Skip to content

Memahami Lebih Jauh Teori Erikson

September 26, 2007

Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.

Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia. Teori itu juga diaplikasikan langsung baik pada perempuan maupun laki-laki. Sayangnya penerapan semacam ini sebenarnya merupakan suatu kesalahan metodologis. Bila kita berbicara mengenai masalah generalisasi teori, maka teori Erikson seharusnya tidak digeneralisasikan secara universal. Apalagi menyangkut permasalahan jenis kelamin, sangat tidak tepat jika kasus perempuan dibahas dengan menggunakan teori Erikson.

Sebagian besar tahapan perkembangan yang dikemukakan Erikson merupakan hipotesis belaka. Hanya perkembangan masa kanak-kanak dan remaja yang didasarkan Erikson pada hasil penelitiannya. Mengenai tahapan perkembangan masa kanak-kanak, ia melakukan observasi terhadap anak-anak suku Sioux dan Yurok. Sedangkan mengenai remaja, ia melakukan analisis terhadap kehidupan tiga remaja putra[1]. Dari observasi dan analisis itulah ia mengemukakan teorinya mengenai delapan tahap perkembangan manusia dari lahir hingga lanjut usia, dalam buku pertamanya yang berjudul Childhood and Society pada tahun 1964.

Gagasan Erikson mengenai delapan tahap perkembangan manusia yang ditulisnya dalam buku tersebut banyak menerima kritik. Pertama, Erikson dianggap salah bila mengklaim teorinya itu sebagai sesuatu yang universal.  Hal ini dikarenakan sampel penelitiannya terbatas pada dua suku primitif Indian. Tentunya hasil penelitiannya tersebut tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh budaya. Apalagi ia sendiri mengungkapkan pentingnya aspek sosial budaya sebagai pembentuk kepribadian seseorang. Dengan meyakini bahwa tahap perkembangan yang dikemukakannya berlaku universal, maka Erikson membantah sendiri pandangannya mengenai aspek sosial budaya. 

Memang dalam penelitiannya mengenai tahap pembentukan identitas remaja, Erikson meneliti subyek dari tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Jerman, dan Rusia. Namun demikian, ia hanya menganalisis masing-masing satu subyek dari tiap negara tersebut. Pemilihan subyek semacam itu dianggap tidak representatif untuk menjelaskan perkembangan remaja. Belum lagi tahap perkembangan lainnya hanya merupakan hipotesisnya sendiri, yang tidak didasarkan pada observasi atau uji empiris apapun.

Kritik yang lebih tajam dan gencar datang dari kalangan feminis pada saat itu. Mereka menyetujui kritik sebelumnya bahwa teori Erikson tidak dapat diterapkan secara universal, apalagi pada perempuan. Mereka melihat bahwa delapan tahap perkembangan manusia (eight stages of man[2]) memang hanya untuk laki-laki.  Mereka melandaskan kritik tersebut atas dua hal. Pertama, tahap perkembangan identitas, yang dianggap Erikson sebagai tahap perkembangan terpenting, hanya didasarkan pada analisisnya terhadap tiga subyek yang ketiganya adalah laki-laki. Kedua, meskipun Erikson mengobservasi baik anak laki-laki maupun perempuan pada suku Sioux dan Yurok, namun tulisannya dalam buku Childhood and Society hanya mengacu kepada anak laki-laki.

Contohnya dalam halaman 176 dari buku tersebut dituliskan,” The Yurok child is trained to be a fisherman”. Kata anak (child) tersebut jelas hanya mengacu kepada anak laki-laki. Hanya anak laki-laki yang dididik menjadi nelayan sedangkan anak perempuan di Yurok akan dipersiapkan menjadi ibu. Jadi ketika Erikson menggunakan kata child (anak) untuk mengacu kepada boy (anak laki-laki), maka ia seolah meniadakan anak perempuan dalam tulisannya. Erikson menganggap anak (child) hanya anak laki-laki (boy). ‘Kesalahan’ ini terlihat pula dalam kalimat berikut ini : Sioux limits itself in specializing the individual child for one main career, here the buffalo hunter (hal. 156). Memang benar bahwa di Sioux, anak laki-laki dipersiapkan untuk berkarir, yaitu sebagai pemburu banteng. Namun Erikson malah menekankan bahwa ada satu karir utama yang dipersiapkan untuk masing-masing anak (individual child), padahal yang dimaksudnya hanya untuk anak laki-laki. Jadi sekali lagi Erikson seolah melupakan bahwa yang dimaksud dengan kata anak tidak hanya laki-laki tapi juga perempuan.

Selain itu, Erikson sendiri melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu terhadap tahap perkembangan perempuan. Khususnya dalam tahap perkembangan identitas, yang merupakan tahap paling penting menurut Erikson. Ia mengatakan bahwa pada perempuan, tahap identitas ini tidak akan tercapai jika ia belum mengembangkan keintiman (intimacy). Keintiman ini hanya dapat dicapai bila perempuan menjalin hubungan dengan lawan jenis,  menjadi seorang istri, dan selanjutnya menjadi ibu. Jadi menurut Erikson, identitas seorang perempuan ditentukan oleh keberhasilannya menjadi seorang istri dan ibu.

Sedangkan pencapaian identitas laki-laki tidak ditentukan oleh apapun, termasuk keintiman. Oleh karena itu tidak heran jika delapan tahap perkembangan yang dikemukakan Erikson diklaim sebagai tahap perkembangan khusus laki-laki. Hal ini dikarenakan dalam tahap itu Erikson terlebih dahulu mengurutkan pembentukan identitas baru kemudian tahap pencapaian keintiman. Dengan demikian jelas Erikson hanya mengalamatkan teorinya tersebut untuk pada laki-laki. Jadi ketika ia mengklaim teori itu untuk manusia secara keseluruhan, ia telah menggunakan laki-laki sebagai prototip manusia.

Menghadapi kritik tersebut, Erikson mencoba untuk ‘benar-benar’ meneliti perempuan. Ia melakukan analisis permainan (play analysis), dan melihat perbedaan gender dalam permainan anak-anak. Ia menemukan bahwa anak laki-laki dan perempuan membentuk permainan yang berbeda. Anak perempuan akan membentuk permainan dengan tipe interior, yang damai dan tenang. Mereka mengelompokkan kursi dan meja (furniture), manusia, dan hewan dalam posisi statis. Manusia diaturnya dalam posisi duduk, seperti bermain piano misalnya. Selain itu, mereka juga menggambar dinding yang rendah, dengan pagar dan teras. Kadang mereka juga memasukkan adanya pengganggu, yang biasanya laki-laki dan hewan. Sementara anak laki-laki menampilkan permainan yang dinamis. Mereka membentuk bangunan yang tinggi dan kokoh, seperti menara. Bila membangun rumah, mereka membangun dinding yang kokoh, yang tidak memungkinkan bencana datang. Mereka juga membuat mobil-mobilan ataupun hewan berjalan, yang keduanya menunjukkan suatu pergerakan dinamis.

Dari perbedaan dalam bermain tersebut, Erikson mengambil kesimpulan yang justru menegaskan pandangannya mengenai identitas perempuan. Menurutnya perempuan memilih permainan yang lebih bersifat menuju dalam diri, bukan keluar, sesuai dengan anatominya yaitu rahim dan vagina. Dalam pandangan Erikson, rahim dan vagina yang dimiliki perempuan merepresentasikan suatu kedalaman. Jadilah perempuan hanya berada dalam ruang dalam (inner space); ruang domestik, dan tidak keluar menuju ruang publik. Rahim ini juga identik dengan fungsi perempuan untuk melahirkan. Dan karenanya, perempuan pun identik dengan merawat dan mengasuh.

Lebih lanjut Erikson memandang laki-laki sebagai pribadi yang aktif karena terkait dengan fungsi penis yang berrsifat aktif, sedangkan perempuan pasif terkait dengan fungsi vagina yang bersifat menerima. Jadi desain tubuh perempuan, yakni vagina dan rahimnya diyakini Erikson sebagai penentu pembentukan identitas perempuan. Dengan rahim dan vagina yang dimilikinya, maka perempuan terikat bukan hanya secara biologis melainkan juga psikologis dan etis untuk secara pasif merawat anak dan melayani suami.

Pandangan Erikson yang tertuliskan dalam bukunya berjudul The Inner & the Outer Space : Reflections on Womanhood pada tahun 1964 itu mendapatkan kritik keras dari kelompok perempuan.  Menurut mereka, Erikson membatasi pilihan perempuan untuk berdiam diri di rumah, menjadi istri dan ibu. Lebih dari itu, Erikson pun dianggap sama saja seperti Sigmund Freud yang menentukan takdir perempuan hanya berdasarkan anatominya.

Menanggapi kritik yang semakin keras, pada tahun 1975, Erikson menerbitkan kembali sebuah buku berjudul Once More the Inner Space. Dari judulnya terlihat bahwa ia tetap meyakini konsep inner space pada perempuan.  Namun ia mengemukakan beberapa hal untuk ‘menenangkan’ kelompok perempuan yang mengkritiknya. Ia menyatakan bahwa pada dasarnya laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki keterbatasan dalam membuat pilihan. Laki-laki dibatasi oleh definisi sejauh mana mereka mampu (how they can be), sedangkan perempuan oleh apa yang dapat ia lakukan (what they can do). Ia juga menyatakan bahwa sebenarnya laki-laki memiliki kecemasan akan keberfungsian penisnya. Laki-laki juga iri terhadap kapasitas maternal perempuan untuk melahirkan dan menjadi ibu.

Namun pendapat Erikson ini memiliki kelemahan. Penjelasannya menunjukkan bagaimana ia menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rendah. Dalam hal memilih apa yang dapat ia lakukan pun, perempuan masih dibatasi. Sementara laki-laki sudah berhasil melewati batasan tersebut. Laki-laki sudah boleh memilih, sehingga keterbatasannya hanya terletak pada sejauh mana ia mampu berkarya dalam bidang yang telah ia pilih tersebut. Selain itu, kecemburuan laki-laki terhadap kapasitas maternal perempuan pun toh tidak serta merta menjadikan kehidupan perempuan lebih baik dibanding laki-laki.

Setelah mengetahui lebih menyeluruh tentang konsep Erikson yang sebenarnya, bukan berarti konsep ini tidak dapat kita gunakan dalam menjelaskan perkembangan manusia. Memahami perkembangan laki-laki dengan menggunakan kerangka teori Erikson tentu bukan merupakan suatu kesalahan. Namun mengadopsi pandangannya tentang perempuan, sama saja dengan membatasi pilihan perempuan dalam mengaktualisasikan potensi dirinya.


 

Sumber Acuan

Paludi, Michele A. The Psychology of Women. USA : Prentice-Hall, Inc. 1998.

 

 

Williams, Juanita H. Psychology of Women. Behavior in a Biosocial Context. 3rd ed. USA : W.W. Norton & Company, Inc. 1987.

 

 


 

[1] Remaja putra tersebut adalah seorang penduduk biasa di Amerika Serikat, Hitler di Jerman, dan Maxim Gorky yang kemudian menjadi penulis terkenal di Rusia.

[2] Man dapat diartikan sebagai manusia atau (hanya) laki-laki. Erikson sebenarnya memaksudkan kata man sebagai manusia (laki-laki dan perempuan).

 

26 Comments leave one →
  1. adi permalink
    December 4, 2007 8:57 pm

    bisa tolong berikan referensi buku (judul dan pengarang) tentang teori remaja, identitas remaja, aktualisasi diri (remaja), budaya remaja, dsb. mohon bantuannya, saya kesulitan cari referensi buat skripsi saya tentang remaja dan bahasa dari media

  2. esterlianawati permalink*
    December 7, 2007 5:25 am

    Hai Adi, kalau untuk teori remaja itu km bisa baca buku Human Development dari Diane E. Papalia dan Sally Wendkos Olds. Atau kl mau lbh khusus ttg remaja bisa baca Adolescence dari John W. Santrock. Bukunya udah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia, bisa dibeli di Gramedia. Atau ada juga dari Kathleen Stassen Berger judulnya The Developing Person Through Childhood and Adolescence. Ada juga yang kaitannya dengan budaya itu The Adolescent : Development, Relationship, and Culture, karya Philip Rice dan Allyn & Bacon.

    Jurnal Perempuan pernah juga nerbitin edisi khusus tentang Remaja dan Media. Coba kamu hub Jurnal Perempuan di 021-8370-2005, bisa langsung minta dihubungkan dengan Bpk. Joko.
    Good luck :)

    • abi palutturi permalink
      February 29, 2012 7:57 am

      hai boleh minta alamat fb dan twitter, yuk kita sharing

      • Ester Lianawati permalink*
        March 1, 2012 10:32 pm

        hai, sng kl bs sharing, syg gak pny twitter, en fb blum diaktifkan kembali :D
        sharing di email yuk :)

  3. ama permalink
    January 12, 2008 5:02 am

    punya referensi tentang identitas ego dari Marcia ga? saya lagi butuh nich

  4. esterlianawati permalink*
    January 12, 2008 3:52 pm

    Paling gampang sih di buku-buku psikologi perkembangan : Human Development dari Diane E. Papalia dan Sally Wendkos Olds, Adolescence dari John W. Santrock.
    Memangnya mau dikaitkan dgn apa identitas egonya? Siapa tau ada artikel2 yg cocok, bs sy kirimkan.

  5. achie permalink
    January 23, 2008 9:52 am

    apa ada artikel yang membahas bagaimana teori erikson membahas perempuan lajang? thx

  6. stenlly weber permalink
    January 31, 2008 4:59 am

    good

  7. February 8, 2008 1:57 am

    alo mbak…
    tau EOMEIS alat ukur dari G Adams itu, mbak ada referensi yang membahas tentang masing-masing aspek identitas didalam alat ukur itu gak?buat skripsi ni..
    jwb yah mba…

  8. esterlianawati permalink*
    February 8, 2008 7:45 am

    alo Kiki,
    EOMEIS tuh dah direvisi kyknya dah EOMEIS-2.
    Aspek-aspek identitasnya bisa dibaca di buku-buku psikologi perkembangan, ato lgsg di buku psi remaja (Human Development dari Diane E. Papalia dan Sally Wendkos Olds, Adolescence dari John W. Santrock, Identity Development : Adolescent through Adulthhood dari Jane Kroger). Kalau spesifik mengangkat perbedaan gender bisa diliat di buku Carol Gilligan, In a Different Voice.
    Cari juga di http://www.findarticles.com, ada bbrp artikel yg jelasin ckp detil ttg EOMEIS nya lgsg, termasuk domain2nya (interpersonal & ideological).
    Good luck, Ki :)

  9. Dila permalink
    February 12, 2008 6:44 am

    aloow mBa…
    need some help ni, Dila lagi ngegarap skripsi about Pengembangan Kepribadian, so..punya referensi ttg itu gak? oh ya khususnya untuk tahap anak-anak akhir, usia sekolah kelas 5-6 SD mba.. mohon bantuannya ya..
    moga iLmunya terus bertambah ya..
    thx b4

  10. esterlianawati permalink*
    February 12, 2008 8:18 am

    Alo jg Dila,
    Topik km msh luas bgt ya. Mgkn Dila bisa coba baca buku perkembangan anak en kepribadian dulu. Bbrp yg cukup baru mis. Children Today (Grace J. Craig), Child Development (John. W. Santrock, en ), Personality Theories (Bem P. Allen), Theories of Developmental Psychology (Patricia Miller). En yg agak praktis Becoming the Parents You Want to Be (lupa pengarangnya). Versi Bahasa Indonesia coba cari di Gramedia, kadang Nakita suka terbitin buku panduan ttg anak.
    Gud lak ya :)

  11. funny permalink
    March 3, 2008 12:28 pm

    hai mbak…salam kenal…

    mbak, buku child development by santrock tuh ada versi bahasa indonesianya g? klo iya penerbitnya sapa?? en apa di gramedia ada??

  12. esterlianawati permalink*
    March 4, 2008 3:12 am

    Slm kenal jg, Funny.
    Setauku, buku Santrock yg itu blum ada terjemahannya. Tp nanti coba brgkali ada info terbaru ya.

  13. Ririn permalink
    April 4, 2008 7:27 am

    It helps me much. Thx, Mbak Ester.

  14. esterlianawati permalink*
    April 4, 2008 7:39 am

    Sama2, Ririn.

  15. wadit permalink
    April 5, 2008 2:47 pm

    hi.,.thx y bwt infonya.,.
    btw gw lagi nyari tentang teori +penjelasan gambar tentang teori anak tangga n parabola.,.gw g tau pasti teori siapa itu.,.
    hmm kira-kira dmana yaa gw bisa dapatin keterangan itu.,.???
    tolong kabarin yaa klu kamu tau.,.,

    thx yaa.,.,:)

  16. esterlianawati permalink*
    April 7, 2008 2:59 am

    Hi, Wadit. Thx jg dah mampir. Mgkn yg elo mksd itu teorinya Roger Hart, The Ladder of Participation. Elo bs buka di http://www.freechild.org. Itu lgsg hsl penelitiannya. Kl mau yg laen, bs klik di Oom Google hehe. Slmt mencari en menemukan.. ;)

  17. tiro permalink
    April 14, 2008 12:53 pm

    halo kk ester nama saya tiro, saya sedang menyelesaikan skripsi yang berjudul Tingginya Perceraian Usia Lanjut di Jepang yang dipengaruhi oleh kebebasan wanita, kk ada ide ga teori tentang kebebasan wanita yang seperti apa yang bisa saya pakai untuk skripsi saya..?? maap ya kk mengganggu…

  18. esterlianawati permalink*
    April 18, 2008 6:03 am

    Hai Tiro, wah keren ya judul skripsi km. Kebebasan wnt itu luas bgt ya, mau ditinjau drmn..Km ambil fakultas apa, mgkn bs disesuaikan jg sama fak km. Kl psikologi sih sy kepikirannya ttg power dlm relasi suami istri itu sendiri. Smkn maraknya kebebasan wnt ktnya bikin wnt mrs pny power yg lbh kuat, sementara pria nya blum siap dgn perubahan itu. Kl mau lbh ringan bisa diliat dr sikap peran gender (tradisional ato egaliter), wnt yg sikap peran gendernya lbh egaliter diduga lbh berani utk memilih perceraian sbg solusi. Kl km hrs bawa teori feminisme, mgkn hrs dikaitin jg sama feminisme multikulturalis krn km ngambil sampelnya spesifik di Jepang. Bahasannya bs pnjg nih, kl krg jls ato km jg mau ks info yg lbh detil ttg skripsimu, bs ke emailku di esterlianawati@yahoo.com. Good luck :)

  19. nissa permalink
    July 3, 2008 12:21 pm

    mbak ester yang cantik, tolong bantuannya donx. saya sedang menyelesaikan skripsi tentang krisis identitas. bisa tolong berikan referensi buku tentang krisis identitas dari erikson yang lengkap tidak. soalnya saya mencoba membaca buku adolescence atau yang lain saya masih kesulitan. terimakasih mbak…

  20. esterlianawati permalink*
    July 5, 2008 5:26 pm

    Dear Nissa,

    Sptnya km hrs cari buku aslinya Erikson yg judulnya Identity : Youth and Crisis. Smg bs menemukan bukunya ya. Kl susah nemunya, mgkn bisa ke perpustakaan nasional. Bnyk buku lama di sana. (smg km tinggal di jkt :D). Erikson nulis buku itu thn 1968 soalnya..

    Atau coba cari di google utk versi pdf-nya.
    Atau kl pny account proquest, bisa buka di http://www.proquest.com/pqdauto

    Btw, coba email ke email sy di esterlianawati@yahoo.com. Kyknya sy ada bbrp artikelnya.

    Good luck ya

  21. December 19, 2008 12:30 am

    Trims buat artikelnya..
    cuma ingin meyakinkan aja, apakah pembahasan mengenai teori perkembangan erikson diatas lebih ditekankan pada perkembangan anak (laki2) saja? atau ke setiap stage?
    Apakah ada penjelasan mengenai stage terakhir integrity vs despair? Karena saya tertarik untuk meneliti stage terakhir dr Erikson ini untuk melihat gambaran lansia di suatu desa pasca konflik. Many thanks before for the reply

  22. esterlianawati permalink*
    December 23, 2008 9:44 am

    Hai dafe,
    trims jg ya dah mampir.
    slm ini teori perkembangan erikson mmg diterapkan utk laki2 dan perempuan. kl mnrt sy sih krg tepat mengingat bbrp hal yg sudah sy tuliskan di atas.
    mengenai tahap terakhir perkembangan erikson berbicara mengenai tugas lansia utk mencapai integritas atas semua pengalaman hidupnya. pd tahap ini lansia diharapkan dapat menyatukan kepingan2 pengalamannya, menerimanya baik yg manis dan terutama yg pahit, tdk menyesali hidupnya, tdk menyesali keputusan2 yg telah diambilnya. melainkan lansia diharapkan dapat mengambil makna atas semua yg terjadi, menerima tanggung jawab personal atas apa yang tlh dilakukannya di masa lalu, mencapai kepuasan atas apa yg semua yg tlh dialaminya, shg pd akhirnya jg akan siap menghadapi kematian. Jika mampu melakukannya, lansia dpt mencapai virtue kebijaksanaan. Jk tdk, yg muncul hanya rasa putus asa dan ketakutan menghadapi kematian krn mrs blum melakukan yg baik sepanjang hidupnya.

  23. jati permalink
    November 2, 2010 3:15 pm

    wah kak hebat bngt, tugas tugas liat ksni, untk refrensi, thx y kak untk it sya mkin sMngt ni untk bca artikel dari kak

    • Ester Lianawati permalink*
      November 24, 2010 10:00 am

      sama-sama, Jati. senang tulisan ini bs bermanfaat :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers

%d bloggers like this: