Skip to content

Ekologi Politik Feminis

November 13, 2007

(Untuk tulisan ini dan tulisan tentang Asmat, saya ingin berterima kasih kpd Mbak Arimbi… Kalau gak ikut kul Mbak, saya gak akan prnh tertarik dgn topik ini hehe. Thx a  lot, Mbak) 

Pengertian

Ekologi politik feminis (feminist political ecology) adalah sebuah perspektif yang memadukan ekologi politik dan teori feminis. Sejumlah teori yang terkait dengan feminisme digunakan dalam perspektif ini. Teori-teori tersebut adalah ekofeminisme, feminist environmentalism, liberal feminist environmentalism, feminisme pascastrukturalis, dan feminisme sosialis. Dalam ekologi politik feminis, teori-teori tersebut dipadukan dengan ekologi politik,  yang di dalamnya mencakup pula geografi feminis, ekologi budaya, dan ekonomi politik feminis[4].

Aspek-aspek Pembangun

Oleh karena itu, akan dijelaskan terlebih dahulu secara singkat aspek-aspek ilmu yang turut membangun ekologi politik feminis. Penulis akan memulai dari ekofeminisme, yaitu suatu gerakan yang menghubungkan feminisme dengan lingkungan. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Francois d’Eaubonne pada tahun 1974 di Paris. Di Amerika, istilah ini baru muncul pada tahun 1980an, setelah Ynestra King mengemukakan bahwa ada hubungan dialektikal antara penindasan terhadap alam dengan penindasan terhadap perempuan. Menurut King, opresi terhadap alam dan perempuan terjadi berbarengan. Dalam ekofeminisme kultural, opresi ini diyakini terjadi karena peran perempuan telah dinaturalisasi dalam hubungannya dengan alam. Secara umum, salah satu kelemahan utama dari ekofeminisme adalah mengasumsikan bahwa semua perempuan di dunia ini secara esensial adalah sama.

Feminist environmentalism melihat proses ekologis berbasis pembedaan kerja sehari-hari dan tanggung jawab material yang berbeda antara perempuan dan laki-laki[5]. Aliran ini berhasil memetakan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan.  Namun aliran ini tidak bergerak melampaui pemetaan tersebut, karena menerima pembagian kerja tersebut apa adanya, dan menganggapnya sebagai perbedaan yang rasional.

Sedangkan liberal feminist environmentalism memperlakukan perempuan sebagai pemeran aktif dalam proteksi lingkungan dan program konservasi. Namun peran ini dapat menjadi problematik. Simbolisasi umum yang berlaku adalah bahwa laki-laki ditempatkan berlawanan dengan alam. Sedangkan perempuan dianggap memiliki koneksi dengan alam. Hal ini dapat berdampak terhadap penempatan tanggung jawab penuh pada perempuan untuk mengkonservasi dibandingkan laki-laki. Akhirnya malah tidak memungkinkan perempuan untuk mengambil manfaat dari alam[6].

Feminisme sosialis berfokus pada peran gender dalam ekonomi politik dengan menganalisis dampak produksi dan reproduksi dari relasi perempuan dan laki-laki terhadap sistem ekonomi. Mereka mengidentifikasi perempuan dan lingkungan dengan peran reproduktifnya dalam sistem pembangunan yang tidak adil[7]. Bersama ekofeminis, mereka meyakini bahwa secara esensial, perempuan tidaklah lebih berakar di alam dibandingkan laki-laki. Hanya saja laki-laki tidak terlalu berakar pada praktik.

Sedangkan feminisme pascastrukturalis melihat hubungan antara gender dengan lingkungan. Mereka meyakini bahwa pengalaman gender dalam lingkungan merupakan merupakan manifestasi pengetahuan yang terkondisi dan terbentuk oleh berbagai dimensi identitas dan perbedaan, termasuk di antaranya perbedaan gender, ras, kelas, suku, dan umur[8].

Sementara itu, ekologi politik berkembang sebagai sebuah pendekatan baru terhadap interaksi manusia dan lingkungan dalam perkembangan wacana pada tahun 1990-an. Meskipun sebenarnya menurut pengamatan Jon Schubert, ekologi politik telah muncul dalam sejumlah studi sejak tahun 1970an, namun saat itu belum istilah tersebut belum digunakan. Sebelum ekologi politik muncul, Schubert mencatat bahwa terlebih dahulu berkembang ekologi kultural yang sumbernya ditarik dari antropologi[9]. Ekologi kultural ini berusaha mengkaji proses adaptasi budaya dan masyarakat terhadap lingkungan.

Menurut Julian Steward, dalam Theory of Culture Change; The Methodology of Multilinear Evolution, proses adaptasi budaya dan masyarakat dipengaruhi oleh penyesuaian dasar yang dilakukan manusia dalam menggunakan lingkungannya[10]. Ditambahkan pula oleh Forsyth yang dikutip Schubart, dalam ekologi kultural diamati pula praktik kultural (termasuk ritual keagamaan), dan pola perilaku serta praktik sosial yang dipertajam oleh situasi lingkungan atau berperan sebagai pengatur stabilitas lingkungan[11]. Lebih jauh lagi, menurut Peets dan Watts, ekologi kultural berfokus pada apa yang dinamakan pengetahuan etnoilmiah (ethnoscientific knowledge)[12]. Pengetahuan ini merupakan strategi penggunaan sumber daya dari komunitas subsistensi masyarakat adat (indigenous) secara tradisional yang tidak menggunakan pengetahuan agro-ilmiah.

Ketika ekologi kultural dianggap terlalu teknis, ahistoris, dan sederhana, mulailah ekologi politik muncul. Andrea Nightingale mencatat beberapa isu penting dalam ekologi politik[13]. Menurutnya ekologi politik menekankan pentingnya mengkaji hubungan antara isu lingkungan lokal dan proses ekonomi politik global. Termasuk di dalamnya adalah mengkaitkan produksi kapitalis dengan lokalitas-lokalitas yang berbeda, yang dihubungkan dengan eksploitasi sumber daya untuk subsistensi maupun profit.

Dalam isu lokal dan global, ekologi politik juga dapat membongkar kembali pendapat neo-Malthusian mengenai tekanan populasi. Pembongkaran ini menurut Balikie (1985), misalnya dengan menunjukkan bahwa tekanan populasi tidak berkorelasi langsung dengan penurunan ekologis melainkan berhubungan erat dengan tekanan ekonomi politik terhadap konsumsi sumber daya[14]. Dalam hal ini, ekologi politik melihat interrelasi antara dampak ekologis dan relasi kekuasaan sosial ekonomi. Relasi kekuasaan di sini termasuk masalah perebutan lingkungan, yakni dalam hal penggunaan lahan dan praktik pengaturan yang dominan dalam wilayah tersebut.

Hal lain yang dikaji dalam ekologi politik menurut Nightingale adalah cara-cara bagaimana pengetahuan tentang alam digerakkan dan ditampilkan secara politik. Pengetahuan ini termasuk representasi ekologis dari alam dan pengetahuan lokal (indigenous) yang seringkali memadukan pemahaman proses fisik dengan sejarah sosial dari sebuah daerah. Selain itu, ekologi politik juga mengkaji potensi-potensi isu lingkungan dalam memobilisasi gerakan sosial yang menghubungkan masyarakat melalui gender, ras, dan kebangsaan. Termasuk di dalamnya menurut Rocheleau et al adalah peranan kunci yang dimainkan perempuan dan orang-orang yang termarginalisasi[15].

Sedangkan menurut Jon Schubart, ekologi politik mencoba untuk menelusuri  empat hal, yakni (a) bagaimana struktur sosial dan alam saling menentukan, dan bagaimana keduanya membentuk akses terhadap sumber daya alam, (b) bagaimana konsep alam dan masyarakat yang telah dikonstruksi menentukan interaksi manusia dengan lingkungan,  (c) koneksi antara akses terhadap dan kontrol atas sumber daya dan perubahan lingkungan, (d) hasil sosial dari perubahan lingkungan.

Berangkat dari sejumlah teori-teori di atas, ekologi politik feminis muncul. Ekologi politik feminis berusaha melampaui teori-teori tersebut dengan berangkat dari kekurangan masing-masing teori. Misalkan ekologi politik feminis berusaha menghindari kecenderungan ekofeminisme dalam mengesensialisasikan perempuan[16]. Oleh karena itu, teori ini menyediakan kerangka interdisiplin untuk memahami gender, ras, budaya, etnis, dan kelas, dalam mempengaruhi proses perubahan ekologis dan akses sumber daya.

Alat Analisis Konseptual Vs. Encompassing Theory

Sebagai kerangka interdisiplin, dalam ekologi politik feminis, tidak ada satu teori besar yang koheren (coherent grand theory) sebagai alat analisis satu-satunya. Jon Schubert berpendapat bisa jadi hal ini dikarenakan meskipun telah banyak penelitian terkait dengan ekologi politik, namun masih sedikit yang mengintegrasikannya menjadi satu teori besar[17]. Namun demikian, kerangka interdisiplin ini justru dapat menjadi kelebihan bagi ekologi politik feminis. Karena melalui lensa spesifik, seseorang dapat mengkaji interaksi antara lingkungan dan masyarakat. Tiap orang dapat melakukannya dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda dan bersandar pada latar belakang disiplin ilmu yang berbeda (geografi, antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, sejarah, dan manajemen). Seringkali menurut Schubert, paradigma neoliberal dan neo-Marxis juga diikutsertakan dalam analisis. Oleh karena itu ekologi politik feminis bukanlah sebuah encompassing theory, melainkan lebih berfungsi sebagai penyedia alat konseptual untuk menganalisis hubungan manusia dengan alam.

Tiga Pendekatan Utama

Dari sejumlah perspektif yang membangun ekologi politik, Jon Schubart melihat ada tiga pendekatan utama dari ekologi politik. Menurut saya, tiga pendekatan ini juga yang membangun ekologi politik feminis, yang memang terbentuk dari ekologi politik. Tiga pendekatan tersebut adalah pascastrukturalis, gender, dan hak kepemilikan dan hak guna. Tiga pendekatan ini sebenarnya saling terkait satu sama lain. Berikut ini pendekatan tersebut akan dijelaskan satu per satu.

a. Pascastrukturalis

Yang dimaksudkan Schubart dalam pascastrukturalis ini terutama adalah pendekatan dekonstruktif yang mempertanyakan diskursus predominan dari perubahan dan kebijakan lingkungan. Mengutip Escobar (1996), analisis postruktural adalah analisis produksi realita sosial yang meliputi analisis representasi fakta sosial yang tidak terpisahkan dari apa yang umumnya disebut realita material[18].

Elemen lain yang ditekankan dalam pendekatan pascastrukturalis adalah pengkonstruksian realita lingkungan dengan menggunakan diskursus ilmiah. Suatu wilayah terkonstruksi menjadi berbahaya atau perlu dilindungi, menurut Schubart merupakan hasil dari pendefinisian oleh diskursus ilmiah. Masyarakat akan mempersepsikan resiko lingkungan akan menjadi nyata tidak lama lagi dan tindakan mereka berdampak pada lingkungan, terutama akan bergantung pada agenda politik dan liputan media. Menurut Harrison dan Burgess (1994), hal ini terjadi misalkan ketika alam digambarkan sebagai korban tak berdosa dari keserakahan manusia.

Menurut Schubart, mereka yang menggeluti ekologi politik memulai untuk mempertanyakan diskursus popular mengenai globalisasi. Mengutip pendapat Adger et al (2001), globalisasi didasarkan pada mitos dan cetakan (blueprint) yang sama mengenai dunia[19]. Oleh karenanya preskripsi politis yang ditawarkan globalisasi dipertanyakan ketepatannya untuk realitas lokal.

b. Gender

Pendekatan kedua yang utama dari ekologi politik feminis adalah analisis konsep manusia dan lingkungan, terutama analisis gender sebagai kategori yang dikonstruksi mendefinisikan interaksi antara manusia dengan alam. Gender dipilih Schubart karena merupakan diskursus akademis yang menonjol yang didasarkan pada latar belakang feminisme. Goldman and Schurman (2000) juga meyakini bahwa gender adalah tema penting bagi para peneliti ekologi politik. Mereka berpendapat gender dapat mempertajam relasi alam-masyarakat dan oleh karena itu fundamental untuk memahami akses sumber daya dan degradasi lingkungan.

Gender dalam ekologi politik feminis diambil dari dua arus pemikiran yaitu konsep gender dan lingkungan, dan ekofeminisme (Steinman, 1998). Gender dan lingkungan mengintegrasikan dan mempromosikan perempuan sebagai pemeran utama dalam program pembangunan lingkungan (women in development, WID, atau belakangan disebut women, environment, and development, WED).

Diane Rocheleau, Barbara Thomas-Slayter, dan Esther Wangari berpendapat bahwa ekologi politik feminis berusaha mengatasi kekakuan dan esensialisme dari konsep gender sebelumnya dan membangun analisis pada identitas dan perbedaan[20]. Ekologi politik feminis melihat perubahan lingkungan dari kaca mata gender. Ekologi politik feminis berusaha mengidentifikasikan peluang dan kendala yang mempertajam perilaku penggunaan lahan yang tergenderkan. Menurut Jackson[21], penekanannya bukan pada generalisasi mengenai perempuan dan alam, melainkan pada level realitas lokal.

Ekologi politik feminis tidak memandang perbedaan gender dalam pengaruh lingkungan secara biologis (biologically-rooted)[22]. Melainkan mereka menganggap gender berasal dari konstruksi sosial yang bervariasi, bergantung pada budaya, kelas, ras, dan lokasi geografis, dan berubah sepanjang waktu antara individu dan masyarakat. Atau dalam pandangan Rocheleau, gender berperan sebagai variabel kritis yang mempertajam akses dan kontrol sumber data. Berinteraksi dengan kelas (Park, 1992), etnis (Parajuli 1998; Hansis 1998), kasta, ras, dan budaya, gender mempertajam proses perubahan ekologis, perjuangan perempuan dan laki-laki untuk mempertahankan kehidupan berbasis ekologis, dan prospek dari setiap komunitas untuk bertumbuh secara berkelanjutan[23].

Tiga penyelidikan utama yang dikaji ekologi politik feminis dalam pendekatan gender ini adalah (a) pengetahuan bergender, yaitu ilmu pengetahuan untuk bertahan hidup (science of survival), yang digunakan perempuan untuk mempertahankan dan melindungi lingkungan yang sehat, (b) hak dan kewajiban lingkungan yang berperspektif gender (gendered environmental rights and responsibilities), termasuk di dalamnya adalah properti, sumber daya, ruang, dan hak hukum serta hak adat yang ‘bergender’, dan (c) politik lingkungan dan kegiatan aktivis di akar rumput yang berperspektif gender (gendered environmental politics and grassroots activism)[24].

c. Hak Kepemilikan dan Hak Guna

Pendekatan hak kepemilikan dan hak guna ini berawal dari studi yang dilakukan Amartya Sen (1981). Sen menemukan bahwa bukan ketiadaan makanan yang mengakibatkan bahaya kelaparan, melainkan ketiadaan akses terhadap makanan itu[25].  Dalam hal ini segmen populasi yang termarginalisasi telah kehilangan kekuasaan/kontrolnya atas makanan. Akhirnya kelompok ini yang menjadi korban kelaparan. Ketika obyeknya adalah tanah dan akses sumber daya alam lainnya, maka permasalahannya bukanlah ketersediaannya (availability). Melainkan kekuasaan/kontrol (command) atasnya, yang menurut Sen dapat membawa perubahan dalam pola pendistribusian dalam kelompok[26].

Dalam konteks ekologi politik, adalah penting untuk menyadari bahwa sumber daya alam tidak hanya terbatas pada benda-benda yang aksesnya tak terbatas. Pengertian sumber daya alam bukanlah benda-benda yang terbuka terhadap semua orang, melainkan bahwa mereka diatur oleh rules of common property (Johnson, 2004)[27]. Hak menggunakan dan kepemilikan yang terinstitusionalisasi ini disebut dengan entitlements. Individu dapat memilikinya sebagai pemberian/anugerah (endowments) yang kemudian dapat diubah menjadi ‘entitlements‘.  Endowments merupakan hasil negosiasi di antara institusi dan pelaku sosial.

Menurut Leach et al, stratifikasi sosial, distribusi properti, dan hak penggunaan yang tidak setara membuat tidak mungkin untuk memaksakan strategi manajemen sumber daya yang bersifat tunggal pada komunitas lokal[28]. Ekologi politik memaknai lingkungan alam sebagai ruang untuk manusia dapat beraksi, namun pada saat yang sama, dimodifikasi oleh aksi tersebut. Penelitian yang dilakukan Leach et al memperlihatkan bagaimana institusi formal dan informal menentukan distribusi kepemilikan yang senantiasa berubah (ever-changing) yang dimiliki pelaku-pelaku sosial.

Pendekatan ekologi politik feminis yang berpusat pada hak ini sebenarnya masih terkait dengan pendekatan gender di atas. Khususnya dalam hal hak dan kewajiban yang berperspektif gender. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya pemisahan akses terhadap sumber daya alam berdasarkan gender. Perempuan dan laki-laki sering membedakan hak dan kewajibannya dalam produksi, menciptakan dan memelihara lingkungan biofisik yang sehat, serta hak dan kewajiban mereka untuk menentukan kualitas hidup dan sifat alami lingkungan hidup.

Pemisahan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan juga terjadi dalam aspek ruang. Contohnya wilayah akses dan kendali laki-laki dan perempuan sering dipisah antara ruang publik dan privat. Dalam hal ini nantinya akan terkait bahwa bukan hanya pemisahan akses terhadap sumber daya alam, melainkan juga dalam hal mendapatkan dan mengelola sumber daya tersebut. Hak kepemilikan dan hak guna laki-laki sering diasosiasikan dengan de jure, yakni sah berdasarkan yurisprudensi. Sedangkan perempuan lebih diasosiasikan dengan hak atas sumber daya alam de facto, yakni hanya berdasarkan praktik kebiasaan. Menurut Rocheleau et al, hal ini akan berimplikasi besar pada relativitas kekuatan dan keamanan hak berdasarkan gender[29].

Oleh karena berbicara mengenai akses dan kontrol, ekologi politik dikritik terlalu berfokus pada dimensi politik dan sosial dari akses sumber daya dan mengabaikan realita ekologis dan biofisik dari lingkungan alam. Menurut Zimmerer dan Bassett, lingkungan hanya sebagai panggung atau arena dimana pergulatan terhadap akses dan kontrol sumber daya terjadi[30]. Bahkan Vayda dan Walters menyatakan bahwa ekologi politik dewasa ini adalah politik tanpa ekologi sehingga seharusnya disebut antropologi politik atau hanya sekedar ilmu politik[31].

Terlepas dari kritik-kritik yang ada, ekologi politik feminis telah berhasil melihat permasalahan lingkungan dengan lebih komprehensif. Khususnya penempatan gender sebagai salah satu analisis utama telah membuka pandangan yang lebih luas untuk melihat opresi terhadap perempuan. Lebih jauh lagi adalah analisis akses dan kontrol yang berperspektif gender juga telah membuat studi ini dapat melihat lebih dalam akar permasalahan yang terjadi. Konteks lokalitas yang dikaji juga telah membawa keunikan permasalahan masing-masing daerah, yang tidak ditangkap oleh studi-studi sebelumnya.

Ekologi politik feminis itu sendiri memang tercipta untuk mengkaji hubungan antara lingkungan, gender, dan pembangunan. Studi ini berkembang sebagai reaksi terhadap restrukturisasi ekonomi, lingkungan, dan budaya, pada level global dan lokal[32]. Pondasi ekologi politik itu sendiri adalah studi permasalahan lingkungan lokal dalam konteks sosialnya, yang seringkali didasarkan pada observasi partisipan.  Namun demikian, Cramer mengingatkan bahwa peneliti yang menggunakan ekologi politik feminis harus tetap dapat melihat macro wood untuk micro trees[33]. Maksudnya adalah menggunakan analisis kebijakan yang lebih luas untuk menganalisis level lokal.


[1] Ada yang menterjemahkan feminist political ecology sebagai ekologi politik berperspektif feminis. Adapula yang menyebutnya politik lingkungan berperspektif feminis. Sebenarnya melihat kepada frase aslinya, yang menjadi kata benda adalah ecology, dengan feminist dan political sebagai kata sifat (atau dalam hal ini adalah perspektifnya). Jadi feminist political ecology dapat diterjemahkan sebagai ekologi berperspektif politik dan feminis. Untuk kemudahan, dalam tulisan ini saya akan menggunakan istilah ekologi politik feminis.  [2]“Feminist Political Ecology”, diambil dari  http://en.wikipedia.org/wiki/Feminist_political_ecology, modifikasi terbaru 25 Maret, 2007.[3] Dianne Rocheleau, Barbara Thomas-Slayter, dan Esther Wangari, (1996), dalam Feminis Political Ecology : Global Issues and Local Experiences.

[4] “Ecofeminism”, diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Ecofeminism, modifikasi terbaru 16 Januari 2007.

[5] Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[6] “Ecofeminism”, diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Ecofeminism, modifikasi terbaru 16 Januari 2007.

[7] Ibid

[8] Dianne Rocheleau, Barbara Thomas-Slayter, dan Esther Wangari, (1996), dalam Feminis Political Ecology: Global Issues and Local Experiences.

[9] Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[10] “Cultural Ecology”, diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Cultural_ecology, modifikasi terbaru 17 Maret 2007.

[11] Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[12] Ibid

[13] Andrea Nightingale, dalam “Can Social Theory Adequately Address Nature-Society Issues? Do Political Ecology and Science Studies in Geography Incorporate Ecological Change?”, Institute of Geography Online Paper Series : GEO-027.

[14] Ibid

[15] Dianne Rocheleau, Barbara Thomas-Slayter, dan Esther Wangari, (1996), dalam Feminis Political Ecology : Global Issues and Local Experiences.

[16]“Feminist Political Ecology”, diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Feminist_political_ecology, modifikasi terbaru 25 Maret, 2007.

[17] Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[18] Dalam Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[19] Ibid

[20] Dalam Feminist Political Ecology: Global Issues and Local Experiences, 1996.

[21] Dikutip oleh Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[22] “Feminist Political Ecology”,  diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Feminist_political_ecology“, modifikasi terbaru 25 Maret, 2007.

[23] “Ecofeminism”, diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Ecofeminism, modifikasi terbaru 16 Januari 2007.

[24] Dianne Rocheleau, Barbara Thomas-Slayter, dan Esther Wangari, (1996), dalam Feminis Political Ecology : Global Issues and Local Experiences.

[25] Dikutip oleh Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[26] Ibid

[27] Ibid

[28] Ibid

[29] Dianne Rocheleau, Barbara Thomas-Slayter, dan Esther Wangari, (1996), dalam Feminis Political Ecology : Global Issues and Local Experiences.

[30] Dikutip oleh Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

[31] Ibid

[32] Helen Ross, dalam tinjauan terhadap “Feminist Political Ecology: Global Issues and Local Experiences, dari Dianne Rocheleau, Barbara Thomas-Slayter, dan Esther Wangari . Journal of Political Ecology : Case Studies in History and Society. http://jpe.library.arizona.edu/volume_4/rossvol4.htm

[33] Dikutip oleh Jon Schubert, 2005, dalam “Political Ecology in Development Research : An Introductory Overview and Annotated Bibliography“.

14 Comments leave one →
  1. March 13, 2008 9:05 pm

    Halo salam kenal!

    Gue jadi semakin paham dengan ecofeminism. Oh iya, ada tulisan yang lumayan baik menjelaskan masalah ecofeminsim ditulis oleh Marlene Longenecker di NWSA Journal http://iupjournals.org/nwsa/nws9-3.html

  2. esterlianawati permalink*
    March 17, 2008 2:10 am

    Hai, salam kenal jg. Thx ya info jurnalnya :)

  3. pantarhei1filsafat1ugm permalink
    May 20, 2008 6:39 am

    sebelum melangkah pada ekofeminisme, bukankah kita harus mengulas pada dasar term ekologisme dan environmentalisme. sebab, kedua term tersebut pada gerakan “hijau” mempunyai arah gerak, pola dan tujuan yang berbeda. nah dari kedua mainstream pemikiran tersebut, dapat dilacak pemikiran ekofemisme.

  4. esterlianawati permalink*
    May 26, 2008 5:40 am

    mksh ya masukannya, kyknya sy hrs baca2 lg ttg ekofeminisne :)

  5. andohar purba permalink
    August 1, 2008 7:46 pm

    Ekofeminis dalam bentuk nyatanya apa ya? :p

    Mencoba mereka-reka:

    1. Ada hubungan kait-mengait antara populasi sampah yang terus meningkat dari jakarta ke TPA Bantar Gebang dengan peningkatan populasi perempuan PSK remaja di rumah jaipong jl. Bogor Cileungsi sekitar TPA bantar Gebang

    2. Peningkatan jumlah perempuan penderita AIDS dengan meningkatnya kegiatan eksploitasi perut bumi di Papua

    3. Rumah-rumah bordil mulai berdiri di sekitar Porsea setelah beberapa tahun PT. Indorayon berdiri di sana dan mulai merambah kawasan hutan pinus di wilayah Danau Toba

    Ini cuma reka-rekaan saya. Benarkah? Nampaknya kegiatan kemaksiatan menyimpan wajah lain tentang kerusakan lingkungan..

  6. esterlianawati permalink*
    August 4, 2008 1:29 am

    Iya bener kok reka-rekaannya :D
    Btw, thx a lot buat semua masukannya. Seneng bgt dpt koment2 dr Anda. Ur comments show ur brain ;)

  7. Sapto permalink
    October 23, 2008 8:47 am

    Aku setuju dengan pendapat Walters, ekologi politik itu ndak lebih dari teori. Kembali ketika idealisasi tersebut dibangun tidak atas dasar sistematika yang memungkinkan bagi tercapainya tujuan. Lingkungan, unsur yang sangat penting tapi coba ditinjau kembali seberapa jauh hal tersebut dapat mempengaruhi kebijakan. Perihal perspektif, ekologi politik dalam memahami masalah perempuan dimana ada penindasan dan ketidakadilan di dalamnya seolah mengabaikan keberadaan konstruksi patriarkhis yang jelas-jelas melembagakannya, jalur yang lambat dan tidak efektif, kecuali kita hanya sekedar berdiskusi dan meninjau untuk kepentingan sistem itu sendiri.
    bagaimana mengatur tapi tidak pada bagaimana untuk membebaskan.

  8. esterlianawati permalink*
    October 23, 2008 10:14 am

    Oya….knp mnrt mas Sapto ekologi politik mengabaikan keberadaan konstruksi patriarkis, dan sekedar berdiskusi? Bukannya arahnya nanti utk menciptakan kebijakan?
    Btw, kl punya materi ttg ekologi politik feminis, boleh minta gak, Mas?;;) Lg butuh nih hehe. Tengkyu ya.

  9. Sapto permalink
    October 26, 2008 4:31 pm

    Halo Ester, salam sebelumnya. Ekologi politik memang mampu memberikan sebuah gambaran sistematis dan logis dari sebuah jejaring sosial yang menciptakan adanya ketimpangan hubungan antara manusia-manusia dan manusia-alam-manusia. Dalam pandangan saya, ekologi politik mampu mengurai sebuah kebijakan lokal dimana kita membutuhkan informasi detail tentang bagaimana sistematika yang timpang tersebut berjalan, dan akhirnya memudahkan dalam menyusun strategi untuk “memperbaikinya”. Namun ketika permasahan struktur dan sistem telah jelas timpang, dimana itu terjadi dalam setiap unsur kehidupan, ekologi politik tidak lebih dari sebuah metodologi penelitian.
    Dalam kaitannya dengan diskursus yang mempertanyakan esensi global, sifat-sifat tekanan dan kekuasaan memiliki karakteristik “global” rasanya tidak perlu dipertanyakan, walaupun sifat tersebut muncul dalam perilaku dan indikator yang berbudaya lokal. Dan kenyataannya bahwa itu berhasil (dalan menimbulkan masalah juga), artinya batas-batas kelokalan dalam bentuknya yang spesifik memiliki kemungkina-kemungkinan untuk digeneralisasikan dalam sifat dan tingkat kepentingan. Artinya lingkungan dan manusia itu sendiri akan diperlakukan secara identik (dalam detil yang bervariasi). Lingkungan adalah sarana yang sedemikian rupa dirancang dan disesuaikan dengan kerangka kekuasaan, sebagai sumber daya sekaligus alat. Kembali ke apakah hal itu perlu dilindungi atau dianggap berbahaya, sebuah titik yang menempatkan kepentingan kekuasaan untuk menentukan.
    Kajian dari Schubart (menurut sy), tinjauan ekologi politik gender dengan menempatkan perempuan sebagai pemeran utama, terkait dengan asumsi bahwa peran perempuan perlu didekonstruksi, sekaligus melepaskan marginalnya dalam peran pengolahan. Itu mungkin strategi (atau sebatas ikon) yang baik menurut saya, tapi hal itu bertentangan dengan konsep kesetaraan dan lokalitas itu sendiri…dimana asumsi sebuah fenomena yang diakui global (penindasan perempuan dan alam) diakhiri dengan solusi global juga (nah dimana lokalnya, sekedar cara???). Karena ekologi politik lebih menempatkan dirinya sebagai metode, yang mampu mengaplikasi berbagai kajian di dalamnya, artinya menyerahkan pada sebuah data (jika bisa bebas kepentingan)…ya ilmu politik memang.
    Menurut saya ekologi politik sangat bagus untuk tinjauan, karena sifatnya sebagai pengkaji kebijakan, dan kebijakan “baru” yang dicetuskan nanti belum tentu dapat melepaskan diri kesalahan serupa (sekadar meminimalisir dampak)…karena otoritas juga yang membuat. Yang lebih penting bagi saya adalah bagaimana untuk merubah setelah penyebab teridentifikasi….
    Tapi memang sepertinya ekologi telah hilang dari politik (kecuali referensinya), adanya ekologi politik penguasa itupun untuk kepentingan mereka juga…nah yang sudah pada paham ekologi politik biasanya tambah pinter menghisap rakyat ato setidaknya menjual kemiskinan hehe….
    Maaf Ester, referensiku tentang ekologi kebetulan ndak ada yang soft-file, adapun sama juga dengan punya Ester, yang ini malah hobi berpindah tempat sesuka hati hehe…jadi sy blum bisa beri bantuan berarti. Tapi jurnal-jurnal terbaru juga berlimpah kok di internt.

  10. esterlianawati permalink*
    October 31, 2008 8:57 am

    Mas Sapto, tengkyu ya buat penjelasannya,
    perlu ku cerna dulu nih, stlh hmpr setaon ini aku masih terpesona ama kelebihannya FPE hehe.

  11. January 16, 2009 11:40 am

    Feminis dari kata feminin (perempuan)…wah untung aku bisa hidup di negara yang menyetarakan kaum perempuan.

    Di sini ngak peduli laki/perempuan, harus bisa mengerjakan pekerjaan yang sama. Bahkan dalam hal-hal tertentu: kongkow-kongkow…lakilah yang memberi servis: menyediakan minuman/memasak…sedang ceweknya hanya ngemil…terkadang sperti pekerjaan menukang/reparasi…akupun ikut turun tangan mengerjakan…

    • esterlianawati permalink*
      January 22, 2009 7:42 am

      Hai mbak juliach, thx ya dah mampir.
      wah asik ya di tmpt tinggal mbak. emang hrsnya kyk gitu. kmrn aku smpt ngobrol2 ama temen (cowo). intinya sih kita gak harus ributin siapa melayani siapa, krn seharusnya kita sama2 saling melayani. temenku itu pun bersedia aja melayani pasangannya. Btw, pengen minta diajarin bhs perancis nih, mbak ;)

  12. gondes permalink
    April 12, 2011 2:13 pm

    mbak….jangan pake referensi kurang valid kayak wikipedia…cari sumber yang memang benar2 bisa dipercaya..karena wiki tuh kan tau ndiri,,,bisa diedit sapa aja yang mau…termasuk yang nggak ngerti bahasannya…tq…gud lak

    • Ester Lianawati permalink*
      April 18, 2011 12:39 am

      terima kasih utk masukannya, Gondes.
      memang benar sebaiknya tdk mengutip dr Wikipedia.
      maaf belum sempat mengedit tulisan ini, tp smg komentar ini bs mengingatkan teman2 lain jg yg membaca artikel ini :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: