Di batasku kini ku berdiri
Tak tahan lagi
Keangkuhan diri
Sia sudah melayani
Tiada arti mengabdi
Ketidaksempurnaan manusiawi
Kesalahan ditoleransi
Cinta, lagi, dan lagi
Berjuta maaf penuh kasih
Di batasku kini ku berdiri
Tak tahan lagi
Keangkuhan diri
Sia sudah melayani
Tiada arti mengabdi
Ketidaksempurnaan manusiawi
Kesalahan ditoleransi
Cinta, lagi, dan lagi
Berjuta maaf penuh kasih
Cahaya menyorot tubuhmu
Telagamu temui pandangku
Senyum membuncah di wajahmu
Tertawan hatiku sejak itu
Dalam sebuah sesi perkuliahan 12 tahun lalu, Bpk. Mikhael Dua, pengajar saya saat itu, mengutip dua buah syair untuk menjelaskan perbedaan budaya Timur dan Barat. Saya menyukai syair itu sejak pertamakali membacanya dalam buku yang disarankan Bpk. Mikhael Dua.
Syair pertama ditulis oleh Basho, seorang penyair dari Jepang :
Ketika saya mengamati dengan hati-hati
Saya melihat bunga nazuna sedang mekar
Dekat pagar
Puisi yang diciptakan Basho tersebut akan sangat berbeda maknanya dengan puisi yang dibuat Tennyson berikut ini :
Bunga di sela tembok tua
Aku cabut kau dari sana
Kugenggam kau di sini, sebagian dan semuanya
Dalam tanganku
Udah lebih dari sebulan ini, hujan mengguyur Jakarta. Sebenarnya saya tidak masalah berhujan-hujan ria, en malah bisa dibilang saya suka maen air hujan
Tapi saya benci banget kalo hujan datang saat saya ingin berangkat kerja atau melakukan aktivitas lainnya, atau saat saya membawa barang2 yang gak boleh kena air hujan.
Sayangnya justru itu yang terjadi, tiap kali saya pengen keluar rumah, hujan malah deras dan jalanan juga udah tergenang air di depan rumah. Yang lebih menyebalkan, kendaraan yang lewat kadang gak berempati. Entah sudah berapa kali pakaian saya kotor gara-gara mobil/motor/bajaj dll yang seenaknya saja ngebut melintasi genangan air.
Sejak kemunculan sebuah buku berjudul Bridget Jones’s Diary pada tahun 1997, istilah chick lit[1] mulai dikenal. Buku ini menjadi buku terlaris di negara asalnya pada saat itu, yakni Inggris. Sejak itu buku-buku serupa bermunculan, tidak hanya di negara asalnya tetapi juga merambah ke Amerika Serikat.
Di kedua negara tersebut, chick lit mendapatkan mencatat angka fantastis dalam penjualan. Bridget Jones’s Diary bahkan terjual sebanyak 10 juta kopi dalam kurun waktu lima tahun sejak pertama kali diterbitkan. Sejak kemunculannya, buku karya penulis terkenal seperti John Grisham dan Tom Clancy menurun angka penjualannya. Novel romantis seperti Harlequin juga mengalami penurunan angka penjualan yang drastis (Marsh, 2002). Sampai-sampai Harlequin merasa perlu untuk meluncurkan Red Dress Ink, yaitu divisi khusus yang menerbitkan buku serupa chick lit.
Depuis que Bridget Jones’ Diary (L’agenda de Bridget Jones) a publié en 1997 a Londres, le monde international commençait à savoir la chick lit. Chick ou nana en Français, fait allusion à la jeune femme. Il est mot simple pour une femme. Lit fait allusion à la littérature. Donc la chick lit est la littérature simple et doux pour les jeunes femmes. Elle parle de la vie des femmes qui sont jeunes, cosmopolites, et célibataires.
Time after time I tell myself
That I’m so lucky to be loving you
So lucky to be the one you run to see
In the evening when the day is through
I only know what I know
The passing years will show
You’ve kept my love so young, so new
And time after time
You’ll hear me say
That I’m so lucky to be loving you
Hari Valentine (Valentine’s day) awalnya ditetapkan untuk menghormati Santo Valentine yang mati martir pada tanggal 14 Februari. Perayaan ini tidak dikaitkan dengan unsur cinta sampai pada tahun 1382, seorang penyair dari Inggris, Geoffrey Chaucer, membuat puisi yang menyatakan tanggal 14 Februari adalah hari ketika burung-burung memilih pasangan.
Sejak itu, Valentine identik dengan cinta dan dirayakan dengan pemberian hadiah. Bunga dan cokelat dijadikan sebagai simbol cinta, membuat keduanya laris manis menjelang Valentine. Dan setelah Esther Rowland memproduksi kartu Valentine untuk pertama kalinya pada tahun 1847, milyaran kartu Valentine terjual setiap tahunnya, menempati posisi kedua terbesar setelah kartu Natal.
Perayaan hari Valentine menunjukkan satu hal : cinta masih menjadi topik penting, jika bukan yang terpenting, bagi banyak orang. Sejumlah pakar pun telah berusaha mendefinisikan cinta. Namun apapun definisinya, tampaknya lebih penting untuk memperhatikan bagaimana menjaga cinta. Karena berdasarkan survei pasar, kartu dan hadiah Valentine dikirimkan terbanyak oleh pasangan yang belum ataupun yang baru menikah.
Kebanyakan orang mengatakan merasa tidak pantas lagi merayakan hal-hal seperti Valentine karena masalah usia yang sudah menua. Namun ternyata semakin lama pasangan itu bersama, semakin rendah frekuensi mereka merayakan Valentine, terlepas dari berapapun usia mereka. Jadi permasalahannya tidak terletak pada usia masing-masing, melainkan pada usia hubungan itu sendiri. Tampaknya cinta tidak lagi dirasa menggebu setelah hubungan berjalan sekian lama. Lantas menjadi pertanyaan tidak dapatkah kita menjaga api cinta tidak memudar?
Powered by WordPress.com