Jika Anda ditanya, manakah pernyataan yang lebih tepat: saat ini banyak orang berusia 30-an yang tidak menikah, atau saat ini banyak orang berusia 30-an yang belum menikah, kebanyakan bisa jadi akan memilih jawaban pertama.
Dalam budaya kita, sebutan “belum menikah” lebih lazim. Frase belum menikah, menyiratkan masih ada harapan yang diproyeksikan. Suatu saat orang itu akan menikah. Beda halnya dengan tidak menikah, seolah-olah ada satu kepastian ia memang tidak akan menikah.
Kini sudah jadi kecenderungan orang menikah di usia yang lebih tua dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, perlu diperhatikan yang terjadi hanya pergeseran usia menikah, bukan berarti ada peningkatan jumlah orang yang tidak menikah.
Sampai saat ini, pernikahan tetap dianggap sebagai momen terpenting yang masih senantiasa ditunggu sepanjang perjalanan hidup seseorang.
Masyarakat kita masih melekatkan pernikahan sebagai bagian identitas seseorang. Hidup baru dianggap lengkap jika orang itu sudah menikah. “Kapan nih (baca: menikah)”, adalah pertanyaan singkat namun mampu membuat orang yang ditanya mengambil waktu panjang untuk berpikir masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.
Stereotip negatif akan ditujukan bagi mereka yang belum menikah di usia yang dianggap sudah sepantasnya. Sebutan perjaka tua atau bujang lapuk tersedia bagi laki-laki yang belum menikah di usianya yang dianggap “cukup”. Belum lagi laki-laki sering diidentikkan dengan kebutuhan seksual yang besar. Demikian pula perempuan yang akan mendapatkan sebutan perawan tua. Bahkan sebutan itu sering dirasakan berdampak jauh lebih besar bagi perempuan dibandingkan laki-laki.
Stereotip negatif yang ditujukan kepada laki-laki lajang hanya dikaitkan dengan hasrat seksualnya dan itu pun sering kali mendapat pembenaran karena ia laki-laki. Tidak demikian halnya dengan perempuan. Label perawan tua yang diberikan kepada perempuan hanya merupakan permulaan. Perempuan dingin, judes, galak, frigid, kesepian, sombong, terlalu pemilih, tidak laku, akan menyusul dalam daftar stereotip lainnya terhadap perempuan lajang.
Kesejahteraan Psikologis
Perempuan memang menerima tuntutan lebih besar untuk menikah, terutama dari keluarganya. Simone de Beauvoir, feminis eksistensialis, pernah mengatakan banyak orangtua menganggap anak perempuannya tidak akan bahagia jika tidak bersuami. Apalagi dalam masyarakat yang menganut budaya patriarki seperti Indonesia, eksistensi perempuan sudah dikonstruksi sedemikian rupa untuk dilekatkan dalam konteks hubungannya dengan suami.
Kebanggaan perempuan seolah-olah juga ditentukan oleh suaminya. Sampai ada orangtua yang berprinsip tidak masalah anak perempuannya tidak menjadi dokter, asalkan menjadi istri dokter. Karena itulah, istilah “nyonya” dan “nona” menjadi perbedaan besar, ketimbang istilah “tuan” yang tidak berubah pada laki-laki, sebelum ataupun setelah menikah.
Namun demikian, tuntutan menikah pada laki-laki sebenarnya juga tidak kalah besarnya, terutama pada kelompok suku tertentu yang memiliki nama keluarga (marga). Dengan menikah, ia diharapkan dapat memiliki keturunan yang akan meneruskan nama keluarganya kelak.
Dengan besarnya tuntutan itu, baik pada perempuan maupun laki-laki, tidak heran jika banyak kaum muda tertekan ketika belum mendapatkan pasangan di usia yang sudah dianggap pantas menikah. Banyak pula yang akhirnya menikah dengan pasangan yang belum dikenal dengan baik hanya karena usia seolah sudah mengejar. Pada akhirnya pernikahan pun menjadi sesuatu yang wajib dilakukan agar tidak dianggap menyimpang dari norma masyarakat dan terhindar dari stereotip negatif.
Padahal, tidak selamanya stereotip negatif itu terbukti. Kehidupan lajang awalnya memang bukan wilayah yang mendapat banyak perhatian untuk dieksplorasi. Hal itu dikarenakan penekanan masyarakat kepada pernikahan sebagai bentuk yang konvensional, sehingga dunia lajang sering dianggap antara ada dan tiada. Namun, belakangan ini cukup banyak penelitian dilakukan terhadap kelompok lajang. Hasilnya membuktikan stereotip negatif, khususnya terhadap perempuan lajang hanyalah mitos belaka.
Sejumlah penelitian membuka pemahaman baru bahwa kaum lajang memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi. Karena lajang lebih memiliki banyak waktu mengeksplorasi dan mengembangkan potensinya. Mereka merasa lebih memiliki kendali atas hidup sendiri. Hal itu membuat mereka lebih percaya diri karena memperoleh otonomi baik secara psikologis maupun sosial.
Kaum lajang yang aktif terlibat dalam kegiatan komunitas juga memiliki hubungan interpersonal yang memuaskan. Hubungan itu merupakan salah satu bentuk keintiman, bagian dari tugas perkembangan seseorang. Jadi tanpa menikah pun, kebutuhan intimasi (need of intimacy)masih dapat terpenuhi dari jaringan pertemanannya. Apalagi jika ada dukungan dan penerimaan dari keluarga atau orang-orang terdekat lainnya. Mereka lebih sejahtera, yang pada akhirnya mendorong mereka menunjukkan sisi terbaik dari diri mereka.
Jadi kehidupan melajang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Melajang adalah sebuah pilihan, bukan bentuk pemberontakan terhadap ikatan pernikahan.
Menikah ataupun melajang, ketika lahir dari kehendak bebas seorang, justru akan memunculkan maknanya. Jadi, menikah ataupun melajang? Lakukanlah sebagai sebuah pilihan.
Tags: eksistensialis, feminis, intimacy, kegiatan, kesejahteraan psikologis, komunitas, melajang, menikah, mitos, patriarki, perawan tua, perempuan, pilihan, psychological well-being, Ryff, Simone de Beauvoir, stereotip




October 16, 2008 at 1:08 pm
hy mbk,,,
btw topik skripsiku ttg faktor2 yg menyebabkan wanita melajang nie??
cr jurnalnya yg agak sulit and blm ada yg fix ma judulna lg,,
slm kenal ya mbk