Skip to content

Kepribadian Perempuan dalam Pandangan Sigmund Freud

July 16, 2007

Teori pembentukan kepribadian yang dikemukakan oleh Sigmund Freud merupakan teori yang sangat mendasar, khususnya dalam psikologi. Teori ini wajib dipelajari mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Psikologi di universitas manapun. Teori ini bahkan dibahas dalam beberapa mata kuliah wajib dalam beberapa semester.

Sayangnya, teori Freud tidak pernah diberikan secara utuh dalam perkuliahan. Ada bagian yang ditinggalkan, yang sebenarnya teramat penting. Dengan mengabaikan bagian ini, maka pengajar dapat mengarahkan mahasiswa dan mahasiswi untuk melakukan kesalahan dalam mengaplikasikan teori tersebut. Dan sepertinya kesalahan ini telah berlangsung dari generasi ke generasi.

Kesalahan tersebut sebenarnya wajar terjadi karena memang tidak banyak buku psikologi yang mengupas tuntas teori Freud. Hanya buku-buku psikologi perempuan yang menyajikannya dengan lengkap. Sayangnya mata kuliah psikologi perempuan bukanlah mata kuliah wajib, hanya sebuah mata kuliah pilihan. Sebagai pilihan, tidak banyak Fakultas Psikologi yang membuka mata kuliah ini. Jika ada pun, tidak banyak mahasiswa yang memilihnya karena nama mata kuliah ini telah menyurutkan niat para mahasiswa (laki-laki) untuk mengambilnya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mencoba memaparkan aspek yang luput dari pembahasan terhadap teori Freud selama ini.

            Pada tahun 1905, Freud mengemukakan teorinya mengenai perkembangan seksual dalam Three Essays on the Theory of Sexuality. Pada masa itu, anak-anak dianggap tidak berkelamin sehingga tidak memiliki hasrat seksual. Namun Freud berpendapat lain. Ia mengatakan bahwa seksualitas manusia berkembang dari sejak ia dilahirkan. Saat lahir, seorang anak memiliki energi seksual yang disebutnya sebagai libido. Libido tersebut belum ditujukan kepada satu obyek tertentu dan belum terlokalisasi pada satu area tubuh. Oleh karena itu libido tersebut dinamakan Freud dengan polymorphous perversity. Tiap anak akan berkembang secara bertahap dari tahap polymorphus ini menuju libido yang terarah dan terlokalisir dalam area tubuh tertentu. Freud menyebut area tersebut sebagai erotogenic zones, yaitu wilayah tubuh yang sensitif terhadap stimulasi yang membawa kenikmatan.

Dimulai dari tahap oral ketika anak mendapatkan kepuasan melalui apa yang masuk dalam mulutnya. Berlanjut dengan tahap anal saat anak berusia dua sampai tiga tahun. Pada tahap ini, anak mendapatkan sensasi ketika menahan dan mengeluarkan kotoran. Menyusul kemudian tahap phallic saat anak berusia 3 sampai dengan 4 tahun. Pada tahap ini, anak mendapatkan kepuasan dari alat kelaminnya dengan melakukan yang Freud sebut sebagai masturbasi kanak-kanak. Anak laki-laki mendapatkan kepuasan dari stimulasi pada penisnya, dan anak perempuan pada klitoris. Di sinilah asal kata tahap phallic, yang berarti phallus atau penis. (Dari pemilihan katanya, terlihat bagaimana Freud lebih berfokus pada anak laki-laki).

Pada tahap phallic, anak laki-laki mengembangkan cinta kepada ibunya. Freud menyebutnya sebagai kompleks Oedipus, diambil dari kisah Oedipus yang membunuh ayahnya untuk mendapatkan ibunya. Namun melihat klitoris yang dimiliki ibu dan anak perempuan lainnya, ia berpikir bahwa mereka telah dikastrasi oleh ayahnya. Ia menjadi takut dikastrasi sehingga mematikan cinta kepada ibunya dan beridentifikasi dengan ayahnya, dengan mengikuti aturan-aturan dan nilai-nilai yang dimiliki ayahnya.

Setelah itu adalah tahap latency, dimana anak berhenti menampilkan seksualitasnya secara terbuka. Impuls seksual itu sendiri tidak mati, hanya ditekan sementara untuk akhirnya muncul lagi pada saat pubertas. Pada masa pubertas ini, anak mulai memasuki tahap genital, yang dicirikan dengan kemunculan kembali energi seksual. Namun kali ini energi tersebut bukan lagi ditujukan untuk stimulasi diri sendiri, namun diarahkan kepada orang lain dengan jenis kelamin yang berbeda.

Dalam pandangan Freud, perkembangan laki-laki dan perempuan mulai berbeda pada tahap phallic. Kompleks Oedipus tidak dialami perempuan. Dampak dari tidak dialaminya kompleks Oedipus ini membawa pengaruh yang sangat signifikan dalam perkembangan perempuan. Sayangnya hal ini luput dalam perkuliahan psikologi. Sejumlah buku psikologi bahkan menyajikan suatu kesalahan dengan menyebutkan bahwa pada perempuan, kompleks Oedipus ini dinamakan dengan kompleks Elektra. Kompleks Elektra menceritakan bagaimana anak perempuan mencintai ayahnya dan mengambil nilai-nilai ibunya. Dengan menjadi serupa ibunya, anak perempuan meyakini akan memperoleh cinta ayahnya sama seperti ibunya. Perlu diketahui bahwa istilah kompleks Elektra ini tidak disebutkan oleh Freud, melainkan oleh para pengikutnya. Selain itu, kisah kompleks Elektra ini meskipun tidak salah, namun kurang tepat.

Menurut Freud, anak perempuan tidak mengalami ketakutan akan kastrasi sebagaimana yang dialami anak laki-laki. Ketika melihat klitorisnya, anak perempuan justru meyakini bahwa ia telah dikastrasi. Sama seperti anak laki-laki, ibu juga merupakan obyek cinta pertama bagi anak perempuan. Hal ini wajar mengingat pada tahap psikoseksual pertama, yaitu oral, baik anak laki-laki maupun perempuan mendapatkan kepuasan dari ibunya, terutama melalui payudara ibu yang mengalirkan makanan. Namun ketika melihat klitoris, baik klitorisnya maupun klitoris ibu dan anak perempuan lain, serta membandingkan dengan penis yang dimiliki laki-laki, ia pun berasumsi bahwa ibu dan semua perempuan telah dikastrasi oleh ayahnya. Menyadari hal itu, anak perempuan justru merasa jijik terhadap ibunya, dan barulah kemudian ia mengalihkan cinta kepada ayahnya. Proses pengalihan ini sangat ditekankan oleh Freud. Menurutnya, perempuan dapat sewaktu-waktu kembali kepada obyek cinta asal tersebut. Dengan perkataan lain, perempuan memiliki kemungkinan besar untuk menjadi lesbian.

Tidak adanya ketakutan akan kastrasi pada diri perempuan juga akan membawa pengaruh signifikan dalam perkembangan superegonya. Pada laki-laki, karena ketakutannya akan dikastrasi, justru mendorongnya untuk patuh pada Hukum Ayah. Dengan tunduk pada Hukum Ayah, laki-laki justru belajar mengendalikan hasrat terhadap ibunya dan bersabar menunggu gilirannya untuk mendapatkan perempuannya sendiri kelak. Oleh karena itulah, ketakutan akan dikastrasi, justru memungkinkan anak laki-laki berkembang menjadi laki-laki dewasa yang matang. Ia mampu mengendalikan diri, memiliki moralitas, dan dapat belajar mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Menurut Freud, hal ini akan menjadi bekal bagi laki-laki untuk masuk ke dalam masyarakat, untuk aktif berorganisasi bahkan berpolitik. Sedangkan perempuan, karena tidak pernah mengalami ketakutan akan kastrasi tersebut, superegonya tidak pernah berkembang dengan sempurna. Ia menjadi manusia yang lemah, yang tidak pernah belajar patuh pada Hukum Ayah, dan akhirnya tidak dapat berpartisipasi pada ranah publik. Wilayah perempuan hanya domestik, yaitu di rumah, menjadi istri dan ibu.

Selain itu, dengan mengubah obyek cinta dari ibu kepada ayah, maka perempuan pemuasan seksualnya pun berubah dari klitoris ke vagina. Serupa dengan penis (meskipun telah dikastrasi), klitoris dalam pandangan Freud adalah seksualitas aktif. Sedangkan vagina adalah sesuatu yang pasif, yang membutuhkan penis untuk mencapai kepuasan. Jadi ketika anak perempuan mengalihkan obyek cinta kepada laki-laki, ia kehilangan maskulinitasnya (aktif) dan mulai mengambil nilai-nilai feminin (pasif). Pengalihan klitoris ke vagina ini dapat menjadi cikal bakal munculnya neurotisme (gangguan kejiwaan) bagi perempuan jika perempuan tidak dapat melaluinya dengan baik. Hal ini dikarenakan klitoris sulit untuk didesensitisasi. Ada kemungkinan perempuan dewasa akan kembali pada kepuasan klitoris dengan melakukan masturbasi seperti saat ia berusia 3-4 tahun di tahapan phallic. Atau perempuan juga dapat menjadi frigid, mengakhiri seksualitas karena bosan terus menekan hasrat klitoris.

Jadi menurut Freud, perempuan akan lebih mungkin menjadi neurotik dibandingkan laki-laki karena kepuasan seksualnya berubah dari klitoris ke vagina sedangkan laki-laki tetap pada penisnya. Lebih lanjut perempuan neurotik ini akan sulit sembuh meskipun diterapi. Hal ini dikarenakan superegonya tidak berkembang dengan baik, sehingga ia menjadi rigid dan tidak dapat menggunakan kesempatan untuk sembuh yang tersedia melalui terapi.

Pandangan Freud yang sangat pesimis terhadap perempuan masih dapat dilihat dalam teorinya mengenai  kecemburuan terhadap penis (penis envy). Kecemburuan ini muncul ketika anak perempuan melihat bahwa ia tidak memiliki penis. Kelak saat dewasa, kecemburuannya ini membuatnya menginginkan bayi sebagai pengganti penis. Menjadi ibu dan melahirkan, menurut Freud, dapat menggantikan kehilangan penis yang dialami perempuan. Apalagi jika anaknya adalah laki-laki, yang dapat dijadikan si ibu sebagai realisasi ambisinya yang telah ditekannya ketika ia harus mengalihkan kepuasan klitoris (aktif, maskulin) ke vagina (pasif, feminin).

Bahkan sekalipun penis dapat digantikan dengan bayi, kecemburuan terhadap penis itu sendiri memiliki konsekuensi jangka panjang pada perempuan. Freud menyebutnya sebagai sisa-sisa/residu dari kecemburuan terhadap penis (residual of penis envy). Residu ini muncul dalam tiga bentuk. Pertama, perempuan akan menjadi narsis, yaitu terokupasi pada diri. Ia memiliki keinginan kuat untuk dicintai, suatu keinginan yang bersifat pasif karena ia telah mengalihkan tujuan seksualnya dari klitoris aktif ke vagina yang pasif. Kedua, perempuan akan mengalami kekosongan dengan berfokus pada penampilan fisik. Penampilan fisik yang menarik dijadikannya alat untuk menutupi kekurangannya atas penis yang tidak dimilikinya. Terakhir, perempuan memiliki rasa malu yg dibesar-besarkan. Misalkan ia membutuhkan ruang tertutup untuk mengganti pakaian karena ia malu melihat tubuhnya yang telah terkastrasi.

Tidak dapat disangkal bahwa Freud adalah seorang yang cerdas dan analitis. Ia dianggap mampu membawa keluar suatu hal yang sangat dasar dalam kehidupan manusia, yaitu seks. Topik energi seksual yang dibahasnya pada tahun 1905 juga mengguncang dunia intelektual saat itu. Hal ini dikarenakan pada masa itu, khususnya di tempat tinggalnya di Vienna, seks merupakan suatu hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun demikian, teorinya mengenai perkembangan manusia sangat pesimis, khususnya mengenai perempuan.

Tulisan ini ditujukan untuk membuka pemahaman yang lebih komprehensif mengenai teori Freud. Diharapkan setelah ini, kita tidak lagi melakukan kesalahan dalam menggunakan teori Freud. Yakni kita tidak lagi membahas perkembangan perempuan dengan teori perkembangan laki-laki. Namun lebih dari itu, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita menyikapi teori Freud. Apakah kita meyakini bahwa perempuan cemburu terhadap penis, dan karenanya menjadi narsis, berfokus pada penampilan fisik, dan memiliki rasa malu yang besar? Apakah kita menerima bahwa perempuan harus menjadi ibu untuk menggantikan penisnya yang telah dikastrasi menjadi klitoris? Apakah kita percaya bahwa superego perempuan memang lemah sehingga sulit untuk mengalami proses kemajuan dalam sebuah terapi? Apakah kita menerima bahwa superego perempuan lemah dan karenanya perempuan tidak pantas untuk bekerja di luar rumah, berpartisipasi dalam masyarakat, dan lebih luas lagi dalam dunia politik? Apakah kita meyakini bahwa takdir kita sebagai manusia ditentukan oleh anatomi biologis kita? Dan ketika kita adalah seorang perempuan, maka ia tidak dapat bertumbuh ke arah yang lebih baik karena penisnya telah dikastrasi menjadi klitoris?

Semua tentunya berbalik kepada pandangan kita masing-masing. Namun perlu diingat bahwa teori Freud didasarkan pada pengalamannya menghadapi klien-klien perempuan yang neurotik, yang dibesarkan dalam budaya Vienna yang patriarkal pada awal abad 19, yang masih menganggap tempat ideal perempuan adalah di rumah dan perempuan ideal adalah seorang istri dan ibu. Jika kita melakukan generalisasi teori Freud untuk semua perempuan dan laki-laki maka sebenarnya kita telah melakukan suatu kesalahan metodologis.

Sumber Acuan

Tong, Rosemarie Putnam, terj. Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif kepada arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta : Jalasutra, 2004.

Williams, Juanita H. Psychology of Women. Behavior in a Biosocial Context. 3rd ed. USA : W.W. Norton & Company, Inc. 1987.

49 Comments leave one →
  1. nessa permalink
    September 10, 2007 4:28 pm

    wah,, mbak ester,, makasi ya uda nulis tentang freud dan teori psikoseksualnya…. cukup membantu ni sedang bahas itu di kuliahan… thx a lot!

  2. novita'31 permalink
    October 31, 2007 12:16 pm

    Great ! thanks udh ketambahan pengetahuan psikologi khususnya memahami perempuan dari psikoseksualnya ….
    thanks ..

  3. neni novita permalink
    December 3, 2007 7:17 am

    thx a lot mbak..
    bener-bener bacaan yang menarik buat perempuan.
    sukses… :)

  4. hendra permalink
    December 10, 2007 1:17 pm

    aq sepakat dengan tulisan mbak, bahwa apa yang menjadi landasan pemikiran freud adalah ketika dia mencoba menjawab penyakit pasiennya yang seorang wanita.

  5. esterlianawati permalink*
    December 11, 2007 8:54 am

    Thx ya teman2 utk koment-nya, en seneng kl emang bisa bantu. Eniwei, kl ada masukan ato tambahan utk artikel ini en artikel lainnya juga ditunggu lho masukannya :)

  6. January 14, 2008 4:03 am

    wah…saya senang sekali menemukan bacaan untuk bahan pra skripsi saya..
    kalo boleh tau di buku yg menjadi sumber tsb membahas tentang kelainan2 seksual pd wanita g??
    terutama tentang nymphomania atau hiperseksual.
    saya sedang mencari tau tentang mengapa wanita bisa menjadi hiperseks menurut teori freud..
    jawabannya e-mail aja ke vk_doang@yahoo.com
    thx a lot mba…

  7. titis permalink
    April 13, 2008 4:01 am

    aku gak seneng ama freud yang membuat perempuan jadi more neurotik (bermasalah). kita beda lho…

  8. esterlianawati permalink*
    April 14, 2008 2:48 am

    rasanya sama ya.. aku jg gak suka ama pandangan2nya freud ttg perempuan ;)

  9. sinta permalink
    April 18, 2008 5:21 am

    Artikelnya sunnguh menarik sama seperti orangnya!

  10. esterlianawati permalink*
    April 18, 2008 6:26 am

    Makasih, makasih :)

  11. edy purwanto permalink
    April 18, 2008 6:48 pm

    baru kali ini aku buka blog mbak, duh.. makasih ya mbak atas tulisanya. soalnya arikel yang mbak tulis bagus banget meskipun belum aku baca semuanya….
    makacih za………

  12. citra.kurniasih permalink
    April 24, 2008 12:58 am

    ^_^

  13. day permalink
    May 12, 2008 6:29 am

    tnx yach ngebantu banget nih….

  14. esterlianawati permalink*
    May 12, 2008 6:44 am

    Sama-sama..

  15. AL M permalink
    June 30, 2008 2:21 pm

    Thnk u Mrs. Ester
    You give everybody valuable Information
    I hope that u’ll give more than this, then
    ^_*

  16. esterlianawati permalink*
    July 15, 2008 4:59 am

    Thank u :)

  17. andohar purba permalink
    August 4, 2008 9:45 pm

    Freud?

    Yang paling kuingat ketika membaca beberapa bukunya:

    1. Kecemasan tidak memeiliki penis seperti uraian di atas.

    2. Freud dengan baik menjelaskan perbedaan laki-laki dengan perempuan. Utamanya penjelasan konfrehensifnya mengenai keterkaitan fisik dan psikis perempuan. Jika psikisnya sakit, maka tubuhnya juga akan sakit. Demikian pula sebaliknya.

    3. Konselor bertindak sebagai cermin dan bukan sebagai penasehat. Dengan mengembalikan ingatan2 penderita dan mulai belajar menerima (belajar berdamai dengan dirinya – istilah ester) pengalaman traumatisnya, penderita dapat terbebas dari beban-beban traumatiknya. Konseling seperti ini sepertinya banyak dianut para pastor meskipun Freud dibenci oleh gereja. :))

    4. Sosok TUHAN muncul sebagai bentuk ketakutan pada sosok ayah. (mungkin sangat dipengaruhi oleh filsafat eksistensialis yang menuju puncaknya semasa dia hidup)

    5. Bahwa orgasmus pada perempuan lebih rumit dan panjang lebih dari laki-laki

    6. Masturbasi pada anak merupakan ekspresi perlawanan terhadap traumatik dan kekerasan yang dialaminya

    7. ML pada pria tanpa perasaan cinta akan diikuti dengan persaan kebencian, jijik yang amat sangat. Sementara dalam situasi normal perempuan sulit memisahkan ML dengan cinta. Pada kasus ini perempuan banyak tertipu.

    8. Di akhir pengembaraanya freud memasuki ranah berfikir meta fisika sehingga diolok-olok. Satu koran di amerika (saya lupa nama korannya) menggambarkan karikatur freud yang sedang disambut tiga penyihir (mirip wajah si sirik – bobo) dengan tulisan besar “Well Come Mr. Freud” :))

    Selain fenomenal dan kontrofersi, freud menurut saya sangat berjasa dalam mengembangkan teori-teori Psikoanalisis

  18. esterlianawati permalink*
    August 5, 2008 1:49 am

    Wah seneng bisa dapet temen diskusi ttg Freud ;). Btw, aku krg setuju ama yg no 1. Kecemasan akan kastrasi mgkn emang beda ama kecemasan lain, generalized anxiety misalnya, atau gangguan-gangguan lain yg masih masuk dlm kategori anxiety disorder kayak phobia, panic, dll. Castration anxiety akan lbh terkait sama perkembangan kepribadian manusia (laki-laki dan perempuan) secara umum. Tp kl dah masuk spesifik ke gggan cemas, dinamikanya emang beda dan tdk melibatkan mslh phallus lagi.
    Setauku sih begitu :D

    Mnrt saya Freud emang hebat. Dgn kontroversi yg ditimbulkannya justru menunjukkan kehebatannya. Dr teori Freud lah bisa muncul teorinya Horney, Adler, dll. Dr teori psikoanalisis lah bakal ada teori behavioral dsb. Kl gak ada Freud, gak ada pemicunya mnrtku. Biar gimanapun dlm kepribadian neurotik, teori Freud kukira tepat krn toh memang dr org2 neurotik yg ditanganinya dia bs membangun teorinya. Tp kl utk orang yg ‘normal’, mgkn krg begitu tepat.

    Thx a lot buat sharing nya. Sy seneng banget bisa dpt masukan, n jd belajar lbh bnyk lagi :)

  19. andohar purba permalink
    August 5, 2008 4:40 pm

    Untuk saya, soal freud sebenarnya lebih banyak lupanya dari pada ingatnya. :) Habis, saya membaca buku-bukunya sekitar tahun 1995-1996. 12th yll. :O Ya betul itu pendapatmu bahwa soal kecemasan tidak memiliki penis itu bukan masalah palus lagi. Tapi setidaknya amat terasakan bahwa freud berupaya menjadikan masalah sex sebagai pusat realitas dan palus maupun yoni sebagai dasarnya. Seperti Marx melihat sistem produksi sebagai pusat realitas demikian Freud melihat sex sebagai realitas. Jika marx menghendaki perubahan realitas secara radikal dalam kepemilikan alat-alat produksi dalam bentuk revolusi, maka tampaknya freud mau ngomong, mari merubah realitas dengan mengubah persepsi kita soal sex. Realitas hanya berubah jika persepsi dan tindakan tentang sex diubah. ha ha ha eh.. dah ngelantur ya.. :D

    (masih melantur)
    Eh, kalo begitu sebenarnya kita gak perlu heran jika
    iklan kondom sutera, jamu rapet madura, jamu em kapsul dan terakhir maestro indonesia Ma’ Erot menjadi populer. Pernah temanku kulihat sedang baca buku2nya Kosuke Koyama dan langsung kuinterupsi, “nah, nampaknya meneer pasti setuju sekarang bahwa orang asia itu dengan agama kosmisnya pasti lebih membutuhkan kebahagiaan dari pada rumusan sorga neraka..” Iya.. iya.. seperti itu kan, katanya sambil menunjuk televisi nyiarin iklan kondom sutera (papi nanti cepat pulang ya..) Ha ha ha.. ya ya.. kata temanku, ibu itu tampaknya merasa dirinya belum sempurna jika tidak nikmat bahagia dengan suaminya.. Ya ya, orang asia di kesadaran yang tidak sadarnya lebih mengejar kebahagiaan dari pada sorga.. ketidaksadaran tidakbahagia sebenarnya lebih menakutkan dari pada masuk neraka. Lah wong pejabat, intelek , rohaniawan diaku Ma’ Erot banyak yang menjadi pelanggan tetapnya..

    (mencoba balik ke topik)
    Pernah temanku yang lain bilang, si Y sekretarisku belakangan sering-sering senyum merayu. Lalu kujawab, ah dia cuma butuh palus yang sekarang kau miliki. Maksudmu? Ya, itu.. dia butuh kepastian tetap menjadi sekretarismu. Dah 8 tahun kan dia di kantormu? Lalu apa hubungannya dengan palus? Ya mungkin saja dia butuh mengamankan siklus hidupnya seperti siklus haidnya.. kemungkinan ketaksempurnaan siklus hidupnya yang membutuhkan palus kekuasaanmu untuk menyempurnakannya.. memastikannya.. Oooo injeh.. Makanya (mangkanya: dgn dialek suharto) jangan pikir yang macam-macam.. iyo mas.. ngono ta.. :)

  20. esterlianawati permalink*
    August 7, 2008 1:41 am

    Wah bisa ikutan bikin serial komik ttg Freud nih, yg isinya jokes pake teori Freud :D Kt temenku dah ada komik dr para pemikir, yg slh satunya Freud.
    Btw, Freud kan dianggap pinter justru krn dia bawa membawa isu yg mendasar dlm kehidupan manusia : seks. Dia bisa jadiin seks sbg dasar tahapan perkembangan kepribadian manusia. Dan gmn dia gak terkenal ya, wong dia publikasiin teorinya waktu seks msh dianggap tabu banget utk dibicarain dlm lingk masy nya saat itu. Jd selain pinter berteori, dia pinter memilih timing yg tepat utk memasarkan idenya hehe. Selain itu, kl mnrtku si Freud itu emang pinter krn dia bikin teori yg susah ditentang sbnrnya. Mksdnya sklpun ditentang, dia sll pny alasan dgn berbagai defense mechanism yg dilakukan tanpa sadar. Masa sih kok gw engga merasa ya..Ya iyalah kan terjadinya emang di bawah kesadaran elo :D

    Jd ikut melantur jg ;)

  21. enna permalink
    August 26, 2008 4:43 am

    Psikologi rasanya sangat identik dengan teori Freud, ketika masih kuliah dulu, Teori Freud adalah teori yang wajib dikuasai oleh setiap mahasiswa. Jika dihubungkan dengan perempuan maka teori Freud kemungkinan besar memang bias gender, memandang perempuan dari sudut pandang laki-laki, dimana laki-laki menjadi standar untuk menilai seorang perempuan. Namun, setiap kali membaca tulisan atau artikel dan semacamnya yang membahas teori Freud, saya selalu mendapatkan hal baru, entah itu berasal dari teori Freud yang asli atau hasil interpretasi penulis terhadap teori Freud, misalnya saja tentang Elektra Kompleks, saya baru tahu kalau Elektra Komplek bukan dikemukakan oleh Freud tapi oleh pengikut teorinya. Apapun itu, terima kasih atas tulisannya. Membaca tulisan ini, membuat saya semakin tergerak untuk lebih mendalami Psikologi.

  22. esterlianawati permalink*
    August 26, 2008 7:30 am

    Makasih juga Mbak Enna :)

  23. andohar purba permalink
    September 2, 2008 8:32 am

    Menanggap Enna:
    Enak ya, jadi teori wajib. Di teologi (mungkin kampus kami) gak wajib. jadi ga dituntun pemahamannya. Tapi buku2 yg menentang ide freud banyak dibahas. jadi ga seimbang.

    Saya sukasekali penegasan Enna di atas. Adakah buku2 yg meninjau freud dari sudut pandang perempuan? Kalau bisa jangan yg tebal2, ntar bisa cekak bulanan gw. Pasti menarik

    Mungkin kalo di teologi, seperti Fiorenza dan Ivone Gebara. Mereka suka bedah-bedah teks dan berusaha memecah kebisuan perempuan di dalam teks. Asik tuh.. Ester, tolong bantu ya.. ya.. ya..

  24. esterlianawati permalink*
    September 9, 2008 4:43 am

    Hai Bang Dohar,
    Yg membedah Freud dr perspektif perempuan itu ada bbrp tokoh, biasanya mereka disebut sbg feminis psikoanalisis kyk Karen Horney, Alfred Adler, Nancy Chodorow, Dorothy Dinnerstein, dan Clara Thompson. Aku cm pny bukunya Nancy Chodorow. Kl mau dicariin, boleh aja. Dikumpulin dulu ya, jadi gak buku yg lagi itu? ;;)

  25. September 20, 2008 10:47 am

    dalam teory freud perlu diperhatikan akar dr teorinya berdasar pada alam bawah sadar dan alam sadar lalu teringkas dalam 3 struktur kepribadian Id,Ego dan superego. oeidipus kompleks merupakan salah satu analogi yg digunakan freud dalam menjelaskan pertumbuhan psikoseksual pd diri individu. mungkin kita harus lebih cermat dalam memehami teori freud, karena dia lebih menekankan psyche atau jiwa dalam pembentukan kepribadian.
    masalah klitoris dan penis bukanlah suatu perbedaan yg mendasar walaupun itu dikuatkan dalam teori oeidipus kompleks klu memeng mau digunakan dengan kaca mata feminis lebih baik menggunakan 3 struktur kepribadian Id, ego, dan superego dalam menganalisis pertumbuhan dan fenomena masalah yg akan diamati.

  26. September 20, 2008 10:51 am

    Tanggapan ter7 Agustus 2008

  27. September 20, 2008 11:08 am

    Kritik terhadap tulisan andohar purba, tanggal 5 Agustus 2008 bahwa sex dalam 3 struktur kepribadian Id, Ego dan Superego di mana sex merupakan salah satu kebutuhan Id selain makan dan minum. Jadi sex pada dasarnya merupakan salah satu kebutuhan primer bagi individu. Dapat diambil contoh adanya sifat poligami dalam kaum laki-laki dari jaman raja-raja, nabi-nabi, tokoh-tokoh politik, dan orang pembesar lainnya juga laki-laki yang berada dalam status sosial yang umum. Oleh karena itu, sampai kapanpun prostitusi tidak mungkin dihapuskan.
    Sex sebenarnya dapat diatur agar tidak menjadi salah persepsi bagaikan seseorang yang memiliki jadual tetap untuk makan tiga kali sehari. Sex pun demikian. Karena sex merupakan kebutuhan Id maka Ego-lah yang akan mengatur terpenuhinya kebutuhan sex, dan nantinya Superego yang akan merespon salah atau tidaknya perlakuan sex yang dilakukan. Dalam arti memberi rasa nikmat atau rasa bersalah. Contohnya sex sebelum nikah adalah nikmat sesaat (ID) dan mungkin ada bahkan yang tidak menikmati sepenuhnya. Mengapa demikian? Karena Superego memberikan respon dalam bentuk rasa cemas akan tindakan yang dilakukan dalam arti melanggar norma-norma dalam masyarakat, norma agama, dan kecemasan diri dalam bentuk takut akan kehamilan, yang nantinya akan berdampak pada masa depan individu tersebut.

  28. September 20, 2008 11:16 am

    Saya sangat setuju dengan polly.
    Sebenarnya tidak bisa menggeneralisasikan bahwa semua orang asing mengutamakan kebahagiaan duniawi. Andohar mungkin terlalu banyak nonton film porno orang bule aja, sehingga akhirnya ejakulasi dini dalam berpikir.
    Saya punya beberapa teman orang asing yang hampir semuanya penginjil, pendeta, orang-orang Kristen yang baik. Di Amerika aja George W. Bush menang pemilu kedua karena program-programnya yang dinilai baik oleh kalangan Evangelical Christian.

  29. September 20, 2008 12:15 pm

    Pada dasarnya untuk mempelajari teori Freud kita tidak bisa memakai salah satu kacamata saja dalam teori tersebut. Karena dalam teori Freud ada banyak teori yang perlu dipahami dengan baik agar kita tidak terjebak dalam salah persepsi mengenai psikoanalisa. Salah satu contoh pada awal pencetusan teori psikoanalisa Freud lebih menekankan pada sistem hipnotis untuk mendapatkan data masa lalu kehidupan dari para pasiennya. Namun pada perkembangan berikutnya Freud mengubah metode hipnotis menjadi metode asosiasi bebas. Contoh lainnya pada permulaan teorinya Freud menggunakan alam sadar dan alam bawah sadar. Namun dalam perkembangan berikutnya, ia lebih mensistematiskan dalam bentuk tiga struktur kepribadian, yang dikenal dengan Id, Ego, dan Superego.
    Nah dari itu untuk memahami Oeidipus kompleks dan tahapan-tahapan psikosexual yang Anda jelaskan di atas, bagi saya Anda kurang memahami teori klassik psikoanalisa dari Freud, di mana Oeidipus Complex adalah sebuah analogi dalam teori Freud dalam menjelaskan psikoseksual individu. Dan perlu dipahami dalam teori Oeidipus Complex merupakan suatu wujud penjabaran mengenai tiga struktur kepribadian Id, Ego, dan Superego.
    Satu hal lagi bahwa teori psikoanalisa Freud lebih bersifat pada psyche/jiwa, bukan perilaku (behavior) maupun fisik (physic). Ada baiknya jika Anda ingin memahami teori Freud pahamilah dulu mengenai tiga struktur kepribadian lalu defense mechanism dan pada anxiety.

    Sedangkan Andohar Purba (tulisan 5 Agustus 2008) mengenai seksual.
    Pada dasarnya pada teori Freud merupakan salah satu kebutuhan primer dalam kehidupan seseorang. Hal ini jelas dalam tiga struktur kepribadian Id, Ego, dan Superego, di mana seks merupakan salah satu kebutuhan dari Id, selain makan dan minum. Oleh karena itu, dapat kita saksikan ada begitu banyak kejadian seputar poligami pada laki-laki dari jaman para nabi, raja-raja, tokoh-tokoh politik dan masyarakat awam. Jadi sex sebenarnya bukan hal yang tabu dari apalagi pada jaman Freud dan sekarang ini. Mengapa menjadi tabu karena sex dipandang najis dan hina oleh norma-norma dalam masyarakat, agama, dan hukum, kalau sex dilakukan salah pada perlakuannya. Dengan kata lain yang dimaksudkan Freud tentang kebebasan sex dan kebutuhann sex adalah bagaimana seseorang mengatur kebutuhan sex-nya itu sesuai dengan porsinya dan tidak dihambat. Seperti seseorang mengatur jadual makannya sesuati dengan kebutuhannya, begitu sex.
    Analogi perlakuan sex dalam struktur kepribadian Freud.
    Id: menuntut tersalurkannya hasrat sexual.
    Ego: Memenuhi tuntutan Id dengan melakukan hubungan sex.
    Superego: Merespon kebutuhan Id dan Ego dengan memberi rasa nyaman dan tenang.
    Dapat disimpulkan dari hal di atas adalah suatu proses pemenuhan sex yang tanpa masalah.
    Nah …………….. yang menjadi masalah dalam sex adalah:
    – Jika perlakuan sex tidak pada porsinya, semisal seseorang dalam berpacaran melakukan hubungan sex di luar nikah dapat dijelaskan dalam tiga struktur kepribadian seperti demikian:
    Id: Membutuhkan penyaluran hasrat sexual (bukan pada porsinya) dalam arti kebutuhan itu muncul karena adanya rangsangan dari luar tubuh manusia. Misalnya menonton film porno, melihat betapa sexy-nya body sang pacar, atau rangsang-rangsang yang dilakukan oleh sang pacar. Akibatnya Id terdorong untuk melakukan hasrat sexualnya.
    Ego: Melaksanakan tuntutan Id dengan cara onani, masturbasi, oral, atau bahkan sampai ke hubungan intim.
    Superego: Superego merespon kebutuhan Id dan tindakan Ego, di mana Superego akan memberikan respon dalam bentuk kecemasan dan ketidaktenangan dalam diri individu tadi. Karena apa? Karena ia telah melanggar norma-norma yang ada pada masyarakat, agama, dan hukum. Lebih parah lagi, ia akan merasa tidak tenang dan merasa cemas karena Superego memberikan respon terhadap kejiwaannya dengan mengancam hal-hal yang akan terjadi nantinya seperti: rasa bersalah, hamil di luar nikah, pacar tidak akan betanggung jawab, takut diputusin, dan lain-lainnya.

    Harapan saya kepada Anda-Anda agar lebih memahami suatu teori dengan utuh, termasuk juga penggunaan teori psikoanalisa Freud! Jangan terjebak pada salah satu analogi dalam teori.

  30. rutelia permalink
    September 21, 2008 6:57 am

    wahh..baru baca nih artikel yang baru buat pengetahuan gw, yg emank selama ini belajar n nyangkutnya cuma psikoseksual freud,he5.. jujur gw baru belajar ttg gender n artikel ini ngebantu gw banget buat ngebuka pola pikir gw…

    1 lagi donk temen2, klo bisa tolong donk bahas soal gender dalam pendidikan juga, dilihat dalam sudut pandangnya freud atw yg lain jg boleh…

    klo ada yg mau bagi2 ilmu sama gw kirim ke rutelia@live.com aja yah…

    gw tunggu banget2 lho…thx ^_^

  31. rutelia permalink
    September 21, 2008 7:04 am

    oh yah 1 lg, mbak/ neng/ ci2 esterlianawati, tulis email u dnk ataw paling gak kasih tau gw dnk, harus buka/ cari dimana artikel2 bagus tentang psikologi kayak gini??
    thx

  32. esterlianawati permalink*
    September 22, 2008 2:29 am

    Mksh bnyk utk masukan dr teman2 semua. Sy senang dengan komentar2 membangun spt ini, jd membuat sy bljr lg :).

    Dlm bbrp hal saya setuju dengan Mbak Polly, memang kita hrs memahami konsep dasar dr Freud ttg struktur kepribadian, defense mechanism, dll. Di sisi lain, ktk kita ingin lbh spesifik, misalnya ingin memasukkan aspek gender dlm perkembangan kepribadian, mau engga mau kita hrs melihat unsur2 lain. Bukan berarti keluar dr konsep dasar yg dibangun oleh Freud, tp mnrt sy justru menggali lbh dlm.
    Persoalan klitoris dan penis menjd penting ketika bicara mengenai perkembangan dr ego dan superego antar jenis kelamin yg berbeda. Bukan krn mslh klitoris dan penis sbg sebuah organ reproduksi tentunya. Tetapi melampaui itu krn dr yg biologis ini Freud melihatnya dpt mempengaruhi perkembangan kepribadian antara perempuan dan laki-laki. Yg mana selanjutnya mempengaruhi psikoterapi yang Freud berikan. Misalnya dlm kasus Emma Eckstein, Freud menghubungkan gejala yg dialami Emma (sakit perut, depresi ringan saat menstruasi) sbg nasal reflex neurosis akibat masturbasi berlebihan. Freud pun meminta temannya, Wilhelm Fliess, melakukan operasi pengangkatan tulang pd hidung Emma. Operasi pd akhirnya berakhir dgn pendarahan parah pd Emma. Mengapa hidung, krn hidung adlh lambang phallus. Mengapa Freud berasumsi Emma melakukan masturbasi berlebih, mau tdk mau hrs melihat kembali bgmn Freud memandang peran klitoris dlm perkembangan kepribadian perempuan.
    Benar bhw kita hrs memahami perkembangan ide-ide Freud. Dan sebenarnya bila kita menelusuri perkembangan ide-ide ini, kita tidak bisa melepaskan diri dr bgmn Freud memandang laki-laki dan perempuan. Misalnya saja dlm hal seduction theory. Awalnya Freud mengakuinya sbg represi atas kekerasan seksual yg diterima anak dr ayahnya. Namun belakangan Freud mengubah pandangannya, bukan lg represi melainkan fantasi. Represi berarti mengakui bhw memang ada ayah yg melakukan kekerasan seksual pd anaknya, namun tdk demikian dgn fantasi. Fantasi justru ‘menyalahkan’ si anak perempuan, krn Freud mengkaitkannya dengan tahap phallic. Atau jg dlm kasus Emma Eckstein di atas, untuk menyelamatkan temannya dr tuduhan malpraktik krn telah mengakibatkan luka parah, Freud juga mengemukakan teori baru ttg hysteria, yg kmdn menjadi popular.
    Sy pribadi dpt lbh memahami teori Freud stlh memahami bgmn pandangannya thd perempuan-laki2. Perbedaan-perbedaan yg Freud kemukakan sbnrnya jg menjadi ide bagi para feminis utk membangun corak feminism baru yang dinamakan feminisme psikoanalisis.

  33. esterlianawati permalink*
    September 22, 2008 2:31 am

    Hai Mbak Rutelia, salam kenal. Emailku di esterlianawati@yahoo.com. Kl ada info2, nanti ku update ke km ya ;)

  34. September 22, 2008 6:45 pm

    cuma ngebayangin,
    seandainy pak Freud masih diberikan umur dan kesehatan,
    kira2 apa yang bakal dipikirkan ma dia yah?

    btw, artikel dan komentar2nya sngat mnarik
    hehe,mskipun di ulang berpuluh-puluh kali d kelas,
    saya tetap senang mndngar bagaimana seluk beluk teori Freud,
    seperti yg dibahas dalam artikel ini (dan tentu komentarnya jg)

    salam knal dr semarang :D

  35. esterlianawati permalink*
    September 25, 2008 7:04 am

    Hai Taufan, salam kenal jg ya.
    Iya ya Pak Freud bakal mikir apa ya. Tp kl aku yg jd dia, bakal bangga banget, krn bs bangun teori yang dijadiin dasar berpikir bnyk pemikir lainnya, baik yg dukung maupun yg nentang ..;)

  36. andohar purba permalink
    September 30, 2008 8:15 pm

    Untuk polly, terimakasih sudah mengkoreksi. Memang demikian maksud saya menggapi tulisan ester, kalau saya salah bisa dikoreksi. Menurutku harapanmu besar sekali dan bagus. Di atas sudah saya jelaskan keterbatasan saya, saya bukan penekun dunia psikologi. Cuma pernah baca dan menaggapi. Untuk Yusak, saya tidak ada menggeneralisir bule. Coba baca sekali lagi. Oh ya, kalangan evangelikal itu juga mendukung seruan Bush yang doyan menggunakan jargon2 kaum fundamentalis. Moga Obama bisa menarik seluruh pasukan ASU yg telah dirintis Bush untuk menetap lama di timur tengah. :D

  37. Kribo permalink
    October 23, 2008 6:47 pm

    Hehe…rasanya Freud dulu sering bermasalah dengan perempuan selama dia hidup hehe…dan jelas imajinasi seks-nya hebat.
    Salam untuk Polly yang Freudian.
    Namun yang jadi perkara, freud mempelopori bagaimana “memperkirakan” sesuatu di balik kejadian dan kepala seseorang dengan perspektif subjektifnya. OK dia hebat dalam berpikir, tapi dia ngawur juga dalam berperilaku (hidung Emma itu salah satu korbannya). Tapi jelas konteks dan fungsi teorinya sebagai ganti dukun itu yang membuatnya sukses dan popular.
    artinya jika kita mau berpikir dan berimaginasi seperti Freud (atau jika kita mau mengorek lantai dasar borobudur) so merasakan juga to seks dan bagaimana itu begitu mengacaukan pikiran….

  38. esterlianawati permalink*
    October 24, 2008 9:08 am

    Hehehe..

  39. November 5, 2008 2:42 am

    OK SEGNUM FRUED MEMANG memberi sebuah persepsi yang beda dan saling melaengkapinya ,dalam melihat hidup kita tak bisa berdasarkan dari satu teori saja.thank

  40. esterlianawati permalink*
    November 6, 2008 2:20 am

    Iya bener, pak :) tengkyu ya

  41. audea happy permalink
    December 4, 2008 6:10 am

    mbak..aku mau tanya nih..ku kan lg nyusun skripsi..tentang perempuan kalo teori ttg perempuan pakai teori siapa ya..? oiya..bs referensi bukunya ga? thx bgt ya mbak..

  42. esterlianawati permalink*
    December 10, 2008 4:37 am

    audia, dah kubalas ke emailmu ya ;)

  43. rahma permalink
    December 22, 2008 7:06 am

    makaci bgt y…
    ngebantu banget bt tgs psikologi
    sukses y…
    cayo…\ (^_^ ) #

  44. esterlianawati permalink*
    December 23, 2008 9:46 am

    sama2..:)

  45. RERE permalink
    January 5, 2009 9:16 am

    aq suka bgd baca blog mba ester inii,

    posting2nya menarik dan berbobot..

    maKasii ya mbaa..saya jadi dapet tambahan iLmu pengetahuan..

    • esterlianawati permalink*
      January 7, 2009 9:31 am

      Mksh juga ya Rere..:)

  46. hallen permalink
    January 6, 2009 6:16 am

    Dapetin buku freud bisa di mana nih….thanks ya…..

    • esterlianawati permalink*
      January 7, 2009 4:25 am

      Hai hallen,
      Lg itu sy beli di TIM. Tp di toko buku QB jg ada ;)

  47. esterlianawati permalink*
    January 7, 2009 9:49 am

    Hallen, yg di TIM n QB itu buku freud nya lgsg ya. Kl sumber pustaka yg kukutip di atas itu kudapet dari program studi kajian wanita UI di salemba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers

%d bloggers like this: