A Feminist Psychologist’s Blog

April 24, 2008

Menjadi Perempuan yang Sejahtera

Filed under: La Psychologie des Femmes — by esterlianawati @ 7:33 am

One is not born, but rather becomes a woman.

Membaca hasil-hasil penelitian psikologi terkini dalam momentum perayaan Hari Kartini seperti saat ini, hati saya menjadi miris. Bagaimana tidak, setelah satu abad lebih perjuangan Kartini, masih saja tercatat kondisi perempuan yang kurang menyenangkan. Lebih buruk lagi, kondisi negatif ini terletak pada psike (jiwa), bagian diri manusia yang paling menentukan keberfungsiannya.

Jurnal-jurnal psikologi mencatat jumlah perempuan yang mengalami gangguan psikologis lebih banyak dibandingkan laki-laki dan jenis gangguannya pun lebih beragam. Rasio tertinggi ditemukan pada gangguan anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Dalam kedua gangguan yang terkait dengan masalah diet dan bobot tubuh itu, 90 persen terjadi pada perempuan. Disusul kemudian oleh fakta dua pertiga penderita gangguan cemas adalah perempuan. Setelah itu adalah gangguan depresi, di mana rasio perempuan dan laki-laki yang mengalaminya adalah dua berbanding satu. Belum lagi gangguan kepribadian histrionik dan dependen yang sampai disebut gangguan khas perempuan.

Jika penyakit-penyakit di atas sudah tergolong sebagai gangguan, dalam skala yang lebih ringan pun tercatat gambaran suram kondisi psikis perempuan. Sebut saja hasil penelitian yang menunjukkan harga diri (self-esteem) perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini khususnya bila perempuan ditanyakan perihal penampilan fisiknya. Bahkan secara umum disimpulkan kesejahteraan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kesejahteraan psikologis perempuan yang sudah lebih rendah ini semakin menurun setelah menikah dan melahirkan.

(more…)

April 11, 2008

The Hottest Wife

Filed under: Les Poésies — by esterlianawati @ 5:15 am

I wanna be the hottest wife
For you, my only husband
Not only in our bed, but also in our heart
So you can take me whereever you are
And you don’t need to have another one

I’ll try the new hot recipe in our kitchen
So you can taste my taste
Though you’re surrounded by another taste
And u’re not gonna tempted by the other taste
Neither you’re gonna taste another taste
Even my taste isn’t the best

I’ll try the new hot positions of making love,
Not the new ones of having sex
So I’ll give you the multiple kind of orgasms
Not only the multiple one

I’ll stimulate you intelectually,
Psychologically,
Spiritually,
And of course physiologically
Not only whenever you want it
But also whenever I want it
Coz my hottest style can fire you up all the time

I’ll serve you but won’t surrender to you
Coz my love to you isn’t sacrifice
But I give it to you with all my heart
And someday if they ask you about me
You won’t be confused then say, “She is a good wife.”
But you’d be proud to tell them,
” She’s my flame in my whole life,
She’s given the hottest things to make me flames”

–Inspired by the hot chat in the hot day– 

;)   

 

April 9, 2008

Perempuan Jawa, Konco Wingking atau Sigaraning Nyawa?

Filed under: Les Pensées au Féminisme — by esterlianawati @ 6:04 am

Masyarakat Indonesia dikenal dengan sistemnya yang patriarkis meskipun sebenarnya terdapat variasi corak patriarki antar budaya. Salah satu masyarakat yang dikenal dengan kebudayaannya yang patriarkis adalah Jawa. Menurut Indrawati (2002), masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang memiliki pembatasan-pembatasan tertentu dalam relasi gender yang memperlihatkan kedudukan dan peran laki-laki yang lebih dominan dibanding perempuan. Hal ini didukung oleh Handayani dan Novianto (2004) yang menyatakan bahwa dalam budaya Jawa yang cenderung paternalistik, laki-laki memiliki kedudukan yang istimewa.

Indrawati menambahkan bahwa perempuan Jawa diharapkan dapat menjadi seorang pribadi yang selalu tunduk dan patuh pada kekuasaan laki-laki, yang pada masa dulu terlihat dalam sistem kekuasaan kerajaan Jawa (keraton). Hal ini senada dengan pendapat Widyastuti (2005) yang mengutip Kusujiarti, perempuan Jawa lebih banyak menjadi sasaran ideologi gender yang hegemonik yang menimbulkan subordinasi terhadap perempuan.

Istilah wanita itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wani ditata (berani ditata). Pengertian ini telah mencirikan adanya tuntutan kepasifan pada perempuan Jawa. Selain itu istilah putra mahkota (bukan putri mahkota), kawin paksa, dan babakan pingitan yang diberlakukan kepada perempuan yang akan menikah, ditangkap Widyastuti (2005) sebagai persoalan gender yang dihadapi perempuan Jawa.

(more…)

La Saison des Pluies

Filed under: Les Poésies — by esterlianawati @ 5:46 am

Tuanku Lelaki Enam Puluh
Enggan kau sebut siapa dirimu
Sibuk kau tanya tentang diriku
Tak kau jawab keraguanku
Kau alihkan semua itu
Dengan getir senyum terkulum

Hidupmu seperti Tao
Dalam mobil berserak uang
Kadang seperti Judge Bao
Adili penguasa negeri
Bobrok moral tak bernurani
Dalam getir senyum dikulum

(more…)

If I Had My Child to Raise All Over Again

Filed under: La Vie Quotidienne — by esterlianawati @ 5:33 am

This is Diane Looman’s poem. Check this out before raising our children.

Hopefully we’ll never regret our parenting style later. ;)

If I had my child to raise all over again
I’d finger paint more, and point the finger less
I’d do less correcting, and more connecting
I’d take my eyes off my watch, and watch with my eyes
I would care to know less, and know to care more
I’d take more hikes and fly more kites
I’d stop playing serious, and seriously play
I would run through more fields, and gaze at more stars
I’d do more hugging, and less tugging
I would be firm less often, and affirm much more
I’d build self-esteem first, and the house later
I’d teach less about the love of power,
and more about the power of love.

April 2, 2008

Kenapa Bisa Depresi?

Filed under: Les Pensées à la Psychologie — by esterlianawati @ 10:12 am

Sebenarnya penyebab depresi dapat dipandang dari berbagai pendekatan, yaitu medis, psikologis, dan sosiokultural. Dalam tulisan ini akan dibahas penyebab depresi dari pandangan psikologi.

Menurut teori psikoanalisis, depresi dapat dialami oleh individu yang mengalami fiksasi pada tahap oral. Individu ini akan mengembangkan dependensi terhadap figur tertentu (awalnya ibu), dan memiliki mekanisme pertahanan berupa introyeksi. Dengan melakukan introyeksi, berarti individu menyerap hampir seluruh nilai, sikap, dan karakteristik dari figur tempatnya bergantung. Ketika orang yang dijadikan tempat bergantung ini tidak ada lagi (pergi atau meninggal dunia), maka individu ini menjadi marah. Kemarahannya sebenarnya ditujukan kepada orang tersebut. Namun dengan dependensi dan introyeksinya, individu tidak dapat mengungkapkan kemarahannya. Rasa marah tersebut malah ditujukan ke dalam diri (introjected hostility), sehingga menghasilkan kebencian terhadap diri yang akhirnya menimbulkan rasa putus asa (Freud, dikutip oleh Davison et al, 2004). 

Lebih lanjut, teori psikoanalisis menyatakan bahwa seseorang yang mengalami depresi akan menampilkan regresi ego superego. Ketika dihibur, ia akan menyadari bahwa yang dikatakan oleh orang yang menghiburnya itu benar. Sayangnya, ia akan mengalami regresi superego sehingga  tidak lama kemudian ia akan kembali mengeluh, merasa bersalah, lelah, tidak berdaya, dan sebagainya. Kondisi ini juga sering disebut dengan narcissistic supply, yakni bahwa penghiburan dari orang lain telah menyuplai kebutuhan individu yang mengalami depresi untuk mengagumi dirnya, merasa bahwa dirinya benar dan berguna (Kaplan & Sadock, 1991).

(more…)

Mengapa Lebih Banyak Perempuan Depresi Dibandingkan Laki-laki?

Filed under: La Psychologie des Femmes — by esterlianawati @ 5:20 am

Banyak penelitian menunjukkan jumlah perempuan yang mengalami depresi dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki (Nolen-Hoeksema, 2001). Bahkan sejumlah penelitian menemukan perempuan tiga kali lebih rentan terhadap depresi dibandingkan laki-laki (Neale, Davis, & Kring, 2004). Hal ini berlaku baik pada depresi ringan, sedang, maupun berat. Perbedaan gender ini ditemukan pada sejumlah negara, suku bangsa, dan seluruh tahap usia dewasa. Menariknya, Angold, Costello, dan Worthman (1998) tidak menemukan perbedaan gender ini pada anak-anak. Namun demikian, sekitar usia 14 atau 15 tahun, depresi pada remaja putri mulai meningkat, sedangkan pada remaja putra tetap stabil (Nolen-Hoeksema & Girgus, 1994).

Perubahan rasio pada usia 14 atau 15 tahun tersebut tampaknya terjadi sebagai dampak pubertas terhadap remaja putri. Remaja putri tampaknya kurang menyukai perubahan fisik mereka ketika beranjak remaja, khususnya mengenai pertambahan lemak tubuh. Perubahan fisik ini dapat menyebabkan remaja putri seringkali merasa malu dan menutup diri terhadap lingkungan. Berbeda dengan remaja putra yang menyukai peningkatan massa otot yang mereka alami seiring pubertas (Dornbusch, Carlsmith, Duncan, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001).

(more…)

Next Page »

Powered by WordPress.com