A Feminist Psychologist’s Blog

April 2, 2008

Kenapa Bisa Depresi?

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 10:12 am

Sebenarnya penyebab depresi dapat dipandang dari berbagai pendekatan, yaitu medis, psikologis, dan sosiokultural. Dalam tulisan ini akan dibahas penyebab depresi dari pandangan psikologi.

Menurut teori psikoanalisis, depresi dapat dialami oleh individu yang mengalami fiksasi pada tahap oral. Individu ini akan mengembangkan dependensi terhadap figur tertentu (awalnya ibu), dan memiliki mekanisme pertahanan berupa introyeksi. Dengan melakukan introyeksi, berarti individu menyerap hampir seluruh nilai, sikap, dan karakteristik dari figur tempatnya bergantung. Ketika orang yang dijadikan tempat bergantung ini tidak ada lagi (pergi atau meninggal dunia), maka individu ini menjadi marah. Kemarahannya sebenarnya ditujukan kepada orang tersebut. Namun dengan dependensi dan introyeksinya, individu tidak dapat mengungkapkan kemarahannya. Rasa marah tersebut malah ditujukan ke dalam diri (introjected hostility), sehingga menghasilkan kebencian terhadap diri yang akhirnya menimbulkan rasa putus asa (Freud, dikutip oleh Davison et al, 2004). 

Lebih lanjut, teori psikoanalisis menyatakan bahwa seseorang yang mengalami depresi akan menampilkan regresi ego superego. Ketika dihibur, ia akan menyadari bahwa yang dikatakan oleh orang yang menghiburnya itu benar. Sayangnya, ia akan mengalami regresi superego sehingga  tidak lama kemudian ia akan kembali mengeluh, merasa bersalah, lelah, tidak berdaya, dan sebagainya. Kondisi ini juga sering disebut dengan narcissistic supply, yakni bahwa penghiburan dari orang lain telah menyuplai kebutuhan individu yang mengalami depresi untuk mengagumi dirnya, merasa bahwa dirinya benar dan berguna (Kaplan & Sadock, 1991).

(more…)

Mengapa Lebih Banyak Perempuan Depresi Dibandingkan Laki-laki?

Filed under: La Psychologie des Femmes — by esterlianawati @ 5:20 am

Banyak penelitian menunjukkan jumlah perempuan yang mengalami depresi dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki (Nolen-Hoeksema, 2001). Bahkan sejumlah penelitian menemukan perempuan tiga kali lebih rentan terhadap depresi dibandingkan laki-laki (Neale, Davis, & Kring, 2004). Hal ini berlaku baik pada depresi ringan, sedang, maupun berat. Perbedaan gender ini ditemukan pada sejumlah negara, suku bangsa, dan seluruh tahap usia dewasa. Menariknya, Angold, Costello, dan Worthman (1998) tidak menemukan perbedaan gender ini pada anak-anak. Namun demikian, sekitar usia 14 atau 15 tahun, depresi pada remaja putri mulai meningkat, sedangkan pada remaja putra tetap stabil (Nolen-Hoeksema & Girgus, 1994).

Perubahan rasio pada usia 14 atau 15 tahun tersebut tampaknya terjadi sebagai dampak pubertas terhadap remaja putri. Remaja putri tampaknya kurang menyukai perubahan fisik mereka ketika beranjak remaja, khususnya mengenai pertambahan lemak tubuh. Perubahan fisik ini dapat menyebabkan remaja putri seringkali merasa malu dan menutup diri terhadap lingkungan. Berbeda dengan remaja putra yang menyukai peningkatan massa otot yang mereka alami seiring pubertas (Dornbusch, Carlsmith, Duncan, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001).

(more…)

Lansia, Depresi atau Tidak?

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 5:11 am

Menurut Papalia, Olds, dan Feldsman (2004) pada umumnya masyarakat memiliki stereotip negatif bahwa kebanyakan lansia mengalami depresi. Namun ternyata banyak penelitian menunjukkan hasil yang mengejutkan, yakni bahwa hanya sedikit lansia yang mengalami depresi. Ataupun jika mengalami, hanya dalam tingkat yang rendah (Nolen-Hoeksema, 2001).

Sedikitnya jumlah lansia yang terdeteksi mengalami depresi dapat terjadi karena beberapa hal. Pertama, masyarakat umumnya memandang depresi sebagai suatu hal yang negatif. Hal ini membuat lansia cenderung tidak melaporkan keadaan depresi yang mereka alami (Cohen-Cole & Stoudemire, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001). Kedua, diagnosis depresi pada lansia sulit dilakukan karena simtom depresi seringkali bercampur dengan penyakit medis yg serius. Hal ini senada dengan hasil penelitian Klerman & Weissman (dalam Nolen-Hoeksema, 2001) yang menyatakan bahwa gangguan depresi sering disertai dengan kesehatan fisik yang menurun. Pada akhirnya banyak penderita depresi yang meninggal dunia sebelum mencapai usia tua.
Faktor ketiga adalah hambatan kognitif yang dialami lansia seiring bertambahnya usia. Mengutip Robins & Regier, Nolen-Hoeksema (2001) menyatakan bahwa gejala-gejala hambatan kognitif pada tahap awal sulit dibedakan dengan gangguan depresi. Selanjutnya faktor keempat menampilkan pendapat yang lebih positif mengenai lansia, yakni seiring bertambahnya usia biasanya seseorang mengembangkan kemampuan mengatasi masalah (coping) yang semakin sehat dan adaptif. Hal ini memungkinkan lansia justru semakin sehat mental, bukan mengalami depresi sebagaimana prasangka yang selama ini ditujukan terhadap mereka (Elder, Liker, & Jaworski, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001).

Mengenali Depresi

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 4:27 am

Pengen tahu kita depresi ato engga, saya coba tulis jenis en karakteristiknya dalam tulisan ini. Selamat mendiagnosis diri sendiri :)  

Jenis Depresi
Depresi merupakan salah satu jenis gangguan suasana hati (mood disorder). Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Text Revised (DSM IV TR), depresi dapat terbagi lagi menjadi gangguan depresi berat dan dysthymic (APA, 2000). Gangguan depresi berat itu sendiri terdiri dari beberapa sub jenis, yaitu kategori ringan, sedang, berat, dan parah. Gangguan depresi berat tipe parah dicirikan oleh fitur psikotik berupa delusi dan atau halusinasi.

Karakteristik
Untuk dapat dikatakan gangguan depresi berat (major depressive disorder), seseorang harus mengalami satu atau lebih episode depresi berat. Satu episode depresi berat berlangsung dalam kurun waktu dua minggu. DSM IV TR memaparkan sejumlah kriteria yang harus terpenuhi untuk dapat mendiagnosis seseorang mengalami episode depresi berat, yaitu 5 (atau lebih) kriteria berikut ini :
a) Suasana hati depresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari,
b) Hilangnya minat atau kegembiraan dalam hampir setiap aktivitas
c) Berat badan menurun secara signifikan atau kelebihan berat badan (misalnya perubahan berat badan lebih dari 5 % dalam sebulan), atau penurunan atau peningkatan selera makan hampir setiap hari. Pada anak, depresi dapat diindikasikan dari kegagalan anak mencapai berat badan yang seharusnya.
d) Insomnia (sulit tidur) atau hipersomnia (banyak tidur) hampir setiap hari.
e) Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (harus terlihat oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif)
f) Merasa lelah atau hilang energi hampir setiap hari
g) Merasa diri tidak berguna atau perasaan bersalah yang tidak sesuai atau berlebihan hampir setiap hari
h) Menurunnya kemampuan berpikir atau berkonsentrasi, ketidakmampuan mengambil keputusan, hampir setiap hari.
i) Pemikiran yang berulang mengenai kematian (bukan hanya sekedar takut mati)
j) Ide bunuh diri yang berulang tanpa adanya rencana spesifik, atau usaha bunuh diri atau rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri.

(more…)

Powered by WordPress.com