa menjadi lebih kuat.

Selain itu adanya konsep istri sebagai sigaraning nyawa, bukan sekedar konco wingking juga memberikan gambaran posisi yang sejajar dan lebih egaliter terhadap perempuan Jawa (Handayani & Novianto, 2004). Istilah konco wingking pun tidak selalu lebih rendah, tergantung bagaimana perempuan Jawa memaknainya. Sama seperti sutradara yang bekerja di belakang layar dan tidak pernah terlihat dalam filmnya tetapi dapat menentukan jalannya film.

Selain itu Handayani & Novianto juga berpendapat bahwa perempuan Jawa bukannya tidak memiliki otoritas pribadi. Hanya saja ia harus mencari cara agar kehendaknya terpenuhi tanpa mengacaukan harmoni dengan keluar dari tatanan budaya. Oleh karena itu pengabdian total perempuan Jawa merupakan strategi diplomasi untuk mempunyai otoritas dan mendapatkan apa yang menjadi harapannya. Jadi secara struktur formal, mereka terlihat tidak berpengaruh. Namun secara informal, pengaruh mereka sangat besar. Bahkan lama kelamaan suami yang akan tergantung kepada istrinya terutama secara emosional. Pada posisi inilah, perempuan Jawa akan banyak menentukan keputusan-keputusan dunia publik melalui suaminya.

Selain itu, Indrawati (2002) berpendapat saat ini memang telah terjadi pergeseran kedudukan dan relasi gender masyarakat Jawa. Menurutnya, modernisasi, emansipasi perempuan, dan masuknya pengaruh budaya Barat, telah menggeser pola relasi gender mengarah kepada persamaan derajat dan kedudukan. Sedikit banyak diperkirakan pergeseran pola relasi gender ini dapat pula mempengaruhi kehidupan perkawinan masyarakat Jawa meskipun belum ada penelitian empiris mengenai hal ini.

31 Comments »

  1. Kalau saya boleh memberi komen ( kebetulan saya orang Jogja, dan kedua ortu saya juga Jawa ), gak ada yang salah dengan pemberian istilah “konco wingking” ataupun “sigaraning nyowo” dengan penjelasan yang telah diberikan oleh mbak diatas. Saya bangga dengan wanita jawa yang berpendirian siap “wani di tata”, sepanjang sang suami tetap memberikan haknya istri. Bukan hak2 yang ditonjolkan kaum moderat. Saya bangga dengan ketaatan Ibu saya kepada Bapak saya. Wah…kagum saya sama mbak Esther…wawasan luas banget, salut deh.

    Comment by abiehakim — April 17, 2008 @ 7:18 am |Reply

  2. Sudah pernah baca “Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa” atau “Perempuan di titik nol” ?
    Saya nggak pernah selesai membacanya karena nggak tega.

    Btw, beberapa buku pelajaran yang saya peroleh dari luar (barat) juga masih banyak bias gender-nya koq.

    salam, depe

    Comment by Bintang Bangsaku — April 17, 2008 @ 6:10 pm |Reply

  3. Makasih ya Mas Abie buat koment-nya :) . Tdnya sy smpt mikir kl wnt Jawa itu semata-mata cuma pasif, tp tnyt stlh baca buku Kuasa Wanita Jawa, justru dlm kepasifannya itu ada power yg gak disadari… Salut utk perempuan Jawa, tmsk ibunya Mas Abie ;)

    Comment by esterlianawati — April 18, 2008 @ 6:11 am |Reply

  4. Salam kenal, Depe. Prempuan di titik nol dah kubaca. Kl Pengakuan Pariyem malah blum baca, gak nemu lg bukunya. Kl boleh dipinjemin, mau bgt, biar sy yg slsiin bacanya hehe.

    Comment by esterlianawati — April 18, 2008 @ 6:25 am |Reply

  5. met hari Kartini mbak, kayaknya mbak termasuk kategori Kartini juga.

    Comment by abiehakim — April 22, 2008 @ 4:54 am |Reply

  6. Mksh ya mas abie ;)

    Comment by esterlianawati — April 22, 2008 @ 5:07 am |Reply

  7. Salam , aku yulia.
    Mbak, aku tidak setuju dengan pendapat yang mbak kutip tentang “…..fungsi istri sebagai manajer rumah tangga justru membuat posisi kontrol perempuan Jawa menjadi lebih kuat….”
    Pada kenyataanya dalam rumah tangga pun, (pengalaman ku bergaul dengan orang jawa-aku bukan orang jawa) mereka diberikan uang untuk belanja, uang yang diberikan ini belum tentu sebagai posisi kontrol perempuan ataupun untuk manager rumah tangga, uang yang diberikan hanyalah untuk keperluan dapur dan lagi-lagi perempuan memang harus mengerjakan urusan dapur. Managemn rumah tangga sama sekali tidak, karena banyak laki2 jawa yang kutemui tidak ubahnya dengan penganut patrairkhi lainnya, mereka tetap berpengaruh dalam rumah tangga, bahkan dalam kasus mereka tidak bekerjapun, mereka tetap mampu menundukkan sang istri.
    perempuan not the others

    Comment by yuliasari — April 25, 2008 @ 3:33 am |Reply

  8. Salam, Mbak Yulia. Kl gak salah, tulisannya Handayani & Novianto itu didsrkan dr wawancaranya thd perempuan2 Jawa. Jd lbh menekankan penghayatan si perempuan Jawa itu sndr, yg jd subjek penelitiannya mrk. Kl mnrtku sih lbh mengacu ke posfeminis ato eksistensialis ya, jd tergantung gmn mrk memaknai kondisinya itu sndr. Sklpun ditmptkan sbgi objek tp mrk sndr ‘merasa’ mengendalikan. Kl aku setuju2 aja sama pndpt mrk, cuma jujur aja kl sekedar persepsi bhw kita mengendalikan emang gak cukup utk memperbaiki kondisi perempuan krn mnrtku engga mengubah struktur patriarkis nya itu sendiri.
    Makasih masukannya ya Mbak, jd dpt tmbhan info ttg kondisi yg dialami prmpuan Jawa lainnya selaen dr Handayani & Novianto itu ;)

    Comment by esterlianawati — April 25, 2008 @ 5:09 am |Reply

  9. yap mbk, aku setuju bahwa itu belum mampu bahkan tak kan mampu untuk mengubah struktur patriarkhis…

    Comment by yuliasari — April 25, 2008 @ 7:53 am |Reply

  10. halo mbak….’lam kenal sebelumnya. br pertama mampir, tp lgsg tcengang. postingannya dahsyat, hehehe….

    soal ini, aku kok jd inget pengalamanku bbrp bulan lalu. diajak ma pacar, menghadiri nikahan tetangga. kebtlan rumah dia di desa (walo kl desa juga benernya udah maju, jgn bayangin desa tertinggal gitu).

    acara ya berlangsung biasa, standing party, ada hiburan campur sari. tp heran, karena temen2 tetangganya pacar, kok yg dateng lakina semua. jd aku ga ada temen ngobrol.

    eh tahu keherananku, salah seorang mrk cerita, bhw di tmp mrk, emang adatnya beda dg dikota.jd kaum istri ga datang pas pesta nikahannya, mrk justru dtg pas seblm hari H, smb bawa buah tangan, sdkt bantu2. ga ilok alias gak pantes kl istri datang pas hari H, pas pestanya.

    ha ???? kontan aku melongo. sama2 di jogja, tp kok beda bgt dan baru tau ada adat kayak gt.
    waaaahhh….makin beratlah aku utk tinggal di situ….. :mrgreen:

    Comment by restlessangel — June 3, 2008 @ 10:54 am |Reply

  11. Lam kenal jg Mbak.. Hehe mksh pujiannya. Ditunggu jg kritik n sarannya ;)

    Wah, beragam sekale budaya kita ya, sama2 Jogya tp dah beda kulturnya jg. Trus gmn rasanya jd bidadari di antara pria2 itu hehe? :D

    Comment by esterlianawati — June 5, 2008 @ 12:20 pm |Reply

  12. [...] semakin kalian siksa diri dengan kalimat. klik wikipedia perempuan jawa, wikipedia batik jawa, klik perempuan jawa, [...]

    Pingback by Surat Cinta Teruntuk Perempuan Jawa « not just a story but creat my own hiStory — July 15, 2008 @ 10:05 am |Reply

  13. halo mbak…
    aku menemukan blogmu secara g sengaja, saat ini aku dalam keadaan bingung, lagi menyusun tesis ttg perempuan jawa dalam perkawinan, would u help me…terutama nyari subjek penelitiannya

    Comment by rahma — September 12, 2008 @ 4:04 am |Reply

  14. Hai Rahma, senang kl bisa membantu. Km bs ks tau kriteria subjek km spt apa, email aja ke esterlianawati@yahoo.com. Mgkn nanti bs sy bantu carikan subjeknya.

    Comment by esterlianawati — September 12, 2008 @ 4:44 am |Reply

  15. Mba aku mau tanya,
    kenapa dadang2 orang jawa selalu berpikir negatif dengan wanita sunda. Karena keluarga dari cowoku mempermasalahkan hal itu. Mau tanya, point penting apa yang bener2 harus saya pelajari mengenai kebudayaan jawa agar saya bisa masuk dan diterima oleh keluarga mereka, agar keluarga mereka tidak berpikir stereotip mengenai wanita sunda.
    Terima kasih..

    Comment by Lia — October 9, 2008 @ 12:53 am |Reply

  16. Hai Mbak Lia,

    Aku bisa rasain gak enaknya kondisi Mbak Lia skrg, ya dipandang negatif ama pihak keluarga cowo ‘hanya’ krn mslh kesukuan ..

    Memang kadang prasangka-prasangka negatif sering muncul krn mslh perbedaan suku, agama, dll. Kecenderungannya org sering menganggap kelompoknya yg paling okay, jd kelompok laen dianggap lbh rendah/buruk, dll.

    Terus terang aku kurang paham budaya Jawa. Dari keluargaku, hny satu nenekku yang asli Jawa. Tp dlm kaitannya dgn kesukuan, beliau pernah bilang, maaf sebelumnya, bahwa org Sunda sering dipandang materialistis. Tentunya ini sekedar stereotip. Tidak semua org Jawa akan berpikir spt itu ttg org Sunda. Dan bukan berarti org Sunda itu materialistis. Krn stereotip pada umumnya memang menyamakan seseorang berdasarkan kelompoknya, pdhl belum tentu seperti itu. Sygnya otak kita seringkali berpikir pake stereotip dlm menilai org krn memang stereotip mempermudah proses berpikir. Jadilah Batak diidentikkan dgn keras, Cina dengan pelit, dst.

    Sy tdk tahu bgmn pandangan keluarga cowo Mbak Lia itu ttg org Sunda. Mgkn ada baiknya Mbak cari tau lewat pacar Mbak. Atau tanyakan scr lebih spesifik apa yg tdk mereka sukai dr Mbak Lia. Bisa jadi mgkn sebenarnya tdk terkait dgn masalah suku. Tp apapun itu, dgn masukan itu Mbak Lia jg bisa lbh gampang menampilkan image positif yg mereka harapkan, asalkan tetap jd diri Mbak Lia sendiri tentunya.

    Dlm kaitannya dgn relasi, nenek sy sering mengajarkan bgmn caranya agar sy jd perempuan yg lembut, patuh, dan melayani suami. Kalau tidak suka, jgn katakan langsung tdk suka. Jgn terlalu menunjukkan bhw kita lebih tahu dr dia. Kdg2 perlu menyimpan apa yg kita ketahui spy dia gak merasa terancam. Dll. Thd orang tua jg harus menunjukkan sikap hormat, dsb. Jgn tertawa keras2 di hadapan mereka. Dll. Kl diliat-liat sih, mirip2 ama pendapat para penulis di atas yg ku-comot tulisannya itu :D Dan terus terang gak gampang melakukannya ;)

    Tp mnrt sy, bukan hanya orgtua Jawa yg mengharapkan calon menantunya tampil ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ spt itu. Lagipula tiap keluarga sebenarnya punya nilai yg berbeda-beda, sklpun mgkn dr suku yang sama. Jadi saya kira akan lbh baik kl Mbak mencari tau dulu nilai-nilai, kebiasaan2, dll, dalam keluarga cowo Mbak, apa yg mereka harapkan dr seorang calon menantu, dsb. Krn kadang memang utk hal-hal kecil saja, ortu suka merasa kurang sreg kl ada sikap/tindakan calon menantu yg berbeda dgn kebiasaan keluarga mereka.

    Buat Taufik, Mas Donny, Mas Abie, Mbak Mamik, dll yg lbh mengerti budaya Jawa, maukah kalian bantu kasi masukan buat Mbak Lia ini?

    Tengkyu sblmnya ya..

    Comment by esterlianawati — October 13, 2008 @ 8:14 am |Reply

  17. Buat Lia,

    keluhan anda tentang pandangan stereotype orang jawa terhadap sunda akan lebih baik bila dituliskan PERNYATAAN APA DARI KELUARGA COWOK ANDA TENTANG WANITA SUNDA.

    Tapi memang secara historis suku jawa dan sunda pernah konflik dalam PERANG BUBAT, yaitu ketika Gajahmada (Kerajaan Majapahit) berusaha menaklukkan Nusantara, termasuk kerajaan Siliwangi.

    Ceritanya begini: Dalam perang itu, di daerah Bubat, Gajahmada menawarkan perdamaian pada Prabu Siliwangi. Tapi di Bubat itu ternyata Gajahmada membantai prajurit-prajurit Siliwingi yang mau damai. Sejak itu sikap permusuhan dan dendam pada etnis Jawa tumbuh di etnis Sunda, sampai sekarang. Contoh anda tak akan menemukan JL. GAJAHMADA, Jl. HAYAM WURUK, JL. MAJAPAHIT, dll DI BANDUNG dan SEMUA KOTA DI JAWA BARAT (Kecuali DKI).

    Tapi belum tentu keluarga cowok jawamu berpikiran anti sunda seperti itu. Jadi tolong tuliskan dulu APA PERNYATAAN MEREKA SECARA SPECIFIK.

    Salam hangat,
    Donny Danardono (yang sangat kenal dan dikenal oleh Ester Lianawati)

    Comment by Donny Danardono — October 13, 2008 @ 8:36 am |Reply

  18. Kalo mau menengok sejarah mungkin bisa dikaitkan…
    mungkin pernah membaca perang bubat antara Majapahit dan kerajaan sunda dimana diawali dari Hayam Wuruk yang berniat mempersunting Dyah pitaloka dari kerajaan sunda yang akhirnya terjadi peperanga (perang Bubat)
    Akibat peristiwa itudi kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan ‘esti larangan ti kaluaran’, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

    Hihi…menarik nih mba Lia…
    Kenapa gw ga boleh pacaran ama orang sunda? Gw pernah menanyakan hal itu ke nyokap. Jawabannya: materialistis dan kurang sayang ama keluarga (mertua)/kurang mengakui.
    Menurut gw poin pentingnya ya…tunjukin kalo Mba ngga materialistis, dan tunjukin kalo mba tidak hanya menyayangi calon suami mba tapi menyayangi keluarganya…hehe
    …sering-seringlah berinteraksi…dengan keluarganya
    stereotip itu sangat-sangat kuat…di generasi ibu kita yah…kalopun anak2nya udah berpikiran terbuka tapi tetep kita butuh restu orang tua…

    Comment by opx — October 13, 2008 @ 8:55 am |Reply

  19. Hai Mbak Lia…
    Saya merasa bertambah pengetahuan saya tentang siapa dan apa itu perempuan jawa melalui blog yang Mbak Lia tulis.

    Kebetulan saya adalah mahasiswi yang sedang melakukan penelitian terhadap ‘perempuan jawa’ itu sendiri dalam sebuah film. Yang ingin saya tanyakan, apakah boleh saya mengetahui judul buku-buku yang Mbak Lia kutip dalam blog ini? Yang ditulis oleh Indrawati (2002), Handayani dan Novianto (2004), dan Widyastuti (2005).

    Saya sangat mengharapkan bantuannya Mbak. Dan sebelumnya, terima kasih buat perhatianny…
    Salam kenal…

    Alexandra Adyta

    Comment by Alexandra Adyta — October 21, 2008 @ 6:30 am |Reply

  20. Hai Alexandra,

    Salam kenal jg ya.

    Tulisan ini diambil dr :

    Widyastuti, S.H. (2005). Mengenal feminisme Jawa (Catatan awal dari beberapa karya sastra). Kejawen, Jurnal Kebudayaan Jawa 1.

    Handayani, C.S & Novianto, A. (2004). Kuasa wanita Jawa. Yogyakarta: LkiS.

    Indrawati, Y. (2006). Pergeseran konsep gender pada rumah tradisional Jawa Joglo. dari http://www.fsrd.itb.ac.id/?page_id=107.

    Ok, good luck ya..

    Comment by esterlianawati — October 21, 2008 @ 9:20 am |Reply

  21. Halo lagi…
    Perempuan jawa sebenarnya memiliki belenggu kuat, namun karena pendidikan dan akses yang cukup baik terhadap informasi dan perubahan perkembangan pemikiran maka kekakuan adat mulai dapat terbongkar. Setidaknya sudah banyak pemimpin perempuan asli jawa…
    Hanya beda lho antara memberikan kontribusi kuat dengan kesetaraan, bukankah itu semakin menjelaskan ketidakadilan ketika seorang perempuan jawa yang berhasil menopang kehidupan rumah tangganya namun tetap menjadikan laki-laki sebagai pemimpin? Dan “pengabdian total sebagai strategi diplomasi” merupakan nilai budaya itu sendiri, seolah-olah itulah nilai lebih perempuan ketika mengabdi kepada suami & keluarga. Bukankah itu merupakan ciri khas patriarkhis, dan cirikhas jawa juga yang selalu berusaha menghaluskan segala sesuatu demi keharmonisan. Keharmonisan yang menguntungkan penguasa tentunya hehe…jadi ingat pak Harto
    Ketika seorang perempuan jawa sebenarnya telah memiliki peran penting dan utama, kenapa hal tersebut harus menjadi informal…dan suaminya walau bodoh tetap menjadi pemimpin formal (meminjam istilahnya Handayani dan Noviyanto). Artinya sebagai seorang pemimpin, suami memiliki kekuasaan untuk melakukan hal-hal yang irasional, terutama bila ia merasa terpojok dengan istrinya, dan masyarakat menerima, karena dia pemimpin. Saya kira anda juga ndak mau diposisikan semacam itu yah mbak Ester…
    Tapi yang membuat runyam, sikap lembut dan keibuan perempuan jawa menciptakan persepsi lemah, tidak berdaya dan konco wingking itu tadi…
    Salam ya mbak Ester, tulisannya menarik2

    Comment by Kribo — October 23, 2008 @ 6:11 pm |Reply

  22. Halo jg,
    makasih ya. Koment2nya jg menarik, sy jd merasa dpt satu kesimpulan, yg pd akhirnya menjawab kebingungan sy sblmnya utk nyatuin atr ketdksetujuan n persetujuan sy sndr thd isi buku Kuasa Wanita Jawa-nya Handayani n Novianto itu. Thx a lot ;)

    Comment by esterlianawati — October 24, 2008 @ 9:04 am |Reply

  23. mba boleh kenal g?

    Comment by luthfi — October 28, 2008 @ 5:26 pm |Reply

  24. Boleh. Salam kenal ya ;)

    Comment by esterlianawati — October 29, 2008 @ 8:18 am |Reply

  25. Budaya dan adat biasanya bergerak dinamis seiring perubahan pola hidup masyarakat. Tapi entah mengapa falsafah hidup sering dibuat statis. Sebab apa yg disebut adiluhung biasanya mengacu yang telah lalu. Generasi sekarang dan besok cuma bisa ngekor untuk dimaknai sebagai penerus dan pelestari yang berbudi. Tak coba kritis, bukankah nilai-nilai itu semua berasal dari bentuk masyarakat agrikultural baheula yang seharusnya mengalami penyesuaian dengan kebutuhan masa kini? Saya yakin ini harus diperbaiki dan tidak serta merta harus dimatikan sebagai bentuk tanggungjawab generasi yang arif dan kritis.
    :)

    Comment by andohar purba — October 31, 2008 @ 3:19 am |Reply

  26. saya sependapat mba lia, bahwa penyebutan perempuan sebagai konco wingking, dan sigaran nyowo memang tidak sepenuhnya buruk seperti penafsiran yang ada pada masa sekarang. kalo diperkenankan berargumen, bentuk rumah pada waktu dulu tidak seperti pada masa sekarang. di jawa rumah tradisional, dapur letaknya memang terpisak dari rumah induk. dapur terletak dibelakang rumah dan seluruh bahan makan dan makanan tercipta dari sana. perempuan disebut konco wingking karena dalam falsafah jawa, perempuan dianggap sebagai rekan (garwa) (sigaraning nyawa/sisihan) dimana letak perempuan tidak dibelakang tapi, disamping. jadi jika perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki itu pendapat yang keliru. karena mamng perempuan punya peran yang berbedan dng lelaki. dalam sebuah buku pernah di tuliskan ada seorang suami yang mulai merasakan pekerjaan yang dirasakannya melelahkan. ia menggugat istrinya dengan berkata:” lebih enak istriku dirumah kerjaannya cuma ongkang-ongkang, sedangkan aku disini sibuk bekerja banting tulang. dan iapun berkata aku ingin menjadi seperti istriku saja. sepulang dirumah ia besikap ketus p[ada istri kemudian. pada pagi harinya ia terbangun dan ia tekaget-kaget melihat dirinya dalam tubuh istrinya. di pagi hari ia harus menyiapkan makan, menyiapkan anaknya, mencuci, menyetrika dlsb ia merasa lelah dan berkata…. Tuhan ternya pekerjaan istriku lebih berat dari pekerjaanku.”

    jadi tidak perlu menyalahkan peran masing2 dan menganggap diri lebih rendah atau tinggi dari orang lain tapi, bagaimana tercipta keselarasan dalam keluarga

    maturnuwun

    Comment by ernie — November 28, 2008 @ 5:09 am |Reply

  27. makasih mbak ernie buat masukannya :)

    Comment by esterlianawati — November 28, 2008 @ 8:41 am |Reply

  28. ya mbak ester, salam kenal…niy willy niy dr malaysia….kayaknya aku suka deh ama fakta2 d atas karna aku juga bingung emangnya kenapa sih masih wujud stereotip2 spt itu…maksudku pandangan yg terlalu mengikut-ikut…..kalo buruk terus buruk, kalo yang standar terus dipandang standar…….aku itu gak racist walaupun aku orang jawa yang smmgnya lahir d malaysia…kita manusia modern udah terbuka menerima siapa ja yang jadi tmen hidup, masalah suku bukan yg utama, karna ayahku yang berdarah jawa tidak mengajarku arti kesukuan,….yg penting hatinya baik…..mbak kalo mau liat foto aku…..di facebook ama friendster ya….salam kasih dr malaysia

    Comment by Willy Suriano Hariono — January 21, 2009 @ 10:40 pm |Reply

    • Hai willy, salam kenal jg.
      thx ya dah mampir n sharing di blogku.
      aku setuju dg pendapatmu itu.
      suku boleh saja jd identitas, tp bukan berarti memandang rendah atau negatif thd suku lain.
      nanti kuliat fotomu ya;)
      slam kasih jg dr indonesia :)

      Comment by esterlianawati — January 22, 2009 @ 8:33 am |Reply

  29. makasih banget ya mbak, aku itu hargai bgt keikhlasan mbak…jd sekarang aku mau kongsi bersama..bahawa sudah menjadi satu hal yg normal bhw setiap kaum ciptaan tuhan itu memiliki identitas tersendiri…jawa dgn jawanya, sunda dgn sundanya, batak dgn bataknya…..etc….Tuhan sengaja menciptakan kita untuk mengenali satu sama lain, nah, dari situ kita bisa mempelajari budaya setiap kaum atau suku di dunia, kita bisa belajar sensitivitas @ sensitivity setiap suku, kelemahan atau kekuatan setiap suku tapi bukan dgn tujuan menilai langsung atau menghukum….seharusnya kita belajar gimana untuk menangani permasalahan sesuatu suku, cara2 untuk mengambil hati mereka agar kita bisa mewarnai sesuatuperhubungan agar lebih harmonis….nah gitu dong!!! makasih banget!!!!!!!!

    Comment by willy suriano hariono — January 28, 2009 @ 7:43 am |Reply

    • hai willy, aku setuju sama kamu. keragaman itu ada utk memperkaya kita, bukan sbg alat utk saling merendahkan satu sama lain.
      thx ya :)

      Comment by esterlianawati — February 4, 2009 @ 7:31 am |Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Powered by WordPress.com