Tidak banyak yang mengetahui bahwa hari ini, 8 Maret 2009, adalah hari perempuan sedunia. Padahal penetapan hari perempuan sedunia sudah dilakukan sejak tahun 1911 atas usul Clara Zetkin, pejuang perempuan dari Jerman. Meskipun saat itu memang bukan tanggal 8 Maret yang dipilih, melainkan 19 Maret. Pergeseran tanggal ini baru dilakukan pada tahun 1913.
Saat itu Zetkin merasa perlu adanya satu hari dalam setahun dimana perempuan dapat mengutarakan tuntutan atas hak-hak mereka. Seiring mulai bergeraknya upaya perjuangan perempuan, hari perempuan sedunia kini lebih dijadikan sebagai momen perayaan pencapaian perempuan dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial.
Selain merayakan apa yang sudah berhasil dicapai, saya kira hari perempuan sedunia juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi mengenai hal-hal yang masih perlu dikembangkan dan diperbaiki agar tercipta kehidupan perempuan yang lebih baik. Saya pribadi berpendapat bahwa pencapaian perempuan seharusnya tidak hanya dinilai dari segi ekonomi, politik, dan sosial, melainkan juga aspek yang paling mendasar, yakni kesehatan mental. Perempuan dapat berkarya, bertumbuh secara optimal, dan bahkan mampu mencapai aktualisasi diri, jika tidak hanya tubuhnya yang sehat, melainkan juga kondisi psikisnya.
Sayangnya, perempuan rentan untuk menjadi tidak sehat secara psikis. Bukan hanya karena tuntutan peran yang dilekatkan kepada perempuan sedemikian rupa menjadi beban tersendiri bagi mereka. Lebih dari itu, perempuan secara umum dibandingkan laki-laki lebih rentan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang dapat mengganggu kondisi psikisnya, bahkan berdampak panjang karena peristiwa tersebut berpotensi menimbulkan trauma.
Read the rest of this entry »