Tak kutemukan kerlip bintang di matamu
Tak kurasakan harum mawar di tubuhmu
Tak kudapati lekuk pahatan dirimu
Tak kuamati lesung indah pipimu
Tak kunikmati ranum merah bibirmu
Tetap kau terpuja
Di antara putri nan jelita
Tetap kau bertahta
Di hati paduka
Evolutionary psychology adalah cabang psikologi yang mempelajari evolusi perilaku manusia dengan menggunakan proses seleksi alam. Cabang psikologi yang dipelopori Leda Cosmides dan John Tooby ini juga mencoba memahami perbedaan perilaku laki-laki dan perempuan, dengan mengacu kepada proses seleksi alam itu. Misalnya dalam hal pemilihan pasangan, laki-laki memilih perempuan berdasarkan penampilan fisik sedangkan perempuan memilih laki-laki berdasarkan status kemapanan. Menurut Cosmides dan Tooby, hal ini semata-mata dikarenakan manusia berupaya untuk mempertahankan spesiesnya agar tidak terseleksi oleh alam. Untuk itu, manusia akan terus berusaha untuk menghasilkan keturunan. (more…)
Ketika ketahanan pangan tidak tercapai sesungguhnya telah terjadi pelanggaran terhadap hak tiap orang untuk memperoleh makanan yang layak. Padahal hak itu sudah diakui oleh dunia internasional, dinyatakan sebagai hak asasi manusia. Bahkan negara kita sendiri sudah menyatakannya dalam UU Pangan No 7 Tahun 1996. Lantas mengapa rakyat tidak mendapatkan haknya tersebut? Mengapa banyak negara termasuk Indonesia, tidak memiliki kedaulatan atas pangan dalam negeri mereka sendiri, sampai harus mengadakan suatu forum, menyatakan harapan atas keinginan berkuasa atas pangan? Dan terlebih lagi mengapa perempuan menjadi yang paling dilanggar haknya dalam hal ini? (more…)
Dalam hal tidak terpenuhinya hak atas pangan yang layak, perempuan dan anak perempuan adalah kelompok yang paling menderita. Dalam kondisi pangan tersedia dan dapat diperoleh sekalipun, belum tentu perempuan dapat menggunakannya.Data FAO menunjukkan bahwa di banyak negara, anak perempuan dua kali lebih banyak dibandingkan anak laki-laki yang meninggal. Penyebabnya adalah kurang gizi dan penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Demikian pula pada perempuan dewasa ditemukan jumlah yang menderita malnutrisi dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. (more…)
Sungguh menyedihkan bahwa banyak rakyat dunia yang tidak dapat makan. Dan jika kita melihat lebih khusus kepada perempuan, sungguh adalah sebuah ironi ketika perempuan yang memegang peranan utama dalam urusan logistik, malah mendapatkan diskriminasi dalam akses dan kontrol terhadap makanan, tanah, dan sumber daya lainnya. Padahal mendapatkan makanan yang layak dan cukup setiap harinya adalah hak bagi setiap orang. Termasuk bagi setiap perempuan di muka bumi ini. (more…)
Ketahanan pangan yang diharapkan masyarakat dunia ternyata belum tercapai. Awal Maret 2007 lalu di Nyeleni, Mali, Afrika Barat, sebanyak 600 orang dari 98 negara berkumpul dalam Forum Kedaulatan Pangan Sedunia. Indonesia adalah salah satu negara yang mengirimkan delegasinya. Acara itu disponsori La Via Campesina, sebuah organisasi petani internasional yang berkedudukan di setiap negara. 600 anggota delegasi tersebut mewakili 120 organisasi petani, nelayan, buruh, perempuan, dan petani penggarap dari 98 negara yang menyuarakan ketiadaan ketahanan pangan di negara-negara mereka. Forum ini memang lahir dari adanya keinginan dan harapan dari kaum-kaum tak bersuara untuk dapat berdaulat atas pangan; untuk memiliki kekuatan atas pangan, yang belum mereka miliki saat ini. Pemerintah Mali sendiri bertekad untuk membangun kekuatan pangan dan tidak bergantung pada konglomerat, importir, dan negara produsen. Pemerintah menginginkan pangan dikuasai oleh masyarakat Mali sendiri. Menurut Presiden Mali, Amadou Toure, pangan merupakan kebutuhan mendasar dan merupakan hak asasi warga Mali. Karena itu ia tetap ingin memprioritaskan bidang pertanian. (more…)
Kasus ketahanan pangan kembali ramai dibicarakan belakangan ini. Terutama setelah banjir menghantram sentra-sentra utama produksi beras di Pulau Jawa. Diberitakan di Harian Kompas tanggal 25 Januari lalu, penduduk Cirebon kembali makan nasi aking karena tak kuat membeli beras. Bukan hanya penduduk dewasa, tetapi juga balita yang tentunya memerlukan gizi jauh lebih besar . Nasi aking ini juga kini menjadi menu sehari-hari penduduk Indramayu. Sementara warga Tegal mengganti beras dengan ubi. Sedangkan masyarakat Purwakarta kini mengurangi jatah makan mereka. Ditambah lagi kasus kedelai yang juga sangat terasa dampaknya bagi jutaan penduduk miskin di negara kita. Meskipun tahu dan tempe adalah makanan rakyat yang tidak mengenal status sosial ekonomi, namun kita tahu bahwa makanan ini adalah satu-satunya jenis makanan bergizi yang dapat dikonsumsi oleh rakyat miskin karena harganya yang (semula) murah. (more…)
Dalam tiap pertengkaran
Dalam tiap kemarahan
Dalam tiap kebencian
Dalam tiap tetes airmata
Cinta tetap di sana
Dua kata menghapusnya
Maafkan aku
Tiga kata meniadakannya
Aku sayang kamu