Pengetahuan bukan untuk disimpan,
melainkan dibagikan.
Hanya dengan itu,
pengetahuan memiliki maknanya.
Pengetahuan bukan untuk disimpan,
melainkan dibagikan.
Hanya dengan itu,
pengetahuan memiliki maknanya.
Si tu étais ici,
Je voudrais te toucher
Je voudrais te baisser
Je voudrais t’embrasser
Et je ne te lâcher prise pas
Pour toujours…
Seandainya kau ada di sini..
Aku ingin menyentuhmu
Aku ingin menciummu
Aku ingin memelukmu
Dan tak akan melepaskanmu
Selamanya..
Dans nos ténèbres,
il n’y a pas une place
pour la Beauté.
Toute la place est
pour la Beauté.
René Char
Ini adalah sebuah lagu dari Perancis, yang menurut saya dapat dijadikan sebuah contoh bagaimana banyak hal dalam hidup kita telah dikonstruksi sedemikian rupa.
Puorquoi tu m’appelles Janine
alors que j’m'appelle Thérèse ?
Puorquoi tu m’appelles Ardèche
alors que j’m'appelle Corrèze ?
Puorquoi tu m’appelles triangle
alors que j’m'appelle trapèze ?
Puorquoi tu m’appelles Louis XV
alors que j’m'appelle Louis XVI ?
Puorquoi tu m’appelles oeuf coq
alors que j’m'appelle omelette?
Puorquoi tu m’appelles hautbois
alors que j’m'appelle trompette?
Puorquoi tu m’appelles maman
alors que j’m'appelle papa?
Puorquoi tu m’appelles Karine avec un C*
alors que j’m'appelle Carine avec un K?
Puorquoi tu m’appelles X
alors que j’m'appelle Y?
Mengapa kau memanggilku Janine
Sementara aku memanggil diriku Thérèse
Mengapa kau memanggilku Ardèche
Sementara aku memanggil diriku Corrèze ?
Mengapa kau memanggilku segitiga
Sementara aku memanggil diriku trapesium ?
Mengapa kau memanggilku Louis XV
Sementara aku memanggil diriku Louis XVI ?
Mengapa kau memanggilku telur rebus
Sementara aku memanggil diriku omelet ?
Mengapa kau memanggilku seruling
Sementara aku memanggil diriku trompet ?
Mengapa kau memanggilku mama
Sementara aku memanggil diriku papa ?
Mengapa kau memanggilku Karine dgn C
Smntara aku memanggil diriku Carine dgn K?
Mengapa kau memanggilku X
Sementara aku memanggil diriku Y ?
Maria, Bunda Yesus, senantiasa digambarkan sebagai seorang perawan yang melahirkan Yesus. Dampak penokohan seperti ini sangat luar biasa akhirnya dalam menuntut virginitas perempuan. Terlepas dari nilai masing-masing pribadi dalam menyikapi virginitas, sangat disayangkan jika Maria hanya dikaitkan dengan keperawanan. Padahal Maria memiliki banyak kekuatan yang membuatnya layak dijadikan sebagai teladan.
Sayang kita tidak pernah membahas ataupun sekedar mempertanyakan bagaimana perjuangan Maria ketika itu dalam menghadapi cemoohan masyarakat karena telah mengandung padahal belum menikah. Atau perjuangannya ketika ia harus menjadi orangtua tunggal yang merawat dan mengasuh Yesus setelah suaminya meninggal dunia. Atau kekuatan Maria sebagai ibu, yang mampu mendorong Yesus melakukan mujizatNya yang pertama (mengubah air menjadi anggur). Padahal sebelumnya Yesus menolak karena waktuNya belum tiba.
Menurut saya, membahas perjuangan hidup Maria dibandingkan keperawanannya akan lebih memberi semangat pada kaum perempuan untuk menunjukkan potensi-potensinya. Amat disayangkan saat ini sebutan Maria, Sang Perawan (The Virgin Mary) menjadi lebih terkenal dibandingkan kekuatan Maria lainnya.
Jika Anda ditanya, manakah pernyataan yang lebih tepat: saat ini banyak orang berusia 30-an yang tidak menikah, atau saat ini banyak orang berusia 30-an yang belum menikah, kebanyakan bisa jadi akan memilih jawaban pertama.
Dalam budaya kita, sebutan “belum menikah” lebih lazim. Frase belum menikah, menyiratkan masih ada harapan yang diproyeksikan. Suatu saat orang itu akan menikah. Beda halnya dengan tidak menikah, seolah-olah ada satu kepastian ia memang tidak akan menikah.
Kini sudah jadi kecenderungan orang menikah di usia yang lebih tua dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, perlu diperhatikan yang terjadi hanya pergeseran usia menikah, bukan berarti ada peningkatan jumlah orang yang tidak menikah.
Sampai saat ini, pernikahan tetap dianggap sebagai momen terpenting yang masih senantiasa ditunggu sepanjang perjalanan hidup seseorang.
Masyarakat kita masih melekatkan pernikahan sebagai bagian identitas seseorang. Hidup baru dianggap lengkap jika orang itu sudah menikah. “Kapan nih (baca: menikah)”, adalah pertanyaan singkat namun mampu membuat orang yang ditanya mengambil waktu panjang untuk berpikir masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.
Stereotip negatif akan ditujukan bagi mereka yang belum menikah di usia yang dianggap sudah sepantasnya. Sebutan perjaka tua atau bujang lapuk tersedia bagi laki-laki yang belum menikah di usianya yang dianggap “cukup”. Belum lagi laki-laki sering diidentikkan dengan kebutuhan seksual yang besar. Demikian pula perempuan yang akan mendapatkan sebutan perawan tua. Bahkan sebutan itu sering dirasakan berdampak jauh lebih besar bagi perempuan dibandingkan laki-laki.
Stereotip negatif yang ditujukan kepada laki-laki lajang hanya dikaitkan dengan hasrat seksualnya dan itu pun sering kali mendapat pembenaran karena ia laki-laki. Tidak demikian halnya dengan perempuan. Label perawan tua yang diberikan kepada perempuan hanya merupakan permulaan. Perempuan dingin, judes, galak, frigid, kesepian, sombong, terlalu pemilih, tidak laku, akan menyusul dalam daftar stereotip lainnya terhadap perempuan lajang.
Kesejahteraan Psikologis
Perempuan memang menerima tuntutan lebih besar untuk menikah, terutama dari keluarganya. Simone de Beauvoir, feminis eksistensialis, pernah mengatakan banyak orangtua menganggap anak perempuannya tidak akan bahagia jika tidak bersuami. Apalagi dalam masyarakat yang menganut budaya patriarki seperti Indonesia, eksistensi perempuan sudah dikonstruksi sedemikian rupa untuk dilekatkan dalam konteks hubungannya dengan suami.
Kebanggaan perempuan seolah-olah juga ditentukan oleh suaminya. Sampai ada orangtua yang berprinsip tidak masalah anak perempuannya tidak menjadi dokter, asalkan menjadi istri dokter. Karena itulah, istilah “nyonya” dan “nona” menjadi perbedaan besar, ketimbang istilah “tuan” yang tidak berubah pada laki-laki, sebelum ataupun setelah menikah.
Namun demikian, tuntutan menikah pada laki-laki sebenarnya juga tidak kalah besarnya, terutama pada kelompok suku tertentu yang memiliki nama keluarga (marga). Dengan menikah, ia diharapkan dapat memiliki keturunan yang akan meneruskan nama keluarganya kelak.
Dengan besarnya tuntutan itu, baik pada perempuan maupun laki-laki, tidak heran jika banyak kaum muda tertekan ketika belum mendapatkan pasangan di usia yang sudah dianggap pantas menikah. Banyak pula yang akhirnya menikah dengan pasangan yang belum dikenal dengan baik hanya karena usia seolah sudah mengejar. Pada akhirnya pernikahan pun menjadi sesuatu yang wajib dilakukan agar tidak dianggap menyimpang dari norma masyarakat dan terhindar dari stereotip negatif.
Padahal, tidak selamanya stereotip negatif itu terbukti. Kehidupan lajang awalnya memang bukan wilayah yang mendapat banyak perhatian untuk dieksplorasi. Hal itu dikarenakan penekanan masyarakat kepada pernikahan sebagai bentuk yang konvensional, sehingga dunia lajang sering dianggap antara ada dan tiada. Namun, belakangan ini cukup banyak penelitian dilakukan terhadap kelompok lajang. Hasilnya membuktikan stereotip negatif, khususnya terhadap perempuan lajang hanyalah mitos belaka.
Sejumlah penelitian membuka pemahaman baru bahwa kaum lajang memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi. Karena lajang lebih memiliki banyak waktu mengeksplorasi dan mengembangkan potensinya. Mereka merasa lebih memiliki kendali atas hidup sendiri. Hal itu membuat mereka lebih percaya diri karena memperoleh otonomi baik secara psikologis maupun sosial.
Kaum lajang yang aktif terlibat dalam kegiatan komunitas juga memiliki hubungan interpersonal yang memuaskan. Hubungan itu merupakan salah satu bentuk keintiman, bagian dari tugas perkembangan seseorang. Jadi tanpa menikah pun, kebutuhan intimasi (need of intimacy)masih dapat terpenuhi dari jaringan pertemanannya. Apalagi jika ada dukungan dan penerimaan dari keluarga atau orang-orang terdekat lainnya. Mereka lebih sejahtera, yang pada akhirnya mendorong mereka menunjukkan sisi terbaik dari diri mereka.
Jadi kehidupan melajang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Melajang adalah sebuah pilihan, bukan bentuk pemberontakan terhadap ikatan pernikahan.
Menikah ataupun melajang, ketika lahir dari kehendak bebas seorang, justru akan memunculkan maknanya. Jadi, menikah ataupun melajang? Lakukanlah sebagai sebuah pilihan.
(Berdasarkan Puisi oleh Nancy R. Smith)
Dalam masyarakat kita telah terbentuk sekian lama pembedaan antara perempuan dan laki-laki. Pembedaan, bukan perbedaan. Pembedaan mengandung arti konstruksi atau bentukan, bukan sesuatu yang alamiah. Kepada perempuan dan laki-laki telah dilekatkan karakteristik tertentu, baik secara fisik, kepribadian, maupun kognitif. Perempuan dianggap lemah secara fisik, dan laki-laki kuat. Perempuan dianggap sebagai makhluk irasional, emosional, lembut, mudah menangis, dependen. Sebaliknya laki-laki itu rasional, independen, berinisiatif, dan sebagainya. Jadi ada pandangan mengenai maskulinitas yang terkait dengan laki-laki, dan femininitas yang terkait dengan perempuan.
Karakteristik-karakteristik itu dinamakan stereotip gender. Berdasarkan karakteristik tersebut akan melekat pula secara otomatis peran-peran yang diharapkan dari seorang laki-laki dan perempuan, atau dikenal dengan istilah peran gender. Misalnya hanya laki-laki yang pantas menjadi pemimpin karena ia rasional. Laki-laki adalah kepala keluarga yang wajib menafkahi istri dan anak-anaknya. Atau perempuan wajib mengasuh anak karena ia punya kelembutan dan kesabaran. Apalagi perempuanlah yang secara biologis memiliki fungsi untuk melahirkan.
Belum lama ini saya memberikan hadiah kepada dua anak sahabat saya. Kepada anak perempuan, saya memberikan sebuah CD lagu berjudul It’s a Girl. Kepada anak laki-lakinya, saya memberikan CD sejenis dengan judul It’s a Boy. Pilihan yang wajar sepertinya, tetapi membaca kembali mengenai stereotip gender menyadarkan saya bahwa ternyata saya masih bertindak mengikuti stereotip gender. Contoh kasus ini mungkin terkesan ringan, padahal stereotip gender itu merugikan, juga bagi laki-laki yang selama ini ‘seolah-olah’ lebih diuntungkan.Perempuan mengalami opresi yang sepertinya lebih besar karena stereotip gender. Bila ada laki-laki dan perempuan memiliki kompetensi yang setara, perusahaan biasanya lebih memilih laki-laki untuk dipromosikan ke jenjang lebih tinggi. Karena perempuan dianggap kurang rasional dan masih mengandalkan sisi emosionalnya. Demikian pula dengan seorang perempuan yang sukses karirnya, ia cenderung menjadi pihak yang lebih dipersalahkan bila kehidupan perkawinannya tidak harmonis. Karena sesukses apapun ia, perempuan masih dilekatkan dengan perannya sebagai ibu rumah tangga.Laki-laki pun bukan selalu menjadi pihak yang tidak dirugikan oleh stereotip gender. Seorang teman laki-laki saya tidak berani melamar kekasihnya sebelum memiliki rumah dan mobil pribadi karena tuntutan sosial bahwa laki-laki harus memenuhi kebutuhan keluarga. Banyak laki-laki yang juga merasa rendah diri ketika istrinya memiliki penghasilan lebih besar darinya, meskipun istri tidak pernah mempermasalahkan keadaan tersebut. Suami yang kehilangan pekerjaan akan jauh lebih tertekan dibandingkan bila istri mengalami hal serupa. (Meskipun tidak dapat disangkal pula bahwa masih banyak perempuan yang memandang rendah suami karena tidak bekerja atau berpenghasilan di bawahnya.).
Masih banyak stereotip gender yang merugikan perempuan dan laki-laki. Puisi Nancy R. Smith berikut ini sangat baik menggambarkan bagaimana stereotip gender merugikan keduanya; perempuan dan laki-laki :
For every woman, who is tired of acting weak when she knows she is strong,
There is a man who is tired of appearing strong when he feels vulnerable.
For every woman who is tired of acting dumb,
There is a man who is burdened with the constant expectations of knowing everything
For every woman who is tired of being called an “emotional female,”
There is a man who is denied the right to weep and be gentle
For every woman who feels “tied down” by her children,
There is a man who is denied the full pleasures of shared parenthood.
For every woman who takes a step toward her own liberation
There is a man who finds the way to freedom has been made a little easier
Nancy R. Smith
Dikutip dari Olson, David.H & DeFrain, John (2003),
Dalam Marriages and Families.
Powered by WordPress.com