Skip to content

Robert Zajonc dan Israel Waynbaum, Kerendahan hati untuk yang Terlupakan

January 6, 2012

A Feel-Good Theory: A Smile Affects Mood, demikian judul tulisan Daniel Goleman di kolom Science dalam harian New York Times, 18 Juli 1989. “PUTTING on a sad face or a smile directly produces the feelings that the expressions represent, according to a new theory of how emotions are produced, “menjadi kalimat pertama dalam tulisannya ini. Teori baru yang ia maksud di sini adalah hasil penelitian yang dilakukan Robert Zajonc dkk serta Paul Ekman, dkk secara terpisah, yang pada saat itu baru saja mempublikasikan penelitian mereka dalam jurnal ilmiah.

Hasil penelitian Zajonc dan Ekman ini merupakan salah satu temuan penting dalam perkembangan psikologi khususnya mengenai teori facial feedback hypotheses. Penelitian ini juga dianggap memiliki implikasi terapeutik dengan maraknya terapi senyum sejak Zajonc mempublikasikan temuannya. Namun demikian, sebenarnya hasil temuan ini tidak dapat dikatakan sebagai teori baru. Goleman sendiri menuliskan dalam artikelnya bahwa ide original penelitian ini sudah datang lebih dari seabad lalu dari Charles Darwin.

Read more…

Menyambut Tahun Baru dengan Tersenyum

December 31, 2011

Biasanya menjelang tahun baru, hampir selalu ada momen untuk kita mengenang satu tahun yang hampir berlalu. Selalu ada sekian detik atau menit untuk kita menangis teringat pada pengalaman menyakitkan, luka-luka, kekecewaan, ataupun kegagalan. Ada pula saat kita tergelak memutar kembali dalam benak kita peristiwa-persitiwa menyenangkan, kebersamaan yang indah, ataupun kesuksesan yang diraih. Berbahagialah jika dalam nostalgia itu, kita dapat merasakan keduanya, kegembiraan maupun kesedihan. Itu berarti kita benar-benar menjalani yang namanya kehidupan, dan satu tahun yang telah berlalu itu sungguh akan berperan dalam proses pendewasaan diri.

Namun demikian, jangan khawatir jika mungkin hidup Anda setahun lalu hanya penuh dengan kenangan pahit dan getir. Mungkin Anda benar, tidak ada momen yang dapat membuat Anda tertawa, bahkan sepanjang tahun yang hampir berakhir ini adalah tahun tersulit dalam hidup Anda. Menangislah sepuasnya menutup akhir tahun, jika sedemikian pedih perasaan Anda. Menangislah hingga tertumpah seluruh air mata. Menangislah hingga tak lagi terdengar isak-isak kecil Anda. Menangislah hingga Anda begitu letih rasanya namun sekaligus lega. Teruslah menangis bahkan meratap hingga Anda tak lagi mampu melakukannya. Karena begitu Anda sampai pada tahap selesai dengan tangisan Anda, Anda akan siap melakukan hal lain : tersenyum untuk mengawali tahun yang baru.

Read more…

Kita Layak Dicintai — dengan benar

December 11, 2011

Angela, menangis di hadapan saya menceritakan Donny kekasihnya yang berselingkuh berkali-kali, lagi, lagi, dan lagi, selama kurang lebih tiga tahun hubungan mereka. Donny gemar dan pandai berbohong, meski belakangan selalu ketahuan juga, demikian tambahnya. Ia juga mengeluhkan Donny yang workaholic dan hampir tidak ada waktu untuknya (tetapi punya waktu untuk menemui perempuan lain).

Angela juga menceritakan bahwa semua sudah ia coba lakukan. Ia ajak Donny bicara, mencoba untuk mendiskusikan masalah-masalah di antara mereka, tetapi Donny hanya diam dan akhirnya yang terjadi hanyalah monolog. Hanya beberapa patah kata yang Donny ucapkan, bahwa ia meminta maaf, ia mencintai Angela, dan ia berjanji untuk memperbaiki diri.  Tiga tahun berlalu sudah, Donny tetap melakukan kesalahan yang sama.

Apa yang salah dengan saya? Demikian Angela bertanya. Saya membatin dalam hati : kesalahanmu hanya satu, bahwa kamu masih tetap bersama dia.

Read more…

Kematian Cinta

December 6, 2011

Cinta pudarlah sudah

Terbang bersama angin

Titik-titik hujan menusuk kulit

Disapu kelam awan langit normandie

Luruh bersama dedaunan kering sepanjang jalan sunyi

Kau yang bergeming

Diam dalam gelisah

Runtuhkan puing puing asa

Hapus semua rasa

Beku tetes embun pertama

Senja usiamu di sisinya

Aku tak lagi ada, tak akan pernah ada

Sikap Peran Gender dan Dampaknya terhadap Pengajaran Pendeta Laki-laki

December 4, 2011

In order to promote gender equality in Indonesia, the church as one of the systematic and organized congregations need to be involved. The priests as leaders who provide teaching in the church hold a large role, especially the male priests whose number exceed the female ones and as a man, they are more resistant to the idea of gender equality. Therefore, this study wanted to see the gender role attitudes of male priests and their understanding of feminist theology that is closely related to the teaching of gender equality in the church. This study revealed three of them have the traditional gender roles attitude and they haven’t known yet the feminist theology. They believe there are different roles and attributes between women and men that must be addressed with respect to and help each other. While not demeaning women, such a view is still potential to perpetuate the patriarchal culture. However, it is interesting that these three male priests do not regard several themes of the feminist theology in the patriarchal perspective although not in the feminist point of view either. Meanwhile, based on the experience of the only one male priest in this research who has an egalitarian gender role attitude and a very good understanding of feminist theology, it seems that a strategy is needed in spreading the idea of gender equality that won’t provoke parishes’s refusal. Inserting it into the sermons, embracing the young people, and giving examples through the words and deeds in everyday life, are several ways that can be applied by the male priests who’d like to carry the gender equality on their teaching in the church.

Read more…

Anda Perfeksionis ?

December 4, 2011

Perfeksionisme adalah kecenderungan seseorang untuk selalu memiliki atau mencapai kesempurnaan. Seseorang dapat menampilkan karakter perfeksionis dalam hal pekerjaan, penampilan, ataupun kehidupan sosial.

Ciri-ciri Orang Perfeksionis

Orang yang perfeksionis dalam bekerja, biasanya akan mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati dan totalitas ; sebuah hal positif tentunya. D sisi lain, karena ingin menampilkan kinerja yang sempurna, totalitas ini juga mereka tampilkan dalam beberapa ciri berikut :

  • Terpaku pada detil, padahal sering kali detil ini tidak perlu. Misalnya bila mengerjakan slide powerpoint, di samping isi materinya, ia akan mencurahkan perhatian berlebih pada desain slide-nya, huruf-hurufnya, ukuran huruf, dll. Tentu perlu memperhatikan keindahan slide presentasi. Namun menjadi berlebih seseorang tidak dapat mulai menulis isi presentasinya karena sibuk memilih perpaduan desain dan ukuran huruf yang enak dipandang mata.
  • Karena hal-hal di atas, biasanya orang perfeksionis membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan rekan-rekannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sebagian orang perfeksionis tidak dapat memenuhi tenggat waktu, meski sebagian besar dapat memenuhi tenggat waktu. Hanya saja mereka yang dapat memenuhi tenggat waktu biasanya membutuhkan usaha ekstra untuk mengerjakannya (mereka cenderung memaksakan diri untuk melakukan hal ini). Mereka menjadi lebih mudah lelah tetapi umumnya hasilnya memang memuaskan.
  • Orang perfeksionis bukan hanya tidak dapat menerima bila hasil pekerjaannya tidak sempurna di matanya tetapi juga sulit menerima ketidaksempurnaan hasil pekerjaan orang lain. Oleh karena itu, salah satu cirinya adalah gemar mengkritik.
  • Orang perfeksionis selalu dapat dengan mudah ‘menangkap’ kelemahan/kesalahan yang diperbuat orang lain. Ia juga cenderung menilai sesuatu sesuai dengan standarnya yang tinggi. Ketika kedua hal ini bergabung, orang perfeksionis menjadi tidak mudah percaya pada kemampuan orang lain. Hal ini menyulitkan mereka untuk mendelegasikan tugas atau bekerja sama dalam tim kerja. Mereka sulit menerima hasil pekerjaan orang lain; selalu ingin memperbaikinya atau mengubah sesuai dengan standar kesempurnaannya.
  • Read more…

Sekilas Mengenai Sejarah Psikologi Perancis

October 26, 2011

Bagi psikologi Perancis, Alfred Binet, Pierre Janet, dan Théodule Ribot, adalah tiga nama besar yang berjasa dalam lahirnya psikologi modern (Persiaux, 2007). Binet sangat berjasa dalam perkembangan psikometri Perancis. Ia menyusun tes-tes psikometris pertama, salah satunya yang sangat dikenal adalah tes inteligensi Stanford Binet. Tes ini menyandang nama Stanford setelah diadaptasi oleh Lewis Terman dari Stanford University (Schneider, 1992). Sedangkan Pierre Janet adalah yang pertama kali mengemukakan istilah subsconcious dan mendefinisikannya secara jelas. Ia juga pendiri ikatan psikologi di Perancis (Societe de psychologie), yang sejak tahun 1941 berubah nama menjadi Societe francaise de psychologie .

Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.