A Feminist Psychologist’s Blog

August 6, 2007

Runaway Love

Filed under: Les Pensées au Féminisme — by esterlianawati @ 6:10 am

Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love

[Verse 1]
Now little lisa is only 9 years old
Shes tryin to figure out why the world is so cold
Why shes all all alone and they never met her family
Mamas always gone and she never met her daddy
Part of her is missin and nobody will listenin
Mama is on drugs gettin high up in the kitchen
Bringin home men at different hours of the night
Startin with laughs–usually endin in a fight
Sneak into her room while her mamas knocked out
Tryin to have his way and little lisa says ‘ouch’
She tries to resist but then all he does is beat her
Tries to tell her mom but her mama don’t believe her
Lisa is stuck up in the world on her own
Forced to think that hell is a place called home
Nothin else to do but some get some clothes and pack
She says shes bout to run away and never come back.

[Hook]
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love

[Verse 2]
Little nicole is only 10 years old
Shes steady tryin to figure why the world is so cold
Why shes not pretty and nobody seems to like her
Alcoholic step dad always wanna strike her
Yells and abuses, leaves her with some bruises
Teachers ask questions she makin up excuses
Bleedin on the inside, cryin on the out
Its only one girl really knows what she about
Her name is lil stacy and they become friends
Promise that they always be tight til the end
Until one day lil stacy gets shot
A drive by bullet went stray up on her block
Now nicole stuck up in the world on her own
Forced to think that hell is a place called home
Nothin else to do but some get some clothes and pack
She says shes bout to run away and never come back.

[Hook]
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love
Runaway love

[Verse 3]
Little erica is eleven years old
Shes steady tryin to figure why the world is so cold
So she pops x to get rid of all the pain
Cause shes havin sex with a boy whos sixteen
Emotions run deep and she thinks shes in love
So theres no protection hes usin no glove
Never thinkin bout the consequences of her actions
Livin for today and not tomorrows satisfaction
The days go by and her belly gets big
The father bails out he aint ready for a kid
Knowin her mama will blow it all outta proportion
Plus she lives poor so no money for abortion
Erica is stuck up in the world on her own
Forced to think that hell is a place called home
Nothin else to do but get her clothes and pack
She say shes about to run away and never come back.

—————————

Runaway Love merupakan single ketiga dari album Ludacris yang kelima, yang berjudul Release Therapy. Lirik lagunya ditulis C.Bridges, D.Davis, K. Hilson, J. Jones, dan R. Walters, dengan produsernya Polow Da Don. Lagu yang turut menampilkan vokal Mary. J. Blige ini menempati posisi pertama dalam Hot Rap Tracks di Amerika Serikat, posisi kedua dalam keseluruhan tangga lagu di Amerika Serikat, dan posisi ke 14 berdasarkan hasil penjualan di seluruh dunia.

Ketiga bait lagu menuturkan kisah tiga remaja putri. Dimulai dari bait pertama yang mengisahkan tentang Lisa, berusia 9 tahun. Lisa tidak pernah bertemu dengan ayah kandungnya. Ibunya seorang pecandu narkoba, dan sering bertengkar dengan kekasihnya. Setiap kali seusai pertengkaran, kekasih ibunya akan menyelinap ke kamar Lisa dan memperkosanya. Lisa akan dipukuli jika tidak menuruti keinginan kekasih ibunya itu. Lisa mencoba untuk memberitahukan ibunya mengenai penganiayaan seksual yang dialaminya, namun ibunya tidak mempercayainya.

Bait kedua dari lagu Runaway Love ini berkisah tentang Nicole, seorang gadis berusia 10 tahun yang merasa kesepian. Ia merasa dirinya tidak cantik dan tidak ada seorangpun yang menyukainya. Ayah tirinya adalah seorang alkoholik dan sering menganiayanya secara fisik. Guru-guru Nicole di sekolah sering bertanya kepadanya mengenai memar-memar di tubuhnya, yang adalah akibat penganiayaan ayahnya, namun Nicole berbohong kepada mereka. Nicole memiliki sahabat bernama Stacy, yang merupakan sahabatnya satu-satunya. Nicole berharap persahabatannya akan berlangsung selamanya. Sayangnya suatu hari Stacy tewas tertembak, dan Nicole pun kembali ditinggalkan sendirian.

Terakhir di bait ketiga, adalah Erica, seorang gadis berusia 11 tahun yang memakai ecstasy. Ia melakukan hubungan seks dengan kekasihnya yang berusia 16 tahun. Perlahan Erica mulai merasa benar-benar mencintai kekasihnya, dan hubungan seksual pun dilakukan tanpa perlindungan (alat kontrasepsi). Erica pun mengandung, namun kekasihnya malah meninggalkannya karena merasa belum siap memiliki anak. Erica sendiri berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mempunyai uang untuk melakukan aborsi. Di sisi lain ia juga menyadari ibunya akan sangat marah jika mengetahui kehamilannya.

Lisa, Nicole, dan Erica akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan rumah.

“Runaway Love” mendapatkan respon positif dari banyak kritikus musik dan budaya pop. Ludacris dipuji memiliki kepekaan terhadap permasalahan yang banyak menimpa anak-anak perempuan. Menurut saya pujian itu tidak berlebihan. Namun tentunya bukan hanya Ludacris yang layak mendapat pujian. Tidak dapat disangkal Ludacris dan Mary. J. Blige telah menyanyikan lagu ini dengan sangat baik. Hal ini terbukti dengan predikat Best Collaboration dalam BET Awards 2007 yang dianugerahkan kepada mereka. Namun tentunya pujian juga layak diberikan kepada pencipta melodi yang membuat lagu ini ‘enak’ untuk didengar. Dan pujian terutama saya tujukan kepada penulis lirik yang telah mengangkat sebuah realita yang terjadi di berbagai belahan dunia, yakni masih banyak anak-anak perempuan yang berada dalam situasi-situasi buruk. Yang lebih buruk lagi adalah kebanyakan dari mereka tidak memiliki daya dan kapasitas apapun untuk mengatasi masalahnya.

(Pujian jg utk Suly :) , thx for introducing this song to me.)

Love and death

Filed under: La Vie Quotidienne — by esterlianawati @ 6:09 am

 People say that love and death are two common and universal human journeys. There is a difference though. Love is most powerful and lasts longer. A body is taken only once but love can be given a thousand times. Ask how someone died, the answer is finite. Ask how they loved, the answer is infinite.

–Jeffery Seaver–

Apa yang Yesus inginkan dari Perempuan Korban Kekerasan?

Filed under: Les Pensées au Féminisme — by esterlianawati @ 6:05 am

Kekerasan adalah menu sehari-hari dalam kehidupan perempuan, termasuk perempuan Kristen. Menurut Emerson & Rusell Dobash, kekerasan ini terjadi karena struktur relasi yang memposisikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, telah dilegitimasi oleh berbagai sistem termasuk sistem religius. Legitimasi sistem religius inilah yang membuat relasi itu tampak alamiah dan suci.

Termasuk dalam agama Kristen, dengan penafsiran Kitab Suci selama ini telah membuat perempuan dianggap layak menjadi korban. Bahkan perempuan yang menjadi korban telah mempercayai bahwa status mereka inferior di hadapan suami dan Allah serta pantas untuk hidup menderita.  Mereka sulit menerima pemikiran bahwa kekerasan atas diri mereka adalah salah. Menurut mereka, justru perlawanan terhadap ketidakadilan yang mereka alami merupakan sikap yang tidak Kristiani.

Namun demikian Susan Brooks Thistlethwaite meyakini dengan penafsiran kritis, Alkitab dapat dijadikan alat untuk menantang citra dalam teks Alkitab itu sendiri. Lebih lanjut Thistlethwaite menyatakan bahwa Alkitab membela perempuan lebih dari yang perempuan harapkan. Menurutnya, penafsiran kritis feminis terhadap Alkitab dapat membantu perempuan korban menemukan kembali harga dirinya.

Untuk itu pertama-tama perempuan perlu memahami bahwa Alkitab ditulis dari perspektif orang yang tidak berdaya. Hal ini dapat terlihat dari penetapan bangsa Israel yang saat itu merupakan budak-budak sebagai umat pilihan Allah. Atau dalam Keluaran 22 : 22-24, Allah menghukum keras orang yang menindas perempuan atau anak-anak. Jadi “tidak mempunyai kuasa” merupakan metafor yang terus digunakan dalam Alkitab untuk memperlihatkan bahwa mereka dihargai Allah secara khusus. Allah juga membantu mereka untuk menyadari bahwa penindasan terhadap mereka bukannya diterima tanpa perlawanan.

Alkitab menunjukkan bahwa Allah memilih orang-orang yang disingkirkan dan kemudian memberikan mereka perasaan harga diri yang baru. Hal ini pula yang dilanjutkan dalam pelayanan Yesus. Kisah persembahan janda miskin, pengampunan seorang pelacur yang beriman, penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan, dan pembelaan hak Maria menjadi murid menunjukkan perhatian Yesus kepada perempuan. Lebih dari itu, teks Yohanes 7:53-8:11 mengenai pembelaan Yesus terhadap perempuan yang berzinah merupakan teks yang paling ampuh bagi perempuan yang dianiaya untuk mengidentifikasi diri.   

Penafsiran kritis feminis juga membantu perempuan untuk mengambil kendali atas hidup mereka. Untuk itu perempuan perlu memahami bahwa meskipun perempuan tidak termasuk dalam kedua belas murid Yesus, namun perempuan termasuk dalam lingkaran pengikut Yesus yang paling dekat dan keikutsertaan mereka adalah tindakan yang disengaja. Injil telah menunjukkan bahwa perempuan merupakan murid Yesus yang paling setia sebab mereka tetap berada di kaki salib meskipun murid lain telah melarikan diri. Bahkan Yesus pertama kali menampakkan diri kepada perempuan setelah kebangkitanNya dan mengutus mereka untuk memberitakan hal tersebut kepada murid-murid lain. Fakta kebangkitan Yesus merupakan fakta sentral dari Kabar Baik, dan ternyata Yesus memilih perempuan untuk mengabarkan fakta sentral ini (Mat 28:10; Mrk 16:7; Luk 24:8-9). Jadi perempuan adalah subyek yang memiliki kendali, termasuk kendali untuk mengambil tindakan terhadap tindak kekerasan yang dialaminya.

Perempuan korban kekerasan juga perlu belajar bahwa kemarahan merupakan suatu hal yang sah untuk mereka lakukan. Untuk itu kita perlu memahami konteks historis dari Efesus 5 : 21-23 yang sering disalahtafsirkan sebagai ketaatan absolut yang wajib dilakukan istri terhadap suami. Surat Efesus ditulis pada saat yang bersamaan dengan Kolose. Dalam Kolose 3 :11 ditemukan pengulangan dari rumusan Galatia 3:28 namun dengan menghapus bagian kesetaraan perempuan dan laki-laki. Padahal Galatia 3 : 28 menyatakan bahwa dalam Kristus tidak ada laki-laki dan perempuan, dan pernyataan ini dapat dimanfaatkan untuk menentang pola patriarki.

Perlu diketahui bahwa dalam surat-surat pseudo Paulus memang ditemukan pergeseran visi egalitarianisme Yesus. Oleh karena itu kita pun perlu mengkritisi konteks historis dari surat Efesus 5 :21-23 ini. Perlu dipahami pula bahwa dalam Efesus, hubungan suami-istri dianalogikan dengan hubungan Kristus-Gereja. Menurut Walter Brueggemann, mengaitkan perkawinan dengan hubungan ilahi-manusiawi jelas-jelas mengilahikan superioritas laki-laki dalam hubungan itu.

Selain itu, interpretasi lain yang mungkin adalah melihat lebih lanjut kepada Efesus 5 :29, yang menyatakan “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya sama seperti Kristus terhadap jemaat.” Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang dianiaya pun dapat mengungkapkan kemarahan bila ia memang mencintai tubuhnya sendiri, dan seharusnya demikian.

Dalam hal ini saya ingin menambahkan bahwa Yesus pun tidak mengajarkan kasih yang ‘kebablasan’. Dalam teladan kepemimpinanNya, Ia mengajarkan juga asertivitas yang terlihat dari kemarahan yang diungkapkan Yesus ketika Bait Allah digunakan untuk berjualan. Dengan demikian, menurut saya, perempuan yang dianiaya seyogianya dapat mengambil tindakan yang asertif dan memegang kendali atas hidup mereka, bukan hanya diam tanpa perlawanan.

Tulisan ini merupakan ringkasan dari “Kekerasan terhadap Perempuan dan Penafsiran Feminis, yang ditulis oleh Susan Brooks Thistlewaite dalam buku Perempuan dan Tafsir Kitab Suci, dengan Letty M. Russell sebagai editor.

Powered by WordPress.com