Tatapanmu
Coba temukan diriku
Ku tatap kau
Coba temukan dirimu
Damai di sisimu
Meski sekejap hadirmu
Takkan terungkap rasa itu
Ku tertunduk, kau membisu
Aku malu, kau ragu
Oh budaya macam apa ini
Hambatku ucapkan rasa galau hati
Aku letih bentengi diri
Tahukah kau, aku suka kamu
Kata orang jatuh cinta itu berjuta rasanya. Namun jangan salah, jutaan rasa itu tidak selalu menyenangkan. Menurut penelitian, sebenarnya kita engga nyaman saat jatuh cinta. Kenapa sih begitu? Karena kita punya harapan besar untuk cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan. Sementara di sisi lain,orang yang lagi PDKT biasanya di lubuk hatinya itu dia minder banget. Hal ini disebabkan kekhawatiran orang jatuh cinta akan ditolak sama besarnya dengan harapannya untuk diterima. Akhirnya yang ada adalah bermain tebak-tebakan apakah orang yang kita suka itu suka juga gak sih sama kita.
Kita sibuk memikirkan dengan detil sikap dan perilakunya untuk coba memahami isi hatinya. Mmm waktu lagi dia begitu itu tandanya apa ya, terus kalau dia melakukan yang itu berarti apa ya. Padahal sering terjadi kita salah menafsirkan perilaku orang lain. Karena tiap orang itu berbeda. Orang yang dasarnya penuh perhatian akan jauh lebih sulit untuk ditebak. Kita malah bisa jadi dianggap ke-GR-an karena ternyata dia emang perhatian sama semua orang. Ada pula orang yang dari sananya cuek dan emang sulit kasi perhatian, kita bisa aja jadi mikir dia gak naksir ama kita saking cueknya orang itu.
(more…)
Putri putra dari rahimnya
Buah dari rasa tak bermakna
Utuh menyandang dirimu
Melebihkan dia dari padaku
Dimilikinya tubuhmu
Menatapnya bilamana mau
Menyentuh tiap hasrat memacu cepat
Dia di sisimu, di hadapanmu
Di tempat yang sama
Tiap kau baringkan ragamu
Ku di sini, kacau dan galau,
Sendiri berbaring aku
(more…)
Duh susahnya dapat tiket untuk nonton film Ayat-ayat Cinta. Bahkan sampai di bioskop yang biasanya sepi pengunjung pun, saya tetap sulit mendapatkan tiketnya. Awalnya saya tidak tertarik untuk menonton film ini. Saya ingat sempat membaca novelnya beberapa halaman pertama dan langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan membacanya. Entah mengapa saat itu saya merasa cara penuturan dalam bukunya agak membosankan.
Film ini bertutur tentang cinta, perasaan, jodoh, relasi laki-laki dan perempuan, yang tentunya sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Konflik yang dibangun memang menarik, cukup membangkitkan kebingungan harus bersimpatik pada tokoh yang mana, dan ditutup dengan sangat menyentuh. Film ini menghentakkan tentang nilai-nilai yang sebenarnya universal dan tidak melekat pada satu agama tertentu. Film ini mengajarkan bagaimana menjalani hidup, menyelesaikan konflik, dan menghadapi konsekuensi-konsekuensi atas tindakan yang kita perbuat.
(more…)
Psikologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat dikatakan androsentris. Psikologi berdiri dan berkembang oleh para ilmuwan laki-laki. Teori-teori dasarnya pun diambil dari kehidupan laki-laki. Misalkan saja Erik Erikson yang mengemukakan teori perkembangan manusia padahal penelitiannya hanya didasarkan pada kehidupan tiga remaja laki-laki[1]. Atau jika teori itu didasarkan pada kehidupan perempuan, yang diambil adalah pasien perempuan yang neurotik. Misalnya saja teori besar dari Sigmund Freud yang didasarkan pada kehidupan pasien-pasien perempuannya yang neurotik[2]. Namun teori ini justru dijadikan salah satu teori utama dalam psikologi.
Dalam perkembangannya, psikologi kemudian melihat ketimpangan-ketimpangan gender dalam ilmunya. Psikologi berusaha melihat lebih jauh, dan sebenarnya ini sudah dimulai sejak 1876 ketika Mary Putman Jacobi menyatakan bahwa perempuan membutuhkan istirahat fisik dan mental secara khusus saat menstruasi[3]. Disusul kemudian oleh Helen Thompson Wooley, Leta Stetter Hollingworth, dan masih banyak lagi psikolog feminis lainnya. Mereka perlahan mulai membuka jalan untuk teori-teori psikologi mengenai perempuan dikaji ulang meskipun pengkajian ini sulit dilaksanakan. Bahkan sekitar akhir tahun 1970-an, Erik Erikson masuk dengan teori barunya mengenai perkembangan manusia, yang kini bahkan begitu populer di kalangan psikologi perkembangan. (more…)
Kau satu-satunya
Pahami liar pikiran
Mendesak, menuntut
Menentang, mempertanyakan
Tetap kau nIkmati
Konvensionalitas perempuan
Resistensi kealamian
Mengabdi, melayani
Tiap hembusan nafas
Tiap detak jantungnya
(more…)
Feminisme posmodern (postmodern feminism) adalah sebuah pendekatan terhadap teori feminis yang memadukan teori posmodern dan postrukturalisme. Para tokoh feminisme ini menghindari istilah-istilah yang mengisyaratkan adanya suatu kesatuan yang membatasi perbedaan. Mereka menolak untuk mengembangkan penjelasan dan penyelesaian yang menyeluruh mengenai opresi terhadap perempuan. Meskipun hal ini menghadirkan masalah besar bagi teori feminis, namun penolakan ini juga memperkaya pluralitas dalam feminisme.
Feminis posmodern mengundang setiap perempuan yang berefleksi dalam tulisannya untuk menjadi feminis dengan cara yang diinginkannya. Tidak ada satu rumusan tertentu untuk menjadi ‘feminis yang baik’. Pada dasarnya feminisme posmodern memang menentang karakterisasi. Namun demikian, sebenarnya kita dapat menemukan satu tema atau orientasi yang sama pada konsep-konsep yang ditawarkan para feminis posmodern. Tema tersebut yaitu bahwa seksualitas dikonstruksi oleh bahasa; pengalaman manusia terletak pada bahasa, termasuk di dalamnya adalah mengenai opresi terhadap perempuan yang bersumber pada bahasa. Karena kekuasaan (power) terjadi melalui bahasa yang telah membatasi realitas manusia. Oleh karena sumber opresi adalah bahasa, maka lewat bahasa pula kita dapat mengatasi opresi terhadap perempuan. (more…)