Psikologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat dikatakan androsentris. Psikologi berdiri dan berkembang oleh para ilmuwan laki-laki. Teori-teori dasarnya pun diambil dari kehidupan laki-laki. Misalkan saja Erik Erikson yang mengemukakan teori perkembangan manusia padahal penelitiannya hanya didasarkan pada kehidupan tiga remaja laki-laki[1]. Atau jika teori itu didasarkan pada kehidupan perempuan, yang diambil adalah pasien perempuan yang neurotik. Misalnya saja teori besar dari Sigmund Freud yang didasarkan pada kehidupan pasien-pasien perempuannya yang neurotik[2]. Namun teori ini justru dijadikan salah satu teori utama dalam psikologi.
Dalam perkembangannya, psikologi kemudian melihat ketimpangan-ketimpangan gender dalam ilmunya. Psikologi berusaha melihat lebih jauh, dan sebenarnya ini sudah dimulai sejak 1876 ketika Mary Putman Jacobi menyatakan bahwa perempuan membutuhkan istirahat fisik dan mental secara khusus saat menstruasi[3]. Disusul kemudian oleh Helen Thompson Wooley, Leta Stetter Hollingworth, dan masih banyak lagi psikolog feminis lainnya. Mereka perlahan mulai membuka jalan untuk teori-teori psikologi mengenai perempuan dikaji ulang meskipun pengkajian ini sulit dilaksanakan. Bahkan sekitar akhir tahun 1970-an, Erik Erikson masuk dengan teori barunya mengenai perkembangan manusia, yang kini bahkan begitu populer di kalangan psikologi perkembangan. (more…)



