Skip to content

Memahami Komitmen Perkawinan : Bersama Hingga Ujung Umur

July 16, 2007

Grow old with me! The best is yet to be.

(Robert Browning)

Kalimat di atas dapat diartikan menjadi : Hiduplah hingga tua bersamaku. Yang terbaik akan datang. Bisa jadi ini merupakan harapan dan keyakinan setiap pasangan yang mau atau baru saja menikah. Sekali menikah dan untuk selamanya. Tidak heran jika pesta pernikahan biasanya dirancang sedemikian rupa, bahkan disiapkan jauh-jauh hari minimal satu tahun sebelumnya. Persiapannya menghabiskan banyak waktu, energi, bahkan biaya hingga ratusan juta rupiah.

Para pebisnis menjadikannya sebagai peluang, maka maraklah pameran pernikahan (wedding exhibition) di berbagai tempat. Beragam layanan jasa perkawinan pun semakin inovatif. Sebut saja wedding organizer  yang menawarkan penyelenggaraan satu paket upacara pernikahan secara lengkap, jika kedua calon mempelai tidak ingin repot-repot. Atau foto pre wedding, yaitu pemotretan sebelum hari pernikahan, biasanya di alam terbuka dengan menggunakan baju kasual, mulai menjadi tren beberapa tahun terakhir ini. Singkatnya semua berusaha mempersiapkan pesta pernikahan yang meriah karena perkawinan diharapkan hanya sekali seumur hidup.

Sayangnya pesta pernikahan yang megah sekalipun tidak menjamin kehidupan perkawinan yang bahagia. Tidak seperti yang dikatakan Zsa-Zsa Gabor, mantan aktris Hollywood, bahwa perkawinan adalah sebuah akhir yang membuat cinta dua sejoli menjadi lengkap. Pada kenyataannya, hidup perkawinan tidak selalu harmonis. Perkawinan akhirnya menjadi awal, yang dapat berakhir dengan perceraian. Di Amerika misalnya 1 dari 2 perkawinan akan berakhir dengan perceraian. Meskipun tidak seekstrim itu, data perceraian di negara kita juga semakin meningkat. Data statistik dari BPS tahun 1995-2003 menunjukkan 1 dari 13  perkawinan di Indonesia berakhir dengan perceraian.

Dari sejumlah perkawinan yang bertahan, kualitasnya pun ditemukan tidak terlalu baik. Banyak orang yang sekedar ‘bertahan’ karena merasa bertanggung jawab dengan kehidupan pasangan kelak jika ditinggalkan. Ada pula yang merasa harus setia dengan janji perkawinan yang telah diucapkan. Alasan-alasan lain yang struktural sifatnya misalkan menjaga nama baik, ajaran agama yang melarang perceraian, dan memikirkan dampak negatif perceraian terhadap anak. Bagi istri yang tidak bekerja, kondisi finansial menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya bertahan. Perempuan umumnya juga lebih bertahan karena tidak ingin menyandang predikat janda yang masih negatif di mata masyarakat.

Di sinilah penting untuk memahami arti sebuah komitmen perkawinan. Selama ini komitmen perkawinan dipahami sebatas tingkat keinginan seseorang untuk bertahan dalam perkawinannya. Padahal menurut Michael P. Johnson, penggagas teori komitmen perkawinan dari The Pennsylvania State University, komitmen perkawinan perlu dipahami dalam tiga bentuk. Pertama adalah komitmen personal, yaitu keinginan untuk bertahan karena cinta terhadap pasangan dan perasaan puas terhadap hubungan itu sendiri. Kedua adalah komitmen moral, yaitu rasa bertanggung jawab secara moral baik terhadap pasangan maupun janji perkawinan. Ketiga adalah komitmen struktural yang berbicara mengenai komitmen untuk bertahan dalam suatu hubungan karena alasan-alasan struktural seperti yang disebutkan di atas.

Meskipun Johnson menganggap ketiga komitmen ini dapat berdiri sendiri, adalah menarik untuk melihat kaitannya satu sama lain. Meminjam istilah Johnson, orang-orang yang sekedar bertahan karena alasan-alasan yang disebutkan di atas adalah orang yang memiliki komitmen moral dan struktural yang tinggi, namun komitmen personalnya rendah. Komitmen moral dan struktural memegang peranan kunci ketika seseorang hendak memutuskan untuk bercerai. Kedua komitmen tersebut dapat membuat pasangan menghindari perceraian, namun memiliki keduanya tidak menjamin kebahagiaan perkawinan.

Kedua komitmen tersebut hanya menurunkan probabilitas terpilihnya perceraian sebagai suatu solusi. Orang yang memiliki keduanya tetapi tidak memiliki komitmen personal, akan mengeluhkan betapa kering perkawinan mereka. Perkawinan ini juga lebih rawan akan konflik. Ditambah dengan tidak adanya lagi rasa tertarik terhadap hubungan dan pasangan, masing-masing dapat kehilangan minat untuk menyelesaikan konflik tersebut. Akhirnya pasangan ini menjadi rentan terhadap perselingkuhan.

Perkembangan teknologi yang mendukung seperti telepon genggam dan internet semakin membuka akses ke arah perselingkuhan. Ada yang ‘sekedar’ selingkuh emosional seperti misalnya chatting di internet atau ber-sms ria. Orang yang melakukan selingkuh jenis ini biasanya tidak menyadari bahwa mereka telah berselingkuh. Padahal perselingkuhan ini dapat meningkat menjadi perselingkuhan jenis romantik, yang melibatkan cinta mendalam disertai hubungan seksual. Umumnya mereka yang melakukannya akan sulit untuk menghentikan perselingkuhan.

Perselingkuhan yang intens semacam ini dapat merusak perkawinan. Pada orang-orang dengan komitmen struktural rendah, perselingkuhan dapat langsung mengakhiri perkawinan. Pada orang yang memiliki komitmen struktural tinggi, umumnya cenderung memilih untuk memperbaiki perkawinan. Namun membangun kembali kepercayaan pasca perselingkuhan bukan hal yang mudah. Dampak perselingkuhan akan tetap terasa dalam jangka panjang. Membutuhkan kemampuan untuk melupakan dan memaafkan agar perkawinan dapat kembali normal.

Pada budaya tertentu yang mengizinkan poligami, komitmen personal yang rendah menjadi salah satu faktor pendorongnya. Di negara kita poligami hanya dapat dilakukan oleh laki-laki. Atau lebih spesifik dapat dikatakan sebagai poligini, yaitu suami memiliki banyak istri. Di India, khususnya di wilayah Ladakh dan Lahaul, hukum membolehkan poliandri, yaitu seorang istri memiliki beberapa suami. Menurut Frank Pittman, seorang terapis keluarga, poligami dengan dasar ketidakpuasan terhadap pasangan, merupakan salah satu bentuk ketidaksetiaan yang tergolong sebagai pengaturan perkawinan (marital arrangements). Salah satu bentuk lain dari marital arrangements yang sedang beken di kalangan selebriti kita adalah kawin siri. Kawin siri berasal dari kata Syr, yang artinya sembunyi. Jadi perkawinan siri adalah perkawinan tanpa saksi karena tidak ingin diketahui orang lain, terutama pihak istri pertama.

Oleh karena itu komitmen personal menempati posisi terpenting, yang seharusnya dimiliki setiap pasangan. Karena seseorang yang puas dengan kehidupan perkawinannya, akan lebih mungkin untuk berkomitmen dengan perkawinannya. Hal ini terlepas dari tinggi rendahnya komitmen struktural yang mereka miliki. Tiap pasangan seyogianya lebih mawas diri (aware) terhadap jenis komitmen yang mereka miliki. Karena tidak ada atau rendahnya kepuasan dan cinta terhadap pasangan dapat membuat seseorang mencarinya di luar perkawinan. Karena itu perselingkuhan sebenarnya bukan penyebab masalah dalam perkawinan, tetapi lebih menjadi sinyal bahwa telah ada yang salah dengan perkawinan itu.

Dengan demikian, komitmen personal tentunya perlu dijaga untuk membangun perkawinan yang bebas affair. Menjaga komitmen personal berarti menjaga kepuasan hubungan. Kepuasan bersifat subjektif dan tergantung dari masing-masing pasangan. Oleh karena itu kita butuh memahami keinginan pasangan dan menyesuaikan diri satu sama lain. Untuk itu perlu menjalin komunikasi dua arah, mendiskusikan perbedaan, dan mendengarkan penuh empati. Disertai dengan respek satu sama lain, dan dilengkapi dengan rasa percaya.

Bagian yang tersulit dari menjaga komitmen personal adalah menjaga agar cinta terhadap pasangan tetap menyala. Jatuh cinta selalu melipatgandakan semangat dan membuat hidup terasa lebih indah. Sayangnya sebagaimana yang dikatakan  Thomas Moore,cinta membawa kita kepada pernikahan namun akhirnya pernikahanlah yang memadamkan cinta tersebut.

Beberapa tips berikut ini mungkin dapat bermanfaat : a). Senantiasa mawas diri jikalau mulai jenuh dengan pasangan,  b). Terus berusaha mencari sisi positif yang dimiliki pasangan. dan c). Saat melihat kekurangan pasangan, cobalah mengingat apa yang pernah membuat kita jatuh cinta dengan pasangan. Apa yang tidak kita sukai saat ini dari pasangan bisa jadi dulunya merupakan hal yang telah membuat kita jatuh cinta. Misalkan saat ini kita menganggapnya terlalu mengatur. Padahal tadinya kita menikahinya karena ketegasannya. Sekarang kita bosan karena ia terlalu sering berkaca. Padahal tadinya kita jatuh cinta karena ia tampil menarik.

Perkawinan mungkin tidak selalu berjalan mulus. Ilalang yang tumbuh pasti ada, demikian cuplikan lagu Kris Dayanti dan Anang di album 10 tahun perkawinan mereka. Tetapi jika kita memiliki komitmen personal dengan terus menjaga api cinta, kita dapat lebih kuat mengatasinya. Jika kita dapat melakukannya, bukan mustahil kalimat pembuka di atas dapat menjadi kenyataan. Grow old with me! The best is yet to be.

 -untuk teman-teman yang membutuhkan artikel jurnal dari Johnson et al, dapat langsung klik link  ini :

http://www.personal.psu.edu/mpj/1999%20Johnson,%20Huston%20&%20Caughlin.pdf

107 Comments leave one →
  1. ery permalink
    January 18, 2008 3:59 am

    saya tertarik dengan fokus permasalahan yang ada di blog ini. karena saya juga sedang membuat skripsi tentang komitmen…mohon bantuannya jika ada informasi terbaru yah…saya tunggu balasannya….

  2. esterlianawati permalink*
    January 18, 2008 12:33 pm

    Hai Ery, materi komitmen yg sy pny ada dlm bentuk buku dan artikel jurnal, jd gak bisa sy attach ke emailmu. Boleh aja kl km mau fotokp, gmn caranya ya :P Km mau kaitkan dgn apa komitmennya, kl ada yg mau km diskusikan bs email sy di esterlianawati@yahoo.com.

  3. sisca permalink
    February 27, 2008 4:22 am

    hai mb ester, saya tertarik dengan pendapat anda terutama masalah menjaga komitmen. Saat ini, say sedang menjalani hubungan jarak jauh sehingga masalah sering sekali datng, tapi sampai saat ini saya masih bisa menjaga kesetiaan dengan pasangan. Saya mau minta saran aja gmn menjga hubungan jarak jauh supaya langgeng.Kekasihku seperti kurang yakin padahal saya sdh benar2 sayang…thx atas sarannya ya kirim ke email aja.makasih.

  4. rini permalink
    March 25, 2008 3:04 am

    Mba, mo nanya kalau komitmen perkawinan itu untuk sblm atau setelah menikah beberapa tahun kalau dibuat penelitian. Mba boleh minta teorinya ga?? Saya tertarik buat ta saya. Tolong ya mba, help me……

  5. esterlianawati permalink*
    March 26, 2008 2:52 am

    Dear Rini,
    Komitmen perkawinan itu utk yg udah menikah. Mengenai berapa tahun itu akan tergantung km mau pake teorinya siapa. Ada yg mau neliti komitmen itu saat titik2 rawan perkawinan. Titik2 rawan itu kapan juga beda lagi antar peneliti. Ada juga yg mau neliti komitmen justru pada saat masa2 rawannya dah lewat. Ada jg yg membandingkan saat lg masa rawan dan saat engga. Ada juga yg ngeliatnya bukan berdasarkan tahun menikah tapi berdasarkan peristiwa ttt yg dialami pasangan, suku bangsa, agama, dll. Misalnya mau liat komitmen pd pasangan yg anaknya menderita autis, pasangan yg salah satunya terkena kanker/penyakit lainnya, dll.
    Yg penting sih kita pny alasan knp kita mau neliti itu en ditunjang landasan teori yg kuat.
    Teori yg sy pake di artikel ini kuambil dr Johnson, M.P, Caughlin, J.P, Huston, T.L. (2002). Journal of Marriage and Family, hal 161-177. Kl km tertarik dgn masalah perkawinan, utk awal km bisa baca bukunya Philip Rice, judulnya Intimate relationships, marriage, and families. Ada jg Olson & DeFrain, judulnya Marriages and families : intimacy, diversity, and strengths.
    Mau aja sih kasi km teorinya, tp sy gak pny materi yg bisa dikirim via email. Kita kontak via email ya, mgkn bisa diatur gmn caranya ks bahan itu ke kamu :) Email sy di esterlianawati@yahoo.com.

  6. NIdya permalink
    June 19, 2008 1:57 am

    mba, saya lagi nyusun skripsi tentang komitmen pasangan gay.saya boleh minta teori komitmen yang terdiri dari 3 dimensi salah satunya komitmen moral saya masih belum ada dimensi lainnya. tq

  7. esterlianawati permalink*
    June 20, 2008 4:27 am

    Teorinya dr Michael P. Johnson. Sy gak pny artikel elektroniknya sih. Tp kl km mau cari di Journal of Marriage n Family, tahun 2002.

    Intinya sih komitmen itu terdiri dr 3 :
    1. Komitmen personal mengandung arti sejauh mana seseorang ingin bertahan dalam hubungannya. Komitmen ini dipengaruhi tiga hal. Pertama, seseorang ingin bertahan dalam hubungannya karena memang masih ada cinta atau ketertarikan yang kuat dengan pasangan. Kedua, ketertarikan dengan hubungan itu sendiri, yakni bahwa hubungan yang ada memang memuaskan. Komponen ketiga adalah identitas sebagai pasangan. Dalam hal ini, hubungan yang dimiliki menjadi salah satu aspek konsep diri yang dianggap penting bagi individu itu.

    2. Komitmen moral adalah suatu rasa bertanggung jawab secara moral untuk melanjutkan hubungan. Tipe komitmen ini juga terdiri dari tiga komponen. Pertama adalah nilai-nilai mengenai moralitas dari hubungan itu sendiri. Individu menganggap bahwa pernikahan adalah sesuatu yang berlangsung sepanjang hidup dengan pasangan yang sama. Kedua adalah perasaan bertanggung jawab secara pribadi terhadap orang lain. Misalnya individu merasa pasangannya membutuhkannya atau ia merasa telah berjanji untuk sehidup semati dengan pasangannya. Ketiga, seseorang merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan hubungan karena ia memiliki nilai konsistensi general (general consistency values). Individu ini biasanya merasakan kewajiban untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai, termasuk dalam hal perkawinan.

    3.Komitmen struktural adalah keinginan bertahan dalam suatu hubungan karena adanya faktor penahan dalam hubungan tersebut yang menghambatnya untuk meninggalkan hubungan. Tidak adanya alternatif lain yang lebih baik merupakan salah satu faktor yang membuat seseorang cenderung bertahan dalam hubungannya. Faktor penahan lainnya adalah tekanan sosial. Jika keputusan seseorang untuk bercerai ditentang oleh keluarga, teman, dan masyarakat, akan jauh lebih mungkin seseorang untuk mempertahankan hubungannya. Prosedur perceraian yang sulit dan menghabiskan waktu serta biaya juga menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang merasa lebih baik bertahan dalam hubungannya. Faktor yang terakhir adalah investasi yang telah ditanamkan selama hubungan berlangsung dan tidak dapat diambil kembali (irretrievable investments). Individu yang merasa telah banyak berkorban dalam hubungannya biasanya cenderung mempertahankan hubungan.

    Smg membantu ;)

  8. Nidya permalink
    June 22, 2008 1:29 pm

    Thanx banget ya mba.. atas bantuannya. nanti apabila saya ingin bertanya lagi mohon bantuannya…

  9. esterlianawati permalink*
    June 23, 2008 7:38 am

    Sama-sama, Nidya..

  10. egHa' Psy' 04 permalink
    June 28, 2008 12:59 pm

    ibu dosenku yang paling cantik, aku mau nanya nih…
    skripsiku dari pertama mpe sekarang blm banyak perkembangan palagi ttg teori kesetiaan perkawinannya. Bingung niy dapetin teori bangetnya tentang Fidelity in marriage of stripper. Tolongin donk bu, rekomendasiin teorinya… =) TengQyu b’pore y..

  11. June 29, 2008 4:42 am

    mba, mau ngerepotin lagi nih. mba ketiga bentuk komitmen tersebut yaitu komitmen personal,komitmen moral, dan struktural harus ada kan dalam menjalankan komitmen. apabila ada ketiganya maka komitmen dalam hubungan tersebut tinggi dan konflik dapat terselesaikan. namun apabila ketiganya tidak ada maka komitmen rendah. benar tidak mba? tahnks b4 cause untuk kerangka berpikir

  12. Nidya permalink
    June 29, 2008 9:29 am

    mba,maaf sy mau ngerepotin lagi, mba ketiga bentuk komitmen tersebut harus ada ya dalam menjalankan suatu hubungan. apabila ketiganya tidak ada maka komitmen menjadi rendah ya mba. namun apabila ketiga komitmen tersebut ada maka komitmen menjadi tinggi. benar tidak mba? thank b4

  13. NIdya permalink
    July 5, 2008 12:35 am

    mba, maaf merepotkan lagi, saya ingin bertanya kemabali bagaimana hubungan ketiga bentuk komitmen tersebut. apabila komitmen personal rendah namun kedua lainnya tinggi apa yang terjadi begitu pun sebaliknya. tQ

  14. esterlianawati permalink*
    July 5, 2008 4:13 pm

    Duh Egha kacian..
    Kl fidelity nya lgsg cari di buku2 marriage and family aja. Di Olson juga ada. Tp kl km hrs lgsg gabungin ke sampel nya, kyknya susah deh.Jgn2 br km yg teliti :P Gak usah digabung aja, jd cari teorinya satu2. Trus nanti km kaitkan.Misalnya km nemu kl asumsi ttg stripper itu apa aja, atau fakta seputar stripper yang terkait sama perkawinan (komitmen, dll) itu apa. Nah km kaitkan deh nanti di kerangka berpikir. Dgn kondisi stripper yg seperti itu kira2 gmn neh kesetiaannya. Kayak skripsinya Liliana gitu lho. Kan juga blum ada tuh teorinya.
    Jgn pusing getu mikirnya.. jd inget tampang km di sofa kmrn itu :P

  15. esterlianawati permalink*
    July 5, 2008 4:39 pm

    Dear Nidya,
    km benar kl ketiga komitmen itu rendah, jelas orang itu lbh mungkin untuk bercerai. Kl ketiga-tiganya tinggi, jelas org itu akan sangat mgkn utk bertahan dlm perkawinannya.

    Tp ketiganya juga hrs diliat lg dinamikanya. Engga harus semuanya tinggi utk mempertahankan hubungan.

    Misalnya kl komitmen personal tinggi, komitmen moral tinggi tetapi komitmen struktural rendah, biasanya org itu tetap bertahan dlm perkawinannya. Tp kl komitmen personal tinggi + komitmen struktural rendah + komitmen moral yg rendah jg, ini msh lbh mungkin untk bercerai.

    Kl komitmen personal rendah, tp komitmen struktural atau moral tinggi (cukup salah satu), dia jg bisa tetap bertahan dlm perkawinannya.

    Btw, penelitian km itu utk pasangan gay ya. Sptnya kl km pake teori Johnson, akan ckp bnyk butir-butir pernyataan dlm alat ukurnya yg hrs dimodifikasi.

    Good luck ya Nidya.

  16. esterlianawati permalink*
    July 5, 2008 5:39 pm

    Btw, Nidya, maaf ya, br nyadar message km dah ada 3. Sori bgt ya, smg blum telat jwbannya ;)

  17. dede permalink
    July 10, 2008 3:34 am

    hallo mbak salam kenal dari aku.. aku mahasiswa psikologi, sedang ngambil skripsi tentang kompetensi interpersonal remaja, teori aku belum lengkap. sampai sekarang aku belum dapat bukunya. mbak punya referensi buku itu ndak? mudah-mudahan mbak bisa bantu aku yah,hehe… thanks perkenalan & bantuannya.by

  18. esterlianawati permalink*
    July 15, 2008 4:33 am

    Hai Dede, salam kenal juga ya.

    Kl km boleh pake buku lama, mgkn km bs cari buku “Role Development and Interpersonal Competence”, tp sy lupa penulisnya siapa.
    Atau Handbook of Interpersonal Competence, Brian H. Spitzberg and William R. Cupach. Ini lbh baru sekitar tahun 1989-1990, siapa tau mgkn dah ada edisi revisinya.

    Bs cari jg di Journal of Youth and Adolescence, hsl penelitian dari Bartle, S.E., & Sabatelli, R.M. (1997). Judulnya Emotional reactivity toward parents and interpersonal competence: Differences across gender and type of relationship.

    Km bs klik jg http://www.findarticles.com. Di situ ada penelitian ttg interpersonal competence pd remaja. barangkali ada yg cocok buat km. Salah satunya dah sy kirim ke email km.

    Good luck ya.

  19. karin permalink
    July 15, 2008 8:52 am

    Hai mbak salam kenal dari aku.. aku mahasiswa psikologi, sedang ngambil skripsi tentang perbedaan komitmen perkawinan antara ibu yang bekerja dan ibu rumahtangga, teori aku belum lengkap. sampai sekarang aku belum dapat bukunya. mbak punya referensi buku itu ndak? mudah-mudahan mbak bisa bantu aku yah,hehe… Makasih ya mbak. salam perkenalan & bantuannya.

  20. karin permalink
    July 15, 2008 9:01 am

    Mbak aq mau nanya lagi boleh ya… mbak punya referensi buku atau bahan tentang perempuan yang menikah dan tanggung jawab perempuan yang bekerja dan tidak bekerja (ibu rumah tangga), makasih ya mba…

  21. esterlianawati permalink*
    July 16, 2008 6:00 am

    Hai Karin, salam kenal jg ya. Kl buku yg ngmg lgsg ttg komitmen perkawinan atr ibu bekerja dan ibu rmh tgg, aku gak pny. Tp sy kira ini buku2 yg bisa ‘sedikit’ membantu kamu :

    1) Murniati, A. Nunuk P. (2004). Perempuan Indonesia dalam perspektif agama, budaya, dan keluarga : Getar gender. (Buku kedua). Jakarta : Yayasan Indonesia Tera.

    2) Olson, David H. & DeFrain, John. (2003). Marriages and families : intimacy, diversity, and strengths. (4th edition). USA : McGraw-Hill Higher Education.

    3) Rice, F.P. (1999). Intimate relationships, marriage, and families. (4th edition). California : Mayfield.

    4)Steil, Janice M. (1997). Marital equality. Thousand Oaks : Sage Publications, Inc.

    5) Torrez, Cruz C. (1997). The effects of wife employment on marital relations and psychological well-being among Mexican American males. JSRI Research Report

    Dan ini beberapa artikel jurnal yg bisa kamu dapetin dr internet, klik aja judul atau http nya atau nama penulisnya:

    1) Kim, Hyewon . Do employed and nonemployed Korean mothers experience different levels of psychological well being in relation to their gender role attitudes and role qualities? Sex Roles : A Journal of Research. http;//www. findarticles.com/p/articles/mi_m2294/is_n11_12_r38/ai_21109777_33k

    2) Elquist, Marty. (2004). Marital satisfaction and equity in work/family responsibilities in dual-earner shift workers (Electronic version). Papers of The Western Family Economics Association 19, 70- 84.

    3) ‘Doing’ Gender in Context:
    Household Bargaining and Risk of Divorce in Germany and the United States. (Lynn Prince Cooke).

    Teori komitmen perkawinannya mgkn bs kamu cari di Journal of Marriage and Family tahun 2002. Yg nulis itu Michael P. Johnson, dkk.

    Good luck ya Non :)

  22. Dede permalink
    July 16, 2008 1:58 pm

    makasih yaa mba sebelumnya atas referensi bukunya..
    ooh ya mba,, btw mba ngirim ke email aku ya.. tapi kok ga ada ya mba..
    ni lho mba alamat email aku: dasilva_thed@yahoo.com

    sekali lagi thanks ya mba.. :)

  23. esterlianawati permalink*
    July 17, 2008 12:51 am

    Hai Dede, mgkn msk ke spam kah? kdg suka gitu.
    Btw, aku lg gak bawa filenya hr ini.
    Tp ku dapet jg dari http://www.findarticles.com.

    Km coba aja klik di www. findarticles.com atau google :
    “predicting interersonal competence and self worth from adolescent relationship”. Aku dah send email juga dr findarticles itu utk km.

  24. farez permalink
    July 17, 2008 11:51 am

    mba Ester…..

    kalo boleh saya ingin tahu lebih banyak mengenai komitmen perkawinan dari MP johnson. kebetulan saya sedang menyusun skripsi mengenai hal tersebut.

    kalo misalnya memungkinkan, boleh ngga mba saya minta teori dari MP johnson.

    terima kasih mba sebelumnya.

  25. esterlianawati permalink*
    July 19, 2008 1:09 pm

    Hai Farez,
    Boleh aja kok. Tp sy gak punya versi elektroniknya. Km tgl di mana? Email saya aja ya.

  26. July 19, 2008 1:47 pm

    Mba, saya Vonie… Saya mahasiswi fakultas psikologi yang sedang menyusun skripsi. Saya mau tanya, apa bedanya komitmen Johnson dengan Caryl E Rusbult?

  27. esterlianawati permalink*
    July 22, 2008 12:59 am

    Hai Vonie,

    Johnson membuat pendefinisian komitmen perkawinan secara komprehensif dalam tiga bentuk (personal, moral, dan struktural). Teorinya ini juga merupakan kritiknya thd definisi komitmen secara global. Jd sebelum ada pembagian komitmen dr Johnson, komitmen itu dipahami secara umum, sekedar bertahan tidaknya seseorang dlm perkawinan. Mnrt Johnson, hal itu tdk cukup shg dia mengemukakan tiga bentuk komitmen itu. Teori nya Rusbult itu juga masih menggunakan pengertian komitmen scr global itu.
    Itu sih perbedaan utamanya.

    Selain itu kl mnrt sy, Rusbult lebih menekankan proses, mekanisme dr komitmen itu sendiri. Yg khas dr teori Rusbult itu adalah dia mendasarkan teorinya pd model investment, bhw seseorang bertahan dalam perkawinannya setelah mempertimbangkan cost, reward, dan alternative.

    Pertama, ia mempertimbangkan reward yang ia dapat dari perkawinannya atau disebut dgn present attraction , berupa material reward, symbolic reward, dan affectional rewards. Present attraction ini adalah sejauh mana perkawinannya itu memenuhi kebutuhan finansialnya (material), pemenuhan status sosial sebagai istri/suami (symbolic), dan kasih sayang (affectional). Kedua, ia akan melihat hambatan (barrier) atau harga yang harus dibayar (costs) jika dia mau bercerai. Misalnya kalau dia bercerai , akan menghabiskan biaya, dan tidak ada sumber penghasilan (terutama pada ibu rumah tangga). Bisa juga memikirkan anak-anak, atau adanya larangan agama. Ketiga, ia akan mempertimbangkan ada tidaknya alternatif pembanding jika hendak bercerai. Misalnya sudah ada pasangan lain atau bahwa bercerai akan dapat membuatnya lebih bebas.

    Seseorang biasanya akan bercerai jika rewards kecil, costs kecil, dan ada alternatif pembanding besar.

    Kl diperhatikan sbnrnya present attraction dlm hal symbolic dan affectional itu sama saja dengan komitmen personal. Sdgkan barrier sama dengan komitmen moral dan struktural dr Johnson. ;) Jd bs dibilang idenya mirip, cm dijelaskan scr berbeda. Tp perbedaan utamanya yg td sy sebutkan di atas.

    Smg terjawab ya.

  28. farez permalink
    July 22, 2008 4:21 pm

    saya orang bandung mba.

    makasih sebelumnya. kalo alamat mba ester dimana? kalo misal file nya tidak bisa dikirim via email, kalo memungkinkan saya bisa ga ketemu sama mba?.

    mba memungkinkan ga, kalo istri yang bekerja sebagai psk memiliki komitmen yang tinggi?

    skripsi saya mengenai komitmen dan penyesuaian perkawinan pada istri yang bekerja sebagai psk.

    saya kesulitan menjelaskan menganai komitmen perkawinan secara lebih rinci kepada pembimbing saya. saya kesulitan dalam menjelaskan gambaran komitmen moral dan struktural dari psk tersebut.

    sebenarnya moral dan struktural itu seperti apa mba?

    terimkasih atas bantuannya.

  29. esterlianawati permalink*
    July 29, 2008 4:45 am

    Hai Farez, sy di Jkt. Km yakin mau ke sini? :D

    Memungkinkan saja PSK pny komitmen tinggi thd perkawinan. Sebaiknya cari tau dl latar blkg dia menjadi PSK. Apakah suaminya mengetahui, atau malah justru dipaksa suami krn kebutuhan ekonomi yg mendesak? Apakah anggota klrg yg laen mengetahui? Kl memang krn dia terdesak jd PSK pdhl dianya engga mau, sgt mgkn dia masih cinta (komitmen personal) pd suami, memegang teguh janji perkawinan krn mrs sudah kewajiban (komitmen moral), dan merasa lbh anak hidup dlm perkawinan itu agar pny status utk anak-anaknya (komitmen struktural), dsb.

    Komitmen moral itu sndr adlh suatu rasa bertanggung jawab secara moral untuk melanjutkan hubungan. Tipe komitmen ini juga terdiri dari tiga komponen. Pertama adalah nilai-nilai mengenai moralitas dari hubungan itu sendiri. Individu menganggap bahwa pernikahan adalah sesuatu yang berlangsung sepanjang hidup dengan pasangan yang sama. Kedua adalah perasaan bertanggung jawab secara pribadi terhadap orang lain. Misalnya individu merasa pasangannya membutuhkannya atau ia merasa telah berjanji untuk sehidup semati dengan pasangannya. Ketiga, seseorang merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan hubungan karena ia memiliki nilai konsistensi general (general consistency values). Individu ini biasanya merasakan kewajiban untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai, termasuk dalam hal perkawinan.

    Jd komitmen moral di sini engga ada hubungannya ama pekerjaan PSK. Lagipula menjadi PSK bukan masalah moral atau tidak bermoral, tp seringkali krn tuntutan hidup, desakan ekonomi, tipu daya suami, dsb.

    Sdgkan komitmen struktural adalah keinginan bertahan dalam suatu hubungan karena adanya faktor penahan dalam hubungan tersebut yang menghambatnya untuk meninggalkan hubungan. Tidak adanya alternatif lain yang lebih baik merupakan salah satu faktor yang membuat seseorang cenderung bertahan dalam hubungannya. Jd seorang PSK bs saja tetap bertahan dlm perkawinannya krn tdk melihat bhw hidup di luar tanpa status perkawinan itu lbh baik dibandingkan kehidupannya saat ini.

    Faktor penahan lainnya adalah tekanan sosial. Jika keputusan seseorang untuk bercerai ditentang oleh keluarga, teman, dan masyarakat, akan jauh lebih mungkin seseorang untuk mempertahankan hubungannya. Prosedur perceraian yang sulit dan menghabiskan waktu serta biaya juga menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang merasa lebih baik bertahan dalam hubungannya. Faktor yang terakhir adalah investasi yang telah ditanamkan selama hubungan berlangsung dan tidak dapat diambil kembali (irretrievable investments). Individu yang merasa telah banyak berkorban dalam hubungannya biasanya cenderung mempertahankan hubungan.

    Smg lbh jelas ya. :)

  30. farez permalink
    August 10, 2008 12:59 pm

    mba mau nanya lagi……
    kalo tinggi rendahnya komitmen dari mp johnson apakah bisa dilihat secara keseluruhan?
    kriterianya kaya gimana? apakah harus ketiga komponen tinggi?
    kalo mp johnson itu ada alat ukurnya?

    iya mba saya pengen banget punya teorinya……
    nati saya hubungi lagi….

    makasih banyak ya mba….

  31. esterlianawati permalink*
    August 14, 2008 12:08 pm

    Hai Farez,
    Bisa aja dihitung skor totalnya utk tau tinggi rendahnya komitmen org ybs. Tapi utk memaknai apakah org itu akan cenderung bertahan dlm perkawinannya atau engga, tetap hrs melihat dinamika dr msg2 komitmen. Misalnya, kl komitmen personal dan moral tinggi, biasanya org akan cenderung bertahan sklpun strukturalnya rendah. Atau kl komitmen personal rendah, tp moralnya tinggi, org ini msh mgkn utk bertahan dlm perkawinan. Dst.
    Alat ukurnya ada di tulisannya johnson itu. Apa km memang gak menemukan jurnal marriage n family di perpust di Bandung? Kl memang perlu, kirim aja alamatmu ke email sy. Nanti sy coba cari n kirimkan. Ok, gud lak ya :)

  32. farez permalink
    August 15, 2008 11:19 am

    jadi selain komitmen dilihat berdasar total skor…..
    bisa juga di bahas berdasarkan masing-masing komponen komitmennya ya mba?
    jadi pada tiap orang tetap bertahan karena memiliki komponen komitmen yang berbeda-beda…?

    saya sudah cari tapi belum nemu mba….
    nanti saya kirim emailnya ke mba,,, makasih banyak ya mba…

  33. farez permalink
    August 15, 2008 11:27 am

    mba emailnya ini aja deh….
    fiqri_algiffari@yahoo.co.id

    maksih ya mba…..

  34. esterlianawati permalink*
    August 18, 2008 4:10 am

    Justru kl mnrtku lbh baik diliat masing2 aspeknya ketimbang skor totalnya. Iya, dinamika dr msg2 aspek/komponen bisa menentukan sso bertahan atau engga dlm perkawinannya.
    Okay, trims emailnya ya. Tp sbnrnya mksdku km bisa kirimkan alamatmu ke email sy (esterlianawati@yahoo.com). Krn bahan Johnson yg sy punya itu gak bs di-email, tp mgkn bisa kukirimkan ke alamatmu ;)

  35. farez permalink
    August 18, 2008 12:39 pm

    ow…. maaf mba…
    nanti saya kirim alamatnya….
    makasih banyak mba…

    saya coba diskusikan dengan pembimbing saya…

  36. farez permalink
    September 18, 2008 5:50 am

    mba say kirim email… keterima ngga…?

  37. esterlianawati permalink*
    September 18, 2008 7:00 am

    Hai farez, dah aku balas bbrp hr lalu. Sekaligus sy kirimin filenya krn ketemu yg versi elektroniknya. Blum diterima kah? Nanti sy kirimi lagi

  38. reen permalink
    November 7, 2008 3:32 pm

    bgus tulisannya..ingin menjadi seperti kamu suatu hari nanti..

  39. esterlianawati permalink*
    November 10, 2008 3:22 am

    thanks a lot ya, dear reen..

  40. Aura permalink
    November 18, 2008 1:23 pm

    Asslm. Mba Ester, salam kenal ya.. aq lagi bingung cari teori yang mengaitkan antara religiusitas&kecerdasan emosi dengan kepuasan perkawinan pada pasangan yang belum punya anak selama 2 tahun lebih. Adanya cuma teori dari masing- masing variabel, tapi yang mengaitkan dari keseluruhannya itu belum dpt ni mbak..Mbak punya referensi buku atau jurnal mengenai itu ? Atau mbak punya masukan (dgn cth deskriptif) bagaimana cara mengaitkannya?Mudah-mudahan mbak bisa bantu aku yah,hehe… Makasih ya mbak. salam perkenalan & bantuannya. Waslm.

  41. esterlianawati permalink*
    November 24, 2008 7:29 am

    Waalaikum salam.
    Slm knl jg ya Aura.
    Kl mau cari teori yg mengaitkan keseluruhan sih kyknya emang agak susah ya, apalagi sampelmu ckp spesifik. Tp mgkn km bs mengaitkan antar teori yg km pake. Nah ini akan bergantung km pakai teori religiusitas, kepuasan perkawinan, n kecerdasan emosional yg mana. Misalnya km pake teori religiusitas dr Allport ttg orientasi religius akan berbeda penjelasannya dgn km pake pny Glock n Stark. Gitu jg dgn kecerdasan emosional Goleman akan beda dgn pny Baron. Krn dimensi2nya beda, cara menghubungkannya jg bs beda.

    Misalnya km pake teori Glock n Stark, kl sso skornya tinggi pd dimensi ideologi (sekedar meyakini dogma agama, misalnya ada surga n neraka, ada nabi, dll) blum tentu membantunya dlm mencapai kepuasan perkawinan. Berbeda dgn yg skornya tinggi pd dimensi konsekuensi, yaitu yg menjalankan ajaran agamanya (bs sabar, rendah hati, dll yg bagus2 yg diajarkan agama :D) , akan lbh mgkn utk mencapai kepuasan perkawinan. Krn utk puas dlm perkawinan akan butuh tindakan, bukan sekedar dogmanya aja.

    Jd coba km tentukan teorinya dl ya mau pake yg mana ;)
    Good luck, Aura..

  42. Aura permalink
    November 25, 2008 3:29 pm

    Asslm. Mba Ester yang baik, mksh yaa atas masukannya sangat membantu walaupun dpt blsnnya aga lama hehe.Nanti aq pelajari dl Qra2 teori mana yg pas aq pake.Nanti kalau aq kesulitan lagi, tanya mba’ lagi ya…boleh kan?? Salam Psikologi !
    Waslm. :)

  43. esterlianawati permalink*
    November 28, 2008 3:51 am

    Hehe iya maap lama jwbnya. Okay, slm msh bisa membantu, dgn senang hati silakan tny ya. Slm Psikologi :)

  44. nuki permalink
    January 6, 2009 5:49 am

    Dear Mbak Ester,

    Saya seorang mhsw psi. yg sedang skripsi dengan judul: komitment perkawinan istri terhadap suami paska penahanan suami sbg pecandu narkoba. Menurut mbak Ester, teori apa yg cocok saya gunakan untuk skripsi ini?

    Tks & regards,
    Nuki

    • esterlianawati permalink*
      January 7, 2009 10:25 am

      Dear Nuki,
      Topikmu menarik ya ;)
      Dr bbrp teori komitmen perkawinan yg ada, kupikir intinya sama meskipun dijelaskan scr berbeda.
      Jd Nuki bs pilih penjelasan yang mana yg lbh km sukai en pastinya lbh bs kamu kuasai.
      Km sndr udah pny teori2 komitmennya blum?
      Kebetulan sy pny yg versi elektronik kl km mau.
      Email aja ke esterlianawati@yahoo.com ya.
      Gud lak ;)

      • Anonymous permalink
        October 17, 2011 7:13 am

        mba Nuki..boleh minta alamat emailnya ga?

  45. farez permalink
    January 11, 2009 7:39 am

    mba, saya mau tanya…
    mba kalo tingkat pendidikan, budaya ma jenis kelamin mempengaruhi komitmen ga?
    saya cari teorinya ga dapet2 mba…
    minta bantuannya lagi ya mba…

  46. nuki permalink
    January 13, 2009 5:32 am

    Dear Mbak Ester,

    Terimakasih banyak kalo mbak mau kirimkan ke saya.
    Saya email ya mbak..

    Regards,
    Nuki

  47. esterlianawati permalink*
    January 13, 2009 5:56 am

    Hai farez,
    Asumsinya perempuan lbh cenderung bertahan dibanding laki2. Ada bbrp hsl penelitian mengenai hal ini, syg sy gak nyimpen lg. Coba km cari di internet, kata kuncinya lbh baik pake gender + marital commitment.
    Tp memang biasanya aspek demografis kyk jenis kelamin, tk pendidikan, itu jarang dijadikan variabel penelitian sdr lgsg. Jd mgkn km susah nemu artikel jurnal yg judulnya langsung fokus ke aspek2 itu. Coba baca hsl penelitian dalam jurnal mengenai komitmen perkawinan, mgkn penelitinya menjadikan aspek2 itu dlm analisis tambahan.
    Gud lak ya ;)

  48. esterlianawati permalink*
    January 15, 2009 10:43 am

    Nuki, dah sy kirim ya filenya. Slmt membaca ;)

  49. leny permalink
    January 16, 2009 1:22 pm

    Ibu….saya minta teori komitmen perkawinannya donk…..belom ada di email saya bu……Thx before….GBu

    • esterlianawati permalink*
      January 22, 2009 8:06 am

      Leny, dah saya email ya ;)

  50. Arif permalink
    February 22, 2009 2:47 am

    Mbak aku tertarik sama tulisan mbak tentang komitmen perkawinan. Bolehkah saya minta bahan-bahan atau artikelnya kebetulan saya lagi suka masalah perkawinannya mbak.. Trims sebelumnya mbak.. Salam kenal. Ini email saya arif_rohman@hotmail.com

  51. esterlianawati permalink*
    February 24, 2009 6:59 am

    Hai mas arif, salam knl jg ya. Sdh kukirim ke emailmu ya.

  52. diah permalink
    June 2, 2009 1:39 pm

    Asslamkm mba ester..salam kenal:)
    tulisan mba tntang komitmen pernikahan ini bermanfaat bgt buat saya…saya mau minta tolong ni mba;) ada artikel atau referensi tentang komitmen pernikahan kaitannya dengan pemecahan masalah ga?coz skripsi saya tentang itu dan dalam tahap penyelesaian ni! mohon jawabannya segera ya mba;)

  53. esterlianawati permalink*
    June 3, 2009 4:08 am

    Waalaikum salam,diah.
    salam kenal jg ya.
    km bs tlg jelasin apa yg km mksd dgn pemecahan mslh dan hub nya dgn komitmen perkawinan? apa ttg konflik rumah tangga, dan bgmn komitmen perkawinan pasutri yg berkonflik, ato gmn?

  54. diah permalink
    June 11, 2009 8:47 am

    iya mba…jadi skripsi saya hubungan antara kemampuan pemecahan masalah rumah tangga dengan tingkat komitmen pernikahan! mba punya referensi buku tentang TINGKAT komitmen pernikahan ga? atau apa aja yang berkaitan dengan judul skripsi saya deh…. makasih banyak ya mba :) :)

    • esterlianawati permalink*
      June 12, 2009 9:03 am

      diah, nanti sy kirimkan ke email km bbrp artikel jurnal ttg komitmen perkawinan ya ;)

  55. Nesya permalink
    June 24, 2009 2:21 am

    Bu, saya mahasiswi psikologi, saya sedang ingin menyusun skripsi

    skripsi saya judulnya apakah kepuasan pernikahaan berhubungan dengan kesetiaan pasangan.

    menurut ibu kesetiaan pasangan dengan komitmen sama tidak ya? soalnya saya tidak menemukan buku tentang kesetiaan pasangan. teorinya ga ada. ibu bisa kasih referensi buku?makasih banyak bu

  56. esterlianawati permalink*
    June 24, 2009 12:24 pm

    hai nesya,
    kesetiaan yg km mksd itu apa ya? kesetiaan utk tdk berselingkuh atau gmn? kl komitmen perkawinan itu lbh mengacu kpd komitmen utk bertahan dlm perkawinannya. kl kesetiaan yg km mksd itu mengarah pd tdk berselingkuh, km bs cari buku2 yg ada kaitannya sama affair, fidelity. kl gak nemu buku khususnya, km bs liat di buku2 ttg marriage, intimate relationship. good luck ya ;)

  57. dhede permalink
    July 1, 2009 9:36 am

    salam kenal mba ester..
    saya mahasiswa psikologi yang sedang ingin menyusun skripsi..

    saya mw tanya..apakah ada hubungan antara affective affirmation terhadap pasangan dengan kepuasan pernikahan?? affective affirmation yang saya maksud adalah bentuk komunikasi cinta bisa dikatakan ekspresi ungkapan kasih sayang terhadap pasangan..apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan??..
    sampel penelitian saya adalah mahasiswa yang menikah sambil kuliah (suami dan istri mahasiswa yang menikah) ..agak sulit menemukan sampel tersebut..

    mohon bantuan refrensi nya donk mba?? ini email saya dianamelisari@gmail.com .. thx so much b4 :D

  58. diah permalink
    July 3, 2009 10:00 am

    ok makasih banyak ya mba:)

  59. esterlianawati permalink*
    July 13, 2009 5:15 am

    slm knl jg, dedhe.
    kepuasan perkawinan lbh subjektif sifatnya. apa yg bs bikin seseorang puas blum tentu yg lain puas jika aspek itu terpenuhi. tp ada bbrp aspek yg bs jd patokan, mskdnya bila aspek itu terpenuhi maka kmgknan org tsb akan puas. misalnya komunikasi,trust n honesty, afeksi, dll. Jd aspek yg ingin km ukur itu jg msk dlm slh satu aspek kepuasan perkawinan.
    utk lgkpnya km bs liat di buku-buku ttg marriage, intimate relationship. slh satunya yg sering dipake itu buku karya philip rice.
    bedakan aspek kepuasan dgn faktor yg mempengaruhinya. aspek itu lbh menyangkut bidang/domain yg umumnya terpenuhi dgn baik dlm sebuah perkawinan yg memuaskan.
    mengenai faktor yg mempengaruhi itu bs faktor demografis (misalnya kesamaan tingkat pendidikan, intelektualitas, suku/budaya, agama, status sosial ekonomi), kesamaan minat, jumlah anak, lama perkawinan, dsb.
    btw, bahan ttg kepuasan pkawinan yg sy pny kyknya gak ada yg dlm versi elektronik. kl deket, km bs dtg ke tmptku :) okey, gudlak ya dhede.

  60. diah permalink
    August 12, 2009 7:11 am

    mba…makasih banyak ya atas jurnal komitmennya:)

    aku butuh bantuan mba lagi ni!hehehe..maaf ya:)

    aku baca ada teori Berry tentang tingkat komitmen..mba punya jurnal atau bukunya???boleh tolong kirimin ke email aku lagi ga mba?:)

    aku butuh bgt untuk menyelesaikan skripsi ni…
    aku baca di blog orang tentang teori Berry itu..tapi pas aku tanya punya jurnalnya ato ngga,ngga di jawab2…

    tolong ya mba..:)

    • esterlianawati permalink*
      August 15, 2009 5:07 pm

      hai diah, maaf ya aku gak pny teori Berry. coba cari di proquest kl kampus km pny account nya. atau coba buka di http://books.google.co.id, atau cari jg ebooks yg lain, misalnya di http://www.avaxhome.ws/ebooks.
      oya, Sage Journal jg lagi kasi akses gratis. coba kamu klik aja di google, kasi kata kuncinya “sage journal free 2009″, nanti diah bs masuk ke Sage en cari jurnal di situ. gud lak ya :)

  61. Ardi Pratama permalink
    September 13, 2009 10:20 pm

    Selamat pagi mba, salam kenal…
    Saya juga mahasiswa psikologi, sedang berusaha membuat skripsi tentang masalah perkawinan juga..
    Saya tertarik dengan “kecemasan dalam menghadapi komitmen perkawinan”, yang inginnya saya terapkan pada subjek yang belum menikah..
    Kira2 bagaimana mba, soalnya tadi saya baca Komitmen Perkawinan terjadi pada orang yang sudah menikah…
    Thanks before… :)

  62. esterlianawati permalink*
    September 18, 2009 2:01 pm

    Hai Ardi,salam knl jg ya
    Ngmg2 saya blum ngerti maksud kamu kecemasan dlm menghadapi komitmen perkawinan itu apa ya? Apa sama dgn ketakutan berkomitmen? Tlg jelasin dulu ya..tengkyu :)

  63. lia permalink
    October 8, 2009 1:47 am

    salam kenal mbak,,
    saya mahasiswi psi yg g ambil skripsi ni,,,saya kirim email ke mbak..
    saya mau minta saran n referensi mbak ni,,permasalhannya udah saya jelasin di email,,,tolong bantuannya ya mbak,,
    saya tunggu balasannya,,,terimakasih mbak :)

    • esterlianawati permalink*
      October 11, 2009 10:27 am

      sdh kukirim emailnya, gudlak ya :)

  64. Henri Pandu permalink
    December 17, 2009 11:26 am

    salam kenal, saya pandu, mahasiswa S1 Psikologi UGM. Saya lagi skripsi tentang hubungan religiusitas dan tingkat pendapatan dengan komitmen perkawinan. sepertinya saya pengen lebih tahu tentang teori komitmen perkawinan Johnson. Adakah buku yang direkomendasikan bagi saya untuk komitmen perkawinan???? sebelumnya makasih….

    • esterlianawati permalink*
      December 17, 2009 2:34 pm

      Hai, Pandu, salam kenal jg ya.
      Sy sdh kirimkan artikel Johnson ke emailmu ya.

  65. adek permalink
    February 12, 2010 12:47 pm

    salam kenal ya mbak….
    mbak bisa minta tolong ? saya butuh bahan tentang teori komitmen perkawinan, faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen, ciri-ciri org memiliki komitmen dan aspek-aspek komitmen.

    makaci buanyak ya mbak yg baik :)

    • esterlianawati permalink*
      February 13, 2010 8:36 am

      Slm knl jg, Adek.
      Sudah kukirimkan ya bbrp artikel jurnal ttg komitmen perkawinan.
      Good luck.

  66. Rina permalink
    March 11, 2010 6:24 am

    Salam kenal mba, saya mhs magister psikologi, saat ini berniat meneliti ttg komitment perkawinan di salah satu instansi yg angka perceraiannya sangat tinggi, hampir 92%/th, saya mau minta tolong dikirimkan teori komitmen perkawinan, faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen, dan bagaimana ciri-ciri org memiliki komitmen.

    Trimakasih banyak sebelumnya ya mba …..

  67. gio permalink
    April 8, 2010 6:05 pm

    Mba saya gio,saya mau tau dunk referensinya buku johnson itu.sekalian juga sama teorinya mba,boleh?soalnya setelah saya baca blog2 mba blm ada referensi lengkapnya buku johnson itu.makasih ya

    • Ester Lianawati permalink*
      April 11, 2010 2:07 am

      Hai Gio, saya punya teori Johnson yg di jurnal, sudah saya kirimkan ke email km, sekaligus km bs tau jg referensinya ya. Salam.

  68. dora permalink
    April 18, 2010 12:31 pm

    malem mbak……aku dora, aku lagi mau neliti komitmen pasangan jarak jauh…tapi aku masih bingung mbak dengan teori investmen modelnya rusbult….aku punya jurnalnya tapi aku punya kelemahan kurang bisa bahasa inggris,,,mungkin mbak bisa bantu saya untuk mendapatkan penjelasan mengenai aspek dari komitmen dan faktor2 yang mempengaruhi komitmen…..sangat mohon bantuannya mbak…..terimaksih

    • Ester Lianawati permalink*
      April 20, 2010 2:20 pm

      Hai Dora, di atas sdh dibahas sdkt ttg Rusbult. Ini sy copy paste:

      Yg khas dr teori Rusbult itu adalah dia mendasarkan teorinya pd model investment, bhw seseorang bertahan dalam perkawinannya setelah mempertimbangkan cost, reward, dan alternative. (Ini yg dimksd dgn aspek-aspek komitmen mnrt Rusbult).

      Pertama, ia mempertimbangkan reward yang ia dapat dari perkawinannya atau disebut dgn present attraction , berupa material reward , symbolic reward, dan affectional rewards. Present attraction ini adalah sejauh mana perkawinannya itu memenuhi kebutuhan finansialnya (material), pemenuhan status sosial sebagai istri/suami (symbolic), dan kasih sayang (affectional). Kedua, ia akan melihat hambatan (barrier) atau harga yang harus dibayar (costs) jika dia mau bercerai. Misalnya kalau dia bercerai , akan menghabiskan biaya, dan tidak ada sumber penghasilan (terutama pada ibu rumah tangga). Bisa juga memikirkan anak-anak, atau adanya larangan agama. Ketiga, ia akan mempertimbangkan ada tidaknya alternatif pembanding jika hendak bercerai. Misalnya sudah ada pasangan lain atau bahwa bercerai akan dapat membuatnya lebih bebas.

      Seseorang biasanya akan bercerai jika rewards kecil, costs kecil, dan ada alternatif pembanding besar.

      Mengenai faktor-faktornya, bs jd usia perkawinan, usia subjek, jenis kelamin, atau topik km ttg jarak jauh, bs jg menjadi slh satu faktornya.

      Ok, smg membantu ya. Good luck ;)

  69. novie permalink
    May 18, 2010 5:38 pm

    malam kak ester…saya novie mahasiswi fakultas psikologi yang lagi mau nyusun skripsi… saya tidak begitu memahami teori komitmen. jadi saya mau minta referensi buku teori-teori komitmen (seperti Johnson dkk dan terutama teori komitmen Caryl E Rusbult) bisa saya dapat dibuku mana aja yah?
    mohon bantuanya yah kak ester..trimakasih..

    • Ester Lianawati permalink*
      May 23, 2010 2:09 am

      Hai Novie, kebetulan saya pny jurnalnya, sy sudah kirimkan ke alamat emailmu ya. Smg bermanfaat.

  70. risma permalink
    December 1, 2010 9:00 am

    mbaaa,saya mahasiswi psikologi juga, lagi menyusun skripsi ttg komitmen pernikahan. Bahan ini membantu skali mba :)
    Saya udah coba cari buku Jhonson, tapi susah skali mencarinya mba. Saya mau minta jurnalnya boleh mba?
    Makasih sebelumnya..

    • Ester Lianawati permalink*
      December 3, 2010 9:13 am

      Hai Risma, sudah dikirim yaa. Tlg cek spam ya, yahoo srg mskin email kita ke spam kl belum prnh kontak2 :(

  71. satri permalink
    May 1, 2011 2:44 pm

    salam kenal mba…
    saya satri mahasiswa psikologi…
    aku lagi buat proposal skripsi tentang komitmen gg
    n gag dapat teori tentang komitmen…
    mba bisa taugag teori yang dari Jhonson itu dan juga beberapa jurnal tentang komitmen pernikahan???
    ^o^

    • Ester Lianawati permalink*
      May 7, 2011 8:10 am

      Hai Satri, sudah saya kirimkan ya.
      Smg bermanfaat, n good luck skripsinya :)

  72. October 9, 2011 8:50 am

    Mba’ ester, saya fadhli di Jogja.
    mahasiswa hukum yang juga aktif dlm kajian perempuan.
    Saya suka dgn tulisan mba’ ester dlm buku KDRT.
    (Semoga saya bisa melanjutkan tulisan mb’ester dlm buku itu dgn sedikit kemampuan saya..)
    O iya, saya terterik untuk memiliki buku saku yang di publish di atas.
    Adakah Cp yang bisa saya hubungi?
    Trmaksih.

    • Ester Lianawati permalink*
      October 10, 2011 1:29 pm

      Hai Fahdli, mksh ya dah baca bukuku, yg kl dibaca2 lg bnyk skl kekrgannya :)
      sng skl kl nanti km bs melnjtkan sklgus memperbaiki poin2 yg msh krg ;)
      Utk buku saku, km bs hub mbak Yati di perpust kajian perempuan dan gender UI di 021-3160788 :)
      salam
      ester

  73. October 9, 2011 9:02 am

    O ya, saya boleh dikirimin jurnal teori Jhonson ttg komitmen jg ga mb’? Maturnuwun mb’ Ester =)

    • Ester Lianawati permalink*
      October 10, 2011 1:33 pm

      sudah sy kirimkan ya, smg brmanfaat :)

  74. Ester Lianawati permalink*
    October 18, 2011 9:47 pm

    Salam kenal juga,
    Sudah saya kirimkan ya
    Good luck skripsinya

  75. indah permalink
    October 19, 2011 3:12 am

    salam kenal mba ester,,sy indah yg sedang menyusun proposal skripsi,sy tertarik dg komitmen perikahan,,sy boleh dikirimin jurnal teori jhonson jg ga mba?? terimakasih.. ^_^

  76. Reny permalink
    October 19, 2011 5:40 am

    iyaaaa mbaaa…aq jg ud baca” artikelnya
    makasih banyak yaa mba ester ^_^

  77. arie fitria permalink
    October 22, 2011 7:04 pm

    slamat mlm mba ester,,terima kasih banyak ya mba,,krn tulisan mba ttg komitmen perkawinan sangat amat membantu sy bgt dlm menyusun skripsi..

    mba saya mau tanya,,sy punya materi ttg dimensi pemaafan dari tokoh mcCullough dan worthington,,,

    mmm ada ga mba dimensi pemaafaan selain dari ke dua tokoh itu??
    klo ada,,boleh kah sy minta untuk bahan sy mba?

    sebelumnya sy terima kasih banyak n maaf telah merepotkan mba ester

    • Ester Lianawati permalink*
      October 23, 2011 9:19 am

      dear Arie, coba km baca tulisan Baumeister, Roy F., Julie Juola Exline, & Kristin L Sommer. (1998). The victim role, grudge theory, and two dimensions of forgiveness. Seingatku dia menawarkan dimensi memaafkan yg berbeda dari Worthington. Kamu bisa temukan tulisan ini di buku yang di-edit oleh Worthington juga, judul bukunya Dimensions of forgiveness: Psychological research & theological perspectives: Vol. 1. Laws of the symposia series. Radnor, PA: Templeton Foundation Press.
      good luck skripsinya ya :)

      • arie fitria permalink
        November 28, 2011 11:33 am

        Terima kasih ya mba,,sy usaha tuk cari buku itu,,tapi ternyata ga ketemu :’(

        mmm mba,,sy mau tanya,,judul skripsi saya itu hubungan pemaafan yang dilakukan istri terhadap suami yang melakukan pelanggaran dalam komitmen perkawinan,,

        sy sudah punya jurnal yg berkaitan dengan pemaafan dan komitmen perkawinan,,tapi jurnal tersebut,,masing2 berdiri sendiri,,ga ada yang dalam 1 judul,,

        jika mba punya jurnal yang berkaitan dengan pemaafan n komitmen, yang dalam 1 judul,,blh kah sy…..????? tapi jika mba ga keberatan…hee :)

        sebelum nya terima kasih banyak mba,,sy mohon maaf telah merepotkan mba ester..

      • Ester Lianawati permalink*
        December 4, 2011 12:31 pm

        Hai Arie, kebetulan saya punya, nanti saya kirimkan.
        Mungkin sekedar tips untuk browsing di google, km bs coba berbagai kata kunci misalnya forgiveness + commitment, forgiveness + marriage, forgiveness + betrayal, dll.

        Ok, good luck ya

  78. Donny Danardono permalink
    October 24, 2011 12:36 am

    Ester, ternyata artikel yang kamu tulis pada 2008 ini masih dibaca pada Oktober 2011 ini. Seperti oleh Fadhil dan Reny. Fadhil membacanya untuk keperluan menulis skripsi. Tapi tak jelas apa manfaatnya untuk Reny. Saya jadi penasaran bagaimana komentar mereka tentang ‘komitmen’ perkawinan? Apakah bentuk komitmen perkawinan 1000 tahun lalu masih sama dengan sekarang?

    • Ester Lianawati permalink*
      October 26, 2011 11:38 am

      Reny jg utk skripsi, mas Don. Smg mrk mampir lg ke sini utk jwb pertanyaan mas Don :)
      Kl mnrtku sih ya jelas beda atuh mas Don, antar budaya aja sbnrnya beda.
      Cm psikologi di Indo kan lbh mengacu ke psikologi nya negara2 anglophone, terutama Amrik. Jd mhsw bnyk pake teori Johnson ini.

  79. mila permalink
    October 27, 2011 11:44 am

    hallo mba ester. saya mila ank psikologi.. boleh saya minta jurnal ttg komitmen perkawinannya mba buat skripsi saya.. terimaskasih mba..

  80. Anonymous permalink
    January 3, 2012 5:25 pm

    mba,saya tertarik dengan “komitmen pasangan yang menikah beda agama” apa saya bisa berdiskusi dengan mba??

  81. February 28, 2012 3:36 am

    Saya rasa perlu kesadaran yang tinggi untuk meletakkan komitmen sebagai sebuah pondasi pernikahan.

    Orang bilang mereka yang menikah (secara wajar pada umumnya, bukan karena paksaan), kebahagiaannya akan bertambah berkali-kali. Namun, begitu acara pernikahan selesai, dan masa perkawinan masih lama, “kadar” kebahagiaan akan kembali seperti pada masa sebelum menikah.

    Mungkin terdengar seperti dongeng anak “happily forever after”, namun yang jelas bukan “happier forever after” :).

    • Ester Lianawati permalink*
      March 1, 2012 10:23 pm

      setuju, pak :)
      btw, mending kl kebahagiaan kembali spt sblm menikah, berarti msh bahagia,
      mslhnya engga sedikit yg justru berkurang :(

      • March 2, 2012 2:48 am

        Ya, itu ada di sekitar kita. Namun karena prinsip “independensi” (atau apapun namanya), kadang kita tidak dapat berbuat banyak, sebab keputusan akan sebuah keluarga menjadi hak penuh yang bersangkutan.

        Saya belum berkeluarga, jadi belum merasakan sulitnya membina hubungan. Saya pun tidak bisa (dan memang tidak berhak) menghakimi sebentuk perselisihan di keluarga lainnya. Maka kadang (bahkan sering kali), serba salah kalau sudah melihat sebuah keluarga yang diambang perpecehan.

      • Ester Lianawati permalink*
        March 18, 2012 1:44 pm

        Bener Cahy,kita gak berhak menghakimi,
        krn emang sulit menjalani sebuah hubungan, menyatukan perbedaan, dan menjaga cinta itu tetap ada..

  82. titien permalink
    February 3, 2013 3:38 pm

    hai mbak salam kenal…
    saya mahasiswi psikologi, lagi menyusun skripsi ttg kepuasan pernikahan.
    Saya udah coba cari buku olson yang ada teori kepuasan pernikahannya, tapi susah skali mencarinya mba. kira-kira mbak punya gak buku tentang teori kepuasan pernikahan itu….. saya sangat butuh referensi buku itu mbak….
    sebelumnya makasih banyak mbak,maaf kalau merepotkan…

    • Ester Lianawati permalink*
      February 15, 2013 1:16 pm

      Hai Titien, salam kenal jg. Buku Olson bisa ditemukan di perpustakaan2 fakultas psikologi.
      Sy ada beberapa artikel jurnal mengenai kepuasan pernikahan, akan sy kirimkan ke alamat email-mu ini ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers

%d bloggers like this: