A Feminist Psychologist’s Blog

February 26, 2008

Batasku

Filed under: Les Poésies — by esterlianawati @ 8:14 am

Di batasku kini ku berdiri

Tak tahan lagi

Keangkuhan diri

Sia sudah melayani

Tiada arti mengabdi

Ketidaksempurnaan manusiawi

Kesalahan ditoleransi

Cinta, lagi, dan lagi

Berjuta maaf penuh kasih

(more…)

February 25, 2008

Perjalanan Kita

Filed under: Les Poésies — by esterlianawati @ 6:15 am

Cahaya menyorot tubuhmu

Telagamu temui pandangku

Senyum membuncah di wajahmu

Tertawan hatiku sejak itu

(more…)

Menikmati dengan Kontemplatif

Filed under: La Vie Quotidienne — by esterlianawati @ 5:43 am

Dalam sebuah sesi perkuliahan 12 tahun lalu, Bpk. Mikhael Dua, pengajar saya saat itu, mengutip dua buah syair untuk menjelaskan perbedaan budaya Timur dan Barat. Saya menyukai syair itu sejak pertamakali membacanya dalam buku yang disarankan Bpk. Mikhael Dua.

Syair pertama ditulis oleh Basho, seorang penyair dari Jepang :

Ketika saya mengamati dengan hati-hati

Saya melihat bunga nazuna sedang mekar

Dekat pagar

Puisi yang diciptakan Basho tersebut akan sangat berbeda maknanya dengan puisi yang dibuat Tennyson berikut ini :

Bunga di sela tembok tua

Aku cabut kau dari sana

Kugenggam kau di sini, sebagian dan semuanya

Dalam tanganku

(more…)

February 22, 2008

Hujan

Filed under: La Vie Quotidienne — by esterlianawati @ 9:02 am

Udah lebih dari sebulan ini, hujan mengguyur Jakarta. Sebenarnya saya tidak masalah berhujan-hujan ria, en malah bisa dibilang saya suka maen air hujan :D Tapi saya benci banget kalo hujan datang saat saya ingin berangkat kerja atau melakukan aktivitas lainnya, atau saat saya membawa barang2 yang gak boleh kena air hujan.

Sayangnya justru itu yang terjadi, tiap kali saya pengen keluar rumah, hujan malah deras dan jalanan juga udah tergenang air di depan rumah. Yang lebih menyebalkan, kendaraan yang lewat kadang gak berempati. Entah sudah berapa kali pakaian saya kotor gara-gara mobil/motor/bajaj dll yang seenaknya saja ngebut melintasi genangan air.

(more…)

February 19, 2008

Chick Lit, Postfeminism or Backlash Feminism?

Sejak kemunculan sebuah buku berjudul Bridget Jones’s Diary pada tahun 1997, istilah chick lit[1] mulai dikenal. Buku ini menjadi buku terlaris di negara asalnya pada saat itu, yakni Inggris. Sejak itu buku-buku serupa bermunculan, tidak hanya di negara asalnya tetapi juga merambah ke Amerika Serikat.

Di kedua negara tersebut, chick lit mendapatkan mencatat angka fantastis dalam penjualan. Bridget Jones’s Diary bahkan terjual sebanyak 10 juta kopi dalam kurun waktu lima tahun sejak pertama kali diterbitkan. Sejak kemunculannya, buku karya penulis terkenal seperti John Grisham dan Tom Clancy menurun angka penjualannya. Novel romantis seperti Harlequin juga mengalami penurunan angka penjualan yang drastis (Marsh, 2002). Sampai-sampai Harlequin merasa perlu untuk meluncurkan Red Dress Ink, yaitu divisi khusus yang menerbitkan buku serupa chick lit.

(more…)

La Chick Lit

Filed under: Les Pensées au Féminisme — by esterlianawati @ 6:04 am
Tags: , , , ,

Depuis que Bridget Jones’ Diary (L’agenda de Bridget Jones) a publié en 1997 a Londres, le monde international commençait à savoir la chick lit. Chick ou nana en Français, fait allusion à la jeune femme. Il est mot simple pour une femme. Lit fait allusion à la littérature. Donc la chick lit est la littérature simple et doux pour les jeunes femmes. Elle parle de la vie des femmes qui sont jeunes, cosmopolites, et célibataires.

(more…)

February 14, 2008

Merentang Waktu, Merawat Cinta

Time after time I tell myself

That I’m so lucky to be loving you

So lucky to be the one you run to see

In the evening when the day is through

I only know what I know

The passing years will show

You’ve kept my love so young, so new

And time after time

You’ll hear me say

That I’m so lucky to be loving you

Hari Valentine (Valentine’s day) awalnya ditetapkan untuk menghormati Santo Valentine yang mati martir pada tanggal 14 Februari. Perayaan ini tidak dikaitkan dengan unsur cinta sampai pada tahun 1382, seorang penyair dari Inggris, Geoffrey Chaucer, membuat puisi yang menyatakan tanggal 14 Februari adalah hari ketika burung-burung memilih pasangan.

Sejak itu, Valentine identik dengan cinta dan dirayakan dengan pemberian hadiah. Bunga dan cokelat dijadikan sebagai simbol cinta, membuat keduanya laris manis menjelang Valentine. Dan setelah Esther Rowland memproduksi kartu Valentine untuk pertama kalinya pada tahun 1847, milyaran kartu Valentine terjual setiap tahunnya, menempati posisi kedua terbesar setelah kartu Natal.

Perayaan hari Valentine menunjukkan satu hal : cinta masih menjadi topik penting, jika bukan yang terpenting, bagi banyak orang. Sejumlah pakar pun telah berusaha mendefinisikan cinta. Namun apapun definisinya, tampaknya lebih penting untuk memperhatikan bagaimana menjaga cinta. Karena berdasarkan survei pasar, kartu dan hadiah Valentine dikirimkan terbanyak oleh pasangan yang belum ataupun yang baru menikah.

Kebanyakan orang mengatakan merasa tidak pantas lagi merayakan hal-hal seperti Valentine karena masalah usia yang sudah menua. Namun ternyata semakin lama pasangan itu bersama, semakin rendah frekuensi mereka merayakan Valentine, terlepas dari berapapun usia mereka. Jadi permasalahannya tidak terletak pada usia masing-masing, melainkan pada usia hubungan itu sendiri. Tampaknya cinta tidak lagi dirasa menggebu setelah hubungan berjalan sekian lama. Lantas menjadi pertanyaan tidak dapatkah kita menjaga api cinta tidak memudar?

(more…)

Next Page »

Powered by WordPress.com